My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Saling Melengkapi


__ADS_3

Lucas menurunkan Viona dari pelukannya setelah kaki mereka kembali berpijak di tanah. Ellena langsung menghampiri Viona dan memeluknya


"Kakak sungguh lega kau baik-baik saja. Tuan, lagi-lagi kau menyelamatkan adikku. Sekali lagi aku ucapkan terimkasih padamu." Ellena membungkuk pada Lucas. Lucas yang merasa tidak enak segera meminta Ellena berdiri


"Tidak perlu seperti ini, Nona. Yang terpenting dia sudah baik-baik saja." Ellena tersenyum dan mengangguk.


"Sudah hampir pagi, sebaiknya kita pulang sekarang." ucap Yohan menengahi sambil merangkul bahu Ellena Wanita itu mengangguk.


"Tapi kita tidak bisa membawa Viona pulang. Untuk sementara biarkan dia tinggal bersama dengan Tuan Xiao. Karena hanya dia satu-satunya yang menjaganya, aku harap kau tidak keberatan." ujar L sambil menatap Lucas memohon.


"Aku..."


"Kenapa kalian harus melibatkan, Lucas lagi." sergah Milla menyela ucapan Lucas. "Aku tidak suka dan aku tidak setuju, kenapa kau tidak menjaga dia sendiri saja? Kenapa harus menjaga orang lain?"


"Jaga mulutmu, Kamilla Song." geram Kai dengan suara rendah.


"Kenapa, Kai? Untuk apa aku harus menjaga mulutku? Lagi pula aku merasa tidak ada yang salah dengan yang aku katakan, lagipula apa hak Lucas oppa menjaganya? Toh gadis ini bukan siapa-siapa untuk dia. Jadi untuk apa Lucas harus repot-repot menjaganya."


Gyuttt!!


Viona mengepalkan tangannya mendengar ucapan Milla. Kalimatnya begitu menusuk kedalam hatinya. Lagipula tidak ada yang salah dengan ucapan gadis itu, memangnya siapa dia? Sampai-sampai Lucas harus repot-repot menjaganya


"Aku bukan barang yang harus di titipkan pada siapa pun. Aku tidak ingin lari lagi dari takdir ini. Aku tidak akan ikut dengan siapa pun, aku akan tinggal terpisah dari kalian dan aku akan membuktikan pada kalian jika aku bisa melindungi yang aku miliki tanpa perlindungan siapa pun." ujar Viona panjang lebar.


Gadis itu beranjak dan hendak pergi, namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya. "Ada apa lagi, Lu? Lepaskan aku, biarkan aku menjalani dan menghadapi takdir ini."

__ADS_1


"Kau akan tinggal bersamaku, dan aku tidak suka sebuah penolakan. Jika kau merasa tidak nyaman, kau bisa membawa kedua gadis itu untuk tinggal bersama kita." ujar Lucas tidak ingin di bantah, seolah-olah jika kata-katanya itu mutlak.


"Lucas." teriak Milla marah.


"Cukup!! Kamilla Song. Kau tidak memiliki hak apapun atas diriku, dia akan tinggal bersamaku atau tidak.. bukan kau yang berhak menentukannya." tutur Lucas


"Kita pergi sekarang," ucap Lucas menggenggam tangan Viona dan membawa gadis itu meninggalkan semua orang. "Dan kalian berdua, sampai kapan kalian akan diam di sana seperti orang bodoh?" Lucas melirik pada Ara dan Jia, keduanya segera tersadar.


"Tunggu kami."


L tersenyum tipis. Keyakinannya tidak akan pernah salah, jika Lucas memanglah orangnya. Dan dia percaya, jika Lucas akan melindungi Viona dan tidak akan membiarkan dia sampai terluka. Meskipun saat ini mereka sama-sama belum menyadarinya, namun cepat atau lambat mereka akan segera menyadari jika mereka memang di ciptakan untuk saling melengkapi.


