
Jlederrr!!
Jledeerr!!
Tidak jauh berbeda dengan yang terjadi langit negeri para Vampire. Petir juga menyambar dan saling bersahutan di atas langit kota Vancouver. Bagi manusia biasa hal semacam itu adalah sesuatu yang biasa, salah satu gejala alam yang sudah sering sekali terjadi. Namun lain halnya dengan yang dirasakan oleh para mahluk abadi.
Semua mahluk yang bernaung di bawah atap kastil milik keluarga Jung. Satu persatu meninggalkan kamarnya dan pergi menuju balkon kastil termasuk para Hunter. Ara dan Jia sampai lebih dulu di susul Antolin, Chen dan keempat Hunter .
Di sana sudah ada Ellena, L dan Yohan. Ara dan Jia segera mempercepat langkahnya untuk menghampiri mereka bertiga. "Eonni, Oppa.. apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jia setelah tiba dibalkon kastil
"Kenapa tiba-tiba saja ada petir di saat langit sedang cerah-cerahnya? Apakah ini adalah sebuah pertanda buruk?" lanjut Ara menambahkan.
"Babak baru baru saja dimulai. Dua kekuatan besar yang saling bersebrangan telah bersatu dan segera melahirkan kekuatan baru, cahaya kebenaran akan menyinari seluruh bumi. Dua Viero abadi telah bersatu dan dunia akan segera terselamatkan dari sebuah kehancuran." ujar L memaparkan.
"Dua Viero abadi? Cahaya kebenaran? Tuan Kim, apa maksudnya? Mungkinkah ini ada hubungannya dengan ramalan itu?" Carl mengangkat wajahnya, menatap L penuh tanya.
"Hyung, kau mengetahui sesuatu?" lalu Carl mengulirkan pandangannya pada Kai yang menatapnya penuh kebingungan. Haruskah Carl menceritakan pada Kai tentang ramalam itu? Lalu bagaimana dengan Kamilla Song? Carl sangat mengenal gadis itu, termasuk sifat liciknya.
Carl menepuk bahu Kai dan mencoba berbicara dengan pemuda itu melalui fikirannya. Mata Kai terbelalak, terkejut sekaligus takjub mendengar apa yang Carl katakan. "Kau sudah mengerti?" Kai mengangguk cepat.
"Ge, Kai. Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Tidak bisakah kalian tidak main rahasia-rahasiaan dariku?"
"Tenang saja, Tao. Aku pasti akan memberitaumu, tapi nanti. Setidaknya tidak didepan wanita Iblis ini." ujar Kai seraya melirik Milla tajam.
"YAKKK!! KALIAN BERDUA."
"Hoam! Tiba-tiba aku ngantuk sekali, Tao ayo kita kembali tidur. Nona, Tuan, kami masuk duluan." pamit Kai pada semua orang sambil menarik Tao dan membawanya pergi dari balkon kastil. Kai terlalu malas berlama-lama menatap wajah Milla.
Wajah wanita yang paling dia benci dalam hidupnya. Entah dendam apa yang Kai miliki pada Milla sehingga dia begitu membencinya.
"Kalian juga, sebaiknya segeralah kembali ke kamar kalian. Istirahatlah, ini masih malam." Perintah Ellena pada para mahluk Voltaire, Nephilim dan Delf.
__ADS_1
"Kita masuk. Aku lelah dan ingin beristirahat." Yohan tersenyum kemudian mengangguk.
"Baiklah, Sayang."
-
-
Nafas Viona tertahan saat melihat Lucas ikut membaringkan tubuhnya di sofa, tepat didepannya. Betapa gugupnya gadis itu saat mata Lucas menatapnya begitu dalam dan penuh kelembutan, tatapan yang tidak pernah pemuda itu tunjukkan sebelumnya.
Tatapan yang tidak pernah Lucas tunjukkan pada siapa pun termasuk para anggota timnya. Entah apa yang saat ini Lucas fikirkan ketika menatap mata abu-abu Viona yang begitu indah mempesona.
Ternyata semua hal yang berkaitan dengan Viona yang entah sejak kapan memenuhi fikiran Lucas. Semuanya ... mungkin. Lucas teringat di awal pertemuan mereka beberapa bulan yang lalu, di sebuah bar dalam suasana dan keadaan yang tidak mengenakan karna mereka saling berperang dingin.
Seorang gadis dalam balutan gaun hitamnya yang sangat kontras dengan kulitnya yang seputih porselen. Terlihat mempesona dan begitu indah di mata Lucas. Rambut coklat panjang bergelombang yang tergerai indah. Sepasang bola mata yang sangat cantik, hidung mancung dan bibir tipis yang begitu menggoda.
Gadis yang mampu membuat seorang Dark Lephrica penasaran setengah mati akan jati dirinya yang sebenarnya.
Jika saja Lucas adalah mahluk penghisap darah, mungkin kebersamaannya dengan gadis itu yang begitu menguntungkan akan dia manfaatkan sebaik mungkin untuk merebut keabadian itu dari sang pemilik..
