
Waktu berjalan dengan cepat, tidak terasa satu tahun telah berlalu. Meskipun masih belum bisa melupakan apalagi membuang bayangan Lucas dari hati dan benaknya, namun perlahan-lahan Viona mulai terbiasa tanpa kehadiran Lucas di sisinya, meskipun sulit dan itu tidaklah mudah, namun dia tidak mau menyerah dan tetap berusaha.
Selama satu tahun, Viona dan Lucas benar-benar tidak saling bertatap wajah. Dia memenuhi keinginan Lucas untuk tidak muncul lagi dihadapannya. Meskipun sering kali dia datang ke kastil milik hunter tampan itu secara diam-diam.
Bukannya takut Lucas akan membunuhnya, namun Viona takut semakin tersiksa menyaksikan kebencian Lucas padanya. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mengobati rasa rindunya pada Lucas selain memandangnya dari kejauhan.
Salju turun memenuhi daratan. Angin bertiup membawa hawa dingin yang menyayat kulit serta kegelapan yang menyelimuti musim dingin tahun ini. Saat salju turun seperti ini, pasti orang-orang akan lebih memilih untuk tetap berada di rumah dan duduk di depan perapian sambil menikmati secangkir coklat panas maupun beer bersama keluarganya.
Berharap malam dingin seperti itu bisa segera berlalu, dan hanya orang bodoh yang mau berkeliaran ke luar rumah dimalam seperti ini.
Namun itu bagi manusia biasa, lain halnya dengan sosok cantik dalam balutan gaun hitam panjang bersurai coklat gelap yang terurai hingga melewati pantatnya serta kulit yang warnanya senada dengan salju yang turun malam ini. Sosok itu berjalan santai di bawah rintik salju yang turun dari langit kota Vancouver.
Tatapannya teduh dan sorot matanya sarat akan kelembutan. Gadis itu tetap tidak terlihat kedinginan meskipun pakaian lengan panjang yang melekat ditubuhnya sangat kontras dengan udara malam ini.
"Mom, is that sister alright? Is he not cold?" tanya seorang bocah pada sang Ibu. Terlihat si ibu mengangkat bahunya tanda tidak mengerti.
Gadis itu tidak mengatakan apapun dan hanya tersenyum tipis, dengan tenang ia kembali melanjutkan langkahnya sampai mata abu-abunya melihat sesuatu objek yang menarik perhatiannya.
Gadis itu menghentikan langkahnya saat sepasang mutiara abu-abunya bersirobok dengan mata biru keabuan milik seorang laki-laki yang bayangannya tidak pernah bisa ia enyahkan dari hati dan pikirannya."Lucas," lirihnya bergumam.
Perputaran waktu serasa berhenti detik itu juga, udara disekelilingnya terasa kosong dan hanya kehadirannya yang terasa begitu nyata. Viona hanya mampu diam dan terpaku menatap sosok laki-laki itu yang tak lain adalah Lucas.
Kerinduan terpancar jelas dari mata mereka, keduanya sama-sama diam saling memandang dalam diam. Rasanya Viona ingin sekali berlari menghampiri Lucas dan memeluknya namun itu tidaklah mungkin mengingat jika Lucas kini sangat membencinya.
Vio." perhatiannya teralihkan oleh seruan keras seseorang yang memanggilnya, sontak saja Viona menoleh dan mendapati seorang laki-laki menghampirinya. "Dasar gadis nakal, bisa-bisanya kau meninggalkan kakakmu yang tampanmu sendiri ditempat asing seperti ini." Viona terkekeh geli melihat bagaimana lucunya ekspresi laki-laki tampan didepannya itu.
"Maaf, Kak. Salahmu sendiri, kenapa kau lelet sekali." cibir Viona tersenyum.
Viona mengalihkan arah pandangannya namun sosok Lucas tidak lagi ada di sana. Gadis itu mendesah berat, kesedihan terpancar jelas dari sorot matanya yang teduh.
