My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Pengakuan Viona


__ADS_3

"KKKYYYYAAAAA...."


Lengkingan dan teriakan seorang gadis dari luar kastil mengalihkan perhatian Lucas. Tanpa mengulur banyak waktu. Lucas bergegas keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi Namun setibanya di sana, Lucas tidak menemukan keanehan apapun apalagi adanya bahaya.


Yang ada hanya Viona yang sedang menutup matanya dengan kedua tangannya dan Jey yang meratapi ponselnya yang tergeletak ditanah sambil berurai air mata.


"Huua. Ponselku yang malang. Hiks, Nunna-ya, kenapa kau harus menjatuhkan ponselku segala? Hiks, sekarang aku... hiks, tidak bisa lagi mencuci mata." ujar Angel tampan itu sesenggukan.


"Yakk!! Kenapa kau malah menyalahkanku? Jelas-jelas itu salahmu, siapa suruh menunjukkan video laknat seperti itu padaku? Aku merinding sekali melihat barang orang berkulit hitam itu yang sebesar lenganku, kau membuatku hampir muntah dan itu jauh lebih mengerikan dari pada bertemu dengan vampir." ujarnya panjang lebar.


"Jelas Nunnalah yang salah karena kau, yang menjatuhkannya. Aku kan berniat baik dengan menunjukkan sebuah hiburan menyenangkan tapi Nunna malah histeris dan menyentak ponselku. Hiks, huaaa... aku harus bagaimana sekarang? Ibu..."


"Dasar Angel gila, messum! Cuma gara-gara ponsel saja menangis. Aku akan menggantinya lima kali lipat tapi nanti setelah kuda berabak jerapah. Cih, dasar kekanakan." cibir Viona dan berlalu begitu saja, meninggalkan Jey yang masih menangis meratapi ponselnya


"OMO?"


Dan nyaris saja gadis itu terkena serangan jantung dadakan karena keberadaan Lucas diambang pintu utama kastil. Dark Lephrica itu bersandar sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Viona menghela nafas dan mengelus dadanya, hampir saja gadis itu terkena serangan jantung dadakan karna ulah Lucas.


"Kenapa berdiri di sini tidak bilang-bilang? Bagaimana jika aku mati tiba-tiba kena serangan jantung karena ulahmu." amuk Viona pada pemuda itu.


"....."


Namun tidak ada tanggapan dan Lucas hanya menatap Viona dengan pandangan datar. Gadis itu menghela nafas dan mendesah lelah, mengabaikan Lucas dan pergi begitu saja. Viona pergi untuk mengganti pakaiannya yang setengah basah lalu beristirahat, ia benar-benar lelah dan tubuhnya merindukan kasur super empuk yang lebih dari dua bulan ini memanjakannya.


"Huaaa... hiks, ponselku yang malang. Hiks, videoku, asupan vitaminku, Surga duniaku. Hiks, hiks, Ibu aku harus bagaimana?"


'Hufft'


Lucas mendengus geli melihat tingkah Jey yang sudah seperti bocah, dia menangis keras seperti baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Mengabaikan Jey yang sedang menangis tersedu-sedu, Lucas berbalik dan kembali ke kamarnya.


"Lucas..."


Tapp!!


Lucas menghentikan langkahnya kemudian berbalik dan mendapati Viona berjalan menghampirinya. Pemuda itu memicingkan matanya melihat sesuatu yang dipegang oleh gadis itu.


"Aku membuat long waistcoat untukmu. Maaf jika tidak sebagus dan serapi hasil rancangan para disainer ternama, dan semoga saja ukurannya pas. Anggap saja ini sebagai ucapan terimakasihku karna kau sudah sangat baik padaku."


Lucas menatap gadis itu sejenak kemudian mengambil waistcoat itu dari tangan Viona lalu memakainya. Meskipun gadis itu tidak mengukur tubuh Lucas secara langsung dan hanya sekedar menerka-nerka saja, namun waistcoat itu terlihat pas di tubuh Lucas


"Aku menyukainya, aku akan memakai dan menyimpan ini." ucapnya. Viona tersenyum senang. "Sebaiknya segera ganti pakaianmu, kau bisa sakit jika terlalu lama memakai pakaian basah." sambung Lucas dan berlalu.


Viona menarik sudut bibirnya. Dengan hati riang Viona melangkahkan kakinya memasuki kamarnya. "Omo??" nyaris saja gadis itu terkena serangan jantung dadakan karna kemunculan seseorang di kamarnya "L, sedang apa kau disini?" Viona menutup kembali pintu kamarnya dan segera menghampiri L. "Kenapa harus datang secara diam-diam?"

