My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Wanita Iblis


__ADS_3

Kai memicingkan matanya saat melihat Milla menyelinap keluar secara diam-diam, wanita itu memakai jubah hitam bertudung yang menutupi hampir di sekujur tubuhnya. Melihat gelagat aneh wanita itu, Kai pun memutuskan untuk mengikutinya. Namun belum lama ia berjalan, Kai sudah kehilangan jejaknya, Kai memperhatikan sekelilingnya dan tidak menemukan keberadaan sosok itu


"Sial, kemana perginya wanita Iblis itu?" geram Kai mendumal.


"Jadi kau mengikutiku?" sahut seseorang dari arah belakang. Sontak saja Kai menoleh dan mendapati Kamilla keluar dari balik sebuah pohon besar. "Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Kim Kai,"


Kai mulai memasang kuda-kuda saat melihat Milla berjalan menghampirinya, Kai yakin jika wanita itu tengah merencanakan sesuatu.


"Sebenarnya rencana busuk apa yang telah kau susun, Kamilla Song?"


"Hahahahha." Alih-alih menjawab pertanyaan Kai, Milla malah tertawa keras. Seringai Iblis terlihat pada wajah cantiknya. "Itu bukan urusanmu, pulanglah jika kau tidak ingin kawananku mengullitimu di sini. Dan sebaiknya kau menutup matamu jika kau tidak ingin berakhir tragiis, kali ini aku akan membiarkanmu tapi tidak untuk selanjutnya." Milla melangkah melewati sebuah pusaran waktu yang membuatnya dapat berpindah tempat dengan sangat cepat.


"Aaaarrrkkkhhh!! Wanita iblis, sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan, eo?" teriak Kai sambil mengacak rambutnya frustasi.


Kali ini Kai memang akan membiarkannya, bukan berarti Kai akan menyerah begitu saja. Ia yakin seyakin-yakinnya jika wanita itu memang memiliki rencana busuk. Lima belas menit kemudian Kai tiba di kastil mewah milik keluarga Viona.


Glukk'


Susah payah Kai menelan salivanya saat melihat Jia dan Antolin sedang berciiuman panas di teras belakang. Memperhatikan sekelilingnya, saat merasa aman.. Kai melangkah ,mengendap-endap menghampiri pasangan itu.


"Hahahha, lumayan dapat tontonan gratis." namun setibanya di tempat yang di rasa paling strategis. Kai melihat Tao, Ara, Carl dan Chen tengah mengintip pasangan itu


"Hueeee... kenapa kalian semua bis.... eeemmpp!!" buru-buru Ara membungkap mulut Kai dengan telapak tangannya dan mendelik tajam.


"Pelankan suaramu, bodoh. Apa kau ingin mereka melihat kita," bisik Ara marah, Kai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian mengangkat tangannya dan jarinya membentuk huruf V.


"Ayo Sayang keluarkan semua. Jangan ada yang ditahan. Emmpp, kau menikmatinya bukan?"


"Ya, ini sangat nikmat .." Jia terus merancau dan menddesah saat jari-jari Antolin meremas kuat salah satu bukitt kembarrnya.


Kai mulai berkeringat dingin melihat permainan panas mereka berdua. Meskipun bukan hubungan layaknya suamii-istrii namun permainan mereka cukup untuk membangkitkan gaiirahnya.


Entah kenapa Kai bisa sampai membayangkan jika mentimun yang Antolin keluar masukkan itu adalah benda miliknya. De-sahan Kai yang cukup keras sampai ketelinga Ara dan beberapa orang yang berada disana


"Dasar kurang waras," dengan segera Ara menyumpal mulut Kai menggunakan kain agar de-sahannya tidak keluar.


Sementara itu, di kastil yang sama namun ditempat berbeda. Terlihat sepasang suami-istri yang saling duduk menikmati keindahan malam dari jendela kamar mereka yang terbuka. Si wanita menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya yang tertutup kemeja kelabunya.


