
Degg!!
Tidak hanya Carl saja yang tersentak dengan jawaban Lucas. Tapi semua orang termasuk Stella yang hanya bisa menatap Lucas dengan pandangan terluka. Lagi-lagi apa yang Carl takutkan harus menjadi kenyataan. Viona tersenyum perih seraya membalas tatapan Lucas yang juga menatap padanya
"Aku sudah menduganya." lirih gadis itu dengan nada perih.
"Begitukah? Jadi kau benar-benar sudah siap untuk mati?" Lucas menatap Viona dengan seringai meremehkan.
"Aku sudah ada dihadapanmu, apa lagi yang kau tunggu? Bukankah kau ingin membunuhku? Kenapa tidak kau lakukan saja?" pinta Viona tanpa mengakhiri kontak matanya.
Viona menutup matanya saat merasakan netranya yang mulai memanas. Sebisa mungkin ia menahan agar air matanya tidak sampai menetes dan meruntuhkan pertahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah didepan semua orang terutama Lucas.
Sregggg!!!'
Mata gadis itu membelalak saat tiba-tiba Lucas menarik lengannya dan membuatnya terjatuh dalam dekapannya. Ternyata semua orang telah salah paham pada Lucas, bukan Viona yang ingin Lucas habisi melainkan mahluk penghisap darah yang mengikuti Viona. Lucas sudah menyadari akan kemunculan mahkuk itu sejak awal, mahluk-mahluk itu memang mengincar gadis diperlukannya ini.
Tanpa ragu, Lucas menancapkan belati itu pada jantung Vampire yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Viona. Lucas kembali menajamkan pandengarannya ketika merasakan kedatangan vampire lain yang jumlahnya lumayan banyak.
Masih dalam posisinya memeluk gadis itu. Lucas memutar tubuhnya lalu menancapkan belatinya pada jantung mahluk itu yang kemudian melebur menjadi abu.
Jumlah mereka tidak hanya ada dua namun lima, tidak tapi tujuh, tidak-tidak tapi lebih dari sepuluh dan kemunculan mahluk itu memaksa para vampire Hunter termasuk Ellena untuk segera bertindak dan menghabisi mahluk-mahluk tersebut.
"Tetap di dekatku, mahluk-mahluk itu sepertinya mengincarmu." ucap Lucas ditengah pertarungannya.
Viona diam untuk beberapa saat, dengan ragu ia mengangkat wajahnya dan menatap Lucas."Kenapa kau harus peduli padaku? Kenapa kau tidak membiarkan saja mereka menangkapku? Untuk apa kau harus repot-repot melindungiku? Bukankah aku adalah makluk menjijikkan juga yang harusnya kau lenyapkan?" tanya Viona sambil mengunci mata itu.
"Anggap saja kali ini kau beruntung, Nona. Jangan anggap berlebihan bantuanku ini dan lagi pula membunuh mereka sudah menjadi pekerjaanku," tutur Lucas dengan nada dingin.
Sakittt...
Itulah yang Viona rasakan saat ini. Kata-kata Lucas benar-benar menohok perasaannya dan melukai hatinya. Rasanya sedih dan sakit, ternyata Lucas benar-benar membenci dirinya.
Viona mulai baik-baik saja selama satu tahun ini dan kenapa hari ini harus bertemu dengan Lucas seperti ini? Sungguh perih hati yang dia rasakan.
__ADS_1
Setelah hampir lima belas menit. Akhirnya mahluk-mahluk itu berhasil diatasi, Lucas dan para Vampire Hunter serta Ellena dapat melenyapkan mereka semua.
Ellena tidak menyangka jika mereka akan mengikuti sampai sejauh ini. Dan sebagai seorang kakak, tentu saja Ellena akan melindungi Stella dengan sepenuh hati dan jiwanya. "Kau tidak apa-apa?" Ellena menatap Viona penuh kecemasan. Gadis itu menggeleng
"Eonni, bukankah aku telah membagi keabadian ini dengan orang lain? Lalu kenapa mahluk-mahluk itu masih saja mengincarku? Aku lelah jika harus begini terus, aku sungguh-sungguh lelah jika harus terus-terusan berlari seperti ini." ujar Viona sambil menatap Ellena sendu.
