
Dinginnya malam ini seolah menusuk, tajam. Angin malam menerpakan aura suram, pada setiap mahluk yang berdiri dalam satu titik ditengah heningnya malam. Malam yang begitu sepi, bertemankan sunyi dan gelap. Bahkan tidak terdengar suara hewan malam, cahaya bulan masih bersinar dengan terangnya memayungi sebagian belahan bumi yang dinaungi.
Dalam gelapnya malam, seorang laki-laki dengan wajah stoic tanpa ekspresi berdiri berhadapan dengan gadis yang tengah menunduk didepannya. Mata dinginnya yang tajam menatap gadis itu penuh intimidasi, menuntut sebuah penjelasan.
"Sampai kapan kau akan diam seperti orang bodoh, Viona Jung? Jelaskan padaku apa maksud semua ini?"
"Lucas, bagus sekali kau disini." Seru Kamilla dan segera menghampiri Lucas."Lu, lihat dan perhatikan gadis ini baik-baik, sangat mengejutkan bukan? Aku sangat kasihan sekali padamu karena kau telah melindungi gadis yang salah. Aku ingin sekali memberitaumu dan menyadarkanmu jika semua orang telah membohongi dan mempermainkamu."
"Apa kau benar-benar tidak sadar jika gadis yang kau lindungi itu adalah seorang Vampire? Mahluk menjijikkan yang harusnya kau lenyapkan." ujar Kamilla panjang lebar.
Sepertinya wanita Vlad itu ingin memanfaatkan keadaan dan memisahkan mereka berdua yang memang saling mencintai.
Milla berusaha meracuni otak Lucas dengan sebuah kebenaran yang seharusnya disembunyikan. Karena Milla merasa sangat yakin jika setelah ini Lucas dan Viona akan berpisah, perasaan cinta yang awalnya mekar dihati Lucas akan berubah menjadi rasa benci yang teramat sangat, dan memang itulah yang Milla harapkan.
"Song..."
"Why, Kai? Kenapa kau harus marah? Aku mengatakan yang sebenarnya, Kai. Lihat saja warna matanya, taring dan suhu tubuhnya. Bukankah hal itu sudah sangat jelas dan membuktikan siapa sebenarnya." ujar Kamilla menyeringai.
Sementara itu, Viona memilih diam seribu bahasa. Dia yang benar-benar telah terpojok dan tertangkap basah oleh Lucas hanya bisa mendunduk dalam. Viona benar-benar tidak berani menatap mata Lucas yang tajam dan berkilat penuh anarah. Bukan kematian yang dia takutkan, melainkan rasa kebencian Lucas padanya.
Viona tidak tau bagaimana ending dari kisah cintanya dengan Lucas yang baru saja dimulai, karena dibenci oleh orang yang dia cintai lebih mengerikan dari sebuah kematian.
Lucas maju satu langkah, salah satu tangannya mengangkat dagu Viona memaksa gadis itu untuk menatap padanya. "Katakan padaku, apakah itu benar? Aku ingin mendengar langsung dari bibirmu."
"Kenapa harus bertele-tele, Lu? Sudahlah langsung habisi saja mahluk sialan itu."
"DIAMLAH KAU, KAMILLA SONG." bentak Lucas seraya menatap gadis bermarga Song itu tajam.
"Mampus kau mahluk sialan." sinis Jia mencibir.
"L, apa ini tragedi yang kau maksud?" ucap Ellena sambil menatap wajah laki-laki yang berdiri disamping kirinya.
"Benar, Nona. Tapi sayangnya bukanlah, Lucas yang akan melakukannya melainkan wanita Vlad itu."
"Apa?"
"Aku mengenal Lucas, dengan sangat baik, aku tau saat ini dia memang sedang dikuasai emosi. Tetapi, dia tidak mungkin menghabisi seseorang yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Meskipun bibirnya mengatakan kebencian, namun tidak dengan hati dan matanya. Karena membunuh Viona sama saja dengan bunuh diri. Ikatan takdir telah menyatuhan hati dan jiwa mereka, takdir pula yang menentukan apa yang akan terjadi." Sahut Carl menuturkan.
