
Viona menjatuhkan tubuhnya yang terasa pada kasur king size milik Lucas. Tubuhnya terasa lelah, derap langkah kaki yang semakin mendekat memaksa gadis itu untuk menoleh dan mendapati Lucas berjalan memasuki kamar.
Lucas melepaskan long vest kulitnya dan menggantungnya dibelakang pintu menyisakan turleneck hitam tanpa lengan yang melekat pas ditubuh kekarnya. Lucas menghampiri Viona kemudian berbaring disampingnya. "Kau lelah?" gadis itu mengangguk.
"Eoh? Lu, kau terluka?" Viona memekik seraya bangkit dari posisi berbaringnya, gadis itu melihat ada luka pada tulang pipi kiri Lucas."Aneh, kenapa lukanya tidak bisa tertutup padahal aku sudah membagi keabadian Viero itu denganmu. Apa mungkin karena inti keabadian itu masih ada padaku?"
"Tidak perlu difikirkan toh hanya luka kecil saja, dalam waktu dua tiga hari juga akan sembuh." Jawabnya meyakinkan.
Lucas bangkit dari posisi berbaringnya lalu berjalan menuju kamar mandi. "Sebaiknya kau segera tidur, ini sudah larut malam. Aku akan membersihkan diri dulu," Ucap Lucas sebelum sosoknya menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Tak lama setelah Lucas masuk kedalam kamar mandi, Viona langsung membaringkan tubuhnya pada kasur king size milik pemuda itu. Baru saja dia hendak menutup matanya, tiba-tiba saja ada sebuah angin kencang yang muncul dikamar Lucas..
Dua orang pria dan seorang wanita berdiri dihadapan Viona. "Kalian?! untuk apa kalian kemari?" tanya Viona pada ketiga orang itu.
"Maaf, Tuan Putri. Kami hanya menjalankan tugas dari, Renous. Para dewan Seiz ingin agar kami membawa Anda kembali. Karna para dewan tertinggi telah memutuskan untuk mengeluarkan Inti Viero itu dari dalam tubuh Anda."
"APA? Tidak, aku tidak mau. Ini adalah warisan paling berharga dari Ibuku. Aku tidak akan menyerahkan inti keabadian ini pada kalian. Tidak akan pernah," Viona menentang keras apa yang dikatakan oleh wanita itu. Ia telah bersumpah untuk menjaga keabadian itu dan dia hanya akan memberikannya dan membaginya pada Lucas.
"Maaf, Tuan Putri. Tapi keputusan ini sudah disepakati oleh seluruh dewan tertinggi."
"Keabadian ini adalah milikku. Tidak ada satupun yang berhak merebutnya dari diriku termasuk kalian."
"Maaf, Tuan Putri jika kami harus menggunakan cara kasar untuk membawa anda kembali ke dunia Seiz." Wanita itu menyegel tubuh Viona dengan kekuatannya hingga dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya terbelenggu dalam mantra itu.
Jangankan untuk berteriak dan meminta pertolongan, bergerak pun ia tidak bisa. Yang menjadi harapan Viona saat ini hanyalah Lucas, karna hanya dia satu-satunya yang bisa menyelamatkan dirinya. "Lucas, aku mohon selamatkan aku," irih Viona membatin.
"Kita pergi dari sini sebelum dia menyadari keberadaan kita."
"Baik ketua."
Brakkk!!!
Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba saja tubuh dua laki-laki yang memegangi Viona terpental dan menghantam pohon besar yang berada dihalaman kediaman Lucas.
Tubuh gadis tidak lagi berada dalam cengkraman kedua laki-laki itu melainkan orang yang menyelamatkannya. Seorang laki-laki dengan tongkat kebesarannya tiba-tiba muncul dan menggagalkan rencana mereka untuk membawa Viona secara paksa.
"Kalian pikir aku akan membiarkannya?" ucap laki-laki itu dengan nada yang terlewat datar.
Mata wanita itu terbelalak sempurna melihat kedatangan orang itu. "Yang Mulia, Lord Ruthven?"
"Apa yang kalian ingin lakukan pada putriku? Bukankah aku sudah menentang keras rencana itu." Seru Lord Ruthven yang mulai diselimuti api kemarahan. Sebagai seorang ayah, tentu saja Lord Ruthven tidak terima jika inti kekuatan dalam diri putrinya dikeluarkan secara paksa dengan mempertaruhkan nyawanya.
"Maaf, Yang Mulia. Kami hanya menjalankan tugas saja, setuju tidak setuju Anda dengan rencana ini. Kami akan tetap melakukannya karna, Renous sendiri yang memerintahkan kami. Jadi tolong jangan menghalangi jalan kami, dan lagi pula para dewan tertinggi juga sudah menyetujuinya."
