My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Tak Ada Yang Tersisa


__ADS_3

"Aaahhhh."


Tiba-tiba saja Lucas menggeram kesakitan sambil mencengkram dada kirinya. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja Lucas merasakan seperti ada yang menusuk dada kirinya. Lucas nyaris saja kehilangan keseimbangannya jika Carl tidak segera menahan tubuhnya.


"Lu, kau tidak apa-apa?" tanyanya memastikan, kecemasan terlihat jelas dari sorot matanya.


Lucas menepis tangan Carl dari lengannya. Tanpa sepatah kata pun, Lucas berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Saat ini Lucas membutuhkan waktu untuk sendiri. Tidak ada satupun dari Carl, Kai dan Tao yang berani mengganggunya untuk saat ini. Mereka tidak ingin kena masalah karena mengganggu seekor Singa yang sedang kelaparan.


BRAKK...!!...


"Omo?" nyaris saja ketiga Hunter tampan itu terkena serangan jantung dadakan karna ulah Lucas yang membanting pintu kamarnya dengan keras.


Dua angel terlihat menghampiri para Hunter untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai membuat Lucas sampai semarah itu. Kai pun menceritakan semuanya pada Lay dan Jey, kedua angel tampan itu begitu syok setelah mengetahui bila sebenarnya Viona adalah seorang Vampire. Dan rasanya mereka berdua sulit mempercayainya.


Lucas menutup mata kirinya rapat-rapat. Apa yang baru saja terjadi kembali berputar dikepalanya. Rasanya sangat sulit bagi Lucas untuk mempercayai bila Viona adalah seorang vampire, mahluk menjijikkan yang harus ia lenyapkan.


Lucas menjatuhkan tubuhnya pada lantai yang dingin dan keras, semua kenangan tentang gadis itu kembali berputar di kepalanya, kenangan saat gadis itu tersenyum, menangis, merajuk, kesal bahkan marah. Ingin sekali Lucas membenci gadis itu, namun tidak bisa.


Hatinya selalu bertolak belakang dengan apa yang di ucapkan bibirnya. Lalu? Saat mereka bertemu suatu saat nanti mampukah Lucas membunuhnya seperti yang telah dia katakan? Dan hanya wantu yang dapat menjawab semuanya.


-


-


Brakkk!!!


Tubuh Ara dan Jia sama-sama terpental hingga menabrak pohon setelah mendapatkan serangan balasan dari Milla. Kedua gadis itu tidak bisa menerima atas apa yang telah Milla lakukan pada Viona. Darah segar mengalir dari sudut bibir mereka yang kemudian turun melewati dagunya, dada mereka berdua sedikit memar akibat hantaman keras Milla yang ternyata tak selemah yang mereka pikirkan sebelumnya.


"Inilah akibat jika kalian berani melawanku. Masih ingin menyombongkan diri? Ayo kalian semua, majulah dan hadapi aku jika kalian memang merasa mampu." Tantang Milla pada semua orang. "Hahahha! Bahkan kalian para pria tidak ada satupun yang berani melawanku? Huh, dasar pengecut."


"Jaga ucapanmu wanita Iblis." teriak Antolin dan Chen yang kemudian melayangkan serangannya pada Milla namun dengan mudah dapat ditangkis oleh wanita itu.


"Ba-bagaimana mungkin?"


"Apa hanya itu kemampuan yang kalian miliki?" sinis Milla meremehkan. "Dan sudah saatnya aku kirim kalian semua ke neraka."


"Sudah cukup kegilaanmu, Kamilla Song!" seru seseorang dari arah belakang. Mata Milla terbelalak melihat kedatangan orang itu."K-kau.. masih hidup? Ba...bagaimana bisa?" ucapnya tak percaya.


"Inilah istimewanya kekuatan seorang, Viero," jawab sosok itu yang tak lain adalah Viona.


