My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 77


__ADS_3

...Jangan pernah membenci seseorang sebesar apapun kesalahannya, dia juga manusia....


...@Fany Palwinta...


"Sayang." Panggil Daren.


Pria itu merangkak naik ke tempat tidur, tengkurap lalu mendongakkan kepalanya menatap sang istri yang sedang sibuk dengan kertas di pangkuannya.


"Yang." ulang Daren.


"Hmmm"


"Ngapain sih."


"Ini lagi gambar sketsa buat lomba." jawab Fany tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Nggak capek apa ngurusin sketsa mulu. Aku kapan di urusinnya, berasa di anak tirikan." gerutu Daren.


"Ih bukan anak tiri, tapi suami aku." Tawa Fany.


"Tau ah serah kamu."


Fany meletakkan keras dan pensilnya di atas nakas.


Cup


"Udah ngambeknya sana tidur." pintanya setelah mengecup pipi Daren.


Fany membaringkan tubuhnya di samping Daren yang sedang tengkurap memperhatikan gerak geriknya.


"Ngapain tidur sih." ucap Daren menggeser tubuhnya merangkak dan memeluk tubuh Fany yang telentang.


"Mau ngapain?" Waspada Fany.


"Mau ternak kecebong, boleh ya, ya,." Daren dengan tatapan sayunnya.


Mau menolak sepertinya nggak mungkin deh, sekarang pergerakannya di kunci.


"Sayang." panggil Daren.


Fany mengangukkan kepalanya.


Senyum terbit di wajah Daren, dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya mengecup lembut bibir ranum Fany. Turun ke leher menghirup aroma yang dua hari ini sangat ia rindukan.


***


"Fany lo udah liat berita pagi ini belum?" histeris Kirana masuk kedalam ruangan Fany.


"Gila ternyata yang nyebarin foto itu si Nara, dan baru saja dia buat pengakuan dan klarifikasi tentang foto itu. Gue nggak nyangka loh Nara sejahat itu, nggak punya otak apa dia." kesal Nara.


Fany? ia bahkan tidak menanggapi celotehan Kirana dam malah sibuk dengan laptop di hadapannya.


"Fany ! kok lo biasa aja sih?" kesal Kirana menatap temannya yang tetap bergeming di tempatnya.


"Serius Ran? ah gue kaget banget, nggak nyangka si Nara sejahat itu!!!" teriak Fany tiba-tiba mengucang kedua lengan Kirana.


"Udah gitu kan?" sanyum Fany lalu kembali duduk.


"Ih kesel gue lama-lama sama lo, lo itu terlalu baik nggak. Udah ayo kita buat pelajaran sama Nara, gue kesal tau."


"Udah nggak usah di balas, kalau udah capek berhenti sendiri." Nasehat Fany.


"Tapi nggak gitu juga." protes Kirana.


"Jangan terlalu membenci seseorang yang berbuat salah, dia juga manusia." bijak Fany.


"Serah lu dah nyonya Danu!" kesal Kirana keluar dari ruangan Fany.


***

__ADS_1


Fany menatap heran empat pria berjas hitam bertubuh kekar berjalan masuk kedalam ruangannya tanpa sopan santun.


"Ada apa ini?" panik Fany saat dua orang berjas hitam itu mendekat dan memengan lengannya.


"Lepasin gue, siapa kalian?" Ronta Fany minta di lepaskan.


Tanpa menjawab petanyaan Fany, ke empat pria berjas hitam itu keluar ruangan membawa tubuh gadis itu. Tidak ada seroang pun yang berani mencegahnya, Bahkan bos Fany dan berapa temannya hanya diam menyaksikan seseorang membawa Fany masuk kedalam mobil hitam hingga mobil hitam itu hilang dari penglihatan mereka.


"Lepasin gue!!" teriak Fany tepat di telinga pria berjas hitam di sampingnya. Menguncang tubuh itu agar mau melepaskannya.


Sia-sia saja, orang-orang yang berasa di dalam mobil itu seperti manekin saja, diam tanpa suara.


"Kalian mau bawa gue kamana?"


"Gue bukan orang kaya, gue nggak punya apa-apa." teriak terus mengucang pria di sampingnya.


"Jika kalian kira Daren akan menebus gue dengan uang, kalain salah besar, suami gue itu pelitnya minta ampun, dia nggak bakal mau ngeluarin uang demi gue." rancau Fany.


"Gue hhmppttt." Tiba-tiba tangan kekar membekap mulut lebar Fany agar tidak mengeluarkan suara cempreng yang memekakkan telinga.


