My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Flashback Masa Lalu Bag 1


__ADS_3

Mungkin ada yang bingung kenapa bab ini nama tokohnya berbeda dari biasanya. Ini adalah ingatan masa lalu Lucas di kehidupan dia sebelumnya. Jangan lupa buat tinggalkan Like ❤, komen. Satu like dan komen kalian sangat berarti buat Author 🙏🙏🙏.


.


.


Luhan dan Qin menapakkan kakinya di dalam hutan pinus yang mencekam dan mengerikan. Beberapa ranting pohon tampak bergesekan mengikuti setiap pergerakan kaki kedua pemuda itu, namun mereka merasakan ada sesuatu yang janggal.


Meskipun terinjak, anehnya ranting itu tidak menimbulkan bunyi sama sekali. Dan yang lebih mengherankan lagi, ranting-ranting itu melebur menjadi butiran debu. Seakan-akan ada yang mengendalikannya.


"Apa mereka sudah datang Hyung??" tanya Qin yang merasakan ada kejanggalan dan aroma yang sangat kental menyeruak ke dalam hidungnya.


"Entahlah, aku juga tidak yakin." balas Luhan.


Kedua pemuda itu kembali melangkahkan kakinya dan berjalan lebih hati-hati, karna mereka berdua sama-sama meyakini ada banyak jebakan di dalam hutan itu.


Kresekkkk...


Luhan dan Qin segera menolehkan kepalanya saat mendengar ada pergerakan di belakang mereka, bukan hal besar. Namun hanya seekor kelinci saja.


Qin memejamkan matanya dan menghela nafas lega. "Hufftt, aku pikir itu adalah bagian dari kelompok mereka." ucap Qin yang di iringi deruan nafas ringan


"Apa kau merasa takut sekarang?" tanya Luhan, Qin menggeleng cepat


"Sama sekali tidak, hanya saja aku tadi sedikit tidak siap." Jelas Qin.


"Alasan." cibir Luhan dan berlalu dari hadapan Qin.


Classss...


Luhan segera membalikkan tubuhnya saat melihat ada bayangan hitam melintas di hadapannya, mata rusanya menatap ke segala penjuru arah. Namun Ia tidak menemukan apa pun juga, selain keadaan malam yang semakin mengerikan


Aaaauuummmm...


Di tambah dengan lolongan Serigala, yang melengkapi suasana malam mencekam di dalam hutan pinus tersebut


"Aaahhhh." Entah apa yang terjadi tiba-tiba saja Qin menggeram kesakitan. Pemuda itu mengguling-gulingkan tubuhnya di tanah, kedua tangannya memegangi lehernya yang terasa seperti di cekik hingga Ia sulit sekali bernafas

__ADS_1


"Qin!!" Dan Luhan tidak tinggal diam melihat nyawa adiknya berada dalam bahaya, pemuda itu segera melepaskan Qin dari mahluk tak kasat mata yang sedang mencekiknya


Luhan memejamkan matanya mencoba memusatkan pikirannya agar Ia bisa melihat seperti apa sosok yang tengah mencekik leher Qin. Sebuah mahluk mengerikan bertubuh kekar dengan bulu hampir di sekujur tubuhnya, kukunya yang panjang dan taringnya yang tajam.


Di tambah dengan lendir-lendir yang ada di dalam mulutnya, juga sepasang tanduk yang ada di kepalanya. Namun Luhan tidak tau pasti jenis mahluk apa yang tengah menjerat Qin, mahluk itu mirip Warewolf namun sedikit lebih kecil dan lebih kuat.


Luhan mengangkat busur panahnya dan mengarahkan tepat pada leher bagian belakang mahluk itu, yang merupakan titik kelemahannya. Luhan menarik busurnya kemudian melepaskan anak panahnya, dan...


Jressss...


"GROOUUULLLLL!!"


Berhasil. Mahluk itu menggeram kesakitan, tubuhnya terhuyung kebelakang dan terjungkal. Sebuah asap hitam muncul dari dalam tubuh mahluk itu, yang kemudian tubuhnya melebur menjadi abu.


Setelah di rasa aman, Luhan bergegas menghampiri Qin yang masih terkapar dengan darah mengalir dari leher dan wajahnya akibat terkoyak kuku milik mahluk itu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Luhan memastikan. Luhan membantu Qin untuk duduk kemudian memasukkan beberapa butir obat ke dalam mulutnya. Dan ajaibnya, obat-obat itu mampu menutup semua lukanya dengan sempurna.


"Aku tidak apa-apa, Hyung." balas Qin meyakinkan


Jika pendengaran Luhan dan Qin sedikit lebih sensitif, seharusnya mereka menyadari dari awal. Jika sebenarnya mahluk-mahluk itu telah keluar dari persembunyiannya. Namun karna terlalu cerdik, mahluk-mahluk itu mampu mengelabui keduanya dan mempertemukan mereka berdua dengan lawan yang salah.


"OMO!! Suara itu?"


Dan Luhan baru menyadari kehadiran mereka setelah mendengar suara musik yang mengalun begitu indah, di tambah oleh bayangan-bayangan hitam yang melintas di sekitar mereka. Yang jumlahnya tak lagi terhitung. Suara merdu itu perlahan menghilang dan tergantikan oleh suara mengerikan dari bayangan-bayangan hitam itu.


