
Sesuatu yang tidak biasa Lucas rasakan ketika dia membuka matanya. Tubuhnya bermandikan keringat dan dia kesulitan untuk bernafas. Rongga dadanya tiba-tiba merasa tidak cukup ruang untuk jantungnya untuk tetap bernafas.
Sekujur tubuhnya terasa panas seperti terbakar kobaran api yang sangat besar. Salah satu tangannya mencengkram mata kanannya yang berkedut dan seperti akan terlepas dari tempatnya. Lucas sedikit tersentak merasakan cairan kental memenuhi telapak tangannya.
"Darah?" gumamnya.
Lucas berjalan sedikit tertatih menuju cermin besar yang berada di kamarnya. Perlahan menurunkan tangan itu dari mata kanannya, mata yang semula tertutup itu terbuka perlahan-lahan. Tidak ada yang salah dengan keadaan matanya, mata itu baik-baik saja hanya warna pada mata kanannya berubah.
Bukan lagi coklat jernih melainkan warna perak, warna mata yang paling langkah di dunia...
Wusshhh!!!
Sebuah keanehan tiba-tiba saja terjadi. Sebuah pusaran angin berwarna hitam berputar disekitar Lucas membuat benda apa pun yang ada didekatnya terangkat dan masuk dalam pusaran angin tersebut, anehnya tidak ada kerusakan sama sekali meskipun badai mengelilingi tubuh Lucas Namun ketika Lucas menutup kembali mata kanannya, badai itu lenyap begitu saja.
"Mungkinkah ini adalah kekuatan yang pernah ayah ceritakan padaku? Bukankah kekuatan ini baru bisa terbangkitkan setelah usiaku 30 tahun? Atau mungkinkah karna darah Viero Viona? Mungkinkah darah istimewa itu yang membangkitkan kekuatan ini?" gumam Lucas penuh keheranan.
Lucas menarik laci kecil yang berada didepannya dan mengeluarkan sebuah beda hitam bertali yang kemudian dia pakai untuk menutup mata kanannya, ia tidak bisa membiarkan siapa pun melihat warna mata itu termasuk Viona. mungkin untuk saat ini.
Apa yang saat ini terjadi pada Lucas juga pernah di alami oleh ayahnya. Lucas ingat jika dulu ayahnya selalu memakai pemutup mata hitam itu untuk menyembunyikan warna matanya. Bedanya, mata ayah Lucas berwarna amber atau kuning tembaga dan itu terletak pada mata sebelah kirinya, tidak seperti Lucas yang terletak pada mata kanannya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Lucas merasakan tubuhnya baik-baik saja. Pemuda itu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, tubuhnya terasa lengket dan Lucas ingin segera membersihkannya sebelum turun untuk menemui Viona juga duo Angel bersaudara.
.
.
Lay menutup telinganya dengan dua pasang kapas karena malas mendengarkan dessahan erottis yang keluar dari mulut sexy Jey. Angel tampan itu sedang menonton video laknat di ponselnya yang baru saja dia download semalam. Melihat bagaimana ekspresi wajah Jey membuat Lay bergidik sendiri. Angel pelupa itu tidak bisa mendedikasikan bagaimana ekspresi wajah Jey saat ini.
Sementara itu, Viona yang sedang membersihkan buah-buahan segar didapur hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepalanya melihat bagaimana mengerikannya Jey saat ini.
Raut wajahnya terlihat lebih sumringah dari sebelum-sebelumnya, senyum hangat sehangat sinar mentari pagi tersungging menghiasi wajah cantiknya. Entah apa yang membuat Viona terlihat sebahagia itu. Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap pintu kamar berpelitur elegan di lantai dua yang masih tertutup rapat. Masih belum ada tanda-tanda jika sang empunya keluar dari kamarnya dan segera turun.
Viona bersenandung kecil. Gadis itu membawa buah-buahan yang telah bersih keatas meja makan. Tidak ada makanan apa pun selain buah-buahan itu, Viona ingin sekali memasak untuk Lucas dan dua Angel bersaudara itu. Tapi masalahnya ia tidak bisa masak sama sekali.
"Omo!! Ge, apa yang terjadi pada mata kananmu? Kenapa sampai ditutup begitu? Apa mata kananmu mengalami cidera?" pekikan keras dan rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Lay menyita perhatian Viona juga Jey. Keduanya menoleh serentak dan menatap Lucas penuh kebingungan. "Ge, jangan diam saja. Ayolah jawab, kau membuatku cemas."
"Ck! Mataku baik-baik saja, tidak perlu secemas itu." Sahut Lucas menimpali.
"Aaahhh!"
__ADS_1
Trangg!!!
Suara belati yang jatuh kelantai membuat perhatian ketiga pria tampan itu teralihkan. Lucas beranjak dan menghampiri Viona, pemuda itu meraih telunjuk tangan gadis itu yang terluka dan segera menghapus luka itu dengan tisu.
Setidaknya luka yang terbuka sudah tertutup kekuatan Viero itu. Walaupun masih ada sisa aroma darah itu di udara. "Dasar ceroboh, tidak bisakah kau lebih sedikit berhati-hati?" ucap Lucas pelan namun penuh penekanan.
Viona merasa heran karena aroma darah Vieronya tidak sekuat sebelumnya, mungkinkah ini ada hubungannya dengan perbagian yang dia lakukan dengan Lucas semalam? Namun dia tidak ingin terlalu memikirkannya, ada sesuatu yang lebih penting dari aroma darah Vieronya dan itu tentang mata kanan Lucas
Viona mengangkat wajahnya yang semula tertunduk dan menatap Lucas dengan tatapan polosnya. "Lu, apa yang terjadi pada mata kananmu? Apa mata kananmu mengalami cidera? Kenapa harus ditutup seperti itu?" Tanya gadis itu penasaran.
"Mataku baik-baik saja, aku akan memberitaumu tapi tidak saat ini. Ganti pakaianmu, aku akan membawamu kesuatu tempat."
Sontak Viona mengangkat wajahnya dan menatap Lucas penasaran. "Kemana?" Matanya tampak berninar, begitu cantik dan indah.
Lucas mendengus geli. "Kau akan mengetahuinya nanti, segera ganti pakaianmu. Aku akan menunggumu di luar." Viona tersenyum kemudian mengangguk.
"Baiklah. Aku akan segera kembali." Lucas menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan Viona. Tanpa sadar Lucas menarik sudut bibirnya, menciptakan lengkungan indah diwajah tampannya. Hatinya menghangat melihat senyum indah yang terlukis di wajah cantik gadis itu.
-
__ADS_1
-
Bersambung.