My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Berburu Bersama


__ADS_3

'Telah ditemukan seorang gadis belia tewas dengan sebuah gigitan pada leher kanannya. Diduga kuat jika gadis itu tewas karna gigitan mahluk penghisap darah yang tengah berburu mangsanya.' mata kirinya mengamati baris demi baris kalimat yang terdapat dalam lembaran koran pagi ini.


Sesekali orang itu 'Lucas' mengucapkan kalimat yang menurutnya penting dalam artikel koran yang ia baca. Lucas mendengus seraya melemparkan koran itu keatas meja. Lagi-lagi para vampir membuat ulah.


Bukan sebuah rahasia baru jika Lucas sangatlah membenci vampir, namun karna rasa bencinya itu justru membawanya bertemu dengan seorang gadis vampir yang kini menjadi istrinya yang merangkap sebagai partnernya dalam memburu dan menghabisi para mahluk penghisap darah tersebut.


Bukan tanpa alasan, Lucas menjalankan profesi tersebut karna dendamnya pada vampir yang telah membunuh seluruh anggota keluarganya yang membuatnya menjadi Lephrica terakhir yang masih hidup di dunia ini. Dan sejak saat itu Lucas bertekad untuk membunuh semua vampir yang ia temui.


"Ada berita tentang vampir lagi, hm?" ujar Carl seraya mendaratkan pantatnya di salah satu sofa yang berada dalam ruangan tersebut.


Lucas mengangkat wajahnya dan menatap datar laki-laki berdarah China-Canada di hadapannya. Carl adalah satu-satunya orang yang mengetahui tentang peristiwa pahit yang menimpa Lucas dan seluruh keluarganya, karna pada saat kejadian Carl juga berada lokasi kejadian.


Bukan hanya keluarga Lucas saja yang menjadi korban dalam insiden berdarah tersebut, namun keluarga Carl juga. Orang tua Carl dulunya bekerja untuk keluarga Lucas. Carl dan Lucas sudah bersahabat sejak kecil dan karna kedekatannya itu mereka berdua menjadi seperti saudara.


Carl sudah menganggap Lucas seperti adik laki-lakinya dan Carl menjalani profesi itu karna rasa kemanusiaan dan rasa prihatin yang melanda penduduk karna keberingasan vampir dalam melakukan aksinya, Disamping itu juga karna dendam pribadinya pada para vampir


"Apa malam ini kau akan melakukan perburuan lagi bersama partner barumu itu, hm?"


"Tentu, bukan hanya aku dan Viona saja. Tapi kalian bertiga juga,"


Carl menutup matanya seraya mendesah berat. "Tapi sepertinya kita tidak bisa melibatkan, Kai dalam perburuan lagi. Kau tau sendiri bukan bagaimana tingkahnya akhir-akhir ini? Dia selalu berteriak histeris saat melihat vampir yang bergerak ke arahnya atau ketika melihatmu menghabisi mereka dengan sadis. Mungkin kita harus meninggalkannya dalam perburuan kali ini dan perburuan-perburuan selanjutnya." ujar Carl panjang lebar.


"Itu juga yang aku pikirkan."


Ternyata Lucas dan Carl satu pemikiran. Baik Lucas maupun Carl sama-sama tidak habis pikir dengan tingkah dan kepribadian Kai saat ini. Sikap dan perilakunya benar-benar berubah 180° dari aslinya. Kai yang dulu begitu mesum dan menyukai pertarungan dalam perburuannya, sikap itu kini tidak tampak lagi pada dirinya.


Kai selalu menjerit dan menutup matanya saat melihat seseorang berciuman didepannya atau ketika melihat kebrutalan teman-temannya saat menghabisi para vampir yang menjadi target utama perburuan mereka. Dan rasa tidak percaya mereka saat para wanita mengatakan jika Kai tidak mau menjadi normal lagi.


Carl menyapukan pandangannya dan memicingkan matanya. Sepanjang dia berada dikediaman Lucas , Carl tidak melihat batang hidung Viona sama sekali


"Oya, Lu di mana Viona? Aku tidak melihatnya sama sekali, apa dia sedang keluar?"


"Hm, dia pergi bersama Jia, Ara dan Kai. Pagi-pagi sekali mereka bertiga sudah datang dan Kai merengek agar Viona mau menemaninya juga untuk berbelanja segala sesuatu yang menjadi kebutuhan wanita."


