My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 82


__ADS_3

Kirana menghampiri Fany di ruangannya. "Fan, kita mau makan malam sama teman-teman yang lain, lo mau ikut nggak?" tawar Kirana.


Fany mengeleng. "Lo duluan aja, gue masih ada pekerjaan." tolak Fany lembut.


"Yaudah, gue duluan ya, hati-hati, pulangnya jang larut-larut bahaya." peringatan Kirana.


Fany menganggukkan kepalanya. Setelah kepergian Kirana dan kawan-kawan, dia memutuskan keluar dari ruangan nya, merapikan butik.


Tanpa dia sadari sedari tadi pergerakannya di awasi oleh seseorang. Orang itu menyeringai melihat senyuman Fany yang tak pernah luntur sedari tadi.


"Tersenyumlah, selagi lo bisa tersenyum, sebentar lagi lo akan lupa bagaimana caranya tersenyum." sinis seseorang lalu pergi meninggalkan butik tersebut.


Fany bergegas setelah semuanya beres, dia melirik arloji di pergelangan tangannya, jam tujuh tiga puluh, setengah jam lagi Daren pulang.


"Gue nyamperin kak Daren aja deh di lokasi pemotretan." Fany segera memesan taksi online, kebetulan lokasi pemotretan Daren dekat dari butik.


Lima belas menit, dia sampai di lokasi, bukannya mengabari Daren bahwa dia ada di sana. Fany malah duduk di kursi tunggu, itung-itung memberi kejutan pada Daren.


***


Daren bernafas lega, akhirnya sesi pemotretan selesai, waktunya pulang melepas rindu dengan sang pujaan hati.


"Yon lo jemput Fany kan tadi?"


"Nggak kak, soalnya pas gue kesana udah nggak ada orang." sahut Deon.


"Oh mungkin udah pulang."


Daren mengenbangkan senyumnya saat melihat sang istri duduk di kusi tunggu.


"Hem, nyari siapa neng." bisik Daren.


Fany berbalik, ah ternyata suaminya sudah selesai. Ia berdiri lalu memeluk lengan Daren. "Nungguin suami."


Daren membalas pelukan Fany, melingkarkan tangan di pinggang istri kecilnya. "Ngapain nungguin aku? kamu nggak cape kerja?"


"Pengen aja."


"Mau makan malam di luar atau langsung pulang aja?"


"Pulang aja, aku ngantuk." Fany menguap.


Sepanjang perjalan, Fany senyum-senyum sendiri sembari memandangi wajah tampan suaminya. Ternyata selama ini ia sangat beruntung mendapatkan suami yang sangat tampan dan pegertian, ah rasanya itu seperti mimpi saja.


Fany tidak lagi malu-malu memperlihatkan dan mengekspresikan apa yang ia rasakan pada Daren. Dia memeluk posesif lengan Daren yang sedari tadi terus mengengam tangannya, sementara yang satunya sibuk menyetir.


"Makasih udah belain aku."


"Aku tadi sibuk banget loh di butik, banyak banget pelangan, itu semua karena kak Daren. Ih ternyata kak Daren julid juga ya kalau komen, langsung kena mental tuh orang, sampai-sampai muji-muji aku segala."


Fany terus berceloteh, walau yang di ajak bicara sedari tadi diam saja. Sangat acuh, bahkan rangkulannya ia biarkan begitu saja tidak seperti biasanya.


"Kak Daren dengerin aku nggak sih!" kesal Fany melepas rangkulannya.

__ADS_1


Daren terkesiap, saat merasakan hentakan di lengannya, ai menoleh dan mendapati wajah cemberut sang istri. "Iya, kenapa sayang?"


"Kak Daren mikirin apaan sih, sampai nyuekin aku gitu?"


"Aku lagi mikirin Radit."


"Ih kok malah mikirin kak Radit? oh atau jangan-jangan selama ini aku hanya pengalihan biar kak Daren di kata normal, padahal sukanya sama laki-laki."


"Nggak heran juga sih kak Daren suka sama kak Radit, kurang apa coba dia, tampan, banyak uang, pengertian." puji Fany.


Cit


Daren ngerem tiba-tiba mendengar tuduhan tidak mendasar dari sang istrinya, dia mendelik tidak suka. "Sekata-kata kalau ngomong, aku masih normal ya nggak bengkok. Kalaupun ia aku nggak bakan bobol kamu malam itu, jang ngarang, nuduh suami sendiri yang nggak-nggak. Dan jangan sekali-kali muji Pria lain di depan aku, aku nggak suka."


"Trus ngapain mikirin kak Radit?" Fany menaikkan salah satu alisnya.


