
...Dunia lebih sering mendengar orang-orang yang berkuasa. ...
...-Penthouse-...
Byur
Siraman segelas air mampu membuat Andra terbangun dari tidurnya, menatap sayu pria berahang tegas di hadapannya.
Deon senyum miring, memperhatikan penampilan Andra yang acak-acakan apa lagi di bagian wajah yang penuh lebam, tentu saja itu ulah anak buahnya.
"Lemah amat." ledek Deon menedang kaki Andra.
Dia mengalihakan tatapannya keseluruh anak buahnya. "Lo nggak kasih makan dia?" Deon melirik Andra sekilas.
"Tidak pak." jawab anak buahnya.
"Minum?"
"Tidak pak."
"Bodoh, jika orang bren*sek ini mati gue nggak bakal memberi ampun pada kalian!" geram Deon.
"Maaf pak."
Deon menatap tajam Andra. "Mati hanya dengan kelaparan, itu hukuman yang sangat mudah untuk orang bren*sek seperti lo!"
"Lepasin gue, serahkan gue kepolisi!" Andra meronta, walau sekujur tubuhnya kesakitan.
"Polisi? lo kira gue sebodoh itu nyerahin lo kepolisi? Dunia lebih sering mendengar orang-orang yang berkuasa. Dan lo salah satu orang yang berkuasa, akan sangat mudah bagi lo untuk lolos."
"Lepaskan ikatan pada tubuhnya!" perintah Deon. "Memukul tanpa perlawanan sangat tidak menyenangkan."
Deon menghampiri Andra setelah ikatan pada tubuh pria itu terlepas.
Deon terus memberikan pukulan pada Andra, begitupun sebaliknya, hingga Andra benar-benar terkapar di atas lantai, tapi sebelum itu Andra mendartkan pukulan tepat di sudut bibir Deon.
Bugh
"Buat lo yang sudah membuang waktu gue selama berbulan-bulan."
Bugh
"Buat lo karena berani menyentuh Fany."
Bugh
Bugh
Bugh
"Buat lo karena membuat Daren kritis di rumah sakit." Deon mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
Byur
__ADS_1
Dia kembali menyiram Andra, agar kesadarannya tetap terjaga. "Gue belum selesai, jadi jangan pingsan dulu!"
Deon kembali menyuruh anak buahnya untuk mengikat tubuh Andra.
"Pukul gue Deon, bunuh gue sekalian!" teriak Andra tak kuasa menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
"Tanpa lo minta gue akan bunuh lo, tapi tidak sekarang. Mungkin besok, lusa atau satu minggu yang akan datang!" Deon menyeringai, menghampiri Andra, menarik dagu pria itu agar menatapnya, mencengkram rahang tegas Andra.
"Tapi sebelum itu, lo harus ngerasain bagaimana rasanya bertarung mempertahankan hidup dan mati, seperti apa yang lo lakukan pada Daren."
"Lo bukan manusia, lo iblis!!" teriak Andra terengah-engah.
Deon tertawa menyeramkan. "Bukannya lo udah tau itu sejak awal bahwa gue iblis berwujud manusia. Iblis yang selalu mengikuti pawangnya. Dan sekarang iblis itu hilang kendali setelah pawangnya hampir saja di bunuh di depan matanya sendiri!!" teriak Deon.
Brak
Deon menendang kursi di hadapannya memuat kursi itu terjatuh bersama Andra di atasnya.
"Nyawa lo tergantung kondisi Daren, jika Daren melewati kritisnya lebih cepat, makan siksaan lo juga akan cepat berlalu."
Setelah anak buahnya memperbaiki posisi Andra seperti semula, Deon berjongkok di depan Andra.
"Mau apa lo!" tanya Andra lemah, dan juga was-was.
"Gue baru saja nonton Drama korea, kalau nggak salah judulnya Vincenzo." ujar Deon memilin-milin jari-jari Andra. "Sepertinya menyenangkan mempraktekkan cara menyiksa dan membunuh dalam drama itu.
Andra reflek menarik tangannya, dia tahu betul bagaimana pemeran utama drama itu membunuh musuhnya. "Gue mohon langsung saja bunuh gue!" mohon Andra ketakutan.
Deon kembali menarik tangan Andra kasar. "Gue kasi lo pilihan, lo mau gue praktekkan yang mana? Saat dia menyiksa pembunuh ibunya? saat dia menyiksa wanita tua itu? atau saat dia membunuh laki-laki yang menembak orang yang dia cintai!" ujar Deon terdengar menyeramkan. Bahkan para anak buahnya begidik ngeri.
Deon mengambil tang di saku jas nya, lalu mendekatkannya pada salah satu jari Andra.
"Aaaakkkhhhhh." Teriak Andra kesakitan saat Deon berhasil mencabut salah satu kuku tangannya.
