
Burung-burung yang terbang melintasi langit orange bergegas kembali ke sarang masing-masing sembari mengudarakan kicauan merdunya sebagai pengiring bagi setiap insan manusia yang menjejak jalan pulang tepat saat sang surya menuntaskan tugasnya untuk hari ini.
Bagi Viona perpaduan tersebut adalah sebuah kado yang sangat luar biasa. Itulah kenapa dia tidak pernah absen untuk menikmati kanvas besar yang tersuguh, membentang di angkasa. Menampilkan langit yang disaput sinar lembayung, hasil pembiasan dari cahaya matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat.
Semburat jingga menghiasi langit kota Castlegar dengan terangnya, mengulas pemandangan indah penanda jika matahari akan kembali kedalam peraduannya. Di iringi hembusan angin sore yang begitu menyejukkan jiwa. Viona benar-benar tidak dapat menahan senyumnya setiap kali melihat pemandangan seperti ini.
Ditambah dengan kehadiran seseorang yang sangat special dan begitu berarti dalam hidupnya. Ya, Viona dan Lucas tengah menikmati suasana senja dengan duduk di hamparan rumput hijau diatas sebuah bukit dibawah pohon sakura yang bunganya terus berguguran. Gadis itu membaringkan kepalanya diatas pangkuan Lucas yang sedang duduk bersandar pada pohon sakura.
"Lu," panggil Viona dan mengakhiri keheningan diantara mereka. Lucas menurunkan pandangannya, mata kirinya menatap wajah cantik itu yang juga menatap padanya
"Hm." sahutnya pelan.
Jari-jarinya memainkan rambut panjang Viona. Gadis itu menepis lembut tangan Lucas kemudian beranjak dari berbaringnya lalu merubah posisinya menjadi duduk berhadapan dengan sang kekasih
"Bagaimana jika kita langsung menikah saja?" usul Viona dan membuat Lucas memicingkan matanya.
"Malam pertama, eh?" goda Lucas dengan seringai yang membuat Viona gelagapan dan salah tingkah. Gadis itu menggeleng cepat.
"Tu...tunggu dulu, Lu. Bu..bu..bukan begitu. Ka..kau salah paham, a...aku, a...aku... eeemmpphhh...." Viona tidak melanjutkan ucapannya karna Lucas lebih dulu menyergap bibirnya membuat satu ******* keluar dari bibir gadis itu.
Lucas memagut bibir Viona dengan ganas dan membuat gadis itu sedikit kewalahan. Salah satu tangannya menekan tengkuk Viona agar ciuman itu tidak mudah terlepas sementara tangan satu lagi memeluk pinggang rampingnya begitu erat.
Meskipun awalnya terkejut dengan tindakan Lucas yang begitu tiba-tiba, Viona kini justru menikmati ciuman itu. Kedua tangannya memeluk leher Lucas dan meremas rambut blondenya, kedua matanya tertutup rapat menikmati setiap sentuhan bibir Lucas pada bibirnya.
Bibirnya terasa lembut....
Rasanya begitu manis......
Rasa hangat menjelajahi hati dan perasaan Lucas....
Ciuman mereka masih tetap berlanjut meskipun beberapa saat telah berlalu. Semakin dalam Lucas memagut bibir Viona, maka rasanya semakin sulit untuk melepaskannya lagi. Dan sambutan dari gadis itu yang membuat Lucas semakin menginginkan lebih, hingga dirinya yang lain di bawah sana juga ikut terbangunkan.
Segera Lucas tersadar dan menepiskan pikiran kotor itu dari dalam kepalanya untuk melahap Viona sebelum ada ikatan suci diantara mereka. Akal sehatnya masih bisa begitu kuat untuk menekan kenegatifan di dalam dirinya
"Aku sangat menantikan kata itu, Sayang. Aku ingin mengatakannya namun aku merasa ragu, aku takut kau akan menolakku setelah apa yang aku lakukan padamu dulu. Aku, takut menyakiti dan melukaimu lagi." ujar Lucas sesaat setelah mengakhiri ciuman panasnya.
Viona menangkup wajah Lucas dan mengunci manik kirinya yang berwarna merah begitu dalam. Sudut bibirnya tertarik keatas menciptakan lengkungan indah di wajah cantiknya.
__ADS_1
"Untuk apa merasa ragu, Lu? Menikah denganmu dan menghabiskan sisa umurku bersamamu adalah hal yang paling aku inginkan. Aku tidak ingin lagi kehilanganmu, aku tidak berpisah lagi denganmu dan aku hanya ingin hidup bersamamu."
Lucas menarik tengkuk Viona dan mencium kembali gadis itu untuk yang kedua kalinya setelah mendengar sederet kalimat yang keluar dari bibir gadisnya. Namun ciuman kali ini lebih pendek dari ciuman mereka sebelumnya.
"Untuk itu, ayo pergi menemui ayahmu. Kita akan membahas hal ini dan secepatnya aku akan menikahimu."
"Lucas," Viona tidak kuasa untuk menahan air matanya, gadis itu berhambur kedalam pelukan Lucas dan memeluknya dengan erat."Kapanpun kau siap, aku akan membawamu menemui, ayah." Lucas mengangguk tanpa melepaskan pelukannya.
Beberapa saat berlalu. Lucas melonggarkan pelukannya dan menatap wajah ayu itu dengan senyum yang semakin lebar. "Sudah hampir petang, sebaiknya kita segera pulang. Apa kau ingin ikut berburu bersamaku dan yang lainnya?" tawar Lucas dan Viona mengangguk dengan antusias.