Lucas memijit pelipisnya seraya menghela nafas panjang. Tingkah dan perilaku Kai akhir-akhir ini benar-benar membuatnya sakit kepala. Kadang-kadang Lucas merinding sendiri saat dia melihat bagaimana mangelikanya Kai saat bersama Chen. Dan parahnya lagi Kai memanggil Chen dengan sebutan Chenie.


"Aku akan menjemput Viona tetaplah di sini. Jika ingin beristirahat, kau bisa menggunakan kamar tamu." ucap Lucas seraya bangkit dari duduknya.


"Tidak-tidak, aku akan ikut denganmu. Aku memiliki urusan penting dengan, Ara yang harus aku selesaikan hari ini juga,"


Kali ini Lucas tidak ingin berkomentar apa pun. Tanpa Carl menjelaskannya sekali pun Lucas sudah tau betul urusan penting apa yang di maksud oleh laki-laki bermarga Wu itu.


Carl dan Lucas berjalan beriringan dan masuk kedalam mobil masing-masing, mobil-mobil mewah milik kedua hunter tampan itu melaju kencang meninggalkan kawasan sepi menuju jalan raya.


Lucas mengendarai mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi begitu pula dengan Carl, mereka berdua menyalip beberapa mobil yang berada didepannya tanpa takut jika mobil yang mereka kendarai akan menabrak apalagi mengalami kecelakaan tragis.


Dan setelah berkendara hampir 30 menit, mereka tiba di mall tempat para wanita berbelanja karna Lucas sudah menghubungi Viona saat dalam perjalanan tadi.


"Lucas," panggil seseorang dari arah belakang.


Lucas berbalik dan mendapati Viona berjalan menghampirinya. "Kau hanya sendiri, di mana yang lainnya?" tanya Lucas sesaat setelah wanita itu berada dihadapannya. "Dan apakah Kai membuat repot kalian semua?"


Viona mendesah lelah


"Bukan hanya merepotkan saja, tingkahnya juga membuatku semakin ingin muntah. Kai, benar-benar berubah total dari yang dulu kita kenal, Lu. Aku meninggalkan dia bersama Jia dan Ara, aku benar-benar sudah tidak tahan dengan wanita jadi-jadian itu," ujarnya panjang lebar


"Lalu kau ingin kemana sekarang?" tanya Lucas seraya menatap wanita itu datar, Viona menggeleng.


"Entahlah, tapi bisakah kau membawaku ketempat dimana aku bisa menemukan sebuah ketenangan?" tanya Viona dan menatap Lucas penuh harap. Lucas mengacak rambut panjang Viona seraya menarik sudut bibirnya


"Tentu," jawabnya.


-


-


Lucas memang pernah jatuh cinta sebelumnya selain pada Viona karna jauh sebelum dia mengenal wanita itu. Lucas sudah pernah jatuh cinta meskipun rasa cinta yang dia miliki tidak sebesar dan sedalam rasa cintanya untuk Viona saat ini.


Lucas tidak tau mana yang lebih menarik Viona yang tengah duduk di atas rerumputan atau pemandangan senja yang mengintip di antara bayang-bayang ilalang yang melambai.

__ADS_1


Viona masih terpana pada padang ilalang di bawah langit senja saat Lucas berpindah tepat di hadapannya. Mata mereka saling mengunci. Begitu dalam dan menghanyutkan, perlahan Viona menutup kedua matanya saat Lucas mendekatkan wajahnya sampai akhirnya ia merasakan sebuah benda lunak dan basah menyapu permukaan bibirnya.


Viona terus mendesah dalam ciumannya, dia benar-benar tak kuasa menahan ciuman panas yang dilakukan oleh Lucas. Ciuman mereka sudah berjalan selama lima menit tanpa jeda, yang membuat mereka otomatis kehabisan nafas.


Dan Lucas baru mengakhiri ciumannya saat merasakan pukulan ringan pada dada bidangnya. Mereka saling berebut oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-paru mereka yang mulai menipis


"Waktu beristirahat sudah berakhir, sayang."


Lucas kembali menempelkan bibirnya pada bibir Viona. Kini ciumannya jauh lebih liar dari ciuman mereka yang sebelumnya. Lidah Lucas menekan bibir bawah Viona untuk bisa mendapatkan akses lebih. Setelah mendapatkan apa yang di inginkan, Lucas menyusupkan lidahnya kedalam mulut Viona.