Sungguh diluar dugaan, tidak ada satu orang pun yang mampu mengubah jalannya takdir bahkan Dewa sekalipun. Karena apa yang terjadi pada Stella dan Lucas juga bagian dari permainan takdir.
"Sekali lagi aku bertanya padamu, benarkah kau seorang, Vampire? Katakan dan jelaskan padaku. Kenapa kau harus membihongiku dan merahasiakan hal sebesar ini padaku?" pinta Lucas menuntut sebuah penjelasan.
Terlihat Viona menarik nafas panjang dan menghelanya. Gadis itu memberanikan diri untuk menatap mata Lucas yang tengah menatapnya dengan sangat tajam.
"Ya, benar yang dia katakan. Aku memang seorang Vampire, mahluk menjijikkan yang harusnya kau musnakan bukan kau lindungi. Sekarang kau sudah mengetahui kebenarannya bukan? Jadi apa lagi yang kau tunggu?"
"Keluarkan belatimu dan bunuh aku. Bukankah kau sendiri yang mengatakan akan menghabisi seluruh Vampire yang ada dimuka bumi ini tanpa terkecuali, termasuk diriku. Lagipula menjadi seorang pemburu Vampire adalah pekerjaanmu, dan mahluk itu kini ada dihadapanmu. Jadi lakukan saja." Pinta Viona dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Perlahan Viona menutup matanya melihat Lucas mulai mengangkat belati perak ditangannya, liquid bening mengalir dari pelupuk matanya yang kemudian mengalir membasahi pipinya. Hati Lucas bergejolak hebat Viona lelehan bening yang menetes dari mata Stella, perih dan sesak rasa dadanya.
Dalam hatinya Ellena berdoa agar Lucas tidak benar-benar melakukannya, bukan hanya Ellena saja namun semua orang kecuali Milla yang sedang mengulum senyum penuh kemenangan. Dan Viona tidak akan pernah menyesalinya, terlebih lagi dia akan mati ditangan seseorang yang dia cintai.
__ADS_1
"Lu, aku harap kau tidak akan melakukan sebuah tindakan yang kelak akan membuatmu menyesal." seru Carl memperingatkan.
"Tidak, Hyung/Ge... Kau tidak boleh melakukannya." Tao dan Kai menggelengkan kepalanya.
"Lucas, apa yang kau tunggu? Sebaiknya segera musnakan mahluk menjijikkan itu." seru Milla memprovokasi.
"Eonni, Oppa, lakukan sesuatu. Kenapa kalian hanya diam saja? Bagaimana jika dia benar-benar melakukannya?" panik Ara dan Jia. Semua orang menjadi panik dan khawatir, mereka takut jika Lucas benar-benar akan melakukannya.
Carl yang menyaksikan hal itu tidak bisa tinggal diam. Laki-laki berdarah China-Canada itu mendekati Lucas untuk memperingatkannya. "Sebagai yang tertua, aku perintahkan padamu untuk membuang belati itu sekarang juga," seru Carl dengan tegas.
"Aku mohon padamu, Hyung. Aku mohon, hiks.. jangan lakukan itu. Aku mohon." seru Kai memohon, bahkan pemuda berkulit tan itu sampai berlutut di ikuti Tao dan Carl.
Mereka bertiga menangis. "Tidak, ge. Ini tidak benar, kau tidak boleh melakukannya." Imbuh Tao menambahkan.
"Yakk! Ada apa dengan kalian bertiga? Kenapa kalian malah menghalang-halangi, Lucas untuk membunuh mahluk menjijikkan itu? Lucas, jangan ragu lagi, dia memang pantas mati. Ingatlah jika Vampire yang membuatmu menjadi seorang yatim piatu, karena Vampire juga kau kehilangan seluruh keluargamu."