"Lebih dari itu, adikku. Ini bukan lagi masalah para mahluk abadi, jika mereka kita masih menghadapinya tapi yang menjadi masalahnya saat ini adalah orang-orang dari dunia Seiz. Mereka berencana untuk mengeluarkan inti kekuatan Viero itu dari dalam dirimu, bahkan Ronous sudah mulai bergerak. Mereka mengirim orang-orangnya untuk menemukanmu. Viona, kau tau sendiri bukan apa akibatnya jika inti dari keluatan Viero dikeluarkan paksa dari dalam tubuhmu?"
Viona terdiam mendengar ucapan Ellena, liquid bening mengalir dari pelupuk matanya. Dan dia tau betul apa akibatnya jika kekuatan itu dikeluarkan secara paksa.
"Maka aku akan mati."
Deggg!!!
Lucas tersentak kaget mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Viona, pemuda itu mengangkat wajahnya dan menatap gamang sosok cantik yang duduk di depannya.
"Sekarang kau tau bukan kenapa, Eonni membawamu pergi dari sini? Inilah alasannya dan kenapa, ayah sampai mengirim Kangmin untuk menemui kita. Ayah, ingin agar dia menyampaikan perihal ini pada kita. Viona, ketahuilah jika semua yang Eonni dan semua orang lakukan demi kebaikkanmu. Kami melakukan semua ini karna kami menyayangimu. Eonni akan melakukan apapun demi melindungimu." tutur Ellena panjang lebar.
"Eonni?" Viona menatap Ellena dengan mata berkaca-kaca lalu berhambur memeluk kakak tercintanya itu. "Maaf , karena lagi-lagi aku hanya menjadi beban kalian semua. Sejak kecil aku selalu menyusahkan kalian terutama dirimu." pertahanan Viona akhirnya runtuh juga, air matanya perlahan jatuh dan membasahi wajah cantiknya.
"Duduklah, kau tidak boleh kemana pun apalagi tanpa perlindungin. Sangat berbahaya jika kau harus berkeliaran sendiri."
"Eonni, tidak perlu cemas, aku hanya ingin mencari udara segera sebentar saja. Aku butuh menenangkan fikiranku, semua hal yang terjadi membuatku tidak bisa berfikir jernih lagi. Eonni, tidak perlu mencemaskan apapun karna aku baik-baik saja." ujar Viona meyakinkan.
Gadis itu tersenyum lalu meninggalkan Ellena serta para Vampire Hunter. Dan sebelum menghilang di balik pintu geser itu, Viona menyempatkan untuk menatap sekilas pada Lucas yang juga menatapnya.
Tidak berselang lama setelah kepergian Viona, tiba-tiba saja Lucas juga bangkit dari posisi duduknya. Tanpa mengatakan apapun pada teman-temannya, Lucas pergi begitu saja. Dari jarak lima meter Lucas melihat sosok Viona berdiri diatap kereta.
Hembusan angin membuat rambut dan dressnya berkibar. Salah satu tangannya menggenggam sebuah belati yang perlahan Viona arahkan pada pergelangan tangan kirinya. Lucas tidak tau hal gila apa yang tengah Viona lakukan kali ini.
Sreeett!!!
Gadis itu segera menutup matanya saat merasakan dingin dan tajamnya ujung belati kecil itu mulai menggores kulitnya yang semakin dalam hingga menggoyak dagingnya menimbulkan rasa perih dan panas yang luar biasa pada lukanya.
__ADS_1
Cairan merah segar seketika mengalir dari pergelangan tangannya yang terkoyakk, aroma harum darah yang begitu memabukkan seketika memenuhi udara disekitarnya seiring dengan jatuhnya tetesan demi tetesan darah yang terus mengalir dari luka dipergelangan tangan Viona yang terbuka.
"Aaahhh." tiba-tiba Lucas merasakan pergelangan tangannya terasa perih dan panas seperti terbakar. Ketika Lucas mengangkat lengan kirinya, hal membingungkan terjadi. Tiba-tiba saja ada luka memanjang dipergelangan tangannya yang terus mengalirkan darah segar padahal dia tidak melakukan apapun pada tangannya.
"Kalian semua keluarlah, bukankah ini yang kalian inginkan dariku? Keluarlah dan hisap habis darahku ini."
