My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Kastil


__ADS_3

Susah payah Viona menelan salivanya ketika ia mengangkat wajahnya dan matanya bersirobok dengan mata merah milik Lucas yang juga menatap padanya. Jarak diantara mereka sangat dekat, tubuh mereka saling menempel dengan sempurna. Dan saking dekatnya, sampai-sampai dia dapat merasakan hangatnya hembusan nafas Lucas menyentuh wajahnya.


Setelah terbang cukup jauh dan sedikit melelahkan. Akhirnya mereka tiba di sebuah kastil tua yang berdiri kokoh ditengah rindangnya pepohonan hutan. Kastil itu terlihat megah dan kokoh. Kastil yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, hanya mereka yang memiliki kekuatan supranatural yang dapat melihatnya karna kabut segel yang melindunginya.


Sepasang sayap hitam yang berada di balik punggung Lucas telah menghilang, laki-laki itu telah kembali ke dalam wujud manusianya, meskipun rambut dan warna matanya masih tetap sama. "Kau akan aman di sini. Malam ini kita akan bermalam di sini." ucap Lucas seraya melewati Viona begitu saja.


"Tuan, tunggu." Viona menahan lengan Lucas. Membuat laki-laki itu mau tidak mau menoleh padanya. "Tapi kastil siapa ini? Apa kau yakin akan bermalam di sini? Bagaimana jika sebenarnya kastil ini adalah-"


"Kastil ini milikku," Lucas menyela cepat. Pemuda itu berbalik, posisinya dan Viona saling berhadapan. "Kastil ini peninggalan dari orang tuaku. Jadi kau tidak perlu cemas apalagi menganggap jika kastil ini adalah sarang mahluk-mahluk itu. Kau akan aman di sini. Ayo masuk."


Semenjak kematian keluarga dan klannya tiga belas tahun yang lalu. Ini pertama kalinya Lucas menginjakkan kakinya di tempat dimana dia dilahirkan hingga remaja.


Dulu saat orang tuanya masih ada, Lucas begitu dihormati karena kedudukanya sebagai seorang tuan muda. Sosoknya yang dulu sangat hangat dan ramah kini tidak terlihat lagi padanya. Kematian keluarganya merubah Lucas menjadi sosok yang berbeda, yang berhati dingin dan tidak mengenal kata belas kasih pada para buruannya.


Viona tidak dapat menahan kekagumunannya setelah dia berada di dalam kastil itu. Kastil itu begitu megah bak sebuah istana, gadis itu berjalan dan melihat-lihat seluruh isi dalam ruangan tersebut.


Banyak sekali barang-barang antik yang sangat langkah dengan nilai harga yang sangat fantastis di dalam ruangan itu, kemudian Viona berjalan menuju lukisan besar yang tergantung di dinding.


Ada lima orang dalam lukisan itu yang salah satunya ia yakini adalah Lucas. Namun ada yang berbeda dalam lukisan itu, dalam lukisan itu Lucas yang saat itu masih berusia lima belas tahun terlihat tersenyum lebar. Matanya memancarkan kehangatan dan raut wajahnya menunjukkan kebahagiaan. Sangat berbeda dengan Lucas yang ia kenal saat ini.


Viona menoleh pada Lucas yang tengah bersandar pada tiang panjang dibelakangnya sambil bersidekap dada, memperlihatkan lengan kokohnya yang tidak tertutup apapun karna pakaian lengan terbuka yang Lucas pakai.


Turtleneck hitam tanpa lengan yang dibalut vest kulit berleher tinggi sepanjang lutut yang senada dengan celana dan turleneck-nya. Dalam balutan pakaian serba hitamnya, membuat Lucas terlihat semakin tampan dan misterius.


"Ini dirimukan?" tunjuk Viona pada laki-laki remaja dalam lukisan itu.


Lucas mengangguk. "Lukisan itu di ambil saat usiaku lima belas tahun. Itu adalah kebersmaan terakhirku bersama mereka sebelum akhirnya mereka di bantai secara keji oleh para mahluk penghisap darah. Dan sejak saat itu aku memutuskan untuk menjadi seorang Hunter demi membalaskan dendam keluargaku." ujar Lucas panjang lebar.


"Kau terlihat lelah. Akan ku tunjukkan kamarmu." Lucas beranjak dan berjalan menuju lantai dua diikuti Viona yang berjalan mengekor di belakangnya. Lucas membuka pintu berpelitur coklat yang tampak elegant di depannya.


"Malam ini kau bisa menempati kamar ini. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa memanggilku, aku ada di kamar sebelah."

__ADS_1


"Tunggu dulu."


Lucas menghentikan langkahnya dan berbalik."Aku belum tau namamu, perkenalkan aku Viona Jung." Viona mengulurkan tangannya pada Lucas.


Lucas tidak langsung menerima uluran tangan gadis itu dan hanya menatapnya datar. Viona menarik kembali tangannya yang diabaikan oleh Lucas


"Xiao Lucas, itulah namaku." jawab Lucas dan berlalu.


Viona terpaku, gadis itu menatap punggung Lucas yang semakin menjauh. Ada getaran aneh yang ia rasakan saat menatap mata pemuda dingin tersebut. Gadis itu mengangkat tangannya dan ia arahkan pada dada kirinya yang berdebar tidak karuan.


