
"Apakah diriku begitu mempesona di matamu sampai-sampai kau tidak jemu memandang wajahku?" tanya Vivian meremehkan.
"Aku suka pertanyaanmu, Lady." Luhan berjalan satu langkah semakin mendekat, wajahnya tampak begitu menawan karna sinar rembulan. Dan Vivian baru saja menyadari jika Hunter di hadapannya itu begitu tampan, bahkan ketampanannya mampu mengalahkan Dewa sekalipun.
"Apa sudah basa basinya?" tanya Vivian lagi
"Kau begitu cantik, Lady. Mata birumu membuatku terhipnotis. Ingin rasanya aku bercinta denganmu jika saja kau bukan mahluk buruanku." Luhan menarik salah satu sudut bibirnya hingga menciptakan seringai tipis tersungging di wajah tampannya.
Vivian mengamati wajah Luhan sekilas dan tersenyum tipis, Ia sangat tau alasan Luhan dan Qin datang ke tengah hutan di dalam kegelapan malam seperti ini. Demi untuk bertemu musuh abadinya. Yakni kaum vampire.
Menyadari Luhan semakin terjebak dalam keanggunan mahluk itu. Qin bergegas menghampirinya dan segera menyadarkannya
"Jangan terpengaruh oleh kecantikannya, Hyung. Ingat tujuan utama kita," bisik Qin memperingatkan
"Aku tau," balas Luhan singkat
Gadis itu tersenyum remeh mendengar percakapan kedua Hunter di hadapannya. Meskipun suara mereka sangat rendah, namun telinga tajamnya dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
"Jangan terlalu berlebihan, Tuan. Bukankah kau juga telah jatuh dalam pesona bawahanku hingga kau nyaris saja melupakan tujuan utamamu." Seru Vivian meremehkan
"Mungkin akan lebih baik jika melupakannya agar aku bisa menikmati tubuhnya." pemuda itu tersenyum meremehkan dan menatap Hani dengan pandangan menerkam
"Tapi sebelum itu terjadi, akan ku koyak dulu tubuhmu dan ku keluarkan isi perutmu dengan kuku-kuku panjangku." balas Hani menyahuti.
"Benarkah? Apa kau benar-benar akan menghabisi Hunter setampan diriku?" Qin tampak begitu percaya diri dengan ucapannya yang mengatakan jika Ia sangatlah tampan.
"Kau membuat perutku menjadi mual, Hunter," balas Hani.
Percakapan mereka berempat begitu menghanyutkan, layaknya sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.
Sama-sama menahan hasrat dan sedikit malu-malu, sungguh membingungkan. Mereka begitu menikmati. Namun sepertinya percakapan mereka telah mencapai puncaknya, kedua Vampir itu telah bersiap dalam posisinya untuk menyerang kedua Hunter di hadapannya.
"Katakan permintaan terakhirmu, Lady." pinta Luhan yang telah bersiap untuk membidikkan panahnya pada sosok menawan yang ada di hadapannya.
Meskipun telah mendapatkan ancaman dari Luhan, namun Vivian tampak begitu tenang. Tak ada pergerakan gusar yang Ia tunjukkan, seperti sebuah buruan yang kalang kabut ketika nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Ia terlihat santai dan tenang.
Ini bukanlah Roman Picisan antara Luhan dan Vivian maupun Qin dan Hani. Tapi ini adalah pertarungan hidup dan mati antara Vampir melawan Hunter. Kedua gadis itu tau jika kedua Hunter itu tidak akan menurunkan senjatanya dan melepaskan begitu saja buruannya. Begitupun sebaliknya, mereka akan bertarung sampai akhir hingga di titik darah penghabisan.
Luhan kembali menatap dalam mata Indah gadis itu dengan tatapan yang sulit di artikan, dan mata itu juga menatap ke dalam manik abu-abu milik Luhan. Dan hanya dalam hitungan detik saja, keduanya berada dalam posisi yang siap untuk saling menyerang
"Kau begitu cantik, Lady. Namun sayangnya kau akan segera berakhir." Luhan menatap tajam pada sosok di hadapannya, kemudian mengangkat busurnya dan jarinya mulai menarik perlahan anak panahnya sebagai peringatan awal sebelum panah itu bener-benar Ia lepaskan dan akan mungkin menembus jantung Vampire cantik itu.
