My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 64


__ADS_3

...Mencintai seseorang yang di cintai sejuta ummat, apakah harus sesakit ini? bisakah aku bertahan sampai akhir?...


...@Fany Palwinta...


Teman-teman Fany tersentak kaget saat melihat gadis itu masuk kedalam butik dengan senyuman, aneh memang.


Apa gadis itu tidak melihat poster dan juga coretan-coretan di depan butik? Di mana coretan berisi hinaan dan makian yang di lontarkan pada dirinya.


Kirana berlari menghampiri Fany di meja resepsionis, di ikuti karyawan lainnya dan juga bosnya.


"Fa...Fany lo ngapain kesini? bukannya kak Daren udah izin seminggu?" gugup Kirana, gadis itu sangat takut temannya bersedih.


Fany tertawa dengan renyahnya, aneh memang, tapi hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menutupi kesedihannya, ia tidak ingin orang-orang terdekatnya ikut bersedih, cukup dirinya saja.


"Kalian nggak usah khawatir gitu ih, orang gue nya biasa aja, lagian ya, makian sama hinaan mereka nggak mampan buat gue." ucapnya berpura-pura tegar.


"Beneran nih?" tanya Rina memastikan.


Fany menganggukkan kepalanya.


Pak wirawan selaku bos Fany, menepuk pundak gadis itu. "Kita percaya sama lo, lo pasti kuat ngadepin ini semua, kita akan selalu ada buat lo, jadi jangan sungkan kalau lo butuh kami." ucapnya menguatkan hati gadis itu.


"Iya Fan, kami siap bantu lo." timpal Kirana.


"Makasih ya."


Sungguh ia merasa beruntung mendapatkan teman-teman seperti mereka.


"Oh iya, saya hampir lupa, kalian bantuin lepasin pintu utama butik ya." pinta wirawan.


"Loh kok di lepas bos?" Fany mengernyitkan alisnya.


"Itu coretannya nggak mau hilang, jadi kita harus ganti pintunya." jelas wirawan berjalan ke pintu utama.


"Maaf, gara-gara gue kalian kena imbasnya juga." lirih Fany merasa bersalah karena masalahnya, butik tempatnya bekerja berantakan.


"Udah, pintunya juga udah tua, saya rencanya mau ganti tapi nggak ada waktu, mungkin ini waktu ya tepat." jawab Wirawan.


Brak


Mereka saling pandang, dan berlari keluar parkiran saat mendegar suara kegaduhan disana.


Fany membulatkan matanya, menutup mulutnya tak percaya saat melihat siapa pelaku keributan itu. Ia berlari dan melerai kegaduhan itu.


"Stop kak, udah!" cegah Fany menarik lengan suaminya agar berhenti memukuli seorang pria yang entah siapa. Ya pria yang membuat kegaduhan itu tak lain adalah Daren.


"Gua nggak suka seseorang ngehina istri gue di hadapan gue sendiri!" ucapnya datar menatap tajam pada pemuda yang tegah menahan kesakitan di seluruh tubuhnya.


Fany melepaskan cekalan pada lengan suaminya, lalu berjalan kearah pemuda itu untuk membantunya berdiri.


Dengan sigap Daren menarik lengan Fany. "Nggak usah bantu pria bren*sek seperti dia!" ucapnya.


"Tapi kak...."


"Lihat." Daren menunjuk dinding dan pintu butik yang di penuhi coretan-coretan. "Yang ngelakuin semua itu dia!" geram Daren menendang tubuh pemuda itu.


Jiwa bar-bar Fany muncul seketika saat mendegar perkataan suaminya, ingat? Fany bukanlah wanita lemah. Gadis itu menyeringai.


"Kak bawa di masuk, aku punya rencana!" perintanya.


***


Fany bersedekap di hadapan pemuda itu, setelah Daren mengikatnya di sebuah kursi.


"Siapa yang nyuruh lo!" bentak Fany.


Bukannya takut akan bentakan Fany, pemuda itu malah senyum mengejek ke arah gadis itu.


"Jawan gue!" bentak Fany.


Bugh

__ADS_1


Satu bogem mentah mendarat di wajah mulus pria itu, siapa lagi pelakuanya jika bukan Fany.


Teman-teman Fany hanya bisa bergidik ngeri dan mengeleng tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Seganas itu kah gadis di hadapannya ini?


"Fany." panggil Daren.


"Diam kak! dia bukan Fans kakak yang membenci gue. Gue yakin orang ini di suruh seseorang." yakin Fany.


Kirana melangkah mendekati Fany.


"Maksud lo?" tanya Kirana.


"Jika dia emang Fans kak Daren, nggak mungkin kan dia diam saja saat melihat kak Daren? jika dia Fans, dia akan gembira bertemu idolanya, namun ini tidak, dia bahkan terkesan tidak mengenal kak Daren sama sekali." ucap Fany.


