My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Tiga orang terlihat berkumpul didalam satu ruangan. Ellena yang mendengar penuturan Kangmin mendadak lemas, tubuhnya hampir saja roboh jika Yohan tidak dengan segera menahan tubuhnya. Apa yang selama ini ia takutkan mungkin saja akan menjadi kenyataan, kristal-kristal bening mengalir dari pelupuk matanya yang kemudian jatuh dan membasahi wajah cantiknya


"Bukankah, Viona telah membagi keabadiannya? Tapi kenapa hal semacam itu masih bisa terjadi?" Ellena mengangkat wajahhya dan menuntut sebuah penjelasan dari Kangmin, saudara tertuanya juga Viona dari ayah yang sama namun Ibu berbeda.


Kangmin mendesah berat. "Itu memang benar, namun inti dari kekuatan itu masih berada dalam tubuh, Viona. Viona, memang sudah membagi keabadiannya, namun jiwa mereka masih belum menyatuh sepenuhnya. Dan jiwa mereka benar-benar akan saling menyatu setelah mereka menyerahkan diri masing-masing."


"Apakah itu artinya ada hubungan inti*?" Yohan menatap Kangmin penasaran.


Laki-laki itu mengangguk membenarkan."Tapi bagaimana mungkin hal semacam itu akan terjadi jika saat ini dia begitu membenci, Viona? Apakah tidak ada cara lain agar para Seiz tidak sampai mengeluarkan inti kekuatan itu secara paksa?"


"Aku tidak tau, dan karena masalah inilah ayah mengirimku kemari. Renous, telah menggumpulkan semua anggota Seiz untuk membahas hal itu. Ayah, tidak ingin jika mereka sampai mengambil paksa harta berharga milik Viona yang ditinggalkan oleh Ibu kalian. Viero adalah inti dari hidup, Viona. Dan jika inti kekuatannya dikeluarkan secara paksa, bukan tidak mungkin juga nyawa Viona bisa terancam." ujar Kangmin memaparkan.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Ellena seraya menatap Kangmin.


"Untuk saat ini yang bisa kita lakukan hanyalah membawa Viona pergi meninggalkan kota ini. Karena mereka sudah tau tempat ini, cepat atau lambat pasti Seiz akan mengirim sesorang untuk menangkapnya. Sebelum fajar tiba kita harus sudah meninggalkan kota ini dan pergi ke Castlegar."


"Jika memang itu satu-satunya cara kita tidak memiliki pilihan lain, kita semua kan pergi. Yohan, bantu aku memberi tau yang lainnya dan aku akan segera menemui, Viona,"


"Baiklah."


-


-


Tidak sedikit pun Lucas menglihkan arah pandangnya dari pemandangan luar. Saat ini Lucas, Carl, Kai dan Tao berada di dalam kereta yang akan membawa mereka menuju kota Castlegar. Seperti yang telah Lucas katakan semalam jika mereka harus meninggalkan kota saat fajar tiba.


Hampir tiga puluh menit mereka berada di dalam kereta itu, namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Lucas. Pemuda itu hanya menatap kosong keluar jendela. Meskipun Lucas tidak mengatakan apapun, namun Carl tau apa yang sedang difikirkan oleh pemuda itu.


"Ge, perjalanan kita akan sangat panjang. Apa kau ingin makan atau minum sesuatu? Aku akan membelikannya untukmu." tawar Tao sambil menatap Lucas.


"....." hampa, tidak ada jawaban dari Lucas.


Krieettt!!

__ADS_1


Decitan pintu yang dibuka dari luar sedikit mengalihkan perhatian Carl, Tao dan Kai. Sedangkan Lucas menunjukkan ketidakpeduliannya dan hanya menatap hampa keluar jendela.


Pemuda dalam balutan kemeja hitam tanpa lengan jeans hitam dan singlet putih yang menjadi lapisan dalam kemejanya itu tidak mau ambil pusing dengan pengunjung lain yang mungkin duduk satu ruangan dengannya.


Mata ketiganya terbelalak melihat siapa kedua orang yang kini berdiri didepan pintu samping kanan Tao. "Viona, ayo. Disinilah tempat duduk kita,"


"Aku tidak mau, Eonni. Memangnya sampai kapan kita akan berlari dan terus bersembunyi dari mereka? Aku sudah lelah, Eonni. Dan aku benar-benar lelah." Teriak gadis dalam balutan gaun biru gelap berbahan brukat yang tak lain adalah Viona.


Dan suara familiar itu menarik seluruh atensi Lucas, laki-laki itu menoleh dan mendapati sosok yang sangat ia rindukan berdiri nyata didepan matanya


"Viona," bantinya memanggil nama gadis itu.


Sementara itu, Carl yang mengingat perkataan Lucas malam itu menjadi sedikit was was. Dia takut jika Lucas benar-benar akan memenuhi ucapannya untuk membunuh Stella jika mereka bertemu kembali.