"Ya Tuhan perasaan apa ini?" ucapnya membatin.


Gadis itu berjalan menuju jendela besar yang ada di dalam ruangan itu, wajahnya mendongak menatap langit malam yang tertutup awan mendung. Yang menandakan hujan akan segera turun.


Di dalam kastil yang sama namun di ruangan berbeda... seorang laki-laki berdiri di depan jendela kamarnya yang terbuka.


Langit kembali menyampaikan kerinduannya akan bumi. Air menguap, lalu menyatu di langit kemudian jatuh ke dalam pelukan bumi. Langit menjatuhkan butiran-butiran tanpa warna sejak beberapa saat yang lalu. Membawa aroma wangi tanah dan sisa-sisa tetesan yang melekat di ujung daun-daun pinus.


Jika bisa waktu diputar kembali, Lucas ingin kembali kemasa lalu untuk mencegah insiden mengertikan itu agar tidak terjadi. Namun itu hanya sebuah angan-angan yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Disesali pun tidak ada gunanya, karna nasi telah menjadi bubur. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah merelakan mereka dan menatap kemasa depan.


Waktu terus berputar. Matahari yang selalu terbit dari timur kemudian bergerak menuju senja sebelum akhirnya kembali kedalam pelukan laut. Layaknya karma dan reinkarnasi, demikianlah siklus kehidupan berlangsung.


"Kkkkyyyyyaaaaa???"


Lucas terkejut mendengar teriakan dari sebelah kamarnya, lebih tepatnya pada kamar yang ditempati oleh Viona. Lucas menyambar pedang peraknya dan bergegas menuju kamar tamu, dan setibanya di sana pemuda itu tidak mendapati ada mahluk apapun selain Viona yang berusaha mengusir seekor kecoa.


Pemuda itu mendengus kemudian kembali kekamarnya dan sepertinya Viona tidak menyadari kedatangannya.


"Yakkk!! Kecoa sialan , pergi kau... Kyyyyyaaaa... jangan mendekatiku. Hus hus hus.."


Lucas yang merasa terganggu oleh teriakan melengking Viona memutuskan untuk kembali ke dalam kamar tamu. Lucas melihat gadis itu berdiri diatas tempat tidur sambil mengibaskan tangannya berusaha mengusir mahluk kecil menjijikkan itu.

__ADS_1


Lucas menginjak kecoa itu sampai mati kemudian melemparkan keluar jendela. Viona menghela nafas lega, gadis itu tersenyum kemudian turun dari tempat tidur dan mengahmpiri Lucas.


"Terimakasih karena sudah mengusir kecoa itu untukku." ucapnya masih dengan senyum yang sama.


"Tidurlah ini sudah lewat tengah malam." pinta Lucas dan berlalu begitu saja. Meninggalkan Viona sendiri di ruangan itu dan kembali kekamarnya.


Tapp!!


Lucas menghentikan langkahnya saat merasakan kehadiran mahluk supranatural di kastilnya. Pemuda itu mengurungkan untuk kembali kekamarnya dan menemui mahluk itu yang sedang menunggunya di luar kastil. Mata Lucas memicing melihat seorang pria yang tengah berdiri dalam posisi memunggungi.


"Ada perlu apa kau datang kemari?"


"Kita perlu bicara." orang itu berbalik dan posisi mereka kini saling berhadapan. Wajahnya terlihat begitu serius.


"Katakan!!"


"Dan ini tentang Viona. Sebagai orang yang ditugaskan untuk melindunginya, aku ingin agar kau membiarkan dia berada disini untuk sementara waktu sampai keadaan benar-benar aman. Aku tau karena hanya dirimu satu-satunya mahluk yang bisa melindunginya... Dark Lephrica." tampak keterkejutan dalam matanya walaupun hanya sekilas yang kemudian tertutupi oleh ekspresi datarnya.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Dan apa maksudmu memintaku agar melindunginya? Bukankah kau dan mereka semua juga bisa melindunginya? Lagipula aku tidak ingin terlibat apa pun dengan urusan kalian. Setelah fajar tiba, aku akan kembalikan dia pada kalian. Pergilah, aku sangat lelah."


"Tapi bagaimana jika gadis itu adalah takdirmu?"


Lucas menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan orang itu yang tak lain adalah L. "Kau boleh menganggapku gila ataupun tidak waras, tapi garis takdirlah yang menunjukmu sebagai takdir abadinya. Kau menyadarinya atau tidak, tapi perasaan kalian saling terhubung, itulah kenapa kau tidak bisa mengabaikannya saat aku memintamu untuk membawanya pergi." ujar L panjang lebar.


Lucas tidak memberikan tanggapan apapun dan melanjutkan kembali langkahnya. Laki-laki itu menutup matanya dan mendesah berat.


Sepertinya tidak ada gunanya berbicara dengan mahluk berhati dingin seperti Lucas. L pun memutuskan untuk meninggalkan kastil tersebut dan kembali pada teman-temannya. Meskipun hasilnya mengecewakan, yang terpenting dia sudah mencobanya.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2