"Apa dia sudah tidak waras? Sebenarnya apa yang dia fikirkan?" gumam Lucas seraya menatap Stella dengan tajam.
Tanpa mengulur banyak waktu, pemuda itu menarik pedang perak yang terselip dibalik punggungnya saat melihat banyak sekali mahluk penghisap darah yang mulai menggelilingi tubuh Viona. Lucas berlari cepat dan menyambar tubuh gadis itu seraya menghunuskan pedangnya pada jantung dan tubuh mahluk-mahluk menjijikkan itu.
Setelah menyelesaikan kekacauan yang gadis itu ciptakan, segera Lucas menutup luka dipergelangan tangan kirinya dengan sapu tangan untuk menghentikan agar darah itu tidak lagi menetes.
"Apa kau sudah tidak waras? Bagaimana bisa kau menempatkan dirimu sendiri dalam bahaya? Bagaimana jika yang datang adalah Vampire level satu dan dua, apa kau bisa menghadapi mereka?" amuk Lucas sambil menyentak tubuh Viona hingga gadis itu sedikit terhuyung kebelakang. Kemarahan terlihat jelas dari sorot matanya yang tajam.
Viona mengangkat wajahnya dan menatap Lucas sedikit datar. "Memangnya apa pedulimu?" ucapnya dingin. "Ini adalah darahku dan aku berhak untuk melakukan apapun dengan darah ini termasuk memberikannya pada mahluk-mahluk menjijikkan itu. Bukankah ini yang kau inginkan? Bukankah kau juga menginginkan kematianku? Mungkin saat ini kau memang melepaskanku, lalu bagaimana dengan esok atau mungkin lusa saat kita bertemu lagi?"
"Bisa saja kau membunuhku bukan? Lagi pula aku sudah tidak memiki alasan apapun untuk mempertahankan semuanya termasuk hidupku, siapa yang akan peduli? Jadi jangan menghalangiku dan biarkan aku melakukan apa pun yang aku inginkan, aku sudah tidak ingin hidup lagi dan lebih baik biarkan saja aku mati."
PLAKKK!!!
Satu tamparan keras Lucas daratkan pada pipi kanan Viona membuat gadis itu terkejut dan terpaku, aura gelap dalam diri Lucas begitu terasa. Viona sedikit merinding saat menatap mata kirinya yang juga menatapnya begitu tajam.
"Dimana akal sehatmu, Viona Jung! Apa kau pikir dengan kau mati semuanya akan berakhir? Lalu bagaimana dengan perasaan kakakmu dan orang-orang yang menyayangimu, mereka berjuang selama ini demi melindungimu dan sekarang dengan mudahnya kau mengatakan akan mengakhiri hidupmu? Di mana akal sehatmu?" bentak Lucas dengan nada meninggi, sepertinya Lucas mulai dikuasai kemarahan dan emosi.
"Justru karena hal itu." Viona menjawab cepat. Gadis itu menundukkan wajahnya, air mata yang semula menggenang dipelupuk matanya mulai mengalir dan membasahi wajah cantiknya.
"Justru karena itulah aku ingin mengakhiri semuanya, selama ini aku selalu menjadi beban bagi mereka semua, terutama kakakku. Mereka selalu mempertaruhkan hidupnya hanya untuk melindungiku. Kau bisa berbicara seperti itu karna kau tidak berada diposisiku, kau tidak akan mengerti, tidak akan pernah. Jadi jangan pernah menghalangiku dan biarkan aku meringankan beban mereka semua."
Viona membuka lilitan sapu tangan yang mengikat pergelangan tangan kirinya, luka yang semua menganga kini kembali tertutup karna kekuatan menyembuhkan seorang Viero. Kembali Viona arahkan belati itu pada pergelangan tangannya namun dengan cepat direbut oleh Lucas Lalu di buangnya begitu saja.
"Kau benar-benar sudah tidak waras, apa kau sudah hilang akal? Apa kau fikir mereka akan senang setelah kau tiada? Berhentilah berfikiran pendek, jangan hanya memikirkan dirimu sendiri tapi pikirkan juga perasaan mereka. Sebaiknya kau kembali kedalam gerbong, kakakmu pasti sangat mencemaskanmu." tutur Lucas. dan beranjak dari hadapan Viona.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.