"Sayang." panggil si wanita yang tak lain adalah Ellena. Wanita itu meremas jari-jari Yohan yang bertautan dengan jarinya.


"Ya ,Sayang?"


"Rasanya aku tidak sabar menunggu anak kita lahir kedunia ini. Pasti dia sangat lucu, dia akan memanggilku Ibu dan dia akan memanggilmu, ayah. Pasti akan sangat luar biasa setelah dia lahir." ujar Ellena panjang lebar.


Yohan mengusap surai panjang Ellena penuh kelembutan. Laki-laki itu tersenyum tipis. "Kau tau, ini adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku." ucapnya sambil mencium pucuk kepala Istrinya.


"Tapi aku merasa berat badanku semakin bertambah. Apa ini karena porsi makanku yang lebih banyak dari biasanya?" Ellena mengangkat wajahnya dari dekapan Yohan dan mengunci manik hitam laki-laki itu. "Apa aku terlihat gendutan?"


"Gendut atau tidak, tidak ada bedanya untukku. di mataku kau tetaplah terlihat cantik, Sayang." Ellena tersenyum mendengar ucapan suaminya. Rasanya begitu bahagia mendengar ucapan suaminya itu.


"Kau ingat awal pertemuan kita tujuh tahun yang lalu? Sangat lucu bukan? Kau sedang berburu bersama teman-temanmu, dan bodohnya malah aku yang masuk ke dalam jebakan Rusamu. Kekekke, aku ingat bagaimana konyolnya diriku saat kedua kakiku terikat diatas dan kepalaku di bawah. Aku berteriak memanggilmu kurang ajar tidak tau diri, aku marah memintamu melepaskanmu. Hahaha, membicarakan masa lalu membuat perutku seperti digelitik." tuturnya.


"Kau masih mengingatnya?" Ellena mengangguk ."Jika bukan pertemuan tidak terduga itu mungkin kita tidak akan seperti sekarang." ucap Yohan. menambahkan.


"Ya, dan pertemuan awal kita tidak akan pernah aku lupakan selamanya."

__ADS_1


"Ini sudah larut malam, sebaiknya segera tidur. Aku lelah dan mengantuk." Yohan menggeser duduknya kemudian berbaring terlentang


"Kemarilah, berbalinglah di sini." menepuk lengannya meminta agar Ellena berbaring di sana. Wanita itu tersenyum kemudian mengangguk. "Good night, Baby. Mimpi indah." Bisik Yohan lalu mencium singkat kening Ellena, dan dalam hitungan detik. Keduanya sama-sama sudah terlarut dalam mimpi.


-


-


Viona baru saja selesai membersihkan diri dan saat ini tengah memagut tubuhnya di depan cermin panjang di kamarnya. Tubuh rampingnya terlihat indah dalam balutan gaun hitam sepanjang lutut berlengan trasparan dengan pita pada bagian perutnya. Rambut panjangnya di biarkan tergerai indah dengan sebuah jepitan bertabur batu-batu mulia, jepitan itu adalah hadiah yang di berikan oleh Lucas beberapa hari lalu. Meskipun terlihat sederhana, namun itu sangat berharga untuk Viona.


Cklekk!!


Decitan pintu terbuka mengalihkan perhatian Viona. Senyum lembut menyambut kedatangan Lucas di kamarnya. Gadis itu menghampiri pria yang sejak semalam telah resmi menjadi kekasihnya tersebut. Dan melihat senyum Viona membuat sudut bibir Lucas ikut terangkat juga


"Kau terlihat cantik dengan gaun itu, indah dan elegan." muncul rona merah di kedua pipinya mendengar pujian Lucas untuknya.


