My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Akan Memberimu Cucu


__ADS_3

Viona baru saja membuka matanya saat pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok Lucas yang setengah tubuhnya dibiarkan tanpa pakaia*. Hanya ada sehelai handuk yang menutupi bagian pinggang sampai bawah lututnya dan bertelanjang dada. Pipi Viona memerah karna ini pertama kalinya melihat Lucas seperti itu


"Kau sudah bangun?" tegur Lucas seraya berjalan menuju lemari pakaiannya.


Aroma maskulin yang begitu memabukkan tercium indera penciuman Viona saat Lucas keluar dari dari kamar mandi. Gadis itu beranjak dan menghampiri Lucas yang tengah sibuk memakai kemeja hitamnya.


edua tangannya memeluk pinggang Lucas dari belakang. "Ada apa?" tanya Lucas seraya melirik Viona melalui ekor matanya. Viona menggeleng, Lucas melepaskan pelukan Viona kemudian memutar tubuhnya dan posisi mereka kini saling berhadapan.


"Mandilah dulu, bukankah kau ingin pulang ke kastil siang ini juga?" tanya Lucas yang kemudian di balas anggukan oleh Viona. "Aku akan menemui, Ayah. Ada hal yang akan aku bahas dengan beliau." Lucas mengusap pipi Viona dan berlalu begitu saja.


Tidak ada yang terjadi diantara mereka semalam. Mereka masih belum bisa melewati malam pertamanya karna keadaan Viona saat ini yang tidaklah memungkinkan. Lucas idak merasa keberatan meskipun harus menundanya sampai Viona benar-benar siap.


Lucas mendatangi ruangan mertuanya dan kedatangannya sudah ditunggu oleh Lord Ruthven. "Boleh aku masuk?"


"Masuklah Anakku. Tinggalkan kami berdua."


"Baik, Yang Mulia."


Di dalam ruangan hanya menyisakan Lucas dan Lord Ruthven. Sudah lama sang raja ingin melihat dan mengenal Lucas lebih dekat dan mengenalnya dengan akrab. Dan keinginannya itu kini menjadi kenyataan.


"Kau sangat mirip dengan ayahmu, Lu. Saat masih muda dulu dia seperti dirimu, seorang pemburu Vampir yang hebat dan momok paling menakutkan bagi para sekutu, Dark Shadow. Aku dan ayahmu sudah bersahabat sejak lama dan aku sangat menyesal atas apa yang menimpa keluargamu dan aku turut berduka cita untuk kepergian mereka."


Lord Ruthven beranjak dan berjalan menuju peti kayu dengan ukiran rumit yang berada di sudut ruangan. Terlihat sang raja agung mengeluarkan sebuah busur dan pedang perak dari dalam peti itu yang kemudian dia berikan pada Lucas


"Kedua senjata ini milik ayahmu, saat berburu. Dia selalu menggunakan keduanya dan Ayah rasa sudah saatnya kedua senjata ini kembali pada pemiliknya. Gunakan pedang dan busur ini untuk menghadapi musuh-musuhmu. Diluar sana pasti akan lebih banyak lagi para sekutu, Dark Shadow yang ingin memburu Viona dan merebut keabadiannya. Lindungi putri Ayah dengan senjata ini."


Lucas menerima busur dan pedang itu. Jari-jarinya mengusap pedang dan busur tersebut. Lucas merasakan aura yang sangat kuat saat menarik pedang perak itu dari sarungnya. Ia merasakan ikatan batin yang erat dengan kedua senjata itu.


"Jadi ini milik ayahku?" Lord Ruthven mengangguk. "Dengan pedang dan busur ini aku akan menghabisi mereka semua yang telah membunuh seluruh keluargaku dan dengan busur ini juga aku akan melindungi istriku." Lucas melukai jarinya sendiri dan menyapukan darahnya pada pedang dan busur itu.


Sebuah cahaya menyilaukan menyelimuti busur dan pedang ditangan Lucas, Lucas baru saja melakukan pengikatan jiwa dengan darahnya yang menandakan jika pedang dan busur itu hanya pemiliknya satu-satunya orang yang bisa menggunakannya.

__ADS_1


Cklekk!!


Pintu tiba-tiba saja terbuka. Terlihat Viona melangkahkan kakinya menghampiri dua pria berbeda usia yang memiliki arti penting dalam hidupnya


"Lu, aku sudah siap. Bisakah kita pergi sekarang?"


"Kalian sungguh-sungguh akan pergi saat ini juga?" Lord Ruthven menatap putri dan menantunya bergantian. Viona menghela nafas kemudian memeluk sang ayah


"Jangan memasang ekspresi seperti itu, Ayah. Kami pasti akan lebih sering mengunjungimu dan secepatnya akan aku buatku seorang cucu."


Tukk!!!


Sebuah jitakan sang raja daratkan pada kepala Viona. Ia tidak tau kenapa putri bungsunya itu bisa memiliki pikiran mesum meskipun pada kenyataannya ia memang sudah mendambakan kehadiran seorang cucu. "Sakit, kenapa malah dijitak? Ayah ini sangat sakit," ujar Viona sambil mengusap kepalanya.


"Siapa suruh kau memiliki pikiran semesu* itu. Tapi Ayah memang sangat menantikan seorang cucu."


Viona terkekeh dan sekali lagi memeluk ayahnya. "Aku pasti akan sangat merindukan, Ayah." Viona menyeka air matanya yang hampir saja menetes, ia sangat sedih karna harus berpisah dengan ayahnya.