Melihat tingkah Viona membuat Lucas tidak bisa menahan diri untuk tidak kembali menciumnya. Ciuman hangat penuh rasa dengan berpayungkan langit senja, di iringi semilir angin yang terasa sejuk menyentuh kulit. Sungguh moment yang sangat manis dan penuh kesan.
-
-
Malam semakin larut. Awan hitam menggulung menutupi bulan dan bintang yang seharusnya menghiasi langit malam ini. Semilir angin malam berhembus damai. Semakin banyak daun-daun kering yang jatuh berguguran dari pohonnya. Tampak sunyi, gelap dan hanya bermodalkan cahaya temaram bulan saja yang kian meredup.
Keadaan saat ini sangat berbanding balik dengan keadaan hutan saat siang hari, saat ini hutan itu benar-benar terlihat menyeramkan. Namun hal itu tidak menghalangi langkah segerombolan muda-mudi yang tengah melangkahkan kakinya dengan tenang dijalan setapak hutan.
Salah satu dari empat gadis itu tiba-tiba saja menghentikan langkahnya membuat teman-temannya yang lain menjadi kebingungan.
"Ada apa, Kai?" tanya Tao yang posisinya kebetulan paling dekat dengan Kai. Kai meringis, kedua tangannya memegangi bagian in-timnya yang tersembunyi dibalik gaun hitam panjang yang dia kenakan, kakinya terus bergerak tak ubahnya seekor cacing yang sedang kepanasan.
"A...aku kebelet pipiss, Hyung... Nunna, bisakah kalian menungguku sebentar? Aku sudah tidak tahan." ujarnya.
"Oke, kami akan menunggumu tapi jangan lama-lama." sahut Jia menimpali.
"Beres."
Seperti yang Lucas sampaikan tadi. Malam ini ia dan timnya akan kembali berburu, dan Lucas tidak bisa menolak saat para mahluk abadi menawarkan diri untuk ikut bergabung karna menurutnya lebih banyak yang membantu akan lebih mudah membinasakan mahluk-mahluk menjijikkan itu.
Sembari menunggu Kai yang sedang membuang air kecil, Viona beranjak dari hadapan Lucas dan teman-temannya yang lain dan berjalan tenang menuju batu besar yang berjarak sejauh dua meter dari tempatnya semula. Gadis itu duduk diatas batu itu. Awan-awan gelap yang semula menutupi bulan perlahan menyingsing.
Terang bulan memang terasa begitu damai, itukah yang Viona rasakan. Mata abu-abunya terus menatap anugerah Tuhan yang hanya muncul pada malam hari itu, bibirnya tak henti-hentinya membuat lengkungan.
"Sayang?" gadis itu mengangkat wajahnya dan mendapati sosok tampan dalam balutan pakaian serba hitam lengan terbuka dan sebuah benda hitam bertali pada mata kanannya berjalan menghampirinya. Kembali Viona mengarahkan pandangannya pada bulan
__ADS_1
"Lu, lihatlah itu. Bukankah bulan di sana terlihat sangat indah? Aku ingin seperti bulan, bulan tidak pernah lelah menemani bumi meskipun siang dan malam selalu datang silih berganti. Lu, apakah kita bisa seperti mereka?"
Lucas memajukan langkahnya mendekati Viona kemudian duduk disampingnya, dipandanginya wajah mirip boneka itu dengan seksama. "Pasti, kenapa tidak?" Viona tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya diatas bahu Lucas dengan tangan laki-laki itu memeluk pinggangnya.
"Hei, kalian berdua. Berhentilah mengumbar kemesraan di depan para 'BU-DI' seperti kami. Kalian membuat iri saja." celetuk Carl dengan sangat lantang.
Sontak saja keduanya menoleh dan terkekeh, dengan sengaja Lucas mencium Viona dan membuat Carl membelalak ."Yak, yak, yak... kenapa kalian malah berciuman? Dasar pasangan mesum." teriak Carl untuk kedua kalinya.
"Sudah jangan mengganggu mereka berdua." ucap Ara sambil menarik pakaian Carl dan membawanya menjauh dari pasangan itu.
"Yak yak yak, Ara Kim, jangan menarik pakaianku." keluhnya marah.
"Berisik."
Kresekkk!!
Lucas dan Viona sama-sama menoleh saat mereka mendengar pergerakan dari arah semak-semak. Mata kiri Lucas membelalak, dengan cepat Lucas mendorong tubuh Viona dan lekas menghindar.
BRAKKK!' batu besar yang semula mereka berdua duduki belah menjadi dua dengan tiba-tiba, tak lama berselang seorang wanita dalam balutan pakaian hitam muncul dengan pasukan Vampirnya.
"Kau....??" pekik Viona sambil menunjuk sosok tamu yang datang tak diundang tersebut.
"Apa kabar, Viona Jung. Lama tidak bertemu, kau terlihat semakin baik-baik saja." sapa wanita itu dengan seringai meremehkan.
"Yoo Sooyong? Apa lagi yang kau inginkan dariku?" tanya Viona dan berhadapan dengan wanita itu.
Sooyong memiringkan kepalanya dan tersenyum meremehkan. "Keinginanku dan tujuanku selalu sama, yakni membunuhmu dan juga kakakmu, karna keturunan Ratu Alaris tidak ada yang boleh menjadi penerus Raja."
"Begitukah? Tapi sayangnya aku bukan lagi, Viona Jung yang dulu kau kenal, dan aku tidak akan pernah kalah lagi darimu,"
"Kita lihat saja." jawab Sooyong dan melayangkan serangannya pada Viona.
.
.
BERSAMBUNG.
__ADS_1