My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Terluka


__ADS_3

Gesekan lembut rumput liar yang saling bersentuhan terdengar pelan. Angin menggulirkan waktu yang tidak pernah berhenti, bulan dan bintang tidak pernah lelah menyusuri malam. Langkah kakinya yang lebar menyusuri jalanan hutan yang terlihat gelap sejauh mata memandang.


Lucas tidak mempercepat langkahnya namun juga tidak memperlambatnya. Pemuda berwajah stoic itu berjalan dengan tenang. Lolongan Serigala dari atas tebing bagaikan sebuah melody patah hati, suaranya terdengar pilu seperti menahan tangis.


Tengah malam yang gelap gulita karna sang penguasa malam menyembunyikan sinarnya di balik awan hitam. Kabut putih terlihat di gelapnya malam, hawa dingin semakin menambah hawa mistis malam ini.


Lucas melangkahkan kakinya yang panjang di atas rumput liar yang tumbuh hampir menyentuh lututnya. Jalan setapak di sana tidak berguna.. manusia biasa akan berfikir dua kali untuk mendatangi hutan terlarang di tengah malam seperti ini, jangankan malam hari.. siang hari pun tidak ada seorang pun yang berani menginjakkan kakinya di sana.


Hutan terlarang tidak pernah tersentuh. Banyaknya rumor menyeramkan yang beredar ditengah-tengah masyarakat membuatnya terasingkan dari dunia, bahkan dari para warga yang bermukim di sekitar hutan larangan.


Semua orang percaya jika siapa pun yang masuk ke bagian dalam hutan tidak pernah kembali, begitu mereka mempercayainya dan itu memang benar.


Di tengah rindangnya pepohonan hutan yang lebat. Berdiri sebuah kastil megah nan mewah yang menjulang tinggi. Namun sayangnya tidak semua orang bisa melihat kastil itu bahkan mahluk dengan kemampuan Dewa sekalipun. Ada dinding tak kasat mata yang membuat Kastil itu tersembunyi.


Dan kastil itu adalah bukti nyata jika Dark Lephrica memang benar adanya.


Sreggg!!


Lucas menghentikan langkahnya dan mempertajam Indranya saat mendengar sebuah pergerakan mencurigakan dari balik semak-semak. Hawa dingin dan aroma yang tidak asing menyeruak kedalam hidungnya yang tajam. Hunter tampan itu menyeringai tajam melihat kedatangan sedikitnya empat mahluk penghisap darah yang muncul dari empat penjuru arah.. bukan Vampire rendahan melainkan Vampire tingkat dua.


"Kalian semua cari mati rupanya." ujar Lucas dengan suara rendah namun terdengar berbahaya.


"Kau yang akan mati di tangan kami, Hunter." jawab salah seorang dari keempat Vampir itu.


"Begitukah? Oh.. jadi kalian ingin melenyapkanku? Baiklah akan ku temani kalian bermain," ujar Lucas yang sudah merubah dirinya menjadi setengah Dark Lephrica.


Pertarungan sengit antara Lucas dan para mahluk penghisap darah itu pun tidak dapat terhindarkan. Lucas yang hanya seorang diri di keroyok empat Vampir sekaligus.


Mereka sama-sama kuat, tapi bagaimana pun juga Lucas tetaplah lebih unggul dari mereka. Karena seberapa kuatnya Vampir itu melayangkan serangannya pada Lucas, tetap saja Lucas dapat menghindari dan membalas serangan merela berempat.


Nafas para Vampire itu mulai ngos-ngosan dan mereka kehabisan banyak tenaga. Lucas menyeringai tajam dan menatap keempat mahluk penghisap darah itu dengan pandangan meremehkan.

__ADS_1


"Jadi hanya ini kemampuan kalian?" ucapnya dengan seringai yang sama.


Bahkan Lucas masih dapat berdiri dengan tegap meskipun luka sedikit menghiasi tubuhnya. Darah segar terlihat mengalir dari lukanya, luka yang dia dapatkan akibat cakaran mahluk-mahluk itu. Membuat sisi wajah sebelah kirinya berlumur darah, darah yang berasal dari empat luka di bawah mata kirinya dengan panjang yang berbeda.


"Sial, ternyata bocah itu lebih kuat dari yang aku bayankan." desis salah satu dari ke empat Rouge Vampire tersebut.


"Bagaimana? Apa kalian memerlukan waktu untuk beristirahat sebentar?" tanya Lucas meremehkan.