"Ayah juga. Kalian sering-seringlah mengunjungi Ayah." Lord Ruthven melonggarkan pelukan dan menghapus air mata Viona


Lucas yang melihat interaksi antara ayah dan anak itu tidak bisa menahan senyum harunya. Ia dapat merasakan betapa besar kasih sayang yang Lord Ruthven miliki untuk Viona. Seperti janjinya pada Lord Ruthven, Lucas pasti akan menepatinya untuk selalu menjaga dan membahagiakan Viona karna gadis itu adalah adalah sumber kebahagiannya.


.


Langit malam tertutup awan hitam yang pekat. Angin bertiup kencang menyanyikan lagu kematian. Dentuman guntur serta kilatan cahaya putih menyambar saling bersahutan menghiasi langit malam di kota Castlegar.


Jauh di tengah hutan, di salah satu puncak gunung yang mengelilingi kota samar-samar terdengar terdengar suara nyanyian ditengah heningnya suasana malam. Nyanyian yang menghantarkan para manusia menuju lembah ketakutan yang sangat besar, nyanyian yang menandakan akan munculnya para mahluk penghisap darah dari klan Vlad.


Seiring dengan menghilangnya nyanyian itu. Beberapa sosok menyeramkan berkulit pucat pasi, bermata merah serta memiliki taring dikedua sisi mulutnya tiba-tiba muncul dari balik kegelapan menuju pemukiman manusia untuk memburu para mangsanya.


Rasa lapar dan dahaga yang begitu besar membuat mereka saling menjerit, melolong. Dan suara lengkingan itulah yang terdengar seperti sebuah melody penghantar kematian.

__ADS_1


Tidak ada cahaya bulan, sang penguasa malam seakan ditelan oleh kegelapan yang membutakan mata. Tidak ada sedikitpun cahaya dari rumah-rumah penduduk, juga tidak ada tanda-tanda adanya kehidupan pada kota yang terasa mati itu meskipun kenyataannya banyak insan manusia yang bernaung dan bermukim di kota itu.


Tidak ada seorang pun yang berani meninggalkan rumah masing-masing dan menghantarkan dirinya untuk menjadi santapan empuk bagi mereka para kaum penghisap darah.


Di sebuah puncak gedung tinggi pencakar langit. Dua orang 'pria dan wanita' berdiri mengawasi mahluk-mahluk yang sedang berkeliaran untuk menemukan para mangsanya. Mereka tampak kelimpungan dan terlihat putus asa karna tidak bisa mendapatkan satu pun manusia yang dapat memuaskan rasa lapar dan dahaganya.


'Huffttt' helaan nafas panjang meluncur bebas dari bibir si gadis yang mulai merasa bosan. Gadis cantik bersurai coklat panjang itu terlihat beranjak dan meninggalkan si pria yang tengah bersandar pada tembok puncak gedung sambil menutup mata kirinya


"Lu, aku tidak bisa menunggu lagi. Melihat mereka membuat tanganku semakin gatal, aku akan bergerak sekarang."


"Tidak, Viona. Kita memang akan segera menghabisi mahluk-mahluk menjijikkan itu, tapi tidak sekarang." laki-laki itu membuka mata kirinya yang semula tertutup dan menatap datar gadis dihadapannya. "Jadi bersabarlah sebentar lagi, Viona Xiao." lanjutnya menambahkan.


Viona mencerutkan bibirnya. "Ayolah, Lucas Xiao." rengeknya memohon. Lucas mendelik seraya menggelengkan kepalanya membuat Viona semakin kesal. Akhirnya gadis itu pun memilih mengalah, mendebat Lucas tidak akan ada gunanya mengingat jika laki-laki itu paling tidak suka dibantah.


Sambil menghentakkan kakinya, Viona berbalik badan dan berdiri memunggungi Lucas. Laki-laki itu mendengus kasar. Lagi-lagi Viona menunjukkan sisi kekanakannya yang membuat orang menggelengkan kepala. "Dasar menyebalkan, jika tidak untuk berburu lalu untuk apa membawaku kelayapan malam-malam begini? Yang benar saja." ocehnya begitu sebal.


Lucas menghampiri Viona seraya menarik anak panah dibalik punggungnya. Telinganya terasa panas karna ocehan sang istri.


"Baiklah, kita mulai." Lucas membidikkan anak panah peraknya pada mahluk-mahluk penghisap darah yang berkeliaran dibawah sana. Ajaib, yang semula hanya satu anak panah. Tapi saat melesat turun jumlah anak panah itu menjadi lebih dari lima, sudut bibir Viona tertarik keatas. Ia begitu bersemangat


"Bersiaplah mahluk-mahluk menjijikkan." ujarnya berapi-api.


Flappp!!


Sepasang sayap hitam muncul di balik punggung Lucas, laki-laki itu menarik pinggang Viona dan membawanya melesat turun. Perburuan malam ini terasa berbeda untuk Lucas, karna ini pertama kalinya ia berburu berdua saja bersama Viona dengan status sebagai suami-istri.


Tidak ada para Hunter maupun mahluk abadi, hanya Lucas dan Viona. Meskipun hanya berdua saja, namun bukan sebuah hal yang sulit bagi pasangan suami-istri itu untuk bisa membinasakan para Vampir dengan cepat.


Tanpa ampun Viona menancapkan belati peraknya pada jantung para mahluk penghisap darah itu hingga sosoknya melebur menjadi abu. Lucas pun melakukan hal yang sama dan tidak sampai tiga puluh menit mereka dapat membinasakan semua mahluk-mahluk penghisap darah, sungguh perburuan yang luar bisa.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2