My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 69


__ADS_3

Fany yang mengertipun hanya mengangguk pasrah, toh jika pun ia menolak, Daren akan melakukannya.


Daren senyum miring, melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda, melepaskan sumua pakaian yang menempel di tubuhnya dan juga tubuh gadis mungil di bawahnya, tanpa melepaskan pangutannya.


"Nggak usah tutup mata!" cegah Daren dengan suara seraknya, saat melihat Fany menutup matanya.


Fany mengalihkan perhatiannya ke arah lain, tak sanggup melihat tubuh polos suaminya. "Aku malu." lirihnya.


"Jangan malu dong, kamu harus terbiasa setelah ini!" goda Daren.


Blus


Wajah Fany merah seketika.


Cup


Daren mengecup kening Fany begitu lama melafalkan do'a sebelum melakukannya.


"Kalau kamu kesakitan gigit saja tangan aku ya." bisiknya


"Sakit banget ya Akhhh." Fany refleks mengigit pundak Daren saat merasakan sesuatu memasuki dirinya.


Daren tak menghiraukan rasa sakit di pundaknya, dan kembali mel*mat bibir tipis yang sudah menjadi candu baginya.


Suara desahan dan erangan memenuhi ruangan itu, bulan dan bintang menjadi saksi bersatunya dua insan malam itu.


"Terimakasih sayang." Daren mengecup kening Fany dan merebahkan tubuhnya di samping sang istri setelah menyemburkan bibit kecebong kedalam wadahnya.


Daren menarik selimut, menutupi tubuh polos Fany dan juga dirinya, lalu membawanya kedalam pelukannya.


***


Jam setegah lima, seperti biasa Fany bangun untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


"Sssttt." Fany meringis, bagian bawahnya terasa sangat nyeri.


Gadis itu mengedarkan pandangannya, mencari pakaian untuk di pakainya. Tanpa pikir panjang Fany menyembar kemeja putih Daren yang sedikit kebesaran.


Fany menyingkap selimut, dan tersentak saat melihat bercak darah di sprei. Tanpa pikir panjang, ia menguncang tubuh Daren. "Kak bangun, kok ada darah?" tanyanya histeris.


"Apa sayang?" Sahut Daren tanpa membuka matanya.


"Da...darah." lirihnya.


Mendegar kata darah, Daren seketika bangun, menatap Fany dengan tatapan khawatir. "Kamu sakit? kita kerumah sakit sekarang." ucap Daren panik memeriksa setiap inci tubuh istrinya.


"Bukan aku, tapi itu?" tunjuk Fany pada bercak darah di sprei.


Daren mengikuti kemana arah telunjuk Fany. Ia bernafas lega dan tersenyum saat melihat bercak darah itu.


Memeluk gemas tubuh mungil Fany. "Itu hal wajar saat malam pertama sayang." ucapnya mengelus lembut rambut Fany.


"Bukannya aku nggak suci lagi?" Fany mendogak, menatap tatapan teduh suaminya.


"Sstt, siapa yang bilang itu padamu, hmm?" Daren menutup mulut Fany dengan telunjuknya.


"Bukannya malam itu, aku...."


"Aku orang pertama yang menyetuh dan mengambil mahkotamu. Deon sudah menyelidiki semuanya, dan itu semua perbuatan Nara, dia ingin merusak hubungan kita." jelas Daren.


"Benarkah?" Fany memastikan.

__ADS_1


"Iya sayang, terimakasih ya susah mau menjaganya untukku."


Fany menganggukkan kepalanya.


Gadis itu melepaskan peukannya, dan turun dari ranjang. "Akhhh." rintihnya, saat kembali merasakan nyeri di bawah sana.


"Sakit banget ya?" Daren ikut meringis, melihat keadaan Fany. "Aku gendong ya." tawarnya, atau lebih tepatnya pernyataan, karena tanpa menunggu jawaban Fany, Ia sudah mengendong tubuh mungil itu masuk kedalam kamar mandi.


***


Setelah sholat subuh berjamaah, dimana Daren sebagai Imam dan Fany sebagai ma'mumnya. Bukannya tidur, Fany malah menuju balkon kamarnya, menikmati udara dingin pagi-pagi buta.


Gadis itu tersenyum, saat merasakan lengan kekar melingkar indah di perutnya.


"Ngapain melamun, hmm." Tanya Daren.


"Aku mimpi buruk lagi." jujur Fany.