Viona terlihat baik-baik saja, jelas-jelas beberapa saat yang lalu dia terkapar bersimbah darah setelah Milla menusuk dada kirinya. Tapi kenyataannya dia masih terlihat baik-baik saja, bahkan luka bekas tusukan belati Milla pun tampak menghilang. Dan inilah salah satu istimewa darah seorang Viero yang ada dalam tubuh Viona. Selain istimewa, seorang Viero dapat menyembuhkan sendiri lukanya.

__ADS_1


"Kenapa, Vlad? Apa kau terkejut melihatku?" tanya Viona meremehkan.


"Ini tidak mungkin, sebenarnya sihir apa yang telah kau gunakan? Ini tidak mungkin, bagaimana bisa? Jelas-jelas kau tadi-"


"Aku bukanlah mahluk lemah seperti yang kau fikirkan, Kamilla Song. Dan kali ini, giliranmu yang harus merasakan kemarahanku. Kau akan melihat bagaimana hebatnya kekuatan seorang Vampire yang sebenarnya."


"Aku memang akan melawanmu, tapi tidak malam ini. Saat kita bertemu lagi, kita lihat saja, Aku atau kau yang akan binasah mahluk menjijikkan."


Viona menyeringai sinis. "Kita buktikan saja,"


"Viona," Ellena menghampiri sang adik dan langsung memeluknya. "Eonni, lega melihatmu baik-baik saja adikku," ucap Ellena sambil mengeratkan baik-baik saja.


Viona menutup matanya. "Eonni, bagaimana mungkin jika aku baik-baik saja. Aku baru saja kehilangan cintaku. Hubungan yang baru saja terbina hancur begitu saja. Tidak ada lagi yang tersisa, selain luka dan air mata," ujar Viona membatin.


Setitik kristal bening mengalir dari pelupuk matanya yang kemudian turun dan membasahi wajah cantiknya. Viona sedih, kenapa kisah cinta yang baru saja dia bina harus berakhir dengan cara mengenaskan seperti ini.


"Sudah semakin larut. Sebaiknya kita pulang sekarang," ucap Ellena yang kemudian di balas anggukan oleh semua yang ada di sana.


-


-


Langit malam tampak gelap. Tidak ada bulan, tidak ada bintang. Tidak ada cahaya, yang ada hanyalah kegelapan yang seakan menelan bumi. Ditambah kesunyiaan yang semakin menambah kesan kelam malam ini.


Jendela kaca itu berderik, menerbangkan tirai trasparan.. membuat hawa malam yang sudah dingin kian menusuk. Kelopak mawar putih yang satu persatu dilepas dari induknya yang kemudian terbang tertiup angin malam.


Sepasang muriara abu-abu itu menatap lurus pada langit malam yang hitam dan kelam. Seolah menantang langit hanya dengan tatapan matanya. Lalu pandangannya beralih pada bunga mawar yang berada ditangannya, warna putih yang awalnya dia lihat perlahan berubah menjadi mewah. Merah karna noda darah, darah yang berasal dari kedua matanya.


'Kali ini kau kuampuni, mulai detik ini dan seterusnya jangan pernah muncul lagi dihadapanku, dan jika hal itu sampai terjadi... maka itu akan menjadi hari terakhirmu.' kata-kata itu terus terngiang ditelinganya.


Angin malam bertiup lagi, dan kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Seakan menusuk kulit dan pori-porinya, rambut coklat terang panjang miliknya terus berkibar tertiup angin begitupun dengan gaun hitam panjangnya.


Tapi sosok itu masih berdiri di sana, berdiri di depan jendela sambil menatap kelopak bunga mawar yang ternodai dengan darah yang berasal dari matanya.


Air matanya sudah kering karena terlalu banyak yang dia teteskan dan tergantikan oleh darah sebagai air matanya. Gadis itu menjatuhkan bunga mawarnya keluar jendela. Membiarkannya di tiup angin dan membawanya terbang jauh, dan gadis itu hilang entah kemana.