Seiring dengan suara geraman itu, dua sosok wanita lengkap dengan gaun hitamnya mendarat dan memijakkan kakinya tepat di belakang kedua pemuda itu. Seketika Luhan dan Qin membalikan tubuhnya dan menatap ke dalam iris kedua wanita yang ada di hadapannya.


Kedua pemuda itu seakan terhipnotis oleh kecantikan yang mereka miliki hingga mereka melupakan tujuan utamanya mendatangi hutan itu. Bahkan mahluk yang sedari tadi mereka cari, kini berdiri tepat di hadapannya.


Bola matanya yang biru terang memancarkan cahaya indah, sorot matanya penuh cinta dan hasrat.


Di bawah cahaya rembulan menjatuhkan sinarnya, kedua wanita itu berdiri. Wajahnya tampak bercahaya dengan sorot mata yang begitu menawan, bibirnya yang berwarna merah jambu membuat hasrat dalam hati kedua pemuda itu menggebu.


Biru terang yang berpadu dengan cahaya rembulan. Perlahan kedua mata itu mengerjap memperlihatkan bulu lentik di atas netranya yang menawan. Seketika aroma yang begitu memabukkan menyeruak dan berkaur di dalam hidung kedua pemuda itu.


Luhan dan Qin menyerengit heran, mereka seakan mengenali aroma itu. Aroma yang begitu kental dan khas, sedetik kemudian. Mereka barulah sadar, jika kedua wanita itu adalan mahluk yang sedang mereka buru

__ADS_1


"Vampire!" mata itu menggerjap perlahan, tak ada niatan dalam dirinya untuk menggoda kedua pemuda itu. Yang ada, justru merekalah yang telah jatuh dalam pesona kedua mahluk itu.


"Oh, ada tamu yang tidak di undang rupanya?" ucap salah satu dari kedua wanita itu dengan nada meremehkan


Dan suara lembut itu segera menyadarkan Luhan dari lamunan panjangnya, di tambah dengan ayunan pedang yang kini telah bersarang di dadanya. Pemuda itu mendongakkan kepalanya dan menatap remeh pada wanita itu. Luhan berjalan perlahan dan sedikit berputar, di ikuti oleh wanita itu dengan pedang masih berada di depan dada Luhan.


Dan posisi mereka saat ini telah siap untuk segera saling menghabisi. Sudut bibir Luhan tertarik ke atas hingga menciptakan lengkungan indah , seulas senyum manis tersungging di wajah tampannya. Senyum menggoda yang Ia tunjukkan pada sosok di hadapannya


"Senang bertemu denganmu Lady, perkenalkan aku, Huang Luhan."


Pemilik mata biru terang itu tersenyum meremehkan. Maju beberapa langkah ke depan, menghampiri Luhan dengan langkah ringan dan sedikit lambat. Membuat Luhan berdelik kesal.


"Aku kagum padamu, di detik terakhirmu saja. Kau masih bisa memperkenalkan dirimu." Ucap gadis itu meremehkan.


"Kau membuatku tersinggung Lady, kau begitu cantik. Tapi ucapanmu sangatlah tajam." balas Luhan.


"Berhentilah menggoda, Nona-ku, Hunter sialan. Dasar penjilat." ucap gadis yang ada di belakang gadis yang saat ini berhadapan dengan Luhan.


"Sudahlah, Hani-ah, tidak ada gunanya juga kau berbicara dengan penjilat seperti mereka berdua." Gadis bermata biru terang itu menolehkan kepalanya dan melirik Hani menggunakan ekor matanya


"Jadi namamu, Hani? Nama yang sangat indah, seindah orangnya. Perkenalkan, Nona. Namaku Huang Qin," Qin membungkukkan tubuhnya dan melepaskan topi koboinya menurunkan sampai di depan dada


Bukannya merasa tersanjung. Hani justru tersenyum meremehkan, membuat Qin kesal setengah mati


"Jangan merasa sungkan untuk menodongkan senjata Anda Tuan, Luhan. Bukankah kau datang jauh-jauh ke hutan ini untuk memburu kami berdua." Gadis itu tersenyum tipis memperlihatkan lekuk indah pada wajahnya hingga membuat Luhan hampir tidak sadar dengan tujuan utamanya


"Jika, Nona Vivian suka berbasa-basi, maka aku tidak. Aku adalah gadis yang tidak suka berbelit-belit." ujar Hani yang entah sejak kapan sudah merubah dirinya kedalam wujud aslinya 'Vampir'.


"Vivian, sungguh nama yang sangat indah. Setelah sabar menanti, akhirnya aku mengetahui namamu, Lady." ucap Luhan meremehkan.


"Hahahaha." Vivian tertawa lepas, kemudian menatap Luhan begitu tajam. Mata biru cerahnya telah berubah menjadi merah, wajahnya pucat dan sepasang taring tipis muncul di kedua sudut bibirnya.


"Wow sangat sempurna," ucap Qin memberikan pujian, namun lebih tepatnya sebuah sindiran.


Luhan kembali mengamati sosok itu 'Aku belum pernah bertemu mahluk secantik ini' batinnya. Bahkan dalam mimpi sekali pun, Luhan sempat berfikir jika gadis ini bukanlah seorang Vampir. Melainkan Dewi, kecantikannya sungguh sangat luar biasa dan dapat di nyatakan sempurna.


Rambut panjangnya yang terurai indah, kecantikannya yang di luar batas manusiawi. Tak jauh berbeda dari Luhan, Qin pun berfikir demikian ketika melihat Hani untuk yang pertama kalinya.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG.


__ADS_2