"Apa yang kau lihat?" tanya orang yang dipanggil 'Kak' oleh Viona.
"Eoh?" Viona terkejut kemudian menggeleng."Bukan apa-apa. Sudahlah, ayo kita pulang. Aku sangat lelah dan ingin segera tidur." ujarnya sambil mengulum senyum palsu.
Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, sekali lagi Viona menoleh kebelakang dan berharap Lucas masih ada di sana, namun sayangnya tidak. Lucas benar-benar telah pergi dan menghilang dari jangkauan matanya. Gadis itu mendesah panjang, sudut bibirnya tertarik keatas saat merasakan rangkulan hangat pada bahunya.
__ADS_1
Sementara itu, Lucas yang baru tiba di kastil megah miliknya dibuat bingung dengan keadaan kastilnya yang sedikit berantakan. Banyak sekali tisu berserakan dilantai, meja dan sofa. Lucas berjalan menuju ruang tengah saat mendengar isakan keras yang berasal dari sana juga suara Tao dan Carl yang seperti sedang menenangkan seseorang.
"Ada apa ini? Kai, apa yang terjadi padamu?"
"Lucas, Hyung, huaaaaa." Kai bangkit dari posisinya dan berhambur memeluk Lucas.
Ada perubahan pada tubuh Kai yang membuat Lucas bingung setengah mati. Rambut hitamnya memanjang sampai menyentuh punggungnya, tubuhnya lebih berisi dengan pantat dan payudara layaknya seorang wanita. Ya, memang itulah yang terjadi padanya. Kai menjelma menjadi seorang wanita.
"Memangnya apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Lucas penasaran.
Akhirnya Kai pun menceritakan semua yang terjadi pada Lucas dan kenapa ia bisa berubah menjadi wanita. Lucas hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepalanya.
"Itulah yang terjadi ,Hyung. Saat aku dan Tao masuk ke dalam hutan untuk mencari tanaman obat, aku melihat berry yang tumbuh dengan subur di sana."
"Buahnya yang terlihat segar membuatku tidak tahan untuk memakannya, meskipun aku sempat merasa ragu karena warna berry itu. Tapi akhirnya aku memetik sebanyak 100 biji lalu memakan semuanya, tapi selang beberapa menit saja ... huaaaaaa, tubuhku malah jadi seperti ini bentuknya."
"Itu karena kau terlalu rakus, Black Pearl. Sudah tau berry itu tidak seperti berry pada umumnya masih dimakan juga." ujar Tao menyahuti.
"Huuuaaaa!! Berhenti meledekku ,Panda. Aku sedang berduka, seharusnya kau bisa lebih peduli padaku dan menghiburku." sahut Kai tak mau kalah.
"Sudah kalian berdua, kenapa kalian malah bertengkar. Dan kau juga, Kai. Makanya jangan terlalu rakus, begini kan jadinya."
Malas mendengar perdebatan ketiga temannya, Lucas memutuskan untuk meninggalkan ruang tengah dan pergi ke kamarnya. Lucas membuka pintu kamarnya dan berjalan lurus menuju jendela kamarnya yang terbuka kemudian duduk di sana. Mata kirinya menatap lurus pada langit malam yang terlihat gelap malam ini, sorot matanya yang biasanya dingin dan tajam kini terlihat redup dan sayu.
Pertemuan singkatnya dengan Viona malam ini membuat perasaan Lucas kembali bergejolak. Sudah satu tahun telah berlalu dan selama itu pula Lucas tidak pernah bertemu dengannya meskipun mereka tinggal di kota yang sama, namun Lucas tau jika gadis itu tidak pernah jauh. Sering sekali Lucas mencium aromanya meskipun tidak melihat sosoknya.
Semilir angin malam yang berhembus membawa hawa dingin yang terasa membekukan. Gelap kembali menguasai malam ini, memamerkan taringnya setelah senja menyingsingkan siang. Malam gelap tanpa harapan menggantikan siang terang yang penuh kehangatan.