"Tidak bisahkah kalian berdua lebih tenang? Ini adalah tempat umum."


Deeegggg!!!


Tubuh Viona serasa membeku dan udara disekitarnya tiba-tiba menjadi kosong. Suara dingin itu begitu familiar dan tidak asing untuknya. Matanya membelalak dan batinya bergejolak. "Suara itu? Mungkinkah itu... Lucas?" Batin Viona tak percaya.


"Lucas," gumamnya tanpa suara.


Tubuhnya semakin terpaku dan tidak bergerak satu inci pun. Kedua mata berbeda warna itu saling menatap dalam diam. Kerinduan yang begitu mendalam sama-sama terlihat dari mata mereka berdua yang masih saling mengunci.


Dada Viona bergemuruh hebat, hatinya bergejolak. Bahagia juga merasa sedih saat ia bertemu kembali dengan laki-laki yang sangat ia cintai dan begitu dia rindukan.


"Viona, sampai kapan kau akan berdiri di sana?" tegur Ellena melihat sang adik yang masih tetap bergeming.


Viona kemudian mengakhiri kontak matanya dengan Lucas lalu bergulir pada Ellena yang tengah menatapnya. "Eonni, aku akan bertukar tempat dengan kakak ipar saja. Aku akan memintanya duduk di sini bersamamu dan sebaiknya aku bersama, kak Min dan yang lain saja." baru saja Viona hendak membuka pintu didepannya namun suara tegas Ellena menghentikan pergerakannya.


"Tidak, Viona. Kau tidak akan pergi kemana pun. Duduklah!" pinta Ellena tidak ingin dibantah.


'Hufftt' gadis bermarga Jung itu memdesah panjang, dengan terpaksa ia menuruti keinginan Ellena dan tetap berada di sana. Bukan maksud Viona ingin menghindari Lucas ataupun takut jika laki-laki sampai memenuhi sumpahnya untuk membunuhnya jika mereka sampai bertemu lagi.

__ADS_1


Viona tidak pernah takut dengan kematian, hanya saja ia merasa tidak sanggup melihat kebencian Lucas padanya. Karena dibenci oleh orang yang dia cintai rasanya lebih menyakitkan dari pada sebuah kematian.


"Viona, nunna. Kemarilah dan duduklah di sini." Viona memiringkan kepalanya melihat gadis berkulit tan yang baru saja merelakan tempat duduknya untuk dirinya.


Wajahnya begitu familiar namun dia merasa tidak yakin. "Aisshh,, Nunna jangan menatapku seperti itu. Aku tau saat ini aku terlihat aneh dengan wujud baruku yang begitu mengerikan," cerocos Kai seakan mengerti yang tengah gadis itu fikirkan.


"Kai? Kau kah itu?" ucap Viona ragu. Kai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan mengangguk pelan. "Astaga, Kai. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Bagaimana bisa bentukmu menjadi mengerikan seperti ini?"


"Itu karna dia terlalu rakus, nunna-ya." sahut Tao menimpali.


"Ahh, begitu ya."


Viona menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan melihat Kai bangkit dari posisi duduknya. Dengan perasaan ragu dan tidak yakin Viona berjalan menuju tempat yang sebelumnya Kai tempati. dia merasa gugup setengah mati.


Bagaimana tidak? Karna tempat duduk yang Stella tempati berhadapan dengan Lucas. 'Ya Tuhan, cabut saja nyawaku detik ini juga.' lirih Viona membatin.


Perjalanan panjang menuju Castlegar hanya di warnai keheningan. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari Lucas maupun Viona, keduanya sama-sama bersikap acuh seolah tidak pernah saling mengenal.


Lucas dan Viona sama-sama menatap kosong keluar jendela untuk melihat pemandangan yang ada. Sesekali gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Lucas yang duduk berhadapan dengannya, sedangkan Lucas tidak bereaksi sedikit pun dan tetap bersikap dingin


"OMO?" Kai tiba-tiba memekik kencang, dan suaranya menyita perhatian semua orang termasuk Viona.


Kai terkejut melihat Lucas menarik belati yang tersembunyi dibalik kemeja hitamnya. Mata kiri pemuda itu menyipit seolah-olah dia sedang merasakan sesuatu. Dan dalam hatinya Kai terus berdoa semoga Lucas tidak benar-benar memenuhi sumpahnya itu.


"Lu, untuk apa belati itu?" tanya Carl waswas.


Carl memiliki firasat buruk akan hal ini. Ia hanya bisa berharap semoga ketakutannya tidaklah menjadi kenyataan dan Lucas tidak sampai melakukan sesuatu yang tidak di inginkan. Carl sangat mengenal sifat Lucas, Lucas bukanlah tipe pria yang mudah menarik kembali kata-katanya.


"Melenyapkan mahluk penghisap darah" jawab Lucas dingin seraya melirik tajam pada Viona.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2