"Aku memimpikan kembali, bagaimana ibu meninggalkanku saat aku kecil dulu, seandainya waktu itu langkahku lebih lebar lagi, mungkin aku bisa mencegahnya pergi. Tiga belas tahun aku menunggunya kembali untuk menjemputku, hingga aku lupa bagaimana rupa sebenarnya ibuku. Tapi apa yang aku dapat, sampai sekarang ia belum datang menjemputku. Sampai di mana Nathan kembali padaku, dan menyampaikan kabar duka bahwa ibu sudah meninggal. Aku membenci ibuku, aku sungguh membencinya, kenapa ia pergi tanpa menemuiku terlebih dahulu." lirih Fany.


Menangis? jangan harap gadis itu akan menumpahkan air matanya di depan seseorang, baik itu orang yang di cintainya sekali pun.


"Udara di luar sangat dingin, kita masuk ya." Daren mengalihkan perhatian, agar istrinya tidak larut dalam kesedihan. Ia tahu betul bagaimana sakitnya di tinggal seorang ibu tanpa sempat melihatnya terlebih dahulu.


Daren megendong Fany ala bridal style dan menidurkannya di atas ranjang, menarik selimut dan ikut tidur di sampingnya. Membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya.


"Kita sudah lama nikah lo, tapi belum honeymoon juga. Gimana kalau minggu ini kita honeymoon sebelum aku kembali syuting minggu depan. Kamu mau kemana? Korea, Paris, London, atau kita ke Jepang saja." usul Daren.


Fany tak merespon.


"Kamu belum baca surat dari ibu?" tanya Daren.


"Aku takut." jawannya singkat.


"Iya nanti." Fany mengembangkan senyumnya.


"Gitu dong, kan cantik." Daren mengusap pipi cubi Fany.


"Boleh aku pinjam ponsel kak Daren?" tanya Fany.


Tanpa banyak tanya, Daren menyerahkan ponselnya pada istri tercinta.


Dengan asal gadis itu mengentikan sandi di ponsel mahal suaminya, seketika matanya berbinar saat berhasil membuka kucin ponsel tersebut. "Jadi benar, sandi ponsel kak Daren tanggal lahir aku?" tanyanya memastikan.


"Hmmm." gumam Daren.


Daren terus memperhatikan Fany mengacak-acak ponselnya.


"Ponsel kamu mana?" tanyanya.


Tangan mungil Fany seketika berhenti berselancar, kala mendengar pertanyaan suaminya.


"Ma...mau nggapain?" tanyanya gugup.


"Mau cek aja."


"Nanti saja." tolak Fany.


"Nggak maunya sekarang!" ucap Daren tak terbantahkan dan merebut ponsel yang berusah di sembunyikan istrinya.


Setelah berhasil mendapatkannya, Daren mengetikkan beberapa angka, dan nihil, tidak membuahkan hasil sama sekali.

__ADS_1


"Buka!" bukan lagi suara lembut yang di tujukan pria itu, melainkan suara datar sedatar datarnya.


Dengan ragu Fany membuka kunci ponselnya. Gimana nggak takut, sudah di pastikan suaminya tambah marah saat melihat wallpaper ponselnya.


"Semua tentang kamu ada di ponselku, tapi lihat, kamu malah pajang pria lain di ponselmu." gerutu Daren.


Tanpa berkata-kata lagi, Daren melepaskan pelukannya, tidur membelakangi Fany. Ia sudah sangat kesal pagi ini.


Gini nih punya suami posesif, foto idol aja di cemburuin. Padahalkan itu cuma foto salah satu member ASTRO.


"Kak Daren." panggil Fany sembari membuat pola abtrak di pungung mulus suaminya.


Tidak ada jawaban.


"Sayang."


"Suamiku."


"Cintaku."


"Mas."


Berbagai macam panggilan sudah di keluarkan Fany, namun pria itu belum juga meresponnya.


Fany senyun tipis, mungkin dengan cara ini Daren meresponnya.


"Akhhh, Sakit banget." rintih Fany.


Benar saja, mendengar rintihan kesakitan istrinya, Daren seketika berbalik.


"Kamu kenapa? mana yang sakit?" ucapnya


Cup


Cup


Cup


Fany mengecup Kening, hidung dan bibir Daren.


"Jangan ngambek, aku nggak suka." ucapnya manja dan memeluk tubuh kekar suaminya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu.


-


-


-


-


-


-


-


TBC


Lunas ya dan maaf kalau di luar ekspektasi kalian


Jangan lupa Vote, komen, dan likennya karena itu Mood Booster banget buat author.

__ADS_1


...SELAMAT MEMBACA !!!...


__ADS_2