My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 35


__ADS_3

"Aku sudah mengenalmu bertahun-tahun, dan Aku tidak bisa merubahmu sedikitpun, kau hanya anak-anak yang meminta perhatian dari ibumu." ucap Elina santai.


"Kau hanya merasa sebagai ibuku?" Daren kesal, mendegar penuturan Elina.


"Tentu saja." sahut Elina santai.


"Terserah kau saja." kesal Daren.


"Hanya Fany satu-satunya orang yang bisa merubahmu, apa kau tidak merasakan itu? selama kau menikah dengannya kau banyak berubah Daren, apa mungkin kau mencintainya?" goda Elina menaik turunkan alisnya dengan senyuman nakalnya.


Pria itu hanya diam saja entah apa yang ada di pikirannya namun moodnya saat ini benar-benar hancur.


"Oh iya, apa kau tidak merayakan ulang tahun istrimu?" tanya Elian yang baru saja ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Fany.


"Buat apa aku merayakannya, dan bukankah ulang tahunnya masih minggu depan?" ucap Daren acuh.


Wanita itu tersnyum. "Fany hari ini ulang tahun." ucapnya.


"Tapi di dalam data-datanya itu minggu depan Elina." kesal Daren.


"Awalnya aku juga befikir seperti itu, tapi dia pernah curhat padaku bahwa saat pembuatan KTP ada kesalahan." jelas Elina.


Pria itu seketika gelisah, mengingat-ingat kembali bagaimana kelakuan Fany hari ini. Mulai saat ia mengatakan akan makan malam dengan Elina dan itu langsung membuat wajah istrinya berubah suram. "Ah pantas saja pagi tadi dia terlihat kecewa." batinya.


Pria itu merasa bersalah karena tidak mengigat ulang tahun istrinya sama sekali, dan merasa sangat bodoh, karena dengan lantang ia mengatakan pada Radit bahwa hari ini bukan ulang tahun istrinya. "Apa sebenarnya hubungan Radit dan Fany? kenapa ia banyak tahu tentang istriku." batinnya.


Istriku? sejak kapan Daren menggap Fany sebagai istrinya? apakah pria itu mulai jatuh cinta pada gadis kecil yang selalu menemaninya selama berbulan-bulan?


Ptia itu tiba-tiba bangkit dari duduknya. "Aku harus pergi !" ucapnya.


"Mau kemana? bukankah kita sedang merayakan hari anniversary persahabatan kita?" tanya Eina, walau ia paham betul Daren mau kemana.


"Masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan." Pria itu mencoba mencari alasan.


"Ah, jika itu untuk pekerjaan, aku tidak bisa mencegahmu." ucap Elina.


Sepeninggalan Daren, tawa Elina pecah.


"Dasar, apa kau sepolos itu? sehingga tidak menyadari bahwa kau sudah jatuh cinta pada istrimu? Daren-Daren." Elina hanya bisa geleng-geleng kepala mengingat kelakuan Daren.


"Aku ingin semuanya harus siap sebelum jam dua belas malam" perintah Daren pada seseorang di seberang telfon lalu .memutuskan sambungan telfonnya.


Pria itu buru-buru masuk kedalam apartemennya menemui istrinya.


"Fany ! Fan !" panggilanya namun tidak ada sahutan.


"Kemana dia pergi." gumam Daren.


Pria itu mencari istirnya kesegala penjuru ruangan namun belum juga menemukannya.


"Hah, Aku bela-belain pulang untukmu, tapi kau malah pergi entah dengan siapa." Daren senyum kecut.


Pikirannya sudah travelin kemana-mana, memikirkan istrinya tengah pergi dengan seorang pria untuk bersenang-senang.

__ADS_1


Prai itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Yon, lacak keberadaan Fany sekarang !" perintahnya.


"Bukannya kak Fany ada di rumah kak?" tanya Deon.


"Jika dia ada di rumah gue tidak akan mencarinya bodoh !" bentak Daren.


Itu pertama kalinya Deon mendengar bentakan Daren padanya, bosnya itu sering emosi namun tidak pernah semarah itu padanya.


Tidak menunggu waktu lama bagi seorang Deon untuk menemukan keberadaan Istri bosnya, baginya melacak seseorang adalah makanan sehari-harinya.


"Bagaimana, apa kau sudah menemukannya?" tanya Daren setelah menjawab panggilan masuk asistennya.