Hembusan angin kian menusuk tulang, namun Lucas tetap bergeming dari tempatnya. Kain berlengan yang membalut tubuh kekarnya sama sekali tidak dapat mengurangi hawa dingin malam ini. Lucas tetap menghiraukannya dan bertahan pada posisinya.
"Kau merindukannya?"
Lucas menoleh saat mendengar suara yang begitu familiar masuk dan berkaur di telinganya. Sosok L muncul dari tebalnya kabut hitam, namun kedatangan L tidak disambut oleh pemuda itu. Lucas hanya diam seraya menatapnya datar.
"Mau apa kau datang kemari?" tanyanya dingin. Lucas bangkit dari posisinya dan menghampiri L.
__ADS_1
"Jika kau di sini hanya untuk membahas sesuatu yang tidak penting, sebaiknya kau pergi dari sini."
"Tetap sedingin dulu." L tersenyum tipis.
Dia tidak merasa tersinggung ataupun kesal dengan sikap Lucas yang kurang bersahabat itu. Karna ini bukan pertama kalinya Lucas bersikap seperti itu padanya. "Aku pikir setelah satu tahun sikapmu padaku bisa berubah, tapi ternyata tidak sama sekali." ujarnya terkekeh. "Dia sangat merindukanmu."
"....." Namun tidak ada sahutan, Lucas memilih diam seraya menatapnya dingin.
"Kau bisa membohongi semua orang tentang apa yang kau rasakan padanya, namun kau tidak akan pernah bisa membohongi hatimu kecilmu, Lucas Xiao. Aku tau, bahkan hingga detik ini kau masih memikirkannya dan kau sangat merindukannya. Dan itu terlihat jelas di matamu."
"Jangan sok tau, pergilah dari sini. Aku tidak ingin ada orang asing ditempat ini." Ucap Lucas lalu membukakan jendela kamarnya lebar-lebar, memberi kode pada L untuk segera pergi.
Laki-laki bermarga Kim itu mendesah berat, sepertinya memang bukan hal mudah membuat hati Lucas yang sekeras batu menjadi luluh. "Pergi sekarang atau aku akan melemparmu dari jendela ini." ancam Lucas.
L mengangkat kedua tangannya ke udara."Oke, aku pergi. Namun tidak lama lagi kita akan kembali bertemu, Lu. Dan kita akan berteman baik, aku pergi dulu. Bye."
Lucas mendesah berat seraya menggelengkan kepalanya. "Dasar mahluk gila." Lucas berjalan meninggalkan kamarnya dan menghampiri teman-temannya yang masih berkumpul diruang tengah. Dari ujung tangga, Lucas melihat Kai yang masih menangis dan meraung layaknya bayi, Tao dan Carl berusaha untuk menenangkannya.
Lucas menghampiri mereka dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi, kedua tangannya tersembunyi apik di dalam kantong celana bahannya. Carl dan Tao langsung mengangkat wajahnya mendengar derap langkah kaki yang semakin mendekat.
"Ge//Lu." seru keduanya.
"Ini sudah larut malam. Sebaiknya kalian pergi tidur, karna sebelum fajar tiba kita harus meninggalkan kota ini." Ucapnya, sontak saja ketiganya mengangkat wajahnya termasuk Kai dan menatap Lucas penuh tanda tanya.
"Meninggalkan kota ini? Tapi kenapa, Lu? Bukankah perburuan kita di kota ini masih belum berakhir, apa ini ada hubungannya dengan dia?" tanya Carl hati-hati takut jika ucapannya akan membuat Lucas tersinggung dan marah.
"Bukankah para mahluk abadi itu bisa mengatasi mahluk-mahluk itu. Kita bisa berburu mereka ditempat lain, jadi segera beristirahat."
"Tapi, Ge. Memangnya kita akan pergi kemana?" tanya Tao penasaran. Lucas mengalihkan arah pandangnya dan menatap Tao yang juga menatapnya.
"Castlegar."
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.