My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Bintang Jatuh


__ADS_3

Gemersik daun-daun kering yang berguguran mewarnai dalam keheningan malam, suaranya yang lembut berbaung sejenak di indera pendengaran, membawa perasaan damai bagi setiap orang, pastinya.


Tidak terkecuali gadis cantik yang memiliki paras bak boneka barbie bersurai coklat panjang hingga menyentuh pinggangnya, berdiri menikmati semilir angin malam dengan berpayungkan cahaya bulan yang terlihat terang malam ini.


Si gadis berdiri menatap danau cantik yang dikelilingi bunga-bunga cantik dengan berbagai warna dan jenis. Aromanya yang semerbak berkaur di dalam indera penciumannya.


Gadis cantik itu yang tidak lain adalah Viona mengangkat wajahnya, sepasang mutiara abu-abunya menerawang ,menatap jutaan manik-manik langit yang memainkan cahayanya di langit. Helaian rambut panjangnya bergoyang, karena terpaan halus angin malam.


Berdiri dalam diam, menikmati indahnya suasana. Sudah lama rasanya Viona tidak merasakan setenang ini. Dikarenakan sikap berlebihan ayah dan kakaknya yang membatasi ruang geraknya, hidupnya selalu dikelilingi orang-orang yang berusaha mati-matian untuk melindungi hidupnya.


Bentuk tubuhnya yang sempurna terlihat semakin indah dalam balutan gaun putih gading berlengan yang panjangnya hampir menyentuh mata kakinya. Gaun indah bertabur batu-batu mulia itu tampak berkilauan dibawah sinar bulan purnama yang tidak segan-segan membagi sinarnya untuk si gadis.


Tidak lama kemudian, sepasang irisnya tertutup. Senyum indah yang menghiasi wajah cantiknya semakin menambah keelokannya. Danau buatan yang ada di depannya tampak bergelimang karna biasan cahaya bulan. Warna jingganya yang mempesona pancarkan kesejukan, langit berubah keungguan dengan dekorasi hitam dan biru tua di mana-mana.


Bulan besar di atas sana mengerlipkan cahayanya pada setiap mahluk hidup yang bernaung di bawah sana, mengundang decak kagum pada setiap mata yang memandangnya.


Sentuhan lembut pada bahunya membuat Viona terlonjak kaget. Sontak saja ia menoleh dan mendapati seorang pemuda tampan berwajah dingin dengan sebuah benda hitam bertali menutupi mata kanannya berdiri tepat di belakangnya.


"Lucas?!" pekiknya kaget. "Apa yang kau lakukan di sini? Aku pikir kau sudah tidur." Ucap Viona dengan raut wajah polosnya, alami tanpa di buat-buat.


"Ini masih terlalu awal untuk tidur, lalu kau sendiri kenapa tidak tidur dan malah berdiri di sini?" celetuk Lucas dengan mata menyipit."Melihat bintang, huh?"


"Bingo." Viona menjentikkan jarinya, senyumnya semakin lebar. "Melihat bintang dimalam hari adalah ritual wajib sebelum aku tidur. Apalagi malam ini cuaca sangat bersahabat dan langit terlihat sangat cerah, bintang-bintang bertaburan menghilasi langit jadi bagaimana aku bisa melewatkannya." ujar gadis itu panjang lebar tanpa melunturkan senyum menawan itu dari wajah cantiknya


"Omo. Lucas, look. Ada bintang jatuh." seru Viona histeris, jari telunjuknya menunjuk langit.. sepasang mutiara abu-abunya tampak berbinar melihat fenomena langit yang sangat menakjubkan itu. "Aku harus segera membuat permohonan." Gumamnya.


Dia percaya, saat seseorang membuat permohonan bersamaan dengan jatuhnya sebuah cahaya keemasan jatuh dari langit membentuk ekor panjang yang indah, maka permohonan orang itu akan di kabulkan. Dan Viona meyakininya. Bukan sebuah permintaan yang muluk-muluk. Viona hanya meminta sebuah ending bahagia untuk hidupnya


"Apa bintang jatuh benar-benar akan mengabulkan permintaanmu? Bukankah itu hanya sebuah mitos saja." ujar Lucas sesaat setelah Viona membuka kembali kedua matanya.


