
Langit malam ini tampak gelap. Tidak ada bulan, tidak ada bintang, tidak ada cahaya. Yang ada hanyalah kegelapan yang seolah menelan sebagian dari bumi, dan kegelapan yang menambah kesan suram malam ini.
Angin malam berhembus semilir. Menerpa pepohonan yang menjulang tinggi dengan ranting-ranting kering yang mengancam. Menggugurkan daun-daun kering berwarna kecoklatan yang tidak mampu lagi bertahan. Lalu menjatuhkannya keatas tanah yang kemudian menjadi sampah yang tidak berguna.
Tatapan setajam elang itu tidak teralihkan sedikit pun dari penguasa malam. Pemuda tampan berwajah dingin itu berdiri dalam remangnya temaram sang Dewi malam. Sesekali irisnya tertutup menyembunyikan sepasang mutiara berwarna biru keabuan di sana.
Tubuh yang tidak terlalu tinggi itu terlihat indah dalam balutan jeans ketat dan sebuah singlet putih yang terlihat dari kemeja hitamnya yang tidak terkancing sempurna.
Pemuda itu memiliki ketampanan yang nyaris sempurna yang akan membuat siapapun jatuh cinta dan bertekuk lutut demi mendapatkan tempat di hatinya. Namun sayangnya hal itu tidaklah muda, hatinya sudah lama membeku dan nyaris tidak lagi dapat tersentuh.
"Lucas,"
Tepukan pelan pada bahunya sedikit menyita perhatian pemuda berwajah stoic itu, memaksa Lucas untuk menoleh dan menatap sosok jelita yang berdiri dibelakangnya. Senyum lembut yang tersungging di bibir peach Viona membuat darah dalam tubuh Lucas berdesir. Viona beranjak dan berdiri di samping Lucas.
Kebersamaan mereka hanya di isi keheningan, tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mereka berdua. Lucas dan Viona sama-sama terlarut dalam suasana hening dan fikiran masing-masing.
Sesekali Lucas menatap Viona yang berdiri di sampingnya. Gadis itu tetaplah terlihat cantik meskipun di lihat dari sisi manapun, dan Viona adalah gadis tercantik yang pernah Lucas temui dalam hidupnya. Meskipun Kamila pernah singgah singkat di hatinya, namun kecantikannya tidak mampu mengalahkan kecantikan alami yang gadis ini miliki.
"Apa yang kau lakukan di sini? Masuklah, udara di sini sangat dingin." Titah Lucas tanpa menatap lawan bicaranya.
"Lalu bagaimana denganmu sendiri, Lu? Kau berdiri di sini tanpa memakai penghangat apapun, bahkan pakaian yang kau pakai sangat kontras dengan udara malam ini." ujarnya sambil memperhatikan pakaian yang melekat di tubuh Lucas.
Namun tidak ada tanggapan dari pemuda itu. Lucas tidak berminat menjawab apalagi menanggapi ucapan Viona. Viona mendengus, berbicara dengan Lucas memang membutuhkan kesabaran yang sangat tinggi. Karena yang bersamanya saat ini bukanlah manusia melainkan patung es berjalan
__ADS_1
"Huh, dasar tuan kutub utara." Cibir Viona lalu menaikkan kakinya pada pagar besi yang ada didepannya. Perlahan-lahan Viona melepaskan pegangannya kemudian merentangkan kedua tangannya.
"Sudah lama aku ingin melakukan hal ini. Dan pasti rasanya akan sangat berbeda saat aku melakukannya di sebuah kapal pesiar." ujar Viona sambil menutup matanya.
"Apa-apaan kau ini? Apa kau sudah bosan hidup? Turunlah." Tegas Lucas melihat tindakan berbahaya yang Viona lakukan.
Lucas menarik pelan lengan Viona, memaksa gadis itu untuk turun, namun tanpa sengaja kaki kiri Viona malah tergelincir membuat tubuhnya kehilangan kesembangan dan hampir saja berciuman dengan lantai jika saja Lucas tidak menangkapnya dengan sigap.