"Apa kalian semua sudah tidak memiliki otak dan akal sehat? Mengambil paksa inti dari kekuatannya sama saja dengan membunuhnya. Tidak bisa, aku tidak akan membiarkan kalian melakukannya dan mengorbankan putriku demi kepentingan dunia, Seiz." ujar Lord Ruthven panjang lebar.
__ADS_1
"Lebih baik mengorbankan satu nyawa dari pada harus mengorbankan kelangsungan hidup manusia, karena jika sampai keabadian itu jatuh pada tangan yang salah malah kehancuran akibatnya. Apalagi para sekutu, Dark Shadow juga mengincarnya, kita tidak memiliki pilihan lain selain mengeluarkan keabadian itu kemudian memusnahkannya."
"Apapun alasannya, aku tidak akan membiarkanmu melakukannya, dan jangan salahkan aku jika harus berlaku tidak sopan padamu." Ujar Lord Ruthven.
"Baiklah, Yang Mulia. Anda sendiri yang memaksa kami untuk melawan Anda jadi bersiaplah."
Pertarungan antara Lord Ruthven dan tiga orang dari dunia Seiz itu pun tidak dapat terhindarkan, empat kekuatan besar saling berbenturan menimbulkan percikan cahaya yang menyambar di segala penjuru arah.
Di saat Lord Ruthven sibuk pada pertarungannya, di saat yang bersamaan sosok pria misterius muncul dan membawa Viona yang masih tersegel pergi dari sana. Sangat cepat hingga tidak ada yang menyadari kedatangannya termasuk Lord Ruthven.
Brakkk!!!
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja tubuh tiga orang yang melawan Lord Ruthven terhempas setelah mendapatkan serangan tidak terduga. Sosok laki-laki dalam balutan jeans hitam dan kemeja hitam lengan terbuka yang dibungkus long vest kulit dengan warna senada serta sebuah eyepatch menutup mata kanannya berdiri tempat didepan Lord Ruthven.
"Tapi sayangnya aku tidak akan membiarkannya," ucap orang itu yang tak lain adalah Lucas dengan nada membekukan.
Mata coklat miliknya menatap tiga orang dari dunia Seiz itu dengan tajam penuh intimidasi membuat ketiga orang itu merinding melihatnya. "Di mana, Viona?" Lucas melirik laki-laki setengah baya dibelakangnya.
"Viona?" Lord Ruthven tampak terkejut.
Lucas mengedarkan pandangannya namun tidak mendapati keberadaan gadis itu di mana pun, sampai dia merasakan kehadiran mahluk Seiz lain di sana dan Lucas menyimpulkan jika kedatangan tiga orang yang tengah bertarung dengan Lord Ruthven memang sudah direncanakan dengan matang.
Mereka bertiga bertugas memicu kerusuhan sedangkan yang lain bertugas untuk membawa Viona pergi. Menyadari nyawa gadisnya berada dalam bahaya tidak membuat Lucas tinggal diam, Lucas bergegas mengejar mahluk itu sebelum hal buruk menimpa diri Viona
"Aku akan mengejar mahluk yang membawa Viona. Tidak apa-apa bukan jika Anda bertarung sendiri melawan mereka." Lord Ruthven mengangguk.
"Pergilah, dia membutuhkanmu saat ini." ucapnya, Lucas menatap laki-laki didepannya kemudian mengangguk.
"Baiklah."
Laki-laki itu membaringkan tubuh Viona yang dalam keadaan tidak berdaya pada sebuah papan panjang mirip sebuah meja yang disamping kanan dan kirinya dilapisi emas dan perak, di bagian atas serta bawahnya terdapat sandaran dengan ukiran rumit.
"Untuk apa kau membawaku ke sini?" namun tidak ada jawaban untuk pertanyaan gadis itu, meskipun tubuhnya dalam keadaan tersegel namun gadis itu tidak kehilangan sedikit pun kesadarannya, bahkan dia sadar betul saat laki-laki itu membawanya.
Viona mencoba untuk melepaskan segel Victoria yang membelenggu tubuhnya namun usahanya selalu gagal. "Apa mau kalian sebenarnya?" tanyanya memastikan.
Terlihat seorang wanita lengkap dengan smrik misteriusnya datang menghampiri Viona di ikuti dua laki-laki yang berjalan mengekor dibelakangnya, wajah kedua laki-laki itu tidak terlihat karna tertutup tudung jubah hitamnya.
"Melakukan tugas dari, Renous." jawab wanita itu menyeringai.
"Tugas?"
"Mengambil keabadian itu dari tubuhmu."
"Apa?" Kedua mata Viona membelalak sempurna mendengar ucapan wanita itu. Viona terkejut bukan main. "Mau apa kalian?" Viona memekik melihat dua laki-laki itu berjalan menghampirinya kemudian memegang tangan dan kakinya.