"Hujamkan belati itu apa jantungnya, ingatlah tujuan utamamu menjadi seorang Vampire Hunter. Kau tidak lagi memiliki alasan untuk membiarkannya tetap hidup, dia telah membohongimu dan mempermainkamu. Jadi kau tunggu apa lagi? Lenyapkan dia sekarang juga." ujar Kamilla yang terus memprovokasi.
"DIAMLAH, KAMILLA SONG ." bentak Lucas sambil mengarahkan salah satu tangannya pada Milla.
Sebuah cahaya kemerahan menghantam tubuh wanita itu hingga membuatnya terpental dan menghantam pohon yang berada tiga meter dibelakangnya. Lucas tak segan-segan membuat Milla terbungkam bahkan sampai melukainya. Darah segar mengalir dari sudut bibir dan pelipis kanannya.
"Sebaiknya tutup mulutmu, atau aku yang akan menutupnya untuk selamanya." sinis Lucas dengan nada menusuk.
Gyuttt!!
Milla mengepalkan tangannya, susah payah wanita itu mencoba untuk berdiri. Dadanya terasa sesak, seperti ada batu besar yang menghantam dadanya.
Viona dan Lucas berdiri saling berhadapan. Mata coklat itu menatap gadis di depannya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Dari sorot matanya, terlihat jelas jika Lucas sedang menahan amarah dan emosi yang mulai menguasai dirinya.
"Aku tau ini sangat menyakitkan dan pasti saat ini kau sangat membenciku. Aku akan menerimanya karena aku memang layak kau benci. Aku mencoba untuk mengatakan padamu tentang jati diriku, tapi saat aku tau jika kau sangat membenci Vampire dan ingin melenyapkannya. Aku menjadi ragu sekaligus takut, bukan sebuah kematian yang aku takutkan."
Viona mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Lucas. "Tapi aku takut kau akan membenci diriku, dan saat ini ketakutanku menjadi sebuah kenyataan." lanjutnya.
Viona maju dua langkah kedepan, gadis vampire itu mensejajarkan tingginya dengan Lucas, menakup wajahnya dengan kedua tangannya sampai akhirnya....
'CHU'
Sebuah ciuman Viona daratkan pada bibir Lucas dan meluma*nya pelan. Tidak ada balasan dan Lucas yang hanya diam terpaku, mata kirinya menatap Viona yang tengah menutup matanya, rasanya seperti ada jutaan jarum tajam yang menusuk hatinya melihat liquid bening dari pelupuk mata gadis itu. Namun ciuman itu hanya berlangsung beberapa detik saja dan gadis itu mengakhirnya
"Bahkan di detik terakhirku, aku akan mengatakan. Aku mencintaimu."
Setitik kristal bening mengalir begitu saja dari pelupuk mata Ellena. Sebagai seorang kakak dan memiliki darah yang sama mengalir pada tubuh mereka, tentu saja Ellena dapat merasakan apa yang tengah dirasakan oleh Viona. Rasa sakitnya, penderitaannya dan beban berat yang saat ini ada dihatinya. Viona hancur, begitu pun dengan Ellena.
Dan Ellena tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi pada adiknya bila Lucas benar-benar menghujamkan belatinya.
"Sayang?" seru Yohan seraya menahan tubuh Ellena yang hampir saja roboh.
"Aku sudah siap, Suamiku. Aku siap jika harus kehilangannya saat ini." ucap Ellena dengan bercucuran air mata.
Lucas mengangkat tinggi-tinggi belatinya dan pandangannya masih terpaku pada gadis yang sedang menutup matanya itu.
__ADS_1
Tangannya gemetar dan setetes liquid bening mengalir dari mata kirinya. Dan yang menjadi pertanyaannya, mampukah dia melakukannya. Mampukah dia membunuh gadis yang dicintainya. Dan apakah dia akan bahagia setelah Viona tiada? Lucas menurunkan belati itu.
