My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 36


__ADS_3

Gadis itu terus saja memeluk pinggang suaminya berharap agar pria itu bisa memaafkannya, walaupun ia sadar kesalahannya tidak pantas untuk di maafkan, laki-laki mana yang sudi menerima istri yang tidak suci lagi.


"Maafkan aku kak, hiks...hiks...hiks" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Fany.


Gadis itu tersentak kaget, saat tangan kekar itu mengelus punggungnya.


"Maafkan aku kak, hiks...hiks...hiks." suara tangis gadis itu semakin pecah, ia sangat takut jika tangan kekar itu memukulnya.


Tapi sunggu di luar dugaan, bukannya memukul, pria itu mengelus punggung istrinya dengan lembut, mendorong tubuh istrinya agar meregangkan pelukannya lalu Ia bersujud di hadapan istrinya agar posisi mereka sejajar, bukannya ekspresi amarah yang ia perlihatkan melainkan gurat raut penyesalan.


"Maafkan aku." lirih gadis itu.


"Jangan meminta maaf aku tidak suka kamu mengemis maaf, aku malu sebagai seorang suami yang tidak pernah memberimu kasih sayang dan juga cinta selama kita menikah, kamu itu wanitaku harusnya aku lebih mengerti bukannya egois memikirkan diri sendiri." ucap Daren lembut menghapus air mata yang membasahi pipi mulus istrinya.


"Kak." lirih gadis itu kembali memeluk suaminya, dan kini ia merasa lebih tidak pantas bersanding dengan Daren.


Entah melihat istrinya menangis membuatnya sakit dan juga emosi, ya pria itu emosi bukan karena istrinya sudah tidur dengan pria lain, karena ia tahu betul Fany tidak akan melakukan itu jika tidak di jebak, Ia emosi karena seseorang berani mempermainkan istrinya.


Pria itu tidak mempermasalahkan tentang kesucian atau apapun itu, dan bodohnya ia karena baru menyadari bahwa ia mencintai istrinya.


"Sudah jangan menangis lagi, atau aku akan marah lagi padamu." ucap Daren.


Pria itu melepaskan pelukannya dan sekali lagi menatap mata istrinya yang sudah membengkak karena menangis. "Bersihkanlah dirimu, setelah itu kita pulang" ucapnya dan berlalu keluar dari kamar.


15 menit telah berlalu, pria itu kembali masuk ke dalam kamar membawa sebuah paper beg yang di berikan Deon. Ia mendudukkan tubuhnya di sofa menunggu istrinya selesai membersihkan tubuhnya.


Sementara di dalam kamar mandi, gadis itu sangat gelisah, bagaimana ia bisa begitu bodoh membersihkan dirinya tanpa membawa baju ganti ataupun handuk untuk membungkus tubuhnya. Ia mengigit kuku jarinya mencoba mencari ide tapi nihil tak ada yang bisa di pakai selain selimut yang tadi di bawanya.


Tok...tok...tok.


Suara pintu di ketuk, membuat Fany semakin gelisah, pasti suaminya sudah lama menunggu.


"Fany !" panggil Daren yang mulai khawatir dengan istrinya sudah setengah jam ia menunggu tapi gadis itu tak menampakkan batang hidungnya.


"Iy...iya kak." Sahut Fany.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Daren.


"Aku...aku baik-baik saja kak, tapi..." Fany ragu untuk mengutarakan keinginannya.


"Tapi apa?" tanya Daren di depan pintu.


"Aku tidak tahu harus memakai apa." tariaknya, persetan dengan malu, yang penting ia sudah mengutarakan maksudnya dari pada harus tinggal di dalam toilet tersebut.


Kekehen kecil terdengar di luar pintu, menandakan pria yang sedang di luar sana tengah menertawakannya.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi, buka pintunya !" pintanya mengoda istrinya.


"Tidak." sahut Fany.


"Kau mau pulang tidak?" tanya Daren semakin membuat istrinya kesal.


"Mau." sahutnya.


"Ya udah ayo buruan buka !"


Tanpa menjawab, gadis itu membuka pintu kamar mandi dengan perasaan kesal, bersembunyi di balik pintu dan memunculkan kepalanya saja.


"Kenapa ?" tanya Fany.


"Nga apa-apa pengen liat aja." ucapnya santai dan dengan nakal ingin mengintip masuk ke dalam kamar mandi.