"Padahal belum seberapa!" seringai Deon, kembali mengulang aktivitasnya hingga kuku di jari-jari Andra terlepas semua.
Bukannya kasihan, Deon malah menikmati teriakan kesakitan yang keluar dari mulut Andra. Setelah melakukan aktivitasnya, Deon bangkit merapikan jas yang melekat pada tubuhnya.
"Obati lukanya, dan jangan lupa berikan dia makan dan minum, belum saatnya dia mati!" ujarnya lalu meninggalkan ruangan menyeramkan itu.
Deon menyungginkan senyumnya, merasa senang setelah menyiksa seseorang, sudah lama dia tidak menyiksa seseroang setelah dekat dengan Daren, pria itu berhasil membuatnya berubah.
Tapi jiwa iblisnya kembali berkobar saat melihat Daren tertembak di depannya.
***
Wanita paruh baya bejalan tergesa-gesa di lorong rumah sakit. Melangkahan kakinya masuk keruangan VIP.
"Assalamualaikum." salamnya
Fany menoleh ke asal suara. "Waalaikumsalam, bibi." Sapanya.
"Gimana kabar kamu sayang?"
__ADS_1
"Fany baik-baik saja Bi." jawab Fany sembari melirik Daren yang masih terbaring di atas brangkar rumah sakit.
Bibi Ajeng membimbing Fany duduk di sofa, dia sangat kasihan melihat keadaan Fany, dalam keadaan hamil besar dia harus mengalami masalah berat seperti ini.
"Udah ada perkembangan?"
Fany mengeleng tanda belum ada perubahan, kondisi Daren masih kritis, kini tubuh suaminya di penuhi alat-alat, akibat tembakan itu yang hampir mengenai jantunnya.
"Jangan sedih gitu dong, kasian anak kamu kalau maminya sedih." hibur bibi Ajeng mengusap lembuat perut Fany yang kini berumur 7 bulan.
"Udah makan?"
"Udah bi." jawab Fany.
"Oh iya, Ibu sama Anin nitip maaf, karena nggak bisa jengukin Daren kali ini."
"Nggak papa bibi, Kak Anin pasti kerepotan, mana Alana sedang aktif-aktifnya." Ujar Fany memaklumi kesibukan Anin. "Oma baik-baik saja kan bi?"
"Iya sayang Oma baik-baik saja." jawab Ajeng senyum.
"Fany kita pulang ya, kamu pasti capek, nanti Elvan yang jagain Daren di sini, kamu hamil sayang." bujuk Bibi Ajeng.
Ini bukan pertama kalinya bibi Ajeng menawarkan Fany untuk pulang istirahat di kediaman Adhitama sejak Daren di rawat. Namun wanita hamil itu tetap keras kepala ingin merawat suaminya sendiri.
"Fany nggak capek kok bi, lagian di sini juga kayak rumah kok, aku juga tidurnya bisa sama kak Daren." jawab Fany.
Ya Kevin mengusulkan ruang rawat VIP kelas atas demi kenyamanan Fany yang tetap kekeh ingin merawat Daren. Bahkan Kevin sengaja menyuruh seorang menganti brangkar menjadi tempat tidur yang lebih besar agar Fany bisa istirahat di samping Daren.
Bukan hanya kenyamanan Fany, tapi juga untuk keamanan Daren dari pada reporter yang haus informasi, apa lagi berita tentang Daren selingkuh belum juga di klasifikasi.
Bibi Ajeng menghela nafas panjang. "Yaudah, tapi tetap jaga kesehatan." pasrah Ajeng.
"Iya bi."
"Kalau ada apa-apa atau mau makan sesuatu, telfon saja Elvan atau Kevin mereka stanbay 24 jam."
Fany hanya mengaguk setuju, padahal Fany tahu betul bagaimana kesibukan dua orang itu, mengurus perusahaan Adhitama.
Mau menolak, dia tidak enak sama bibi Ajeng.
"Cucu Oma nggak rewelkan?"
"Nggak dong Oma, kan dede pintar." jawab Fany menirukan suara anak kecil.
"Udah tau jenis kelaminnya?"
"Belum bi, sengaja biar surprise pas lahiran."
"Nggak kakak, nggak adik, sama-sama punya bini yang suka kejutan. Padahal bibi pengen tau, cucu kedua bibi laki-laki apa perempuan." Cemberut bibi Ajeng.
Fany hanya tertawa kecil, dia merasa terhibur dengan kehadiran Bibi Ajeng.
...TBC...
__ADS_1
Part ini auhtor cuma bahas penyiksaan Andra dan betapa menyeramkannya Deon. Next Part Author bahas Daren and Fany ok.
Jangan lupa Spam komen di detik-detik terakhir cerita ini.