"Hal itu tidak akan terjadi, Nona. Lihatlah itu." seru Chen, sontak saja Ellena menoleh dan mengikuti arah tunjuk laki-laki itu.
Trangg!!
Belati di tangan Lucas jatuh begitu saja. Entah apa yang membuat Lucas sampai dia mengurungkan niatnya untuk menghabisi gadis vampire itu, semua menghela nafas lega terutama Carl.
"Kali ini kau ku ampuni, mulai detik ini dan seterusnya jangan pernah lagi muncul dihadapanku. Dan jika hal itu sampai terjadi maka itu akan menjadi hari terakhirmu." Ujar Lucas dan berlalu begitu saja meninggalkan Viona yang masih terpaku ditempatnya. "Kita pergi dari sini." seru Lucas pada ketiga rekan timnya,
"Tapi, Lu?"
"APA KALIAN TULI?" bentak Lucas seraya menatap Carl tajam.
"Baiklah."
Viona
Stella menjatuhkan tubuhnya begitu saja pada tanah yang dingin dan lembab. Liquid-liquid bening berjatuhan tanpa mampu dicegah, bercucuran membasahi wajah cantiknya. Gadis itu tidak percaya bila kisah cintanya dengan Lucas yang baru saja dimulai berakhir dengan cepat.
Kebahagiaan singkat yang Viona rasakan kini berubah menjadi deraian air mata. "Kau memang bodoh, Viona Jung. Kau memang pantas dibenci, kau sangat-sangat menyedihkan." Ujar Viona sambil terus memukul dadanya dengan brutal.
Melihat hal itu membuat Ellena semakin sakit. Wanita itu menghampiri sang adik dan menarik gadis itu kedalam pelukannya.
"Menangislah, Sayang. Keluarkan semuanya, beban di hatimu dan jangan pernah ragu untuk membaginya karna Kakak di sini untukmu." ucap Ellena sambil mengusap punggung Viona dengan gerakan naik turun.
"Kau harus kuat Vi. Perpisahan ini hanyalah sementara. Kalian berdua telah ditakdirkan untuk bersatu dan takdir pula yang memilih, Lucas, sebagai pendampingmu. Setelah semua ini dapat kau lewati, pasti akan ada hari yang indah untuk cinta kalian berdua," ujar L panjang lebar.
"Namun sayangnya aku tidak akan membiarkan kisah itu ada, karna sebelum kisah itu terjadi aku akan lebih dulu melenyapkanmu." ujar Milla dari arah belakang.
Sontak saja semua menoleh pada sumber suara termasuk Viona dan Ellena. Terlihat Viona bangkit dari posisinya dan menghampiri Milla
"Katakan apa maumu?" tanya Viona meminta penjelasan.
Milla menyeringai tajam. "Melakukan apa yang seharusnya Lucas lakukan,"
"Oh, jadi kau ingin membunuhku? Begitu?" sinis Viona. Terlihat Milla menghampiri gadis itu dengan sebuah belati perak ditangannya. Milla memegang bahu Viona dan berbisik sesuatu ditelinganya.
"Itu memang benar, mahluk menjijikkan. Dengan tanganku sendiri aku akan melenyapkanmu," diam-diam Milla mengangkat belati ditangannya dan menghujamkan pada dada kiri Viona.
'JRESS'
Belati itu menghujam dada kiri Viona tepat di jantungnya, tidak hanya menusuknya. Namun Milla sedikit menekannya lebih dalam lagi, darah segar mengalir deras dari lukanya. Melihat kedua mata Viona menjadi berkunang-kunang yang mulai lemas karna kehilangan banyak darah membuat Mills tersenyum puas.
"Selamat jalan, Viona Jung. "bisik Milla seraya menarik kembali belatinya hingga tubuh Viona jatuh menghantam tanah.
'Bruggg!!!'
"TIDAK... STELLA!!"
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG."