
Satu minggu telah berlalu, hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, hari dimana Daren dan Fany akan mengadakan sesi foto untuk album yang ke limanya. Sepanjang pemotretan, Pria itu membuat fotografer kesusahan, karena bukannya tersenyum ia malah menampakkan wajah muramnya.
"Ayolah tuan Daren, tersenyumlah !" pinta fotografer untuk kesekian kalinya.
Daren meksakan senyumnya walau itu adalah senyum di paksakan akan tetapi pria itu tetap memukau ketika tersenyum. Sesi foto untuk pria telah selesai setelah banyak drama yang terjadi karena kekerasan kepala sang Idol.
Daren mendaratkan tubuhnya di sofa di mana manajernya berada, Ia menghela nafas panjang merasa lelah dengan semua yang di hadapinya hampir satu bulan ini.
Menikah dengan Fany bukanlah keinginnya, yang dia inginkan wanita di sampingnyalah yang menikah dengannya. Tapi itu tidak masalah baginya, dengan statusnya menikah dengan Fany ia akan mudah berhubungan dengan Elina tanpa ada gosip apapun.
"Kau kenapa murung terus dari tadi ?" tanya Elina memperhatikan raut wajah pria di sampingnya yang tidak bersahabat.
"Kenapa kau susah-susah bertanya, padahal kau tahu sendiri jawabannya." jawabnya ketus, merasa kesal dengan pertanyaan Elina yang sudah jelas jawabannya.
Elina hanya melemparkan senyumnya dan tidak mengelurkan sepatah katapun, jika tidak ingin Daren tersulut emosi dan sesi foto untuk pasangan pengantin baru tidak akan terjadi.
"Kau mau kemana ?" cegah Elina menarik tangan Daren yang akan beranjak dari duduknya sembari melonggarkan dasi yang di pakainya.
"Aku mau pulang." jawabnya datar.
"Tapi sesi fotomu dan Fany belum di mulai." Elina mengingatkan.
"Aku tidak ingin berfoto dengannya, kau bisa menyuruh editor untuk mengeditnya apa susahnya." jawab Daren yang engan berfoto bersama istrinya.
"Diamlah !" Elina mulai menggunakan otoriternya.
Jika sudah begini, Daren mau tidak mau harus mengalah lagi pada Elina, entahlah, cinta memang membuat manusia menjadi buta.
"Lihatlah Fany sudah selesai berdandan." tunjuk Elina pada pintu ruang ganti di mana Fany berdiri dengan dress Navi dan rambut di biarkan terurai. Meke up natural membuatnya sangat cantik dan terlihat anggung, maklumlah, ini kedua kalinya Fany menggunakan meke up, ya yang pertama saat akad nikah.
Daren memperhatikan istrinya yang terus berjalan ke arahnya, seperti tersihir, pria itu terus menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia mengakui, sedetik ia terpesona dengan istri kontraknya, namun hanya sedetik tidak lebih.
"Tatapannya biasa aja kak, kak Fany memang cantik jika berdandan, sayangnya dia tidak pernah mau berdandan." ucap Nathan menyadarkan lamunan Daren.
"Cantik apanya? ondel-ondel ia." Daren membatin, tidak ingin mengakui bahwa Fany memang cantik.
__ADS_1
Elina hanya tersenyum melihat raut tak suka Daren di tujukan pada Nathan. "Ayo Fany, sekarang giliranmu." Elina menyuruh gadis itu melakukan sesi Foto seorang diri, setelah itu Fany dan Daren akan melakukan sesi foto bersama.
Sesi foto untuk Fany tidaklah lama, Ia sangat mudah di atur dan juga selalu ternyum sepanjang sesi foto membuat fotografer bernafas lega.
Sekarang giliran sesi foto Daren Dan Fany, lagi-lagi fotografer di buat kelabakan dengan sikap Daren yang kaku dan enggan berdekatan dengan Fany, bahkan senyumpun tak ia perlihatkan.
"Merapatlah sedikit, kalian sudah sah, buat apa menjaga jarak." kesal fotografer.
Elina dan Nathan hanya terkekeh geli mendegar gerutuan sang fotografer.
"Sekarang waktunya kalian berciuman, saya ingin pak Daren, mencium ibu Fany di kening, pipi, dan terakhir di bibir ya, agar terlihat mesra." fotografer memberikan arahan.
Mendegar arahan Fotografer, Gadis itu membulatkan matanya menatap suaminya, mencoba meminta penjelasan. Namun yang di tatap biasa-biasa saja, entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu untuk saat ini.
Fany memejamkam matanya seketika wajah Daren semakin dekat dengan wajahnya. Jantungnya berdetak sangat kencang saat merasakan benda kenyal menyentuh kening dan pipinya. Wajah gadis itu terasa panas, entah mungkin wajahnya sekarang memerah entah karena apa, mungkin malu karena di cium di depan orang lain, atau yang lainnya.
Fotografer tidak tinggal diam mengabadikan momen yang di tunggu-tunggu nya sedari tadi.
"Oke, sekarang kiss terakhirnya."
Daren menyeringai melihat tatapan memohon istrinya, entah apa yang ada di pikiran pria itu. Ia mengamit pinggan istrinya mendekat pada tubuhnya, memegang rahang Fany, dan mendaratkan benda kenyal ke bibir ranum gadis itu. Entah apa yang di inginkan Daren, membuat Fany kesal, atau memang menginginkan ciuman itu, hanya ia yang mengetahuinya. Bahkan auhtor saja tidak dapat menebak pikiran Daren.
Fany yang sedari tadi menutup matanya saat benda kenyal menyentuh bibirnya, membuka matanya saat merasakan kejangalan di dalam ciumannya. Ia bernafas lega saat menyadari pria itu tak sepenuhnya menciumnya. Daren memang aktor yang berbakat, bahkan ia mampu mengelabui orang-orang dengan ciumannya, padahal ia tidak melakukannya dengan langsun. Pria itu menyangga bibirnya dan bibir Fany agar tidak bersentuhan dengan ibu jarinya, namun tidak bisa di lihat oleh orang lain. Tapi tidak dengan Elina yang juga menyadari kejangalan ciuman itu.
"Lihatlah kak, mereka sangat serasi !" seru Nathan pada Elina.
Elina hanya melemparkan senyumnya, melihat kepolosan laki-laki di sampingnya yang tidak menyadari ciuman itu hanyalah palsu. "Kau benar mereka sangat serasi." ingin rasanya Elina tertawa menertawakan kelakuan Daren dan juga Fany. Dan kepolosan Nathan.
Setelah mencium istrinya, pria itu melepaskan tangannya begitu saja di pingang Fany, membuat gadis itu terhuyung kebelakang. Untung saja gadis itu sigap menarik dasi suaminya, dan mengalungkan tangannya di leher pria itu. Lagi-lagi fotografer mengabadikan momen tersebut.
Daren mengeram kesal, niatnya untuk mengerjai Fany tidak berhasil dan malah ia yang tersiksa karena mendapatkan cekikan dengan dasi yang di pakainya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Dua hari telah berlalu, album Daren yang kelima sudah tersebar di mana-mana. Sampul album Daren yang kelima menarik perhatian publik dan beberapa Fansnya, bagaimana tidak, sampul album nya adalah foto mereka saat berciuman. Album dan beberapa foto mesra Daren dan Fany ramai di perbincangkan bagi penikmatnya masing-masing.
Bahkan butik tempat Fany bekerja ramai pengunjun, hanya karena mereka ingin bertemu dengannya, mereka rela menghabiskan uang untuk memasang gaun atau beberapa dress hanya untuk bertemu gadis itu. Dan itu membuat Fany kewalahan, belum lagi permintaan mereka yang menginginkan model gaun dan dress terbaru.
Fany mendaratkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya, merasa lelah melayani permintaan konsumen yang aneh-aneh.
Fany memandangi album Daren dan beberapa foto mereka di dalamnya, Ia malu sendiri melihat fotonya yang begitu mesra dengan suaminya. "Gue bisa gila jika terus melihat ini." ucapnya melempar album itu.
Di sisi lain, ada orang tidak suka dengan ketenaran yang di peroleh Daren. Keinginanya untuk menghancurkan karir pria itu, semakin kuat saat melihatnya semakin bersinar di dunia hiburan.
"Apanya yang serasi dan cantik, cantikan juga gue, dan gue lebih serasi bersanding dengan Daren." gerutu Nara memandangi foto-foto Fany, tekadnya semakin kuat untuk memisahkan mereka.
-
-
-
-
TBC
Terima kasih para Readers karena bersedia mengikuti cerita author.
jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.
Komentar dan Vote kalian adalah semangatku😊🥰😁🙏
__ADS_1