
Angela menyapukan pandangannya dan mencoba menemukan siapa orang yang telah melukai Victoria namun tidak membuahkan hasil. Tak ada pergerakan mencurigakan sama sekali di dalam istana, Angela pun bergegas keluar istana untuk memastikan pelakunya ada di sana atau tidak. Dan dia tidak akan mengampuni bila sampai menemukan pelakunya.
"Kau mencariku?" suara dingin terlewat datar itu menginterupsi Angela untuk menoleh pada sumber suara, kedua matanya terbelalak melihat sosok tampan yang tengah bersandar pada tembok sambil bersidekap dada. Meskipun hanya melalui mata kirinya saja, namun tatapan orang itu cukup untuk membuat tubuh Angela menegang.
"Da-dark Lephrica?"
Lucas menutup sejenak mata kirinya seraya bangkit dari posisinya. Mata kiri itu kembali terbuka dan memperlihatkan warna mata berbeda dari sebelumnya.
Perlahan jari-jarinya menarik turun benda hitam bertali yang menutupi mata kanannya. Angela terpaku saat melihat sebuah pusaran angin hitam tiba-tiba saja mengelilingi tubuhnya. Dengan langkah tenang Lucas menghampiri Angela yang tengah berada dalam belenggu kekuatannya.
"Jadi kau yang melakukannya?"
"Benar,"
"Kenapa? Memangnya masalah apa yang Victoria miliki denganmu sampai-sampai kau melakukan hal itu padanya?" teriak Angela marah.
Lucas menarik sudut bibirnya dan menyeringai tajam, ucapan wanita itu benar-benar membuat perutnya serasa di klitik. Tatapan Lucas berubah serius ketika menatap wajah Angela.
"Aku memang tidak memiliki masalah apapun dengan wanita itu, tapi aku tidak akan tinggal diam saat dia berusaha untuk mencelakai istriku."
"Jadi, Viona masalahnya? Memangnya apa yang telah Victoria lakukan padanya sampai-sampai kau begitu marah? Bukankah kau sudah memberikan pelajaran pada kami saat kami berusaha untuk mengambil paksa keabadiannya?"
"Aku rasa matamu tidak buta, bahkan hingga detik ini Vampir itu baik-baik saja. Jujur saja aku merasa heran padamu, bukankah kau adalah pemburu Vampir tapi kenapa kau malah menikahi mahluk yang seharusnya kau habisi? Atau jangan-jangan kau menikahinya bukan karna mencintainya tapi karna keabadian yang dia miliki?" ujar Angela meremehkan.
"Banyak bicara juga kau ternyata."
"Aaarrrkkkhhh!" Wanita itu berteriak keras sambil memegangi lehernya yang serasa seperti dicekik. "Aaarrrrkkkhhh!!" jeritan lagi-lagi terdengar saat Angela merasakan sekujur tubuhnya seperti terbakar kobaran api besar, bulir-bulir keringat mengucur deras dari pelipisnya.
"Pa-panas," lirihnya menggumam. "K-kau iblis! A-aku pikir seorang Dark Lephrica adalah mahluk yang mulia. Ta-tapi ternyata kau tidak ada bedanya dengan iblis. K-kau dan Vampir sialan itu mem... Aaahhhhh! ...yang tidak ada bedanya. Ka-kalian sama-sama mahluk hina. Aaaaaahhhh."
Amarah Lucas memuncak seketika setelah mendengar ucapan Angela, awalnya Lucas hanya ingin memberikan sedikit peringatan kecil untuknya. Tapi mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya seakan membuat Lucas menjadi gelap mata. Dia tidak masalah bila dirinya yang di hina ... tapi Lucas tentu tidak terima bila yang di hina adalah Viona.
Iblis dalam diri Lucas seakan mengambil alih kesadarannya, tanpa ampun Lephrica itu terus menyiksa tubuh Angela dengan kekuatannya
"Aku tidak akan bertoleransi lagi pada mahluk sepertimu. Kau ... tidak layak hidup di dunia ini dan tempatmu yang seharusnya adalah berada di neraka."
"Aaarrrkkkhhh!" lagi-lagi Angela menjerit saat api hitam mulai membakar tubuhnya secara perlahan-lahan "Sa-sakit... pa....nas." jeritnya histeris "Kau, memang iblis, Dark Lephrica. Aaaarrrkkkhhhh."
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini, Nona." ucap Lucas seraya mengepalkan tangannya dan seketika tubuh Angela melebur menjadi abu.
Terdengar lolong kesakitan di detik-detik terakhirnya sebelum tubuh wanita itu lenyap sepenuhnya. Lucas menyeringai puas, dan inilah bayaran yang harus diterima mereka yang berani membuat masalah dengannya. Lucas hendak meninggalkan tempat itu namun langkahnya harus terhenti karna kemunculan ketiga rekan satu timnya.
"Kalian melihatnya?"
"Ge, itu tadi sangat luar biasa." seru Tao sambil mengacungkan jempolnya.