"Bagi sebagian orang hal itu memang mitos belaka, namun banyak juga yang percaya dan aku salah satunya. Setiap malam saat langit cerah, aku selalu memandang langit untuk menunggu bintang jatuh, tapi hal itu tidak pernah terjadi. Dan itu membuatku sangat sedih, tapi malam ini sepertinya takdir berpihak padaku sehingga aku dapat melihat bintang jatuh."


"Udara di sini sangat dingin, masuklah... kau bisa sakit nanti."


"Lalu bagaimana denganmu? Bahkan kau memakai pakaian yang sangat kontras dengan udara malam ini." Tunjuk Viona pada kemeja kelabu tanpa lengan yang Lucas kenakan.


"Kau sendiri bisa sakit, ya meskipun kau sering memakainya bahkan saat kau berburu bersama timmu. Kadang aku merasa heran, bahkan semua timmu memakai jubah lengan tertutup tapi kenapa kau malah memakai yang lengan terbuka? Apa itu untuk membedakan mana ketua dan mana anggota tim, begitu ya?"


Lucas menyentil kening Viona dengan gemas membuat si empunya meringis pelan."Kenapa kau menjadi begitu banyak bicara, eo?" ujar Lucas sambil menatap gadis di sampingnya."Dalam timku semua sama, tidak ada yang membedakan mana ketua mana anggota tim. Aku memakai pakaian lengan terbuka karena hal itu membuatku jauh lebih nyaman, itulah alasanku. Kau sudah puas? Ayo masuk."

__ADS_1


"Nanti dulu," Viona menarik lengan Lucas yang hendak melangkah, akibatnya tubuh laki-laki itu menubruk tubuhnya karna kehilangan keseimbangannya.


'Glukk'


Susah payah gadis itu menelan salivanya, wajahnya tiba-tiba memanas saat menyadari tidak ada lagi jarak antara dirinya dengan Lucas. Tubuh mereka benar-benar menempel sempurna dengan kedua tangan Viona yang langsung refleks memeluk leher Lucas, semenentara Lucas melingkarkan salah satu tangannya pada pinggang ramping Viona. Sungguh sebuah kebetulan yang manis.


Sadar posisinya, gadis itu pun segera melepaskan kalungan tangannya dan sedikit menjauh dari pemuda itu. "Ma-Maaf, Lu. A..aku tidak sengaja, a..aku masuk dulu." ucap Viona terbata-bata.


Namun sepertinya Lucas tidak membiarkan dia pergi begitu saja, dengan sigap Lucas menarik lengan Viona dan mencium bibirnya. Membuat tubuh gadis itu terpaku saking kagetnya, ini adalah ciuman ketiga mereka dan yang Viona rasakan masih sama seperti pertama kali Lucas menciumnya.


"Ya Tuhan, cabut saja nyawaku detik ini juga."


-


-


"Kkkkyyyyyyaaaaaa... banjirrrrr..."


Suasana pagi yang harusnya tenang seketika menjadi riuh karna jeritan histeris salah satu Hunter.


Semua yang bernaung dalam bangunan megah bak istana itu pun berhamburan keluar dari kamar masing-masing termasuk sang tuan rumah 'Ellena dan Yohan'. Mereka berdua melihat Tao keluar dari kamarnya hanya dengan sehelai handuk dan hal itu menimbulkan tanda tanya dibenak semua orang.


"Huaaaa... Hyung, bocah ini. Dia... dia.. ngompol... Hiks, huaaaa..." jerit Tao lalu menangis histeris.


Para mahluk abadi saling bertukar pandang dan memekik sekencang-kencangnya. "A...APA.. NGOMPOL?" pekik mereka nyaris bersamaan. Tao mengangguk ditengah isakannya, sementara sang tersangka utama hanya bisa menggaruk tengkuknya


"Maaf jika sudah membuat keributan pagi-pagi begini, jika kelelahan aku memang sering mengompol." ucapnya jujur.


"Hiks, dan aku yang selalu jadi korbannya... huaaaa." sahut Tao dan kembali terisak.


Karena tingkah kedua anggota timnya, Carl menjadi tidak enak pada Ellena dan semua orang karena keributan yang Tao dan Kai ciptakan. Seharuanya pagi ini mereka masih nyenyak dalam tidurnya namun harus terbangun karna tingkah konyol mereka berdua


"Maaf, karna kedua bocah ini sudah membuat keributan sepagi ini. Sekali lagi aku minta maaf."


