
Tanpa terasa hari begitu cepat berlalu, sudah sembilan bulan lamanya Fany menjalin hubungan dengan Daren. Tak pernah terbayangkan oleh Fany, bahwa ia akan bahagia menjalani pernikahnnya.
Pernikahan yang awalnya terjadi atas dasar kesepakatan, berakhir dengan bahagia. Ia tidak menyangka akan di cintai oleh seorang bintang terkenal yang tak lain idolanya sendiri.
"Fan, gue ada kabar baru loh." Kirana nyelonong masuk begitu saja ke dalam ruangan Fany, lalu duduk di hadapan gadis itu.
"Masih pagi Ran, nggak usah ngegibah." tegur Fany menghentikan aktifitasnya.
"Nanti aja pas makan siang." lanjutnya.
"Ck, Gila lo Fan, gue kira lo nggak minat gibah." Kedua gadis itu tertawa.
"Berita apa sih?" tanya Fany setelah menghentikan tawanya.
"Gue denganr Art Galeri bakal ngadain kompetisi bagi orang-orang berbakat dalam seni. Terutama di dunia mengambar." jelas Kirana dengan mata berbinar.
"Serius lo?" Fany tak kalah bahagianya mendengar berita itu.
Ini kesempatan baginya untuk meraih impiannya sebagai desainer sungguhan.
Kirana mengangguk antusias. "Dan lagi ya, katanya yang menang kompetisi itu, bakal dapat beasiswa." lanjutnya.
"Gila, gue harus ikut nih."
"Gue dukung lo, ini kesempatan lo, jangan sia-sia in begitu saja."
"Pasti." ucap Fany antusias.
"Pendaftaran dan penyerahan sketsanya dua minggu lagi, langsung di kirim ke cabang Art Galeri di kota ini aja." jelas Kirana.
"Kalau nggak salah CEO nya yang tampan itu ya? siapa namanya Mr..." Fany mengetuk-getuk dagunya dengan telujuk mencoba mengingat-ingat nama CEO tampan Art Galeri.
"Mr. Dilan Adreas." timpal Kirana.
"Iya itu, tapi nggak setampan CEO Angel Fasion." ucap Fany membandingkan kedua CEO tampan itu.
"Lah bukannya yang mimpin Angel Fasion seorang wanita ya? kalau nggak salah namanya tuh Anindira Maheswari?" protes Kirana.
"Tapi kan tetap saja Tuan Kevindra Adhitama CEO nya goblok."
"Ah iya, ya, gue lupa." Kirana mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Ekhem." sesorang berdehem membuat kedua gadis itu menoleh.
"Eh kak Daren?" Kirana cegengesan. "Gue balik kerja dulu ya" pamitnya dan di jawab anggukan oleh Fany.
Fany menyunggingkan senyumnya, melihat seorang pria di hadapannya.
Daren melangkah mendekat, menumpu badanya dengan salah satu tangan di atas meja dan tangan sebelahnya di masukkan kedalam saku celanya.
"Ngomongin apa sih, bahagia banget?" tanya Daren .
"Ini lagi ngomongin kompetisi, mengambar." jawab Fany jujur. "Boleh aku ikut?" tanyanya penuh harap.
Daren menyunginkan senyumnya, mengacak-acak rambut Fany. "Boleh, apapun yang penting kamu bahagia."
"Terimakasih."
"Udah lupa cara berterimakasih sama suami?" Daren menaikkan alisnya.
Fany yang mengertipun bangkit dari duduknya. "Terimakasih suamiku."
__ADS_1
Cup.
"Gitu kan?" tanya Fany setelah mengecup singkat bibir tipis Daren.
"Mulai nakal ya kamu."
"Nakal sama suami sendirikan nggak salah." Fany menaik turunkan alisnya.
Daren tak henti-hentinya tersenyum melihat tingkah mengemaskan gadis kecil di hadapannya.
"Nggak mau duduk dulu kak?" tawar Fany.
"Nggak, aku juga nggak lama kok, masih ada urusan." Jawab Daren.
Pria itu baru mengigat apa tujuannya kesini selain rindu pada istrinya.
"Terus?"
"Bentar malam kak Kevin ngadain syukuran atas kelahiran anak pertamanya, kamu mau datangkan?" tanya Daren.
"Mau banget, aku rindu sama kak Anin, pengen liat dede bayinya juga." ucap Fany dengan ekspresi mengemaskan.
Daren mencubit gemas pipi Fany. "Kamu mau dede gemes?" tanya Daren.
"Mau." jawab Fany antusias.