-


-


Setiap malam tiba, bulan selalu menebarkan kasih sayangnya pada seluruh belahan bumi yang tidak tersinari matahari dengan adil dan tak pilih kasih. Bulan tidak pernah lelah meskipun ia sendirian dalam keberadaannya jika bintang tidak datang menampakkan wujudnya.


Bulan selalu membagikan sinar matahari tanpa kenal lelah. Tapi sang penguasa malam tidak selalu tersenyum pada dunia, ada kalanya ia memalingkan wajahnya dari bumi dan membenarkan sinarnya dalam kegelapan kabut malam, menyembunyikan kegundahannya sendiri tanpa ada niat untuk berbagi.


Angin bertiup menerbangkan daun-daun kering yang berguguran. Bunyi gesekan daun kering dan rumput bisa membawa perasaan tenang siapapun. Seperti halnya seorang gadis cantik berparas barbie dengan mata abu-abunya.


Dia hanya duduk di taman belakang sebuah kastil megah yang selama hampir satu bulan ini menjadi tempat tinggalnya guna menenangkan pikirannya yang berkecamuk.


Ia merindukan teman-temannya, keluarganya dan kehidupan lamanya. Ia ingin bebas dan menjalani hidupnya seperti dulu, bukan terkurung bagaikan seorang tawanan di sebuah kastil megah dengan segala kenyamanannya. Ia tidak tau dan tidak habis pikir dengan pemikiran semua orang, mengapa semua orang bertindak begitu berlebihan padanya.

__ADS_1


Selama dua puluh lima tahun dia hidup. Ia merasa baik-baik saja, bahkan dia bisa melindungi dirinya dari kejaran semua mahluk yang menginginkan keabadian dalam tubuhnya. Ia bukanlah gadis lemah yang perlu dijaga dan dilindungi setiap detik menitnya. Ia menginginkan kehidupan lamanya, bebas tanpa kekangan tanpa penjagaan.


Di samping itu, tinggal satu atap dengan laki-laki bersifat dingin seperti Lucas bukanlah hal yang menyenangkan.


Dan tanpa dia sadari. Seorang pemuda bersurai coklat gelap bermata coklat jernih sedang mengamatinya dari kejauhan. Pemuda itu tidaklah sendiri, ada dua pemuda lain yang berdiri disisi kiri dan kanan pemuda itu.


Pemuda dalam balutan jeans hitam dan kemeja hitam lengan terbuka dengan dua kancingnya yang dibiarkan terbuka itu tidak sedikit pun meloloskan pandangannya dari sosok jelita berparas barbie yang pastinya adalah Viona.


"Hyung, aku rasa Viona nunna sangat tidak nyaman berada ditempat ini. Hampir setiap malam aku melihatnya duduk termenung di sana. Sepertinya dia merindukan keluarga dan teman-temannya." ucap Jey tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya dari Stella.


"Aku sependapat dengan bocah mesum ini, Ge. Meskipun ada Jia nunna dan Ara nunna, tapi Viona nunna tidak terlihat bahagia sama sekali apalagi saat ini mereka berdua tidaklah tinggal di sini lagi." sahut Lay menambahkan.


Tidak ada tanggapan. Lucas tidak merespon sama sekali ucapan kedua Angel bersaudara itu.


Diam bukan berarti Lucas tidak mendengar apa yang mereka berdua katakan. Bahkan Lucas memiliki pendapat yang sama dengan mereka berdua. Bukan hanya Lay dan Jey yang sering melihat Viona yang duduk termenung di sana, setiap malam Lucas selalu berdiri di depan jendela kamarnya hanya untuk melihat gadis itu.


"Hyung, bagaimana jika kita kembalikan saja Viona nunna pada keluarganya. Jika seperti ini terus bukankah kita terlihat seperti kumpulan penjahat yang menawan seorang Putri?! Jujur terus terang aku merasa prihatin dengan keadaannya."


"Aku tidak bisa memutuskannya sendiri. Aku akan membicarakan ini dengan Voltaire itu terlebih dulu. Aku akan mencari jalan keluarnya untuk masalah ini." ujar Lucas kemudian beranjak dan meninggalkan kedua Angel bersaudara itu.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2