"Aku bingun aja gitu liat tingkah nya tadi sama Elina, kayak ganjal gitu, apa lagi pas kedatangan Radit, Elina buru-buru pergi gitu kek ngehindarin Radit. Dan satu lagi, aku lihat Radit minum bekas minuman Elina pas bekas bibirnya lagi." Daren begidik jijik.


"Ih ngapain mikirin itu sih, bukannya kak Daren juga sering minum bekas aku, apa lagi jika makan roti, pasti gigit bekas gigitan aku."


"Bedalah sayang, itu wajar, kitakan suami istri sah-sah aja. Lah mereka dekat aja nggak." Daren gemas sendiri dengan tanggapan Fany.


Fany ber O ho ria, sembari mengangguk-angguk "Yaudah sih ngapain di urusin."


"Lah iya ya, ngapain aku ngurusin mereka, kurang kerjaan amat gue." Daren mengaruk tengkuknya, merasa konyol sendiri.


Tapi Daren sangat penasaran apa hubungan mereka berdua.


Bodoh, Daren benar-benar menruntuki kebodohannya secara tidak langsung ia menyakiti hati istrinya, dengan mengurusi wanita lain.


"Sayang."


"Hmmm."


"Kamu marah?"


"Aku ngantuk kak." sahut Fany memejamkan matanya.


"Maaf."


"Untuk?"


Daren mengengam tangan Fany, memainkan ibu jarinya di atas pungung tangan istrinya. "Maaf, aku nggak bermaksud buat kamu marah, tapi pecayalah aku hanya cinta sama kamu." bujuk Daren.


"Aku nggak marah."


Ya Fany mendiami Daren bukan karena marah, tapi ingin membuat Daren berfikir di mana letak kesalahannya.


"Beneran?"


"Iya kak, jangan di ulang lagi ya, aku nggak suka kak Daren ngurusin wanita lain, aku takut kak Daren ninggalin aku." jujur Fany.


"Nggak akan." Daren mengecup singkat kening Fany dan kembali melajukan mobilnya.

__ADS_1


***


Daren tidak langsung kerumah setelah pemotretan, ia malah singgah ke sebuah tampat syuting yang tak lain di sutradarai oleh Radit.


Untung pemotretan selesai lebih awal jadi dia tidak perlu membuat alasan pada Fany.


Daren mendudukkan tubuhnya tak jauh Dari Radit, dia terus memperhatikan gerak gerik Radit dari jauh. Bohong jika Daren tidak penasaran dengan hubungan mereka.


"Dih ngapain senyum-senyum gitu kek orang kasmaran saja." decak Daren.


Ya mungkin hari ini profesi Daren beralih dari seorang Idol menjadi reporter kepo.


"Hayo loh ngapain disini?" Keysa menepuk pundak Daren.


Dia ikut duduk di hadapan Daren, ikut memperhatikan apa yang sedang di perhatikan Daren.


"Lo ngapain di sini? gue laporin Fany baru tahu rasa lo." ancam Keysa.


Daren menatap malas Keysa, ganggu aja. "Loh juga ngapain di sini? bukannya drama yang kita bintangi udah selesai tiga bulan yang lalu?" bukannya menjawab Daren malah melayangkan pertanyaan.


"Ngunjungin calon suami lah."


"Ilih, calon suami mata lo? Luluhin dulutTUHAN Nya baru lo bisa dapat hambanya." sindir Daren.


"Julid banget sih lo!" Kesal Keysa, jangan bilang dia tidak sakit mendengar kata-kata Daren.


"Gue tau lo sama Nathan saling cinta, tapi saran gue lo cepat ambil keputusan deh. Takutnya kalian berdua jatuh terlalu dalam dan sakit hati nantinya."


"Jangan nakutin gue gitu deh."


"Gue bukan bermaksud nakutin loh Sya. Nggak mungkin lo rebut Nathan dari TUHAN nya, dan gue yakin Nathan juga nggak bakal tega ngekang loh buat luluhin Tuhan nya. Ingat Nathan juga butuh kepastian, dan jangan lupakan bonyok lo, dia akan berusaha misahin kalian.


"Tau ah." mood Keysa seketika memburuk, ia beranjak pergi meninggalkan Daren.


"Jangan Egois Sya!" teriak Daren.


...TBC...


...****************...


Salah nggak sih Daren ngomong gitu ke Keysa?


Berasa ikut campur banget nggak Daren dalam hubungan mereka?


...Jangan lupa Vote !...


...Jangan lupa komen !...


...Jangan lupa like !...


...Jangan lupa favoritkan !...


...SELAMAT MEMBACA !!!!...

__ADS_1


__ADS_2