
"Bukan itu masud gue."
"Lalu apa ?"
"Jika kak Daren mau kak Elina suka sama kakak maka belajarlah lebih dewasa dan tidak bersikap ke kanak-kanakan. Ubahla sedikit perilaku kakak."
"Emang kenapa dengan perilaku gue." ketus Daren.
"Nih orang udah di baik-baikkin malah ketus-ketus mulu, sabar Fany sabar ini demi dirimu sendiri." gadis itu membatin sembari mengelus-ngelus dadanya agar emosi tidak bisa menguasainya dan malah bertengkar dengan suaminya.
"Yang gue lihat, kak Daren itu dikit-dikit marah dan emosi dan melampiaskannya pada orang yang tidak bersalah berharap ada seseorang yang menenangkan kak Daren, jika marah mudah di bujuk dengan memberikan barang-barang yang kakak inginkan, cobalah ubah itu semua kak, semua itu sifatnya anak-anak. Anak-anak jika marah pengennya selalu di bujuk, dan jika marah akan mudah di taklukan hanya dengan sebuah mainan. Dan selama ini kak Daren seperti itu pada kak Elina." jelas Fany mengeluarkan semua yang ingin ia keluarkan.
"Jadi yang harus kak Daren lakukan adalah pertama, hindari mengungkapkan cinta kakak sesering mungkin pada kak Elin, karena itu bisa membuat kak Elina risih. Kedua, jangan mudah emosi dan berakibat kak Elina membujuk kakak lagi, bersikaplah sedikit dewasa."
"Hem baiklah, terimakasih atas sarannya, jika tidak ada lagi silahkan keluar gue ngantuk." usir Daren pada gadis muda itu.
"Selamat berjuang kak, semangat."
"Hem." hanya itu yang keluar dari mulut Daren.
...****************...
"Pagi kak." sapa Fany saat melihat suaminya keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapih.
"Hem." hanya itu yang keluar dari mulut pria itu.
"Gue duluan ya kak" pamit Fany meraih gagang pintu.
"Mau kemana?"
"Mau kerjalah !" gadis itu mulai ngegas.
"Bareng aja, lokasi syuting gue searah dengan butik tempat lu kerja." Daren menawarkan tumpangan pada istrinya.
Entahlah tidak ada yang tahu pria itu mimpi apa semalam kenapa tiba-tiba baik pada istrinya, padahal sebelum-sebelumnya Ia engang untuk satu mobil dengan gadis itu.
"Tumben nih manusia baik" Fany membatin merasa aneh dengan tingkah suaminya.
"Tapi dari pada gue naik angkot, mending ikut sama dia aja, itung-itung ngirit uang." batin Fany tersenyum.
"Mau ikut nga?" tanya Daren yang telah siap dengan sepatunya.
__ADS_1
"Iya." gadis itu berlari-lari kecil mengimbangi langkah kaki lebar suaminya memasuki lift.
sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara baik Fany maupun Daren, mereka larut dalam pikirannya masing-masing hingga tak terasa mereka telah sampai di depan butik yang terbilang mewah.
"Terimakasih, Assalamualaikum" gadis itu turun dari mobil suaminya tanpa menunggu pria itu menjawab salamnya.
20 menit telah berlalu akhirnya Daren sampai juga di lokasi syuting, tanpa istirahat, pria itu langsung saja melaksanakan pekerjaannya sebagai aktor karena sudah sedikit terlambat. Ya itulah Daren, walau sikapnya ke kanak-kanakan tapi Ia adalah pria pekerja keras, dan tidak ingin memanfaatkan ketampanannya saja.
Seorang wanita seksi menghampiri Daren setelah selesai dengan pekerjaannya. Wanita itu ikut duduk di samping pria itu dengan senyuman yang mengambang dan itu semakin membuat pria itu tergila-gila.
Namun pria itu mencoba menguasai dirinya dan bersikap acuh pada wanita itu, Ia akan menuruti apa yang di katakan istrinya saat sahur tadi.
"Kamu hebat bangetloh tadi, sampai-sampai pak Radit memujimu." Elina memulai pembicaraan, ya wanita itu adalah Elina wanita yang sangat di cintai Daren. "Sepertinya belakangan ini kalian punya hubungan baik" lanjutnya.
"Ya kami sangat dekat, sampai-sampai sama-sama gila jika sedang mabuk" batin Daren saat mengingat kekonyolannya malam itu, ya pria itu sedikit mengigat kejadian semalam saat ia mabuk.