Salah satu tangan Lucas melingkari punggung Viona sementara tangan lain menyelinap di bawah pahanya, salah satu tangan gadis itu mengalung pada leher Lucas dan insiden tidak terduga itu membuat mata berbeda warna milik mereka saling bersirobok.
Lucas dan Viona saling tatap menatap seolah-olah sesuatu telah mengikat mereka, nafas Stella tiba-tiba memburu. Ada yang bergejolak di dalam dada Viona saat menatap mutiara keabuan milik Lucas. Sementara Lucas menatap kecantikan gadis itu penuh kekaguman.
Entah sebuah dorongan dari mana, tiba-tiba saja Lucas mendekatkan wajahnya pada wajah Viona bergerak perlahan menuju bibir tipis gadis itu dan menempelkannya membuat kedua mata Viona membelalak saking kagetnya.
"Ya Tuhan, cabut saja nyawaku detik ini juga!"
Waktu serasa berhenti detik itu juga. Lucas merubah posisi mereka dengan mendudukkan Viona pada pagar pembatas balkon tanpa melepaskan ciumannya.
Deg Deg Deg!!
Jantung Viona berdebar tidak karuan. Mengikuti instingnya, perlahan kedua mata gadis itu tertutup. Dia tidak bisa menolak ciuman Lucas, ciuman yang terasa manis dan ... memabukkan.
Namun ciuman itu hanya berlangsung 20 detik saja, Lucas mengakhiri ciuman itu tapi tidak dengan tatapannya. "Katakan padaku, Nona. Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau membuatku begitu penasaran? Dan sihir apa yang kau gunakan padaku sehingga aku tidak pernah bisa mengenyahkanmu dari pikiranku?" ujar Lucas lirih, jari-jarinya membelai pipi Stella dengan penuh kelembutan. Tatapan Lucas melunak dan tidak setajam sebelumnya.
__ADS_1
"Aku-" Viona tidak melanjutkan ucapannya, gadis itu menjadi gugup sendiri di tatapan seperti itu oleh Lucas. "Huuuaaa!! Kenapa tiba-tiba udaranya di sini menjadi begitu panas? Oh astaga, aku lupa belum mematikan kran air di kamarku. Lu, aku permisi dulu." ucapnya lalu meninggalkan Lucas begitu saja.
Laki-laki yang selalu memasang stoic face itu mendengus dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan Viona. Gadis itu memang penuh kejutan. Dan ketika sedang gugup dia terlihat sangat-sangat menggemaskan.
.
.
Brakkk!!!
Viona menutup pintu kamarnya dengan keras dan menguncinya dari dalam. Gadis itu menyandarkan punggungnya pada pintu, salah satu tangannya ia letakkan pada dada kirinya yang berdegup kencang. Viona menyentuh bibirnya yang masih terasa basah, ciuman singkat Lucas masih begitu terasa.
Terasa manis dan ... luar biasa. Dan sepanjang dia hidup, belum ada satu laki-laki pun yang mampu membuat jantungnya berdetak kencang sampai akhirnya Lucas datang dalam hidupnya
"Ya Tuhan, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?" gumamnya.
Kemudian Viona menggulirkan pandangannya pada jam yang menggantung di dinding, pukul 01.00 dini hari. Beranjak dari depan pintu, gadis itu pun berjalan menuju ranjang besar yang berada di tengah ruangan super megah itu.
Kemudian merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Viona tak mau memikirkan apapun lagi. Apalagi tentang ciuman yang baru saja terjadi. Rasanya dia malu sendiri saat mengingat tentang ciuman yang baru saja terjadi.
Dia tidak tahu apa maksud Lucas menciumnya tadi. Apakah sebuah ciuman tanpa makna, atau justru memiliki sebuah makna. Viona yang masih sangat tabuh dalam urusan hati dan percintaan memilih untuk tak memikirkannya lagi. Lebih baik sekarang dia tidur karena sudah larut malam. Dan hitungan detik saja, Viona sudah terlelap dalam mimpinya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.