__ADS_1
Dan hal itu semakin menambah kekhawatiran dan kewaspadaan Viona. Jantungnya berdebar kencang saat melihat wanita itu menghampirinya sambil membawa alat yang Viona sendiri tidak tau apa kegunaannya.
Glukkk!!
Susah payah dia menelan salivanya saat wanita itu mengarahkan alat tersebut pada lehernya. Sebuah mantra dalam bahasa rumit yang tidak Viona pahami terucap dari bibir wanita itu.
Gadis itu menggeleng kuat, Ia tidak bisa terima jika keabadian itu harus terenggut secara paksa darinya. Alat itu menempel pada kulit leher Viona dan bersiap untuk menembus kulit lehernya, saat ini Viona benar-benar membutuhkan bantuan dan hanya satu nama yang terlintas di pikirannya.
'Lucas'... Namun sayangnya Lucas tidak datang meskipun hatinya berkali-kali menjerit menyerukan namanya.
Tidak ingin satu-satunya hal paling berharga peninggalan Ibunya terenggut begitu saja, sebisa mungkin Viona berusaha untuk tetap melindunginya. Dengan sisa tenang yang dia miliki, Viona mendorong tubuh wanita itu namun sayangnya pergerakan tangannya terhenti karna kekuatan kendali wanita itu.
"Tahan tubuhnya. Segel Victoria hampir saja hilang dari tubuhnya. Jika kekuatannya telah kembali, aku tidak tau hal buruk apa yang akan mungkin kita alami karna kekuatan Viero dapat mematahkan kekuatanku," Ujar wanita bermata hijau gelap itu dan mendapatkan anggukan dari dua pria dibelakangnya.
Mendengar ucapannya membuat Viona teringat sesuatu, ia bisa menggunakan kekuatan tersembunyinya jika dalam keadaan terdesak. Dengan konsentrasi penuh, Viona mencoba menjatuhkan wanita itu dengan kekuatan tersebut dan membuatnya bersimpuh kesakitan.
Sepasang bola mata abu-abu milik Viona berubah menjadi merah , gadis itu menatap wanita didepannya dengan tajam dan sebuah kata meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Pain."
Wanita itu ambruk seketika setelah Viona mengucapkan kata 'Pain' sambil memegangi tubuhnya yang terasa sakit seperti diremas-remas. "Rose." panggil wanita yang berdiri disamping dua laki-laki tersebut sambil menatap wanita bernama Rose itu cemas.
"Ja-ja-ngan meng-hirau-kan aku, Alena. Ce-ce-pat am-bil saja in-ti kekuatan itu."
Viona tersentak dengan kekuatannya sendiri, ternyata benar apa yang Ellena katakan hari itu, rupanya kekuatan Telepathy-nya benar-benar dapat melemahkan lawannya.
Kini Viona bersiap untuk mentelepathy wanita bernama Alena itu namun sebelum kata itu keluar dari bibirnya, tiba-tiba lidahnya terasa keluh. Viona sangat yakin jika itu adalah perbuatan wanita bernama Alena tersebut.
Glekk!!
Lagi-lagi Viona menelan salivanya kepanikan terpancar jelas pada raut wajahnya saat melihat Alena berjalan menghampirinya. Gadis itu menggeleng kuat saat alat tersebut menempel dan mulai menembus kulit lehernya menimbulkan rasa panas seperti terbakar, tabung kecil yang awalnya kosong kini mulai terisi oleh darah miliknya.
Namun belum satu ml darah Viona mengisi tabung itu tiba-tiba saja seseorang datang dan melemparkan tubuh Alena hingga menabrak dinding dan membuat wanita itu muntah darah. Bukan hanya Alena, Rose dan dua laki-lali itu pun ikut tersungkur dilantai karena ulah orang yang tiba-tiba saja memasuki ruangan tersebut.
Viona merasa tenang karena pada akhirnya ia bisa terbebas dari empat orang yang sebelumnya mengancam hidupnya. Suara rintihan dan benturan memenuhi seisi ruangan, Viona tidak tau apa yang sebenarnya terjadi karna semua terjadi begitu cepat.
Sampai Viona melihat sepasang kaki yang berdiri dihadapannya dan kemudian membawanya berpindah tempat dengan sangat cepat. Viona mendongakkan wajahnya dan mendapati Lucas-lah yang tengah mengulum senyum setipis kertas.
"Lucas,"
"Syukurlah aku tidak terlambat menyelamatkanmu, sebaiknya sekarang kita pergi dari sini." ujarnya dan segera mendapatkan anggukan dari Viona.
"Baiklah."
BERSAMBUNG.
__ADS_1