Bahkan ia sadar bahwa wanita yang di peluknya malam itu dalah istrinya, pria itu hanya ingin tahu bagiamana reaksi gadis itu jika mengetahui bahwa dirinya menyukai wanita lain. Namun belum sempat ia bertanya terlalu dalam, Ia tertidur sakin nyamannya memeluk gadis itu.
"Dari mana saja kamu selama seminggu ini? apa kamu sesibuk itu sehingga tidak sempat membalas pesanku" Daren tidak mampu jika harus mengacuhkan wanita di sampingnya.
"Iya belakangan ini aku sangat sibuk mengurus perceraianku dengan Aby" jawab Elina sibuk dengan ponselnya.
"Sudah selesai?"
"Berarti kamu sudah bisa pacaran?" Daren memastikan, dan dalam hatinya ia sangat bahagia.
"Seperti itulah."
"Berati ak..."
"Oh iya aku lupa mengatakan sesuatu padamu, Aku pergi dengan seorang pria dan entah kenapa aku merasa nyaman dengannya." Ucap Elina dengan senyumnya.
Pari itu berhenti melangkah mendengar wanita yang di cintainya pergi dengan lelaki lain. "Pacar?" tanyanya penuh penekanan.
"Iya kenapa?" Elina pura-pura bodoh, walau ia sangat tahu pria di sampingnya sedang menahan amarah. Elina hanya tidak ingin menjadi wanita perusak rumah tangga orang apa lagi jika rumah tangga sahabatnya sendiri, apa lagi ia tidak punya perasaan sama sekali pada pria itu dan hanya menganggapnya sebagai adiknya, karena memang Elina lebih tua dari Daren namun kerap Ia memanggil pria itu dengan sebutan kakak.
"Kamu tahu sendiri aku cinta sama kamu, aku bahkan rela menunggumu selama tiga tahun, dan apa yang aku dapatkan ? bahkan jandamu pun tak aku dapatkan, apa segitu tidak menariknya aku padamu hah !" amarah Daren meluap seketika dan mengeluarkan semua unek-unerk yang di pendamnya.
"Sadarlah Daren, kamu itu sudah punya istri , dan seharusnya kamu mencintai istrimu bukan aku, apa susahnya kau berusaha mencintai istrimu !" bentak Elina dan mengingatkan pada pria itu bahwa ada wanita yang seharusnya di cintai pria itu.
"Aku tidak peduli itu, yang aku inginkan hanya kamu Elina !" suara Daren naik satu oktaf, untung saja mereka sedang ada di taman jadi tidak ada yang bisa mendegar pertengkaran mereka.
__ADS_1
"Hah tidak peduli? kau sungguh egois, apa kau tidak pernah memikirkan perasaan Fany?"
"Sudahlah berdebat dengamu hanya membuang waktu saja." lanjut Elina meninggalkan Daren dalam keadaan kesal dan penuh amarah.
"Elian aku mencintaimu !" teriak Daren.
"Ah sial, kenapa gue nga bisa mengendalikan diri gue jika di dekat Elina" Daren mengacak-acak rambutnya merasa gagal menjalankan misinya untuk merubah sikapnya.
Pria itu merogoh saku celananya dan mengambil benda pipih di dalamnya. Ia mengotak-atik isi kontaknya mencari nama seseorang yang akan di hubunginya.
***
Sementara di tempat lain, Fany sedang asik berbincang dan tertawa riang bersama Kirana.
"Ah gue nyerah Fan" Kirana meletakkan pensil di atas meja. Merasa lelah sedari tadi membuat sketsa tidak jadi-jadi padahal Fany sudah mengajarnya dengan telaten.
"Lah belum juga ada yang jadi udah nyerah" protes Fany.
"Lu mah pintar gambar jadi bilang gitu, lah apa kabar dengan gue yang tidak pintar gambar." keluh Kirana yang juga ingin seperti Fany pintar menggambar.
"Hem...hem...hem"
-
-
-
-
-
TBC
Terima kasih para Reader karena bersedia mengikuti cerita author.
jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.
Hay kakak-kakak tercinta, author potato juga ikut lomba You Are A WRITER season 5 loh.
Jika kakak-kakak tercinta suka dengan cerita author, jangan lupa dukung author dengan cara jangan biarkan vote nya kendor ya🙏😊.
__ADS_1
Like dan komen kalian adalah semangatku😍🙏🥰🤭