Selesai dengan kegiatannya. Lucas tersenyum dan kembali membawa wanita itu kedalam pelukannya seraya berbisik. "Aku mencintaimu, Viona Xiao, sangat-sangat mencintaimu."


Stella tersenyum dan dengan senang hati membalas pelukan Lucas. "Aku juga mencintaimu," jawabnya.


-


-


Langit hitam malam ini terlihat pekat. Tidak ada bintang seterang bintang kemarin. Bulan bulat besar berwarna putih keemasan tampak seperti matahari kedua dengan sinar lembut yang tidak menyakiti mata. Semilir angin berhembus semakin dingin, suara-suara binatang malam tidak terdengar seperti tertahan oleh sesuatu.


Flap.. Flap.. Flap..


Suara sayap kelelawar mengangkasa. Tidak hanya ada satu atau dua saja namun mereka bergerombol, kelelawar-kelelawar itu membentangkan sayap besarnya hingga mencapai titik perubahan sempurna.


Kelelawar-kelelawar itu mengeluarkan aura hitam menggumpal, bagai awan Columbus yang hitam pekat. Dalam hitungan detik kemudian kumpulan kelelawar itu berubah wujud menyerupai manusia dengan wajah sepucat mayat dan sepasang mata semerah darah.


Gurat nadi berwarna biru samar terlihat disekitar mahluk itu. Mahluk yang seharusnya tidak pernah ada kini tampak meraung-raung dengan lengkingan suaranya yang memecah dalam kelamnya heningnya malam. Suara kelaparan, suara kehausan..


Satu persatu memisahkan diri dari kawanannya. Mencari mahluk lain yang berbeda wujud dengan mereka, mahluk yang memiiki aliran darah dalam tubuhnya yang bisa menghilangkan rasa lapar serta dahaga mereka.


Hidung mereka teramat sangat peka, dan mahluk-mahluk itu telah menemukan mangsanya jauh dari empat penjuru arah berbeda. Malam bulan purnama adalah malam yang paling di nantikan oleh para kaum penghisap darah untuk memburu para mangsanya.


Seorang pria yang sekujur tubuhnya terbalut pakaian serba hitam dengan tudung hitam pula yang menutupi wajahnya baru saja terbangun dari tidur panjangnya setelah merasakan tetesan darah para gadis perawan yang lahir di saat bulan purnama pada pertanggalan ganjil.


Sosok itu memiliki kulit pucat pasi, bola mata hitam pekat dengan warna kemerahan dibawah matanya. Sosok itu keluar dari dalam petinya dan melangkahkan kakinya dengan tenang keluar dari ruangan yang selama ribuan tahun menjadi tempat tidur panjangnya.


Beberapa orang langsung membungkuk saat laki-laki itu berjalan melewati mereka untuk menuju singgasananya. Mengibarkan jubah hitam bersalur hitam kebesarannya seraya duduk pada kursi tinggi berlapis emas hiasan berlian dengan sebuah patung iblis pada sandaran atas kursi itu, mata hitam sehitam jelaga miliknya mengamati setiap manusia yang ada di depan sana.


Mereka adalah orang-orang yang rela mempertaruhkan hidup dan matinya untuk mengabdi padanya


"Setelah lima ribu tahun, akhirnya aku bisa merasakan hembusan angin dan udara bebas."


"Selamat datang kembali Yang Mulia junjungan kami, Black Shadow."


Laki-laki itu yang ternyata adalah 'Black Shadow' merentangkan tangannya, meminta pada para hambanya untuk duduk kembali.


"Aku sudah melihat semuanya, sebenarnya aku tidak ingin mengampuni kalian semua karna gagal memberikan darah sang pemilik keabadian untukku. Tapi aku masih menghargai usaha dan kerja keras kalian semua."


"Dan aku akan memberi kalian satu kesempatan lagi. Habisi Dark Lephrica dan bawa pemilik keabadian itu sebagai pengantinku. Untuk sementara waktu aku akan tetap berada dibalik bayangan sampai seluruh kekuatanku pulih kembali. Pergilah dan segera laksanakan tugas kalian dengan baik dan aku tidak ingin lagi mendengar kata kegagalan."


