My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Mahluk Apa Kau Sebenarnya


__ADS_3

Di dalam kegelapan malam yang dingin dan sepi. Seorang pemuda dalam balutan pakaian serba hitam lengan terbuka duduk di sebuah bangku taman seorang diri. Mata coklatnya yang jernih menatap langit malam bertabur bintang seolah menuntut sebuah jawaban. Pertemuan singkatnya dengan Viona membuat Lucas tidak bisa membuang dan mengenyahkan gadis itu dari pikirannya.


Lucas merasa sangat penasaran akan siapa gadis itu sebenarnya. Aura yang dipancarkan oleh tubuhnya adalah aura dari pemilik keabadian, Sang Viero.


Syuttt...


Lucas segera menghindar saat sebuah belati melesat dengan kecepatan cahaya kearahnya. Belati itu tidak sampai mengoyak tubuhnya hanya menggores pipinya. Cairan merah segar mengalir dari luka memanjang pada tulang pipinya yang kemudian turun menuju dagunya.


Dengan tenang, Lucas menyeka darah itu dan mulai menajamkan indranya untuk menemukan keberadaan tamu yang tak di undang.


"Oh, di situ kau rupanya."


Meskipun sosoknya tak kasat mata. Tapi bayangannya masih bisa tertangkap oleh Lucas. Lucas menarik belati yang terselip dipinggangnya dan melemparkan pada sosok tak kasat mata tersebut.


Jress...


"Aaahhh," lolong kesakitan terdengar bersama terlihatnya sosok tak kasat mata itu. Seorang wanita bersurai hitam sebahu meringis sambil memegangi bahu kirinya yang terluka akibat belati Lucas. "Si-Sialan kau, Dark Lephrica!" geram wanita itu.


"Kembalilah kekawananmu dan jangan pernah lagi menunjukkan batang hidungmu lagi di hadapanku atau akan kuhabisi semua klanmu," ancam Lucas bersungguh-sungguh. Vlad itu pun tampak begitu ketakutan.


Dengan langkah terseok-seok. Vlad itu menuruti perintah Lucas dan segera pergi dari sana. Dia tidak ingin kehilangan nyawanya yang sangat berharga. Dan berani berurusan dengan seorang Dark Lephrica adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya.


Lucas berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu tapi niatnya dia urungkan saat merasakan kedatangan seseorang di sana. Udara di sekitarnya tiba-tiba menjadi dingin padahal sebelumnya cukup hangat, sampai dia melihat kedatangan seorang gadis dalam balutan gaun hitam berjalan menghampirinya.


"Omo, kau terluka?" ucap gadis itu melihat luka di wajah Lucas.


Tak ingin meladeni gadis asing itu. Lucas lantas berbalik dan hendak pergi dari sana sampai cengkraman lembut pada lengan terbukanya menghentikan langkahnya. Kulit gadis itu begitu dingin seperti seperti kulit mayat.


Lucas mengangkat wajahnya dan menatap wajah cantik itu dengan seksama. Selain wajahnya yang teramat sangat cantik, gadis itu juga memiliki kulit yang sedikit pucat. Bola mata berwarna abu-abu dan rambutnya terurai melewati pinggulnya. Dan jika boleh jujur Stella adalah gadis tercantik yang pernah Lucas lihat dan temui dalam hidupnya.


"Apa lagi?" tanya Lucas dingin.


"Lukamu perlu di obati, kalau tidak racunnya bisa menyebar. Lukanya terlihat membiru, jika itu hanya luka gores biasa pasti warnanya akan merah tapi luka pada pipimu tidak."


Lucas tidak merespon ucapan Viona dan hanya menatap datar padanya. Diam-diam Lucas menyelami bola mata indah itu berharap bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaannya.

__ADS_1


"Katakan padaku, siapa kau sebenarnya?" pertanyaan Lucas membuat Viona tersentak kaget. Gadis itu memilih diam dan tidak ada niatan untuk membalas pertanyaannya. Viona pun memilih menghindar mengalihkan pembicaraan.


"Hm, tunggulah di sini. Aku akan segera kembali."


.


.


Lucas duduk bersandar di bawah sebuah pohon besar. Semilir angin malam membelai wajah dan mengibarkan rambut coklat terangnya. Sepasang mutiara coklatnya menatap langit malam yang tampak gelap tak berbintang.


"Mahluk apa dia sebenarnya?"


Berkali-kali bertemu dengan Viona membuat Lucas semakin sulit untuk mengenyahkan bayangan gadis itu dari ingatannya. Beberapa kali bertemu dengannya membuat Lucas merasakan sebuah ikatan batin yang sangat kuat. Padahal Lucas tidak merasa pernah mengenal gadis itu sebelumnya, tapi anehnya dia merasakan jika batinnya dan gadis itu saling terhubung.


Ada sesuatu yang janggal yang ingin sekali Lucas pecahkan. Tapi sayangnya teka-teki itu begitu sulit hingga membuat pemuda itu merasa frustasi.


"Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama. Aku sempat mencarimu kemana-mana tapi rupanya kau ada di sini."


Pikiran Lucas tentang Viona pun buyar seketika saat suara lembut dan familiar berkaur di dalam telinganya. Lucas mengangkat wajahnya membuat dua pasang mutiara berbeda warna itu saling bersirobok. Senyum lembut di bibir gadis itu membuat Lucas terpukau.