"Ck, parah nih anak, nggak kenal gue, lo dari gua mana sampai-sampai nggak ngenalin gua hah!" kesal Daren.


Di saat genting seperti ini bisa-bisanya Daren malah mempermasalahkan itu.


Fany kembali melirik pemuda itu, mendekati pemuda itu dan bejongkok di hadapannya, mengarahkan sebuah gunting ke wajah pemuda itu.


"Jawab gue, atau gunting ini akan merusak tubuh lo." Ancam Fany memainkan gunting di hadapan pemuda itu.


"Mau apa lo!" tanya pemuda itu.


"Gue hanya ingin menguji ketajaman gunting ini, bagian mana ya yang gue gunting dulu? gimana kalau di bagian telinga dulu." Fany mengarahkan gunting ketelinga pemuda itu dan memainkannya di sana.


"Gu...gue di suruh seorang wanita." akhirnya pemuda itu membuka suara.


"Nama dan ciri-cirinya." pinta Fany.


"Gue nggak tau nama dan orangnya, gue hanya di perintah lewat chat." jujur pemuda itu.


"Mana ponsel lo?"


Dengan tangan gemetar pemuda itu menyerahkan ponselnya dan memperlihatkan perintah seseorang lewat chat.


Fany menerima ponsel itu dan melemparnya pada Kirana. "Ran lacak penguna akun aslinya!" perintah Fany di angguki oleh Kirana.


"Gue tadi ngeri tau liat lo." Rina membuka suara.


"Lah apa kabar dengan gue? tangan gue gemetaran tadi." jujur Fany.


"Lah kirain lo beneran mau motong telinga dia kalau nggak gomong." ucap Rina.


"Lo kira gue psikopat apa."


"Hmm." Daren berdehem cukup keras saat merasa dirinya di abaikan oleh istri tercinta.


Seketika Fany tersadar akan kesalahanya. "Kak, maaf." lirihnya.


"Maaf?"


"Maaf, aku keluar rumah tanpa meminta izin terlebih dahulu."


"Kak!" panggil Fany mengoyang-goyangkan lengan suaminya.


"Hmmm."


"Kak Daren marah? maaf." bujuk Fany.


Melihat Fany merengek dan mengerucutkan bibirnya, membuat Daren gemas, ingin rasanya ia melahap bibir istrinya itu.


"Aku tau, kak Daren ngelarang aku keluar rumah dan pegang hp karena nggak ingin aku sedih. Tapi aku bosan di rumah terus." Fany mencari pembelaaan.


Cup


Tanpa malu Fany mengecup pipi Daren di depan teman-temannya. "Udah jangan marah lagi ya?" bujuknya.


Sudah, pria itu tidak sanggup lagi mendiamkan istrinya, terlalu gemas jika di diamkan terlalu lama.


"Tapi janji nggak ngulangin lagi." ucap Daren.

__ADS_1


"Iya." ucap Fany dengan senyuman mengembang.


"Serasa dunia milik berdua yang lain cuma NGONTRAK." sindir Rina.


"Iri bilang bos." celetuk Fany.


Dert...dert...dert.


Daren mengabaikan panggilan masuk di ponselnya, dan terus merangkul tubuh mungil istrinya.


"Kok nggak di angkat?" tanya Fany.


"Nggak penting." jawab Daren.


"Tapi itu yang nelpon kak Elina loh."


"Tau." jawab Daren.


"Kak." Kesal Fany.


"Hmm, baiklah."


Daren kembali setelah menerima telfon dari Elina.


"Aku pergi dulu ya, ada rapat penting." pamit Daren


"Iya, hati-hati kak." Fany menganggukkan kepalanya.


"Jangain istri gue ya." titip Daren pada teman-teman istrinya.


"Ih, di kira aku anak TK apa." sungut Fany.


"Siap laksanakan." ucap Rina mewakili yang lainnya.


Belum melangkah terlalu jauh, Daren balik lagi menghampiri istrinya. Memiringkan kepalanya untuk mengecup bibir mungil istrinya, namun di urungkan saat melihat lingkungan sekitarnya.


Cup.


Daren mengecup kening Fany begitu lama.


"Aku pergi dulu ya." ucapnya dan mengacak-acak rambut istrinya.


"Gue nggak liat apa-apa kok." teriak teman-teman Fany menutup matanya.


Malu? jangan di tanya, sikap manis Daren tadi berhasil membuat pipi Fany bersemu merah.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


TBC


Ayo loh siapa yang nyuruh pemuda itu?


Jangan lupa ramaikan di kolom komentar ya !!!


Besok hari Senin loh, jangan lupa Vote nya ya !!!

__ADS_1


SELAMAT MEMBACA !!!


__ADS_2