"Baik Yang Mulia."


Kali ini bukan lagi darah keabadian Viona yang Dark Shadow inginkan melainkan keturunan dari pemilik keajaiban. Seorang bayi yang terlahir dari rahim pemilik keabadian dipercaya akan menjadi seorang anak pilih tanding, yang diramal jika kelak akan menjadi rajanya para raja yang menguasai 7 alam dalam 3 dunia.


Dan itulah tujuan utama Black Shadow saat ini, menjadikan Viona sebagai permaisurinya. Black Shadow akan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi jalannya bahkan Dark Lephrica sekali pun.


-


-


Dibawah guyuran air hujan kemampuan para Hunter dan mahluk abadi di uji, di bawah langit hitam yang menumpahkan tangisnya. Lucas, Viona, para Hunter dan mahluk abadi tengah bekerja sama untuk menghabisi para mahluk penghisap darah yang tengah memburu mangsanya.


Derasnya hujan dan dinginnya udara malam tidak mengurangi sedikit pun semangat mereka, karna membunuh mereka para penghisap darah adalah tujuan utama mereka berburu malam ini. Dari sekian banyak vampir yang mereka temui. Hanya tersisa beberapa saja dan mereka yang mampu bertahan adalah mereka yang memiliki tingkatan level diatas vampir lainnya.


"KYYYYAAAA!! SIAPA PUN TOLONG AKU, ME..MEREKA BERGERAK KEARAHKU."


Jeritan histeris Kai mengalihkan perhatian semua orang. Dan tanpa membuang waktu Lucas segera bertindak untuk menghabisi mahluk itu sebelum berhasil menerkam Kai. Buru-buru Kai membuka matanya setelah tidak merasakan apa pun.


"Apakah dia sudah musnah?" tanyanya polos.

__ADS_1


"Dasar merepotkan, sudah dibilang tidak usah ikut. Kenapa kau sangat keras kepala, Kai." amuk Tao yang mulai kehilangan kesabarannya karna tingkah Kai.


"Sebaiknya kau menyingkir saja, menjauh sejauh mungkin dan cari tempat yang aman untuk bersembunyi." Kai tersenyum lebar dan berhambur memeluk Tao.


"Ahh! Terimakasih, Taolie. Kalau begitu aku akan pergi sekarang."


"Hoek," Tao nyaris saja memuntahkan semua isi dalam perutnya mendengar panggilan Kai untuknya ditambah dengan sikap manjanya yang sangat menggelikan.


Rasanya Tao ingin memukul kepala Kai agar segera sadar dan kembali normal. Dia benar-benar sudah tidak tahan dengan sikap dan perilaku wanita jadi-jadian itu yang semakin hari semakin menggelikan


"Pait pait pait, mimpi apa aku semalam sampai-sampai dipeluk dan dicium wanita jadi-jadian itu." ujarnya entah pada siapa.


Pukk!!


Tepukan pada bahunya mengalihkan perhatiannya. "Sudah tidak apa-apa jangan di hiraukan. Ayo, kita habisi mereka bersama-sama." Tao tidak berkedip sedikit pun melihat senyum manis gadis vampir yang ada dihadapannya, meskipun dia adalah bangsa mahluk yang seharusnya dihabisi dan dibunuh.


Tapi gadis itu adalah vampir yang masih satu klan dengan Viona jadi dia adalah vampir yang baik dan pantang menghisap darah manusia, melihat senyum itu membuat pipi Tao bersemu merah.


"Te..tentu, Amaya." Amaya tersenyum dan menarik Tao kembali kedalam medan pertarungan.


Sring!


Sebuah cahaya terang berwarna kemerahan menembus tubuh beberapa vampir yang kemudian melebur mejadi abu. Lucas sudah tidak tahan lagi dan ingin menghabisi mereka dengan sangat cepat. Perlahan ia menarik turun benda hitam bertali pada mata kanannya yang entah sejak kapan telah berubah ke warna ungu terang.


Sebuah pusaran angin hitam tiba-tiba saja muncul dan menggulung mahluk-mahluk itu untuk masuk kedalamnya yang kemudian dilanjutkan oleh aksi Viona yang mengikat mereka dengan blodestone-nya hingga akhirnya mahluk-mahluk itu hancur menjadi abu.