__ADS_1
"Wow, kau tidak sabaran Hunter. Apa kau begitu bernafsu untuk segera melenyapkanku?" Vivian memekik dan tersenyum remeh. Ucapan Luhan begitu menakutkan, namun Ia justru tampak semakin tenang.
"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan terakhir untuk berbicara." ucap Luhan begitu dingin
"Pertama, aku ingin mengucapkan terimakasih pada atasanmu karna Hunter setampan dirimu ke hutan ini untuk memburu kami. Suatu kehormatan bisa mati di tanganmu."
"Kedua, sudah lama aku jatuh hati padamu, Hunter. Setiap saat aku selalu mengawasimu dan mengikuti di setiap pergerakanmu. Bahkan saat kau memburu kaumku, sayangnya kau tidak menyadarinya."
"Aku selalu menjadi bayanganmu, dan aku sudah sangat lama menantikan pertemuan ini. Dan setelah sekian lama, hari ini pun tiba."
"Dan ketiga, jika masih ada kesempatan. Bisakah kau membawaku mendatangi pantai dan menghabiskan satu penuh hari denganku. Oh tapi sayangnya itu hanyalah khayalanku saja, aku hampir saja lupa jika ini adalah akhir dari perjalananku. Mungkin juga dirimu."
Luhan hampir saja meneteskan air matanya mendengar semua ucapan yang terlontar dari bibir Vivian. Entah kenapa Ia merasa ada ribuan kupu-kupu yang terbang di perutnya tapi juga ada rasa sedih yang bersarang di hatinya karna takdirnya dan gadis itu bukan untuk saling memiliki tapi untuk saling menghabisi
Sementara itu, Hani tersentak tak percaya mendengar semua ucapan yang baru saja terlontar dari bibir Vivian.
Gadis itu mengungkapkan apa yang tidak pernah Hani sadari sebelumnya, ternyata diam-diam nonanya itu telah jatuh cinta pada Hunter yang selama ini memburu kaumnya dan melenyapkan seluruh keluarganya. Bagi Hani ini sangatlah mustahil, namun itulah yang terjadi. Percaya atau tidak, semua itu nyata dan benar adanya.
"Wow, kau sangat melankolis, Nona. Apa kau pikir dengan mengucapkan itu maka, Luhan Hyung akan tersentuh dan mengurungkan niatnya untuk melenyapkanmu." Qin menatap remeh pada Vivian bahkan nada suaranya begitu menyayat perasaan.
"Dasar Hunter payah, apa matamu buta Eo? Apa kau tidak melihat ada ketulusan dan keseriusan di mata, Nonaku. Ada cinta untuk rekanmu itu," sahut Hani, gadis itu tidak dapat menerima ucapan Qin yang sangat menjengkelkan itu
"Benarkah, memangnya sejak kapan mahluk menjijikkan seperti kalian bisa merasakan cinta apalagi pada Hunter seperti kami." balas Qin.
"Aaaahhhh."
"Qin!" jerit Luhan melihat tubuh pemuda itu terpental jauh karna serangan Hani.
Luhan beranjak dari tempatnya dan bermaksud untuk menolong serta melepaskan Qin dari jeratan Hani. Gadis itu menindih tubuh Qin seraya menc*bik-c*bik tubuhnya hingga darah segar memenuhi hampir di sekujur tubuhnya.
Tak hanya sampai di situ, Hani juga telah melepaskan bola mat* kiri Qin dari tempatnya. "Aarrrkkkk, hentikan mahluk sialan." teriak Qin tertahan.
"Aku tidak akan berhenti sampai kau mati di tanganku," balas Hani di tengah aksi brutalnya mengoyak dan mencabik tubuh Qin.