"I-itu tadi sangatlah mengerikan, aku tidak suka. Kamjong tidak suka, hiks.. Kamjong merinding." Kai menutup wajahnya dan mulai sesenggukan.
Melihat hal itu membuat Lucas, Carl dan Tao mendengus geli. Rasanya mereka ingin sekali membunuh Kai supaya dia bisa segera bereinkarnasi dan terlahir normal kembali. Sifat Kai berubah 180° setelah wujudnya berubah menjadi wanita. Tidak hanya menjadi lembek dan mudah tersentuh perasaannya. Kai juga menjadi begitu manja dan cengeng.
__ADS_1
"Hisk, huaaaa.... aku tidak tega, hiks.. wanita itu, hiks... sungguh kasihan."
"Apanya yang perlu dikasihani, Kai. Dia itu orang jahat, seperti Vampir yang selalu kita buru selama ini." ujar Carl menegaskan.
"Benarkah?" Carl mengangguk dan membuat tangis Kai berhenti detik itu juga. Setelah mendengar kata orang jahat Kai akhirnya mengerti kenapa Lucas sampai membunuhnya.
"Aku pikir, Lucas Hyung asal membunuhnya saja, maaf... aku salah paham."
"Kamjong?"
Kai menoleh seketika setelah mendengar suara yang begitu familiar. Senyum di wajah Kai mengembang seketika saat melihat kedatangan orang itu. Kai membuang tisunya dan berlari untuk menerjang tubuh laki-laki itu.
"Chen-ah, kau jahat. Kenapa aku dibiarkan sendiri dan kau malah asik dengan gadis-gadis itu? Bukankah kau ingin melindungiku selalu?"
Kai memukul dada Chen dengan manja. Chen terkekeh kemudian membawa Kai kedalam pelukannya. "Maaf, Kamjong-ah. Aku janji tidak akan melakukannya lagi." Kai mengangkat wajahnya sambil mengacungkan jarinya
"Janji? Kita buat janji kelingking." Chen tersenyum.
"Tentu,"
Sementara itu, Lucas, Tao dan Carl yang melihat adegan itu rasanya ingin muntah. Mereka tidak menyangka bila berry liar itu akan memberikan pengaruh yang begitu besar pada diri Kai. Ternyata bukan hanya fisiknya saja yang berubah namun juga sikapnya.
Perasaannya menjadi begitu lembu, bahkan lebih lembut dari wanita sekalipun. Satu berry akan bekerja selama satu hari dan berry yang Kai makan sebanyak 100 biji yang artinya dia bisa kembali normal setelah 100 hari.
Awalnya tidak ada yang berubah pada diri Kai selain fisiknya namun perubahan besar terlihat setelah memasuki hari ke lima. Sikap Kai menjadi seperti sekarang ini.
Tingkahnya selalu membuat geli semua orang. Mengabaikan Kai dan Chen yang masih asik dengan dunianya sendiri. Lucas memutuskan untuk masuk kembali kedalam istana karna mungkin Stella akan mencarinya. Baru saja Lucas menginjakkan kakinya dilantai istana, gadis itu langsung menyambutnya.
"Menyingkirkan serangga kecil, kau mencariku?" Viona mengangguk. "Vi, sebaiknya jaga jarak dengan, Victoria. Karna aku yakin pasti wanita itu memiliki rencana busuk padamu. Aku membaca pikirannya dan dia ingin mencelakaimu."
"Aku tau. Kau tidak perlu cemas, Lu. Bukankah kau tau sendiri jika istrimu ini adalah wanita yang sangat kuat." ujarnya tersenyum.
Lucas tidak memberikan jawaban apa-apa. Ditakupnya wajah Viona dan sebuah ciuman mendarat mulus pada bibir ranumnya. Lucas memagut singkat bibir itu. Baru saja Lucas hendak mengakhiri ciumannya namun Stella lebih dulu menghentikannya.
Gadis itu mengambil alih ciuman dan memagut bibir Lucas dengan panas. Dan seakan buta ... Viona mengabaikan beberapa pasang mata yang tengah menatapnya dengan berbagai ekspresi, begitu pula dengan Lucas. Lucas yang tidak suka didominasi segera mengambil alih ciuman tersebut dan sedikit menekan tengkuk Viona untuk semakin memperdalam ciumannya.
Lord Ruthven menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya menggelengkan kepala."Dasar anak muda, apa mereka tidak bisa menahannya sampai mereka berdua saja." ujarnya seraya melangkah pergi.
'GLUKK'
susah payah Ara dan Jia menelan salivanya melihat pergulatan panas bibir mereka. Ini pertama kalinya mereka melihat live kiss sepanas itu secara langsung. Sementara itu, Kai yang baru saja masuk bersama Chen langsung membelalakkan matanya seraya berteriak histeris.