-


-


Jam didinding sudah menunjuk angka 02.00 dini hari, namun Lucas masih tetap terjaga dan berdiri dibalkon kamarnya. Pria dalam balutan jeans hitam, singlet putih yang dibalut long vest hitam itu diam terpaku menatap langit gelap malam ini. Mata kiri itu terlihat redup, tidak ada ekspresi apapun di wajah datarnya. Fikirannya melayang jauh hingga menembus logikanya.

__ADS_1


'Bahkan didetik terakhirku aku akan mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu,'


Lucas mencengkram kuat pagar pembatas balkon. Kata-kata Viona kembali berputar dan terngiang difikirannya. Gadis itu membisikkan kata cinta padanya, kata-kata yang membuat dada Lucas bergemuruh dan bergejolak hebat. Bisakah ia membenci gadis itu? Bisakah dia benar-benar membunuhnya saat mereka nanti kembali bertemu? Sedangkan apa yang dirasakan hatinya berbanding balik dengan apa yang terucap dari bibirnya.


Meskipun bibirnya berkata benci, namun hatinya justru meneriakkan kata yang berbeda karena sejatinya Lucas juga memiliki rasa pada Viona, bukan sekedar perasaan simpatik melainkan rasa cinta yang teramat mendalam dan apa yang saat ini terjadi mungkin saja menjadi ujian bagi cinta mereka berdua.


"Kau belum tidur?" Tegur seseorang yang kini berdiri di samping Lucas.


Lucas melirik seseorang yang berdiri disampingnya melalui ekor mata kirinya. Namun tidak ada tanggapan, Lucas hanya diam dan memilih bungkam.


"Memikirkannya?"


"......"


Lagi-lagi Lucas tidak menjawab dan kebungkaman Lucas ,Carl anggap sebagai jawaban. Carl menatap Lucas sejenak dan menghela nafas panjang


"Keluarlah, Ge. Aku ingin sendiri." titah Lucas dingin dan mutlak, tak ingin di bantah.


"Aku tau apa yang saat ini kau rasakan, mungkin dia memang berbohong dan menyembunyikan rahasia besar itu darimu. Namun mengertilah, Lu. Setiap orang pasti memiliki alasan saat berusaha menyembunyikan sesuatu. Dan coba tanyakan pada hati kecilmu yang paling dalam, bisakah kau membencinya? Aku sarankan padamu, jangan pernah melakukan tindakan bodoh yang akan membuatmu menyesal dikemudian hari. Tidurlah, ini sudah hampir pagi."


Carl menepuk bahu Lucas dan berlalu, meninggalkan laki-laki itu yang masih terpaku dan terdiam dalam posisinya.


Lucas menutup matanya, kedua tangannya terkepal kuat. Saking kuatnya sampai-sampai membuat kuku-kukunya memutih.


Lucas tidak pernah merasa sekacau ini, bahkan ketika Kamilla menghianatinya dulu pun dia tak sampai seperti ini. Hati Lucas terasa sakit bak di remas-remas ketika mengetahui jika orang yang dia cintai adalah seorang mahluk yang harus dia lenyapkan.


Lucas kembali menutup mata kirinya. Saat ini hatinya tengah dirundung perasaan yang membuatnya tidak bisa berfikir dengan jernih. Lucas dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, antara membunuh Viona atau membiarkan gadis itu tetap hidup. Lucas tidak tau dan akan memasrahkan semuanya pada perputaran waktu.


DEGG...


"Aroma ini??"


Lucas tersentak kaget. Mata kirinya yang semula tertutup kembali terbuka. Dia merasakannya, Lucas beranjak dan pergi untuk mencari dari mana sumber aroma yang terasa familiar itu berasal. Namun setibanya di atap kastilnya. Dia tak menemukan siapa pun, selain aroma gadis itu yang masih tertinggal.


"Viona Jung," Lucas bergumam lirih. Pemuda itu mendesah berat.


Lucas meninggalkan atap kastinya dan kembali ke kemarnya. Dan tanpa Lucas sadari, seseorang sedang menatapnya dari.kejauhan.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG.


__ADS_2