"Kita bikin sekarang aja gimana." bisik Daren di telinga Fany, membuat bulu kuduknya merinding seketika.
Fany mendorong dada bidang Daren agar sedikit menjauh darinya. "Nggak usah ngaur kamu, ini di butik." ucapnya malu-malu.
"Yaudah setelah pulang dari syukuran kita ternak kecebong lagi ya." goda Daren.
"Ais kak, udah sana masih ada kerjaan kan?"
"Iya." jawab Fany sekenaknya.
"Yaudah aku jemput kamu nanti jam empat sore." ucap Daren dan mengecup kening Fany.
Fany mengangguk. "Yaudah, hati-hati ya." gadis itu mencium punggung tangan Suaminya.
"Love you." ucap Daren
"Love you to kak Daren."
***
Jam tujuh malam, Fany sudah siap dengan dress simpel berwana nude namun terlihat sangat elegan.
Sekarang waktunya Fany mengurus baby besarnya yang sedari tadi menyurunya segera besiap-siap namun dia sendiri sibuk bermain ponsel.
"Katanya mau datang lebih awal, tapi kok belum di kancing juga itu kemeja." gerutu Fany.
"Nunggin kamu lah." jawabnya santai.
Pria itu melangkah mendekati istrinya yang tengah bersedekap dada di depan cermin.
"Untung sayang." ucap Fany sibuk mengancingi kemeja Daren, dan tak lupa memakaikan jas berwarna biru navi pada tubuh tegap pria itu.
Semantara Daren hanya sibuk memperhatikan wajah istrinya yang terlihat sangat cantik malam ini, dengan polesan make up tipis.
"Cantik baget sih istri aku." pujinya tanpa melepaskan tatapannya, bahkan kini tangannya menahan pinggang gadis itu agar tidak bergeser pada tempatnya.
__ADS_1
"Baru nyadar kalau aku cantik." ucap Fany pede membalas tatapan suaminya.
"Idih pede banget, siapa yang ajarin, hmm?" Tanya Daren megesek-gesekkan hidung mancungnya di hidung Fany.
"Ketularan sama kamu." jawab Fany dengan senyuman mengejeknya.
"Udah mulai berani kamu ya." Daren mengacak-acak rambut Fany.
"Ais kak Daren, kan jadi berantakan." kesal Fany namun terlihat mengemaskan di mata Daren.
"Gemes banget sih, jadi nggak rela di liat banyak orang." jiwa posesif Daren mulai keluar. "Gausah kesana ya, kita ternak kecebong aja di rumah." bujuknya.
"Is nggak mau, udah dandan cantik-cantik gini masa ia di tinggal tidur, kan rugi." gerutunya dan melangkah keluar dari kamar.
***
Setelah mengemudi beberapa menit, akhirnya Daren sampai di depan sebuah Hotel berbintang salah satu milik Adhitama.
Daren turun dari mobil, memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk sang istri.
Mengandeng tangan mungil gadis itu memasuki gedung yang telah di hias begitu indah dan elegan.
Fany mengedarkan pandangannya, memperhatikan setiap dekorasi pesta itu, berkali-kali ia berdecak kagum. "Baru syukuran aja udah semewah ini, gimana nikahan nanti." batinya.
Bukan hanya keluarga saja yang hadir, bahkan kolega-kolega bisnis Kevin juga hadir untuk menyaksikan kebahagian atas kelahiran anak dari pasangan termuda dan sukses tahun ini.
Tapi satu yang menganjal di pikiran Fany, sejak tadi ia memasuki pesta itu, tak ada satupun reporter yang meliput. Aneh, pengusaha sukses mengadakan syukuran sebesar ini untuk anak pertamanya namun tidak mengundang reporter satu pun, entah apa yang di rencanakan sang empunya acara.
"Mau langsung nyamperin Kak Kevin?" bisik Daren, karena di tempat itu sangat bising.
Fany mengangguk antusias, ia sudah tidak sabar melihat keponakannya, sudah di pastikan ia sangat cantik, melihat bibitnya yang sangat unggul.
Maklum Fany tidak sempat menjenguknya di rumah sakit, karena Daren sibuk pemotretan untuk iklan produk baru.
-
-
-
-
-
-
-
-
TBC
Duh Bang Kevin udah punya baby, bang Daren kapan nyusul ya?
Sekali lagi yang kepo tentang pasangan Anin dan Kevin bisa cek di novel author satunya lagi TERPAKSA MENIKAH.
Jangan lupa dukungannya.
__ADS_1
...SELAMAT MEMBACA !!!!...