"Kak...kak...Fany." Deon ragu mengatakan di mana keberadaan Fany sekarang, karena ia tahu bosnya akan marah besar jika mengetahuinya.


"Di mana dia !" bentak Daren.


"Hotel xx lantai 6 no kamar 110, kamar itu di pesan oleh seorang lelaki, dan..."


Brak !!!


Belum selesai Deon bicara sudah terdengar suara pecahan di seberang sana, entah apa yang di lakukan Daren tapi itu membuatnya khawatir.


"Kak..."


Tut


Sambungan telfon terputus.


Pria itu memarkirkan mobilnya di depan hotel dan berlari masuk, bukan ke meja resepsionis untuk bertanya tapi ia langsung menuju tempat di mana istrinya berada sekarang.


Brak !!!


Tanpa membuang waktu Daren mendobrak pintu kamar hotel dan menampilkan istrinya tengah duduk di atas ranjang dengan tubuh di bungkus selimut.


Pria itu menatap tajam pada gadis yang tengah menangis di atas tempat tidur.


"Apa yang kau lakukan di sini hah !" bentak Daren dengan wajah memerah, suami mana yang tidak marah dan emosi melihat keadaan istrinya yang berantakan dengan tubuh bugil di balut selimut tebal.


"Hiks...hiks...hiks." bukannya menjawab tangis Fany semakin kencang mendengar bentakan suaminya, ia tahu sekarang pria di hadapannya sedang marah.


"Jawab !!!" bentak Daren.


"Ma...Maaf kan aku kak, hiks...hiks...hiks." ucap Fany dengan derai air mata.


Bugh !!!


Daren meninju tembok, membuat darah segar mengalir di tanganya.


Gadis itu menutup matanya dengan badan yang bergetar, ia semakin takut menghadapi kemarahan suaminya, ia tahu betul kesalahanya, Ia sudah mencorek nama baik pria itu.


Gadis itu mengeser duduknya hendak meraih tangan suaminya yang tekepal dengan darah segar yang mengalir.


"Katakan siapa pria itu !!" bentak Daren menepis tangan isrtinya, menatapnya dengan tatapan kilatan amarah.

__ADS_1


"Ak...aku tidak tahu, hiks...hiks...hiks..., bangun-bangun aku sudah di kamar ini." ucap Fany terbata-bata.


"Kak Daren !" panggil Deon dari luar yang baru saja datang, karena takut bosnya akan melakukan sesuatu di luar dugaan.


"Jangan masuk !" Sahutnya, walaupun ia sangat marah, ia tidak sudi jika pria lain melihat tubuh istrinya yang hanya di balut selimut. cukup orang asing yang tidak tahu siapa yang sudah melihat tubuh istrinya, bahkan dia saja belum pernah melihatnya.


"Maafkan Aku kak, aku tidak tahu apa-apa, hiks...hiks...hiks"


Gadis itu memeluk pinggang suaminya, meneggelamkan wajahnya di perus six pack suaminya. "Maafkan Aku, hiks...hiks...hiks."


"Di bagian mana dia menyentuhmu !" ucap Daren dengan nada berat, emosinya sudah sedikit mereda.


"Ak...aku tidak tahu kak." jawab Fany sesegukan.


Pria itu kembali terdiam, dan membiarkan Fany memeluknya walau ia masih engang untuk menyentuh istrinya. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Cari orang itu sampai ketemu !" perintahnya pada asistennya, Ia tidak akan membiarkan seseorang yang berani mengusik hidupnya apa lagi mempermainkan istrinya hidup bebas di luar sana.


"Baik kak."


Tut, Daren memutuskan sambungan telfonnya dan kembali menatap tubuh polos istrinya yang masih setia memeluk pinggangnya.


"Maafkan Aku kak"



Daren menahan amarah



Fany saat menangis


-


-


-


-


-


TBC


Terima kasih para Reader karena bersedia mengikuti cerita author.


jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.


Hay kakak-kakak tercinta, author potato juga ikut lomba You Are A WRITER season 5 loh.


Jika kakak-kakak tercinta suka dengan cerita author, jangan lupa dukung author dengan cara jangan biarkan vote nya kendor ya🙏😊.


Like dan komen kalian adalah semangatku😍🙏🥰🤭

__ADS_1


__ADS_2