Namun sayangnya Lucas bukanlah mahluk tamak yang akan menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadinya. Viona yang gugup setengah mati di tatap seperti itu oleh Lucas, dia segera bangun dan mengubah posisinya, namun tarikan lembut pada lengannya memaksa gadis itu untuk kembali pada posisinya.
Ritme jantung Viona berdebar semakin kencang, perasaannya semakin tidak karuan. Lucas sukses membuatnya mati kutu karna tindakannya. Lucas tidak sedikit pun meloloskan pandangannya dari mutiara abu-abu milik Viona yang begitu indah
"Bukankah darah Viero-mu adalah sesuatu yang sangat berharga yang kau miliki? Lalu kenapa dengan mudahnya kau mau membaginya dengan orang asing sepertiku?" Lucas mencoba mencari alasan kuat kenapa Viona sampai mengambil keputusan itu dan membagi darah berharga miliknya, warisan kedua orang tuanya pada dirinya yang jelas bukanlah siapa-siapa.
Berulang kali Lucas mencoba mencari alasannya, namun berulang kali pula Lucas tidak menemukan penyebabnya. Meskipun Viona sudah pernah mengatakan alasannya, tapi entah kenapa ia masih merasa ragu.
"Baiklah, aku akan memberi taumu alasanku yang sebenarnya. Memang benar, darah Viero adalah harta yang paling berharga yang aku miliki. Awalnya aku ingin menyimpan darah Viero ini untuk diriku sendiri dan aku tidak ingin membaginya dengan siapa pun. Namun belakangan ini aku seperti goyah dalam pendirianku.
Aku terus berfikir dan berfikir, darah ini merupakan warisan berharga yang aku miliki dari orang tuaku. Seperti halnya Ibu yang rela berbagi dengan ayahku, seharusnya aku juga melakukan hal yang sama pada seseorang yang aku percaya. Bukan, tapi seseorang yang aku..... cintai."
__ADS_1
"Jujur saja aku terlalu lelah menyimpannya sendiri, aku lelah karna harus menjadi bahan buruan para mahluk yang mengincarnya. Aku membutuhkan seseorang yang bisa melindungiku dan menyimpan darah Viero ini bersamaku, seseorang yang akan menjadi sandaranku, seseorang yang ditunjuk menjadi takdirku."
",Aku mencarinya begitu lama dan akhirnya aku menemukannya, seseorang yang sangat aku percayai sejak pertama kali menatap matanya."
"Mungkin ini terdengar gila dan tidak masuk akal, karna aku mempercayai seseorang yang mungkin bisa membunuhku kapan saja. Tapi aku tidak takut, sama sekali tidak. Karna rasa percaya itu yang menguatkanku, yang meyakinkan diriku semua akan baik-baik saja. Ya benar, orang itu adalah dirimu Lu." tutur Viona panjang lebar.
Deggg!!
Detak jantung Lucas seakan berhenti detik itu juga, begitupun dengan perputaran waktu. Semua terasa kosong, hanya keberadaannya dan Viona-lah yang begitu terasa. Lucas tidak tau bagaimana racanya merincikan perasaannya saat ini, haruskah ia merasa bahagia atau justru malah sebaliknya.
"Viona." panggil Lucas dengan nada dan suara yang begitu lembut.
Melihat tatapan Lucas yang begitu teduh membuat Viona seakan terbius. Perlahan Gadis itu menarik kebelakang rambut panjangnya saat Lucas mendekatkan wajahnya menuju leher jenjangnya. Perlahan tapi pasti, Lucas menenggelamkan kepalanya pada leher gadis itu yang berurat samar.
Lucas menutup matanya rapat-rapat ketika aroma khas darah Viero kembali berkaur di dalam hidungnya. Dan entah sejak kapan Lucas sudah merubah dirinya menjadi setengah Dark Lephrica. Viona dapat merasakan ujung taring itu menyentuh kulit lehernya.
Terasa dingin dan tajam...
Viona menahan nafasnya untuk sesaat ketika taring itu berhasil menembus kulit lehernya. Meskipun sebelumnya Viona sudah memberikan darahnya pada Lucas, namun dia tidak merasa ragu untuk memberikannya sekali lagi. Dan ketika darah milik Vionq telah masuk kedalam tubuh Lucas, itu artinya jiwa mereka telah terikat satu sama lain.
Apa yang Viona rasakan Lucas pun dapat merasakannya dan begitu pula sebaliknya.
Viona tidak masalah jika harus menghabiskan waktunya bersama Lucas, selamanya. Ia tidak masalah meskipun terikat selamanya dengan pemuda itu. Dan semuanya telah berubah begitu pula dengan takdir mereka. Malam dingin yang menjadi saksi akan lahirnya sepasang Viero.
Sepasang Viero abadi....
.
.
BERSAMBUNG.
__ADS_1