"Diam." bisik pria yang berada di belakang Fany.


"Kak Daren !!!!! Aku takut." teriak Fany melepaskan bekapan tangan kekar itu.


Cup


Pria itu mencium pipi Fany.


"Surprise." Teriak pria itu.


"Aku takut."


"Geser." Pria itu menyuruh Bodyguard agar menyingkir nyepil di belakang kursi kemudi, memberi ruang bosnya agar duduk di samping istrinya.


"Aku di sini sayang, udah jangan nangis." Daren merengkuh tubuh mungil istrinya menghiraukan beberapa pasang mata di dalam mobil itu.


"Ngapain coba, pake drama culik-culikan aku kan takut." lirih Fany memukul pelan dadan bidang Daren.


"Biir bidi iji giti." ejek Fany.


"Eh dosa ya ngejekin suami." Daren menyentil bibir Fany.


"Udah ah, aku kesal sama kak Daren, bikin jantungan tau." sungut Fany.


"Ya kalau nggak jantungan mati dong." canda Daren.


"Ais."


"Ngapain ngata-ngatain aku pelit tadi, hmm? Emang aku pelit ya? uang bulanan ngalir tiap bulan ke rekening kamu, Black card sama ATM aku kamu yang pegang. Masih bilang aku pelit?" Daren menaikan sebelah alisnya.


Daren yang niatnya mengerjai istrinya sampai ke tempat tujuan, di urungkan saat mendengar istrinya merancau dan berteriak mengatainya pelit, bisa hilang harga dirinya di hadapan bodyguard-nya.


"Ih aku kan cuma mau lepas dari mereka tanpa meras kamu, tau-taunya yang nyulik suami sendiri. Kalau aja aku tau, nggak bakal aku buang-buang tenaga teriak-teriak nggak jelas."


Daren tertawa kecil melihat Fany terus bercelote, terlihat mengemaskan di matanya.


Cup


"Gemes banget istrinya Daren." ucapnya setelah mengecup pipi Fany.


"Kak."


"Apa sayang?"


"Kita mau kemana?"


"Ke tempat yang menyenangkan."


"Iya, tapi kemana?" desak Fany.

__ADS_1


"Diam, Hmm."


Hening.


"Kak" lagi, Fany memanggil Daren yang sedang memejamkan matanya.


"Iya sayang."


"Kasian itu om nya nyepil di depan kakak." tunjuk Fany pada Bodyguard bertubuh kekar duduk menyamping di sela-sela tempat duduk.


"Biarin." jawab Daren acuh.


"Ais, Om sini duduk sama aku." panggil Fany menepuk-nepuk tempat di sampingnya yang sangat sempit.


Daren menatap tak suka pada Fany.


"Nggak papa bu, di sini nyaman." ucap Bodyguard itu saat melihat tatapan tajam Daren.


"Ih sini aja...ahhhh kok aku terbang." teriak Fany saat merasa tubuhnya terbang.


"Diam, aku nggak suka kamu bicara sama pria lain." ucap Daren mendekap Fany yang kini berada di pangkuannya.


"Duduk!" Titah Daren pada sang Bodyguard.


"Dih galak banget sih suami aku."


"Tidur, nanti aku bangunin kalau udah nyampe." titah Daren meneggelamkan wajah Fany di ceruk lehernya.


"Wangi." gumam Fany.


"Diam." titah Daren. Kalau tidak begitu, Fany akan terus berceloteh tidak jelas.


Bukannya diam, Fany menyembulkan kepalanya menatap Daren. "Kalau nggak mau?" tantang Fany.


"Aku cium." ancam Daren.


"Coba."


Salahkan mulut Fany karena berani mancing singa yang lagi tidur, lihat sekarang bibirnya di lahap habis oleh manusia yang menjelma sebagai suaminya.


"Ih malu di liatin orang." Fany mendorong tubuh Daren agar menjauh.


"Tutup mata kalian!"


Seperti boneka para Bodyguard menutup matanya, sedangkan sopir fokus ke jalan.


"Udah nggak ada yang liat, kita lanjut lagi."


"Aku ngantuk." Fany menengalamkan wajahnya di ceruk leher Daren.


"Untung sayang." gumam Daren ikut menutup matanya.


-


-


-


-


-


-


-


-


Lama nungguin ya?

__ADS_1


jangan lupa vote, komen, dan likenya.


...SELAMAT MEMBACA !!!...


__ADS_2