Pertarungan pun akhirnya berakhir. Ara langsung menjatuhkan tubuhnya pada aspal yang terasa dingin. Kedua matanya tertutup membiarkan tetesan hujan membasahi permukaan wajahnya. Namun keanehan mulai terasa saat tidak lagi tetesan air yang membasahi wajahnya.


Sontak ia membuka matanya dan saat itu bibirnya di sambut oleh bibir Carl yang langsung melu*atnya, membuat kedua mata Ara membulat saking kagetnya. Dan apa yang Carl lakukan memberikan ide buat Antolin.


Laki-laki jangkung itu mendorong dan menghimpit tubuh Jia pada sebuah pohon. Kedua tangannya menakup wajah Jia dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman panas yang menggairahkan. Kai yang terkejut langsung menutup matanya sambil menjerit sekencang-kencangnya kemudian berlari meninggalkan tempat itu.


"KKKYYYYAAA! LAGI-LAGI MEREKA MESUM."


"Kamjong, tunggu.."


Lucas mendesah berat. Merangkul bahu Viona dan mengajak wanita itu meninggalkan lokasi termasuk Tao, Amaya dan L meninggalkan dua pasangan yang tengah melakukan kegilaan dibawah guyuran air hujan.


-


-


Lucas menutup mata kirinya dalam-dalam saat merasakan aroma manis yang begitu memabukkan ketika jaraknya dengan leher Stella nyaris tidak ada lagi. Malam ini Stella berniat untuk saling berbagi darah dengan suaminya.


Meskipun sebelumnya tidak pernah meminum darah bukan berarti tidak bisa. Viona adalah seorang vampir dan Lucas adalah Lephrica.


Darah adalah sumber kehidupan utama bagi mereka yang di sebut vampir. Tanpa mengkonsumsi darah vampir tidak mungkin dapat bertahan dan hidup dalam waktu yang sangat lama.


Bagi kaum penghisap darah waktu yang paling tepat untuk berburu adalah saat malam bulan purnama, karna pada saat itu kekuatan mereka akan berlipat ganda setelah menghisap habis darah mangsanya.


Dan sepanjang ia hidup. Pertama kalinya Viona merasakan darah adalah darah milik Lucas. Sebelumnya Viona belum pernah meminum darah karna baginya tidak ada untungnya juga mengkonsumsi cairan merah kental itu karna darah tidak akan memberikan efek apa pun pada tubuhnya, tapi ia merasakan sensasi yang berbeda saat merasakan darah segar Lucas membasuh dan membasahi kerongkongannya. Viona mulai terbiasa dengan rasa darah Lucas yang kini mulai menjadi candu baru untuknya.


Viona menutup matanya seraya meremas helaian coklat terang Lucas saat sepasang taring yang terasa dingin dan tajam menyentuh permukaan lehernya yang perlahan menembus dan sedikit mengoyak dagingnya.


Tidak ada rasa sakit yang membakar, yang terasa adalah kenikmatan yang luar biasa. Suara darah saat melewati tenggorokan Lucas terdengar merdu ditelinga Viona, bagaikan sebuah symphony yang indah. Wanita itu menengadahkan wajahnya, kedua matanya tertutup rapat.


Setelah menuntaskan rasa dahaganya. Lucas menarik taringnya yang masih berada pada leher Viona kemudian membagi darah yang masih tersisa didalam mulutnya pada Viona melalui bibirnya.


Darah yang begitu manis yang membuat Lucas kecanduan selain rasa manis pada bibir ranum itu. Viona menelan saliva bercampur darah yang Lucas berikan padanya tanpa rasa jijik sedikit pun, dan ciuman itu tidak berlangsung lama


"Ini sudah hampir pagi, sebaiknya sekarang kita tidur." ucap Lucas yang segera dibalas anggukan oleh Viona. "Kemarilah, Sayang." Lucas menarik Viona untuk berbaring di sampingnya.


Wajah Viona menghadap dada bidang Lucas yang hanya tertutup pakaian hitam lengan terbukanya. Viona menakup wajah Lucas dan mengecup singkat bibir kemerahannya


"Good night, Lu." bisiknya sebelum berlayar menuju alam mimpi. Lucas memberikan kecupan lembut pada keningnya dan kemudian menutup matanya. Dalam hitungan detik, mereka berdua sama-sama pergi ke alam mimpi.


.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2