Viona mendengus berat. "Aissh, pertanyaan seperti itu terlalu kasar untuk seorang gadis." Tanpa merasa ragu sedikit pun. Viona mengambil tempat di samping Lucas. Posisi mereka saling berhadapan.


Viona memperhatikan luka di wajah Lucas yang semakin menghitam. Wajahnya memucat dan Viona tau jika racunnya tidak segera dikeluarkan bisa saja pemuda itu mengalami kelumpuhan pada wajahnya. Tidak ada pertanyaan yang keluar dari bibir Lucas apalagi sebuah protes. Bahkan Lucas tidak bereaksi sedikit pun saat Viona berusaha untuk mengeluarkan racun itu.


Viona sempat merubah dirinya menjadi vampir tapi sayangnya Lucas tidak menyadarinya. Gadis itu terlalu pandai dalam menyamarkan aroma tubuhnya sehingga Lucas tidak bisa menyadari siapa dirinya. Dan kini Viona bisa menghela nafas lega melihat lukanya kembali normal.


Bisa saja Viona menyembuhkan luka itu dan membuat lukanya tertutup sempurna. Tapi hal itu tidak Viona lakukan karena Lucas akan semakin mencurigainya. Kemudian Viona menutup luka itu dengan perban agar tidak kemasukkan debu. Dan sepanjang gadis itu mengobati lukanya. Tak sedetikpun Lucas mengalihkan perhatiannya dari gadis dihadapannya.


"Mahluk apa kau sebenarnya?"


Lantas Viona mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. "Kenapa kau begitu ingin tau tentang siapa diriku? Apakah hal itu begitu penting untukmu?" Viona memberanikan diri untuk membalas tatapan Lucas yang dalam.


Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum lembut di bibir ranumnya. Di sadari atau tidak, mereka berdua sedari tadi di awasi oleh mahluk penghisap darah yang sedang mengincar Viona.


Melihat ada cela, mahluk itu pun segera keluar dari persembunyiannya. "Hei, awas!"

__ADS_1


Tubuh Lucas terhempas ke samping karna dorongan Viona. Dengan gerakkan kilat Viona melayangkan serangannya pada mahluk tersebut yang pastinya adalah vampir. "Ada vampir di sini, bagaimana mungkin bisa aku tidak menyadari kedatangan mereka?" gumam Lucas kebingungan.


Pemuda itu bangkit dari posisinya. Matanya tak berkedip sedikit pun melihat pertarungan sengit antara Viona dan dua mahluk penghisap darah tersebut. "Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya?"


Melihat kemampuan Viona saat bertarung membuat Lucas terperangah. Wanita yang terlihat lemah dan anggun itu ternyata memiliki kemampuan yang begitu lur biasa. Dan melihat bagaimana Viona mengeksekusi para vampir itu membuat Lucas membatu.


"Lu, kau tidak apa-apa?" tanya Kamila yang datang bersama anggota tim yang lain.


"Ya Tuhan!"


Kedatangan teman-teman Lucas di sana disuguhi sebuah pertunjukkan yang begitu luar biasa. Pertarungan sengit seorang gadis melawan para mahluk pemghisap darah menjadi drama yang sangat sayang untuk dilewatkan apalagi saat melihat kemampuan bertarung gadis itu yang begitu luar biasa.


"Lu, apa kau mengenal gadis itu?" tanya Carl penasaran.


"Dia-"


Melihat Viona terkepung tak lantas membuat Lucas diam dan berpangku tangan. Mereka yang awalnya hanya berjumlah dua kini menjadi berlipat-lipat ganda. "Kau tidak bisa melakukannya sendiri, Nona,"


Viona terkejut dan terlonjak kaget mendengar suara Lucas begitu dekat. Pemuda itu berdiri tepat dibelakangnya. Posisi mereka saling memunggungi. Dan dalam wujudnya sebagai vampir mungkinkah jati dirinya akan terungkap dan Lucas akan tau siapa dirinya yang sebenarnya? Dalam hatinya Viona berdoa supaya Tuhan melindunginya.


Dan mereka pun saling bekerja sama untuk menghabisi mahluk-mahluk penghisap darah tersebut. Tak ingin ketinggalan dan kehabisan jatah. Para Hunter pun segera bergabung dan membantu mereka berdua.


"Viona, maaf kami datang terlambat." Viona bisa menghela nafas lega sekarang. Ara dan L datang di waktu yang tepat. Viona pun segera bergabung bersama teman-temannya.


Dan Viona tidak menduga jika Voltaire bersaudara itu akan datang untuk membantu dirinya. Voltaire sendiri adalah mahluk yang dipercayai oleh Lord Ruthven untuk menjaga putrinya. Selain Delf dan Nephilim.


Bukan tanpa alasan kenapa Lord Ruthven sampai melibatkan para mahluk abadi untuk menjaga putrinya. Di dalam tubuh Viona mengalir darah Viero. Keabadian yang selama ini selalu diperebutkan, dan alasan utama kenapa Viona sampai di buru oleh banyak mahluk Immortal termasuk vampir.


Viona mewarisi darah dan kekuatan Ibunya yang seorang Chronicles 'Dewi Penjaga Surga'. Tapi sayangnya semua keistimewaan itu tidak ada pada diri Ellena. Karna Ellena mewarisi kekuatan Ayahnya yang merupakan seorang vampir berdarah murni.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2