
Brakkkk!!!
Lucas membuka matanya setelah mendengar suara mirip benda terjatuh yang berasal dari luar kastilnya. Lucas berlari menuju jendela besar yang ada di samping kanannya. Mata Lucas membelalak melihat kedatangan tamu tidak di undang yang saat ini tengah bertarung melawan Jey, Lay dan Viona.
Mahluk itu berhasil menembus kabut mantra yang telah ia buat. Tanpa mengulur lebih banyak waktu lagi, Lucas segera membantu mereka bertiga.
Syuuhh!!
Angin di sekitar mereka tiba-tiba berhembus kencang seiring dengan sepasang kaki yang menginjak rerumputan. Aura hitam yang dia pancarkan membuat rumput-rumput hijau itu tiba-tiba layu. Aura membunuh dalam dirinya begitu kuat, membuat nyali mahluk-mahluk itu ciut seketika.
Glukk!!
Susah paya Viona menelan salivanya melihat sorot mata tajam milik pria di sampingnya."Mundurlah, biar aku yang menyelesaikannya." Sosok itu menoleh, menatap Viona yang juga menatapnya. Viona mengangguk kemudian mundur beberapa langkah kebelakang, meninggalkan area pertarungan.
Sebuah bola api muncul dari telapak tangan Lucas yang semakin lama semakin besar ukurannya, yang kemudian dia arahkan pada mahluk-mahluk itu. Seketika kobaran api membakar tubuh mereka , mahluk-mahluk itu berteriak dan menggeliat sebelum akhirnya tubuh mereka melebur menjadi debu dan lenyap tertiup angin.
Lucas berbalik dan menghampiri Viona untuk memastikan keadaannya. "Kau tidak apa-apa? Apa mahluk-mahluk itu berhasil melukaimu?" tanyanya memastikan. Gadis itu tersenyum kemudian menggeleng.
"Aku tidak apa-apa, Lu." Jawabnya meyakinkan.
"Ge, sepertinya kita harus membuat segel baru. Ini sudah sangat berbahaya, bagaimana jika sampai mahluk-mahluk itu datang lagi?" ujar Lay, raut wajahnya terlihat penuh keseriusan. Ternyata Lay satu pendapat dengan Lucas, Lucas pun memikirkan hal yang sama.
"Aku serahkan hal ini pada kalian berdua, gunakan kekuatan itu untuk membuat segel baru."
"Siap, Hyung. Dan kami berdua akan segera melaksanakannya." ucap Jey penuh semangat.
"Kita masuk, di sini sangat berbahaya untukmu." ucap Lucas, pemuda itu meraih pergelangan tangan Viona dan membawanya masuk kembali kedalam kastil.
Viona menatap pergelangan tangannya yang di genggam oleh Lucas. Darah dalam tubuhnya berdesir ringan, seperti ada jutaan kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya. Lucas melepaskan genggaman tangannya setelah mereka tiba ruangan pribadi milik Lucas. Ruangan yang tidak pernah Viona masuki sebelumnya, ruangan itu yang lebih tertutup dari kamar pribadi milik Lucas.
__ADS_1
Viona menjatuhkan tubuhnya begitu saja pada lantai kamar Lucas, air matanya perlahan turun melewati pipinya. Gadis itu menarik kedua kakinya kemudian membenamkan wajahnya di sana.
"Hiks! Aku benar-benar lelah, Lucas. Aku lelah jika harus menjadi incaran mereka. Aku lelah dengan semua yang aku jalani selama ini, aku ingin bebas. Aku ingin merasakan hidup tanpa beban lagi. Aku.. harus bagaimana, hiks." lirih Viona mulai terisak.
Lucas menatap gadis itu dengan sendu, rasanya seperti ada jutaan jarum tajam yang menghujam hatinya mendengar isakan pilu Viona. Lucas mensejajarkan tubuhnya dengan gadis itu. Viona mengangkat wajahnya yang penuh air mata, menatap sendu pemuda di hadapannya
"Haruskah aku menyerah? Haruskah aku menyerahkan diriku pada mereka? Hiks, aku sungguh-sungguh lelah. Aku sangat lelah. Sampai kapan aku harus bertahan." Isaknya semakin pilu.
Lucas terkejut melihat Viona tiba-tiba melukai pergelangan tangannya dengan belati yang terselip di pinggangnya. Gadis itupun mencabut belati itu tanpa Lucas sadari. membuat darah segar beraroma harum dan memabukkan bercucuran dari nadinya yang teriris.
"APA YANG KAU LAKUKAN? APA KAU SUDAH GILA?" bentak Lucas dan menatap Viona marah.
Lucas meraih tangan gadis itu dan membebatnya dengan sebuah kain. Lucas memegang bahu Viona dan menuntun gadis itu untuk duduk di tempat tidur. Kemudian Lucas berlutut di depan Viona sambil mengunci mata itu. Jari-jarinya menghapus jejak air mata di pipinya.