__ADS_1


"Hanya untuk memastikan keadaanmu, aku tidak datang diam-diam. Angel bersaudara itu yang memintaku menunggumu di sini." jawabnya.


"Sepertinya kau dan pemuda itu sudah semakin dekat saja. Aku senang melihatnya." lanjut L menambahkan, namun raut wajahnya berubah sendu membuat Viona memicingkan mata.


"Tapi tidak lama lagi akan terjadi sebuah tragedi, jati dirimu sebagai Vampire cepat lambat akan di ketahui olehnya dan kau pasti sudah tau apa yang akan terjadi padamu."


Viona terdiam untuk beberapa saat setelah mendengar apa yang L sampaikan. Viona tidak bisa menampiknya. sebaik apapun dia menyembunyikan jati dirinya pada Lucas pasti suatu saat nanti akan terungkap juga namun Viona telah menyiapkan hatinya dan menerima semuanya, bahkan jika Lucas harus membunuhnya sekalipun.


Viona tersenyum sendu. "Mungkin dia tidak hanya akan membenciku saja, tapi mungkin juga dia akan membunuhku karena bagaimana pun juga aku adalah mahluk menjijikkan yang menjadi target buruannya. Bukankah begitu, L."


"Pasti akan ada akhir yang bahagia untukmu, jaga dirimu baik-baik. Aku harus pergi." L memegang pipi Viona lalu sosoknya menghilang dibalik kabut tebal.


'Hufftt'


Viona menarik nafas panjang dan menghelanya, menyakinkan pada dirinya jika semua akan baik-baik saja.


-


-


Semilir angin berhembus damai, menerpa helaian panjang rambut seorang darah jelita yang sedang berdiri menatap langit. Siang telah berlalu sejak beberapa jam yang lalu, di gantikan kelamnya malam bertabur bintang.Bulan bersinar memancarkan keelokannya. Menghibur setiap insan yang rapuh.


Namun sinar bulan tidak mampu menutupi keresahan hati seorang darah. Sosok jelita yang sedang memandang bulan dengan pandangan hampa, berharap menemukan cela agar terbebas dari kenistaan hatinya. Bukannya kedamaian, semakin lama ia memandang bulan yang ada hatinya malah semakin kalut.


Perlahan mata tertutup, sepasang mutiara abu-abunya tersembunyi apik didalam kelopaknya. Merasakan jeritan hatinya yang terus meraung-raung, begitu berat beban hidup yang ia rasakan.


Tapi apalah daya, tidak ada jalan keluar, bahkan otaknya tidak mampu memberikan jawaban atas kegundahan hatinya. Ia sudah tidak sanggup berfikir lagi, ia sudah muak dengan semua kepalsuan ini. Ia ingin menjerit, mengungkapkan segala sesuatu yang menjadi beban di hatinya, ingin sekali mengatakannya.


Mengutarakan perasaan yang saat ini terpendam di dalam hatinya, namun keraguan dalam hatinyalah yang mencoba menahannya.


Tapi yang menjadi pertanyaannya? Pantaskah mahluk penghisap darah seperti dirinya mencintainya? Layakkah untuk bersanding dengannya? Sementara dirinya adalah mahluk yang harus dia musnakan keberadaannya.


Air matanya meleleh, menciptakan aliran kecil dipipinya.


Meskipun tiada isakan tangis namun dalam hatinya menjerit, mencoba menggapai harapan yang tidak pernah ada. Yang bisa dia lakukan hanyalah meratapi nasibnya, merasakan sakit yang menyayat hatinya. Angin kembali berhembus, melirihkan bisikan yang seakan dapat ia dengar.


Dingin kian menusuk kulitnya yang pucat, angin seakan mengalunkan melody indah yang berkuar didalam telinganya.


Pukk!!


Gadis itu sedikit terlonjak saat merasakan sesuatu yang hangat jatuh diatas bahu kecilnya. Dengan cepat ia menoleh dan mendapati seorang pria berdiri dibelakangnya. "Udara sangat dingin. Ayo, sebaiknya kita masuk." ucap laki-laki itu.


Viona menggeleng. "Kau duluan saja, malam ini langit sangat cerah dan bintang bertaburan, sayang jika harus dilewatkan."