"KYYYAAAA!! MEREKA MES*M!!." Chen langsung membenamkan wajah Kai pada dadanya agar matanya tidak sampai ternodai oleh kegiatan pasangan itu. Dan Lucas benar-benar mengakhiri ciumannya saat merasakan pukulan pada dadanya.
"Lu, nanti saja kita lanjutkan. Aku kasihan pada mereka." bisik Viona terkekeh. Lucas mencium singkat bibir istrinya dan mengangguk
"Baiklah."
Sementara itu, Victoria terlihat kebingungan karna tidak menemukan keberadaan Angela. Victoria sudah mencarinya namun tetap tidak menemukan keberadaan wanita itu. Perasaannya mulai tidak enak karna Angela menghilang tanpa jejak. Lucas yang menyadari kebingungan Victoria menyeringai tajam, dari kejauhan Lucas memperhatikan gerak-gerik wanita itu
__ADS_1
"Lu, apa yang sedang kau lihat?" tegur Viona penasaran.
"Lihat di sana. Wanita itu terlihat kebingungan, sepertinya dia mencari wanita yang selalu menjadi bayangannya."
"Maksudmu Angela?" Lucas mengangkat bahunya. "Benar juga, kemana perginya wanita itu? Aku tidak melihatnya lagi sejak setengah jam yang lalu."
"Apakah itu penting?" Lucas menyela ucapan Viona, gadis itu menggeleng
"Dia bukan urusan kita, aku sangat lelah. Bisakah kita meninggalkan pesta sekarang?" Viona mengangguk antusias, karena kenyataannya dia juga sudah merasa lelah dan ingin segera berbaring di kasur super empuknya. Keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan aula pesta dan pergi ke kamar pengantin.
"Berhenti kau, Dark Lephrica."
Lucas menghentikan langkahnya seketika saat merasakan ujung tajam sebuah pedang menempel pada lehernya begitu pula dengan Stella. Victoria keluar dari dalam kegelapan dengan aura membunuh yang begitu kuat.
"Katakan padaku, di mana Angela?"
"Angela? Kenapa kau menanyakannya pada suamiku?"
"Diamlah kau gadis kecil, aku tidak ada urusannya denganmu. Aku akan membuat perhitungan dengan suamimu itu karna sudah membunuh Angela." ujar Victoria berapi-api.
Sontak saja Viona menoleh "Lu, benarkah itu? Kau sungguh-sungguh membunuh Angela?" Lucas menatap Viona datar.
"Ya, aku membakarnya hidup-hidup dan membuat tubuhnya melebur menjadi abu. Aku tidak terima saat wanita itu menghinamu," ujarnya
"Aahhh! Jadi begitu?" Viona mengangguk paham.
Victoria mengepalkan tangannya, matanya berkaca-kaca menatap Lucas marah. Wanita itu tidak akan membiarkan kematian Angela berakhir sia-sia
"Dark Lephrica, aku pasti akan membunuhmu," namun serangan Victoria di tahan oleh Viona.
Viona mendorong keluar tubuh Victoria melalui jendela dibelakang wanita itu. Gadis itu tidak ingin membuat kekacauan didalam istana itulah kenapa dia memutuskan untuk menghadapi wanita itu di luar. Lucas tentu tidak tinggal diam, ia segera menyusul Viona dan memperhatikan pertarungan mereka dari kejauhan.
Braakkk!!
Victoria langsung melayangkan serangannya pada Viona yang segera dihindarinya dan serangan Victoria menghantam pohon besar di samping kanannya. Viona membiarkan Victoria terus menyerangnya dan tujuannya adalah menguras habis tenaga wanita itu. Gadis berparas barbie itu menyeringai tipis
"Ternyata kemampuan salah satu wanita dengan kedudukan tertinggi di dunia Seiz hanya seperti ini?"
"Diamlah kau, Viona Jung. Memangnya siapa yang memintamu untuk bicara? Sebaiknya kerahkan semua kemampuanmu dan hadapi aku dengan bersungguh-sungguh, aku ingin melihat seberapa besar kekuatan seorang Viero."
Viona menyeringai. "Jadi kau menantangku?" Viona menggigit ujung jarinya hingga terluka, entah apa yang terjadi tiba-tiba saja tubuh Victoria dikelilingi oleh darah dalam jumlah besar. Mata Victoria membelalak.
"Blodestone?" gumamnya. "Sialan, jika dilanjutkan bisa-bisa aku mati sia-sia di sini. Sebaiknya aku mundur sebelum terlambat." tubuh Victoria menghilang dalam gumpalan asap hitam dan hanya suaranya yang terdengar dan menggema di udara. "Kali ini aku mengalah, tapi tunggu saja. Aku pasti akan mengalahkanmu dan mengambil keabadian itu darimu."
Viona mendengus kasar. "Dasar pengecut."
"Sudah biarkan saja, sebaiknya kita masuk dan beristirahat." ujar Lucas yang segera dibalas anggukan oleh Viona.
"Baiklah, aku juga sudah sangat lelah."
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.