"Kau juga terlihat tampan dengan waistcoat itu ... Lu,"


Lucas maju beberapa langkah dan berhenti tepat di depan Viona. Menjulurkan salah satu tangannya, jari-jarinya mengangkat dagu gadisnya. "Tatap mataku, Viona Jung." Ragu-ragu Viona mengangkat wajahnya dan menatap mata coklat keabuan milik Lucas


Meskipun hanya dengan satu mata saja, namun tatapan Lucas mampu membuat gadis itu tidak berkutik sama sekali.


Tubuh Viona seakan membeku saat merasakan benda lunak dan basah menyentuh permukaan bibirnya di susul dengan lumatann-lumatann kecil pada bibirnya. Tubuhnya memberikan respon luar biasa terhadap segala macam sentuhan mulut Lucas yang mulai bermain disekitar wajah dan daun telinganya.


Viona mengalungkan kedua tangannya pada leher Lucas saat pemuda itu kembali menyergap bibirnya. Erangan panjang keluar dari bibir Viona saat lidah Lucas mengajak lidahnya menari bersama. Bukan tarian halus melainkan tarian sensual nan panas yang di iringi oleh lagu erotiis yang memikat.


Sebelah tangan Lucas yang berada pada pinggang Viona menariknya untuk menempel di dadanya yang tertutup kaos putih press body dan waistcoat hitamnya.


Lucas menarik sesaat untuk menatap wajah Viona, mata coklatnya memancarkan seperti api yang berkobar didalam kegelapam malam. Dan api itu menyambar dengan cepat hingga Kupu-Kupu dalam perutnya menari dengan lincah mengirimkan gelenyar panas menuju sel-sel dalam tubuh Viona saat bibir Lucas kembali mencium bibirnya dengan lebih bergairah.


Gadis itu mengeratkan kaitan tangannya pada leher Lucas. Mencoba untuk tidak jatuh dari posisinya, seolah mengerti sisa kekutan kaki Viona yang hanya tinggal beberapa persen lagi.


Lucas semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang rampingnya. Namun ciuman itu berakhir saat Lucas merasakan pukulan pada dada bidangnya.


"Masih tetap payah, eh." sindir Lucas sambil menghapus sisa liur di bibir Viona. Gadis itu tersipu. "Kau pasti merindukan kakak dan teman-temanmu, hari ini aku akan membawamu menemui mereka." ucap Lucas yang sontak membuat Viona mengangkat wajahnya dan menatap Lucas dengan mata berbinar-binar


"Benarkah?" Lucas mengangguk. Gadis itu pun langsung menghambur memeluk sang kekasih saking girangnya, Lucas mengangkat sudut bibirnya dan membalas pelukan Viona."Lu, bisa kita berangkat sekarang? Aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu mereka."


"Baiklah,"


-


-


Brakkk!!!


Tubuh Milla dan Kai sama-sama terhempas bekelakang dan menubruk tumpukan kayu setelah seseorang datang menengahi pertarungan mereka berdua.


"Kai, kau tidak apa-apa?" tanya Tao seraya membantu Kai berdiri. Laki-laki berkulit tan itu menghapus darah yang mengalir dari sudut bibirnya dan mengangguk meyakinkan.


Susah payah Milla mencoba untuk berdiri, salah satu tangannya mencengkram bagian dadanya yang terasa sesak. Tatapan tajam sekelam malam miliknya tertuju pada sosok gadis bersurai coklat panjang bergelombang. Wanita itu mencoba berdiri dengan benar dan menggepalkan tangannya


"Wanita tak tau diri, apa kau sudah bosan hidup?" ucap Milla penuh amarah.


Ara menghampiri Milla dengan langkah tenang. Tidak ada rasa gentar sedikit pun terpancar dari sorot matanya meskipun tau jika yang berada di hadapannya itu adalah seorang Vlad.

__ADS_1


"Cukup, Kamilla Song. Berhenti membuat kekacauan ditempat ini. Jika kau memang tidak suka, sebaiknya kau segera pergi." ujar Ara dengan tatapan tak kalah tajam dari Milla.