"Apa kau sungguh-sungguh mempercayaiku?" Viona mengangguk.
Gadis itu tidak memberikan jawaban apapun, sebagai gantinya ... Viona menganggukkan kepalanya.
Viona membuka lilitan kain yang membebat pergelangan tangannya. Dia mulai mengangkat tangannya dan meletakkan tepat di depan wajah Lucas. Perlahan tapi pasti Lucas mendekatkan wajahnya dan menghisap darah segar yang mengalir dari luka di pergelangan tangan gadis itu.
Darah itu perlahan turun melewati tenggorokan Lucas membasahi kerongkongannya yang kering.
Babak baru dari para mahluk abadi baru saja dimulai. Bersatunya dua mata kekuatan yang saling bersebrangan melahirkan sebuah aliansi kekuatan baru yang tidak terbatas. Demi kedamaian ,cinta dan harapan.
-
-
Angin malam berhembus kencang. Petir menyambar saling bersahutan, kilatan-kilatan putih terlihat di atas langit Istana White Vampire yang di pimpin oleh Raja Vampire dengan dudukan tertinggi yang menjadi Rajanya para Raja bergelar Lord Ruthven.
__ADS_1
Lord Ruthven merupakan ayah kandung dari Ellena Jung dan Viona Jung. Namun ada yang tidak biasa pada gejala alam yang terjadi malam ini, pasalnya petir terus menyambar disaat langit terlihat cerah dengan taburan jutaan bintang yang menjadi penghiasnya. Hal itu sangatlah langkah dan jarang sekali terjadi.
Semua orang yang bernaung di Istana menjadi sangat panik dan kalang kabut, mereka takut jika petir itu adalah pertanda buruk. Di saat semua panik dan ketakutan, namun hal berbeda justru di tunjukkan oleh sang Raja. Lord Ruthven tetap terlihat tenang.
"Yang Mulia, sebenarnya bertanda buruk apa ini? Kenapa tiba-tiba saja ada petir di saat langit terlihat cerah?" kepanikan juga dirasakan oleh penasehat istana, laki-laki setengah baya itu menghampiri Lord Ruthven dan berdiri tepat dibelakang sang raja.
Lord Ruthven tersenyum tipis. "Tidak perlu sepanik itu, ini adalah petir pertanda baik. Dia telah menemukan takdirnya, apa yang selama ini kita harapkan akan segera menjadi kenyataan. Sejarah baru saja di mulai, kisah cinta antara pemilik keabadian dan seorang, Dark Lephrica telah dimulai. Kini tidak hanya ada satu Viero saja yang hidup di dunia ini, melainkan sepasang Viero abadi." ujar Lord Ruthven tanpa melunturkan senyum itu dari wajahnya.
Penasehat istana itu membelalakkan matanya ,ia benar-benar terkejut dengan penuturan Raja. "Tapi Yang Mulia, bukankah pemuda itu adalah seorang Hunter? Bagaimana jika dia sampai mengetahui tentang jati diri Putri yang sebenarnya? Bukankah itu akan sangat berbahaya untuk, Putri Viona."
Lord Ruthven mendesah berat, memang benar apa yang penasehat itu katakan. Ia tidak dapat memungkiri mengenai tragedi yang mungkin akan terjadi setelah Lucas mengetahui tentang jati diri putrinya. Sebaik apapun Viona mencoba menutupinya dan menyembunyikan kebenaran itu dari Lucas. Tapi pada akhirnya Lucas akan mengetahui segalanya.
Mungkin yang terjadi dimasa lalu akan kembali terulang dimasa ini. Tidak akan ada seorang pun yang dapat menghentikan jalannya takdir, bahkan itu mahluk dengan kekuatan Dewa sekalipun.
"Memang itulah yang akan terjadi, sebuah tragedi diawal kisah mereka. Cinta mereka akan di uji. Takdir mereka telah ditentukan sejak lama. Bahkan sebelum Viona kembali dilahirkan ke duania ini setelah kematiannya. Cinta mereka telah melewati ruang dan waktu, cinta mereka abadi walaupun jalan mereka saling bersebrangan."
"Semuanya akan berjalan semestinya, cinta mereka akan melahirkan sebuah kekuatan baru. Kekuatan yang membawa cahaya dan kedamaian bagi seluruh mahluk yang bernaung di bumi ini juga demi cinta dan harapan."
"Tapi Yang Mulia-"
"Kau tidak perlu mencemaskan apapun, semua akan baik-baik saja... percayalah. Sebaiknya kita kembali sekarang, ada pertemuan penting dengan para tetua Zeis. Jangan sampai kita membuat mereka menunggu."
"Baik Yang Mulia."
-
-
Bersambung.
__ADS_1