"Kak !" kesal Fany


"Iya, iya, galak amat sih, nih baju ganti untukmu" ucapnya memberikan paper beg pada istrinya.


"Kenapa nggak bilang dari tadi sih kak." kesal Fany.


"Lah kamukan nggak minta, sana cepat ganti baju atau mau aku yang pakein?" Daren kembali mengoda istrinya dan itu membuat Fany kesal.


Ya setelah memikirkan semuanya dan berdiskusi dengan asistennya Deon, ia memutuskan bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa- apa, ia takut jika ia memperlihatkan kemarahannya itu bisa membuat Fany tertekan dan mengakibatkan trauma.


Jika ada seseorang yang bertanya padanya bahwa apakah ia marah? jawabannya ya, ia sangat marah, marah pada dirinya sendiri, kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga istrinya, apa lagi setelah ia tahu bahwa ternyata pelakunya salah satu Fansnya yang tidak suka dengan Fany.


Ya Deon sudah menemukan informasi bahwa seseorang yang membawa Fany ke hotel adalah salah satu Fans bosnya, namun yang menjadi masalahnya, orang itu bagai di telan bumi, ini pertama kalinya Deon tidak bisa menemukan jejak seseorang mungkin ada yang sengaja menutupinya.


Sepanjang perjalan pulang, tidak ada yang membuka suara dan malah asik dengan pikirannya masing-masing. Fany yang biasa cerewet jika satu mobil dengan suaminya kini diam membisu, mungkin karena kejadian yang lalu masih tergiang-giang di pikirannya.


"Maafkan aku ya." Daren memecah keheningan.


"Kenapa kak Daren meminta maaf, seharus yang meminta maaf itu aku." jawab Fany.


"Sudah aku bilang, aku tidak suka jika kau mengemis maafku, jadi jangan pernah meminta maaf padaku." ucap Daren memperingatkan.


"Ini semua salahku karena Fans-fansku kamu jadi begini." lanjut Daren.


"Ini semua bukan kesalahan kak Daren, aku saja yang kurang hati-hati, walau aku sudah tahu banyak yang tidak suka padaku setelah menikah denganmu, setiap hari ada saja seseorang yang menerorku entah itu lewat chat ataupun lewat surat, tapi aku mengabaikannya, karena itu wajar bagi istri seorang yang terkenal." jelas Fany panjang kebar.


"Tapi aku tidak menyangka mereka akan berbuat nekad sampai sajauh ini." lirih Fany kembali bersedih.


"Aku tidak pernah berfikir sejauh itu saat satuju menikah denganmu." lanjutnya.

__ADS_1


Raut wajah Daren tiba-tiba berubah mendegar perkataan istrinya. "Apa kau menyesal menikah denganku? dan mau berpisah dariku?" ucap Daren, entah mengapa ada rasa sakit yang menjalar di hatinya mendegar perkataan Fany, yang sepertinya menyesal menikah dengannya.


"Bukan gitu kak, dan bagiku pernikahan itu hanya sekali seumur hidup." jelas Fany.


"Ah sykurlah." pria itu bernafas lega mendegar perkataan istrinya.


Keduanya kembali terdiam, dan sekali-kali Daren melirik istrinya yang tengah melamun entah memikirkan apa, dan terbesit ide gila di kepalanya.


Pria itu tanpa sadar menyunggikan senyumnya.


"Ngapain kak Daren senyum-senyum gitu?" tanya Fany penuh selidik.


"Ternyata cinta bisa membuat pikiran jadi tidak waras dan sedikit gila ya?" ucap Daren dengan senyuman mengodanya.


"Maksud kak Daren apa sih."


-


-


-


-


-


TBC


Readers : Kok mukanya muram gitu thor, ada apa?"


Author : iya nih, author sedikit murung, banyak yang like tapi nga ada yang komen, jadi malas up nya.


Readers : ya jangan gitu dong thor, aku janji dah bakal ningalin komen, asal auhtor rajin upnya.


Author : gitu dong😊.


Terima kasih para Reader karena bersedia mengikuti cerita author.


jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.


Hay kakak-kakak tercinta, author potato juga ikut lomba You Are A WRITER season 5 loh.


Jika kakak-kakak tercinta suka dengan cerita author, jangan lupa dukung author dengan cara jangan biarkan vote nya kendor ya🙏😊.


Like dan komen kalian adalah semangatku😍🙏🥰🤭

__ADS_1


__ADS_2