Mahluk itu mendecih dan kembali melayangkan serangannya pada Lucas, serangan mereka kali ini berhasil melukai lengan kanan atas Lucas dan membuat lengan kemeja hitamnya robek hingga menembus permukaan kulitnya.


Darah segar mengalir dengan cepat dari lukanya, dan lagi-lagi luka itu tidak berakibat apapun bagi Lucas. Buktinya saja Lucas masih berdiri dengan tegap


"Baiklah, biar aku selesaikan ini sekarang." ucap Lucas tenang namun penuh intimidasi.


Lucas mengeluarkan senjata pamungkasnya , yakni sebuah panah perak. Senjata yang mampu menghancurkan tubuh para mahluk penghisap darah bahkan makluk level A sekalipun.


Dan jika hanya untuk menghadapi mahluk level rendahan seperti mereka, Lucas tidak perlu mengaktifkan segel Iblis pada dada kirinya.


Kemenangan bagi Lucas, tapi bukan berarti akhir dari perburuan. Karna jumlah mereka tidaklah terbatas.


.


.


"Lucas, kau sudah pulang."


Viona menyambut Lucas saat laki-laki itu menginjakkan kakinya di tangga teras, tersenyum hangat sehangat sinar mentari pagi yang berada di ujung cakrawala. Namun senyum dibibir gadis itu pudar seketika saat melihat sisi wajah kiri Lucas berlumur darah.


"Omo? Kau terluka." refleks Viona menyeka darah itu dengan lengan gaunnya tanpa peduli jika kain berharga mahal itu akan kotor karna darah Lucas


Lucas menahan pergelangan tangan gadis itu membuat dia mau tidak mau mengangkat wajahnya dan membalas tatapan datar Lucas.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau lakukan di sini selarut ini?" tanya Lucas sambil melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Viona. "Masuklah, udara di luar sangat dingin."


"Tunggu dulu. Ini seperti cakaran kuku Vampire, apa kau baru saja terlibat pertarungan dengan mereka?" tanya Viona, gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap mata coklat milik Lucas.Lucas mengangguk.


"Lukanya memang tidak mengandung racun, tapi tetap butuh penanganan. Hm, aku akan pergi sebentar Viona membeli obat dan perban." ucap Stella dan beranjak dari hadapan Lucas.


"Tunggu." Namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah gadis itu. Tidak perlu, ini sudah larut malam. Sebaiknya kau masuk, aku akan meminta bantuan Lay dan Jey saja."


"Hyung, kau memanggil kami?"


"Omo!!" nyaris saja Viona terkena serangan jantung dadakan karna kemuncukan mereka berdua yang secara tiba-tiba. "Yakk!! Kalian berdua sudah bosan hidup ya?" amuk Viona sambil menatap tajam dua pemuda tampan di depannya.


Lay dan Jey menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Heheheh! Maaf Nunna." lalu pandangan mereka beralih pada Lucas yang berlumur darah. Mata mereka membulat saking kagetnya


"OMO? HYUNG/GE.. KAU TERLUKA!!" pekik mereka dengan kompak. "Jangan cemas, kami akan segera kembali. Mesum saatnya terbang." Seru Lay sambil mengangkat salah satu tangannya keudara.


"Oke , pikun. Let'go." dan dalam hitungan detik Angel bersaudara itu sudah menghilang dari hadapan Lucas dan Viona, melesat jauh terbang menuju angkasa menuju pusat kota.


"Kita masuk."


Lucas berjalan lurus menuju kamar mandi , jari-jari besarnya menghapus uap pada cermin. Pemuda itu menghela nafas panjang, lihatlah betapa berantakan keadaannya saat ini. Sisi wajah kirinya yang di penuhi darah, rambut coklat gelapnya tampak berantakan dan pakaiannya sedikit kotor dengan robekan pada lengan kanan atasnya.


Dengan segera Lucas memutar kran air dari wastafel lalu membasuhkan pada wajahnya yang berlumur darah. Setelah darah di wajahnya benar-benar bersih, empat luka melintang di bawah mata kirinya bekas cakaran mahluk penghisap darah itu bisa terlihat dengan jelas.


Luka sedalam itu pasti akan meninggalkan bekas di kemudian hari. Lucas mendesah berat, bukanlah masalah yang besar. Lalu pandangannya beralih pada lengan kanannya yang juga mendapatkan luka yang sama. Lucas mematikan kembali kran air yang masih mengalir itu dan berjalan meninggalkan kamar mandi.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2