Wanita bermarga Song itu menyeringai meremehkan, wanita itu menghampiri Ara dan memainkan jari-jarinya pada rambut panjang Ara sebelum berpindah dan mencengkram rahang gadis itu.


"Kau pikir kau itu siapa, Ara Kim? Seenaknya saja memerintahku ini dan itu. Apa kau sudah bosan hidup, eo?" Ara meringis seraya cengkraman Milla semakin kuat. Namun Ara tidak tinggal diam begitu saja dan langsung menendang perut Milla hingga terhuyung kebelakang.


Bruggg!!!


"Uugghhh." rintih Milla sambil memegangi perutnya, salah satu matanya menyipit."Kau.... akan segera ku kirim keneraka." teriak Milla marah.


Pertarungan dua wanita itu pun tidak dapat terhindarkan. Dengan kekuatan yang dia miliki, tidak sulit bagi Ara untuk mengimbangi kekuatan Milla. Kamilla yang mulai terdesak menggunakan kekuatan menghilangnya


"Hahahhaa! Ayo temukan aku mahluk sialan," tantang Milla.


Ara menutup matanya dan menajamkan indera pendengarnya, melalui arah angin ... Ara mencoba menemukan keberadaan wanita itu. Sudut bibir Ara terangkat saat mendengar pergerakan dari arah belakang. "Aku menemukanmu, Iblis tak tau diri." serunya lalu melayangkan serangannya pada Milla.


"Aaaahhh." Tubuh Milla terhuyung kebelakang dan apa yang Ara lakukan mengundang kemarahan Milla. Wanita itu mengeluarkan bola api dari kedua telapak tangannya yang semakin lama semakin membesar


"Kau... harus merasakan kemarahanku MAHLUK SIALAN." Ara tersentak kaget. Gadis itu hanya dapat membeku ditempatnya tanpa mampu bergeming sedikit pun. Semua yang baru tiba di sana membelalakkan matanya.


"ARA, TIDAK." jerit Jia histeris.


"Hahahhaa!! Terimalah kematianmu, ARA KIM! Kau, tidak akan bisa lolos dari serangan api nerakaku."


"Brengsekk kau, Song." teriak Kai marah.


"Ck, diamlah kau bocah. Ucapanmu hanya akan menghambat kematiannya." sinis Milla menimpali,


"Aaaarrrkkkhhhh." Kai berteriak frustasi, ingin sekali ia berlari dan menyelamatkan Ara namun sendi-sendi pada kakinya serasa lemas hingga tidak mampu bergerak satu inci pun.


Kai mengacak rambutnya frustasi. Jika sesuatu terjadi pada Ara. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Karna bagaimana pun juga Ara berada dalam bahaya demi menyelamatkannya.


Brakkk!!!


Entah apa yang terjadi tiba-tiba saja tubuh Milla terpental dan menghantam pohon sebelum bola api itu ia lepaskan pada Ara."Byurrr." Membuat wanita itu muntahh darah dan merasakan sesak yang luar biasa pada dadanya.


"Kau fikir aku akan membiarkanmu melukai sahabatku?" ucap orang itu seraya menghampiri Milla.


"Viona//Putri?"


"Oh, kau rupanya?"


Bukannya terkejut dan merasa takut dengan kemunculan Viona. Milla malah melebarkan smriknya. Ia merasa senang dengan kedatangan Viona di sana, karena dengan begitu akan sangat mudah baginya untuk mengungkap jati diri gadis itu di depan Lucas.


"Apa kau datang untuk mengantarkan nyawamu Vampire sialan?" sinis Milla dengan seringai meremehkan.


"Bukan aku, Vlad. Tapi kau." balas Viona menyerintai.


"Vampire? Vlad? Apa-apaan ini?" seru seseorang dari arah belakang, sontak semua menoleh pada asal suara. Mata semua orang di sana terbelalak melihat kedatangan orang itu, Viona terutama. Sementara Milla' mengulum senyum penuh kemenangan.


"Lu-Lucas!"


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2