__ADS_1


"Apa kau tidak merasa bosan jika harus melihat bintang setiap malam?" tanya Lucas kemudian berdiri di samping Viona.


Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap wajah Lucas yang juga menatapnya. Sudut bibirnya tertarik keatas, menciptakan lengkungan indah di wajah cantiknya. "Sama sekali tidak, karena dengan memandang bintang, hatiku bisa merasa tenang."


Hening sejenak, mereka sama-sama diam setelah perbincangan singkat itu. Sama-sama terlalurut dalam fikiran masing-masing. Sampai ada salah satu diantara mereka yang membuka suaranya dan mengakhiri keheningan yang tercipta


"Lucas," panggil Viona lirih, hampir seperti bisikan. "Boleh aku bertanya?"


"Tentang apa?"


"Kenapa kau begitu membenci Vampire dan ingin memusnakan mereka dari dunia ini? Bukankah tidak semua Vampire itu jahat ya? Bahkan aku mendengar ada Vampire vegetarian juga."


"Cih, itu hanya omong kosong. Semua Vampire itu sama saja, mana mungkin ada Vampire yang tidak menghisap darahh, sedangkan darahh adalah sumber kehidupan bagi mereka. Jadi berpikirlah secara logika Nona." Ujar Lucas.


"Bagaimana jika itu salah? Bagaimana jika di dunia ini memang ada Vampire yang benar-benar tidak menghisap darah? Apakah kau akan membunuhnya juga?" tanya Viona tanpa mengakhiri kontak matanya.


"Bukankah sudah jelas, tanpa aku menjawab pun pasti kau sudah tau jawabannya. Aku akan menghabisi seluruh Vampire di dunia ini tanpa terkecuali, karena mahluk menjijikan itu aku kehilangan seluruh keluargaku." tutur Lucas.


Viona terdiam untuk sesaat sebelum kembali membuka suara. "Jika seandainya aku adalah bagian dari mereka, apa kau akan membunuhku juga?" ucapnya sambil mengunci manik kiri milik Lucas.


Laki-laki dalam balutan pakaian serba hitam lengan terbuka itu tidak lantas menjawab dan hanya menatap sepasang mutiara abu-abu milik Viona dengan tatapan yang sulit diartikan


"Masuklah, udara semakin dingin." ucap Lucas dan berlalu pergi, meninggalkan Viona yang masih tetap bergeming dari posisinya.


Viona terdiam menatap gamang kepergian Lucas sebelum akhirnya memutuskan untuk menyusul Lucas yang semakin menjauh.


Gadis itu menubruk punggung Lucas dan memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya pada punggung tegap itu. lelehan air mata yang menggenang dipelupuk matanya tidak bisa Stella tahan lebih lama lagi, perlahan menetes dipipinya


"Aku tidak tau sejak kapan perasaan ini ada dan tumbuh dihatiku. Semakin aku mencoba untuk menghapusnya dan membuangmu dari hatiku, namun perasaan ini malah tumbuh semakin besar." Ucapnya panjang lebar.


"Katakan padaku, Lu. Aku harus bagaimana? Aku tau, gadis sepertiku memang tidak pantas mencintaimu ... tapi apakah perasaan yang aku miliki adalah dosa?"


Lucas melepaskan pelukan Viona kemudian berbalik dan posisi mereka saling berhadapan. Hati Lucas berdenyut nyeri melihat air mata gadis itu, jari-jarinya menghapus liquid bening itu dengan perlahan. Lucas melangkah lebih dekat hingga tidak lagi ada jarak diantara mereka berdua


"Tidak ada dosa untuk sebuah cinta, siapapun berhak mencintai dan di cintai, termasuk dirimu. Tidak ada yang salah dengan apa yang kau rasakan," Lucas meraih tengkuk Viona dan mencium singkat bibirnya. "Jika kau memang mempercayakan hatimu padaku, baiklah... aku akan menjaganya. Kita jalani saja hubungan ini, saling terbuka dan percaya."


"Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku apalagi mencoba membohongiku, sesuatu yang paling aku benci adalah kebohongan. Pasti kau mengerti maksudku. Ini sudah lewat tengah malam. Kaja masuk, kau terlihat lelah." Viona tersenyum kemudian mengangguk.


Keduanya berjalan beriringan memasuki kastil, rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang menggelitik di dalam perutnya. Viona merasa sangat bahagia tanpa menyadari satu hal, cinta kisah cinta yang baru saja dimulai justru akan berakhir dengan penuh air mata.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2