Yohan menghampiri Carl dan tersenyum tipis."Tidak apa-apa, Carl. Bukanlah hal yang besar. Hal semacam ini bukan sesuatu yang baru untuk kami semua karna, Antolin dan Chen juga sering sekali membuat kami terbangun dipagi buta karna kekonyolan mereka." ujar Yohan menimpali.


Sementara itu, Kai langsung memicingkan matanya saat tidak melihat sosok Milla hadir diantara teman-temannya juga para mahluk abadi, mungkinkah dia masih tidur? Pikir Kai, tapi itu tidak mungkin... harusnya wanita iblis itu ikut terbangun karena kegaduhan yang ia ciptakan. "Pergi ke mana kau, Song?" pikir Kai sekali lagi.


"Ada apa, Kai? Kau terlihat seperti memikirkan sesuatu?" tanya Carl penasaran.

__ADS_1


"Apa diantara kalian ada yang melihat, Milla? Kenapa aku tidak melihat wanita merepotkan itu sama sekali?" ucap Kai kebingungan.


"Wanita itu ya? Aku melihatnya pergi pagi-pagi sekali, sebelum dia pergi aku melihat nona Song berbicara dengan dua pria misterius yang tubuhnya tertutup kain hitam." sahut L menuturkan. "Dari auranya, dua laki-laki itu adalah Vlad."


"Apa? Hyung, apa kau yakin?" Tanya Kai memastikan, L mengangguk


"Aku memiliki firasat buruk. Hyung, Nunna sebaiknya kita segera menyusulnya. Maaf jika aku lancang mengatakan ini. Tapi perempuan itu tau jika Nona Viona adalah seorang Vampire dan dia berencana untuk memberi taukan kebenaran itu pada, Lucas hyung. Jika kita tidak bertindak sekarang pasti akibatnya akan sangat fatal." Tutur Kai panjang lebar.


Degg!!


Penuturan Kai membuat Ellena tersentak kaget. "Ba..bagaimana kau bisa tau jika adikku seorang vampire? A..apa kalian para Hunter berencana untuk membunuhku dan Viona setelah mengetahui kebenaran ini?" tanya Ellena sambil menatap ketiga laki-laki di depannya penuh keterkejutan.


Jika mereka bertindak pasti L dan yang lain akan bertindak untuk melindunginya, namun bagaimana dengan Viona bila Milla sampai mengatakannya pada Lucas? Seketika Ellena mengingat tragedi yang pernah L bicarakan


"L, katakan padaku. Apa tragedi ini yang kau maksud hari itu? Apakah laki-laki itu akan membunuh adikku?" Panik Ellena dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Untuk itu aku memberitaumu hal ini, Nona. Sebenarnya kami bertiga sudah lama tau jika kau dan Viona nunna adalah seorang vampire. Kami melihat jika kalian adalah vampire yang baik bahkan kalian ikut berburu dan menghabisi para kaummu, dari situ kami sadar jika tidak semua vampire itu berbahaya. Tapi masalahnya terletak pada, Lucas hyung.


Dia memiliki dendam kesumat pada kaum Vampire dan aku tidak tau bagaimana nasib Viona nunna jika Lucas hyung sampai tau jati diri dia yang sebenarnya. Dan untuk itu kita harus bisa menghentikan, Song sialan itu sebelum terlambat." Tutur Kai panjang lebar.


"Ya Tuhan."


"Ellena//Eonni//Nona." Semua berteriak melihat Ellena yang hampir saja kehilangan keseimbangannya. Dengan segera Yohan menahan tubuh sang Istri sebelum bersentuhan dengan tanah


"Kau baik-baik saja?" tanyanya memastikan, Yohan menatap Ellena penuh kecemasan.


"Apa aku terlihat baik-baik saja saat mengetahui jika hidup adikku berada dalam bahaya."


"Wanita itu." Ara mnggeram marah. Dengan perasaan yang bercampur aduk, gadis itu melenggang meninggalkan semua orang. Namun Antolin dan Jia tidak membiarkannya. Keduanya segera mengejar Ara yang mulai kehilangan kesabarannya


"Wanita Iblis, aku pasti akan membunuhhmu."


"Ara, tunggu..."


.


.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2