Dengan susah payah, Qin meraih anak panah yang terletak di samping kanannya. Tangannya yang berlumur darah mengangkat busur itu dan...
JRRREEESSSSS....
"HANI!!"
Qin menancapkan busur perak itu pada dada kiri Hani dan membuat tubuh gadis itu terjungkal seketika. Di detik-detik terakhirnya Hani lebih dulu meng*yak purut Qin lebih dalam hingga membuat seluruh isinya t*rurai dan dara* segar menggenang di mana-mana membanjiri tubuh keduanya.
__ADS_1
Vivian dan Luhan sama-sama mengepalkan kedua tangannya, keduanya sama-sama tidak terima dengan apa yang terjadi pada mereka berdua.. Mata Luhan menatap tajam kedalam mata milik Vivian..
"Sudah saatnya kau mati." ucap keduanya hampir bersamaan.
Pertarungan antara Hunter dan Vampir itu pun tak dapat terhindarkan lagi. Vivian melayangkan serangannya berkali-kali pada Luhan dan luka bekas cakarannya terlihat menghiasi di beberapa tubuhnya. Luka memanjang terlihat jelas pada dada wajah sebelah kanannya juga lengannya.
Vivian tak ragu-ragu saat melayangkan serangannya pada Luhan. Luhan tak ingin kalah dan melayangkan serangan balasan pada gadis itu.
Vivian dan Luhan sama-sama memejamkan matanya. Beberapa detik kemudian, mata Luhan kembali terbuka. Lantas Ia mengangkat busurnya dan mengarahkan tepat di depan dada Vivian. Jarinya menarik perlahan anak panahnya, lebih dalam. Sampai akhirnya?
JRESSSSSS,,,
Anak panah milik Luhan melesat menembus jantun* Vivian hingga punggungnya, membuat darah segar mengalir dari sudut kiri bibirnya. Senyum lembut terlukis di wajah cantiknya. Setitik kristal bening mengalir dari mata indahnya dan jatuh membasahi wajahnya. Semakin lama pandangannya semakin mengabur, dan Ia mulai kehilangan keseimbangannya
BRUGGGG...
Tubuhnya jatuh lemas, namun Luhan lebih dulu menangkapnya sebelum tubuhnya menyentuh tanah. Luhan membawa gadis itu kedalam pelukannya, dan menyandarkan kepalanya pada dadanya.
Menggunakan kepalanya sebagai penompa dagunya, di sadari atau tidak. Cairan-cairan kristal bening mengalir dari kedua matanya yang kemudian jatuh membasahi wajahnya.
"A-aku ti-ti-dak akan menyesal ka-karna harus mati ditanganmu. A-aku berdoa pa-pada Tu-Tu-Han se-se-mo-ga di kelahiranku yang selanjutnya aku ber-berjodoh denganmu."
"Jangan katakan apapun lagi. Aku akan mencari cara untuk menyelamatkanmu."
"Ti-tidak ada waktu lagi. Wa-waktu sudah tidak banyak lagi." Diam-diam Vivian mengambil pedang miliknya yang tergeletak di tanah. Mengangkat tinggi-tinggi pedang itu dan..
JRESSS!!
"Aaahhh," Darah segar mengalir dari sudut bibir Luhan setelah pedang itu menembus jantungnya. Pandangannya bergulir pada wajah Vivian yang tersenyum lembut padanya.
"K-kau-"
"Supaya kita bisa bereinkarnasi dan bersama di masa depan." Vivian menarik tengkuk Luhan dan menyatukan bibir mereka. Air mata mengalir dari sudut matanya.
Ciuman mereka berakhir beberapa detik berikutnya. Tubuh mereka sama-sama ambruk di tanah, perlahan tubuh Vivian melebur menjadi abu yang kemudian hilang di terjang angin.
Itu bukanlah sebuah perpisahan melainkan awal dari kisah mereka di mulai. Di masa depan mereka akan menjadi sepasang kekasih yang sulit untuk diretaskan dan akan mati bila dipisahkan. Kisah cinta sejati yang akan menjadi sejarah.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.