
Daren menatap Fany dengan tatapan yang sulit di artikan. Rasa takut menyelimutinya, ia takut gadis di hadapannya akan pergi meninggakannya, karena kesalahannya.
"Tapi kenapa harus pergi? kamu bisa istirahat di kamar. Udah tengah malam nggak baik keluar sendirian." bujuk Daren tanpa melepaskan ngengaman tangannya.
Tidak mungkin Daren membiarkan istrinya pergi tengah malam seperti ini, itu akan membuatnya khawatir setengah mati.
Fany enggang menatap suaminya, rasa kecewannya terlalu dalam, ia butuh waktu untuk menenangkan diri.
"Apa ia kak Daren akan membiarkanku istirahat? melihat emosi kakak saat ini membuatku tidak yakin. Aku pegen sendiri, jadi biarkan aku pergi." Fany kembali menepis tangan Daren.
Bukannya menyerah, Daren berdiri di depan pintu menghadang agar gadis itu tidak pergi. Mendengar suara Fany yang terdengar lirih tidak seperti biasanya saat ia bertengkar membuatnya semakin kalut.
Itu bukan Fany yang ia kenal, Fany nya akan membentak atau memakinya jika sedang marah. Tapi sekarang berbeda.
"Biarkan aku sendiri."
Daren menghembuskan nafas kasar, mungkin mengalah lebih baik. "Oke, kamu pengen sendiri kan? kamu hanya tidak ingin melihatku untuk sementara waktu? kalau begitu biar aku saja yang pergi."
Daren kembali melangkah ke ruang tamu, menyambar kunci mobil dan juga ponsel di atas meja. "Jaga diri ya." ucapnya dan berlalu pergi.
Sepeninggalan Daren, Fany menumpahkan air matanya yang sedari tadi di tahannya, memukul dadanya menetralisir rasa sakit di hatinya. Hatinya bagai di remas oleh tangan tak kasak mata, perih itulah yang di rasakannya.
"Jahat kamu kak." lirihnya.
Rasa kecewa dan juga rasa bersalah bersarang di hati dan pikirannya. Kecewa kala mendengar hinaan dari orang yang sangat ia percaya dan cintai. Merasa bersalah karena membuat Daren pergi dari rumah.
***
Seorang pria dengan ragu turun dari mobilnya, kali ini ia menurunkan gengsinya demi tidur nyaman malam ini.
Pria itu berkali-kali memencet bel rumah seseorang dengan tidak sabar.
Ceklek
Tak lama kemudian pintu rumah terbuka menampilan pria bermuka bantal. "Ngapain lo kerumah gue? nggak punya jam loh ya? ganggu orang tidur aja." gerutunya.
"Ck, bacot lo." Tanpa permisi Daren menyelonong masuk begitu saja di rumah Radit.
Ya tamu yang bertamu tanpa sopan santun itu adalah Daren.
"Ngapain lo kerumah gue?" ulang Radit ikut duduk di hadapan Daren.
"Mau numpang tidur." Sahut Daren menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
Radit memiringkan kepalanya, menatap Daren dengan tatapan penuh selidik.
__ADS_1
"Lo bertengkar dengan Fany?" tanyanya.
"Bukan urusan lo."
"Kenapa?" Radit semakin penasaran.
"Gue cemburu liat dia tertawa dengan pria yang gue nggak kenal, Gue nuduh dia selingkuh, dan itu membuatnya marah. Puas? itu kan yang lo mau!" kesalnya menatap tajam Radit.
"Hanya itu?" Radit tidak percaya hanya itu yang membuat Fany marah. Yang Radit tahu, Fany bukanlah gadis yang mudah tersinggung dengan hal-hal seperti itu.
"Hmmm."
Hening itulah yang terjadi di antara mereka hingga Daren kembali bersuara.
"Lo punya minuman nggak?" tanyanya.
"Kebetulan Nathan baru beliin gue tadi." Radit beralih ke dapur mengambil miras yang baru saja di beli Nathan tadi.
Radit dan Daren kembali menikmati minuman haram itu bersama untuk ke tiga kalinya. Sembari mengobrol hal-hal penting hingga hal-hal konyol yang membanggongkan.
"Gue cemburu, gue takut dia akan ninggalin gue, gua takut dia akan berpaling dari gue." oceh Daren mencurahkan segela isi hatinya pada Radit, entah sadar atau tidak hanya ia yang tahu.
Radit menepuk-nepuk pundak Daren, mereka tidak lagi saling berhadapan tapi saling sandar layaknya sepasang kekasih di mana Daren bersandar di pundak Radit.
"Dia adalah jenis orang yang nggak mudah jatuh cinta. Ketika dia memilih, maka dia benar-benar cinta. Dia bukan gadis setengah berhati, dia istimewa dan punya cinta yang luar biasa. Tidak mudah memilikinya, dia butuh di yakinkan setiap hari. Bukan dia tidak percaya, itu karena dia sangat berhati-hati dengan siapa dia menjadi. Sebab, ketika Dia berkata 'Iya' maka lo akan mendapatkan seluruh tentang hidupnya. Hati-hati, hatinya penuh luka, sekali saja lo membuatnya merasa tak percaya, semua diulang kembali seperti awal." Jeda Radit.
Hening
Daren bergeming di tempatnya, ucapa Radit barusan bagai tamparan untuknya, tidak seharusnya ia melontarkan kata-kata menyakitkan itu pada istrinya. Bodoh, sekarang ia menyesali kesalahannya, bahkan untuk sekarang ia tidak berani menemui Fany, mungkin menuggu gadis itu menyuruhya pulang baru dia akan pulang.
"Gue memang bodoh, nggak seharunya gue ngomong gitu ke dia." lirih Daren kembali menyesap minuman haram di hadapannya.
"Memangnya lo ngomong apa ke dia?"
"Gue udah ngerendahin harga diri dia, gue bentak dia dan maki dia, menyebutnya wanita murahan."
Bugh
Bogem mentah tepat mendarat di wajah Daren membuat sudut bibirnya robek dan mengelurkan darah.
"Brengsek lo, gue bahkan nggak pernah bentak dia, dan lo dengan beraninya bentak dia ! sekali lagi gue dengar lo bentak dia gue bunuh lo dengan tangan gue sendiri!" ancam Radit. Ia tidak terima gadis yang selama ini ia jaga malah di bentak orang lain, baik itu suaminya sekalipun.
Daren mengusap sudut bibirnya, tanpa membalas pukulan Radit, bukan karena ia takut, tapi ia sadar ia patut mendapatkan itu.
"Lo di usir dari rumah?" tanya Radit.
__ADS_1
"Gue nggak di usir ya, gue yang pergi dari rumah dengan suka rela." Enaknya aja pikir Daren.
"Ngaku aja lo, lo di usir kan? makanya lo nemuin gue."
"Nggak usah ke geeran lo." sungut Daren, kepalanya sudah sangat pusing mungkin akibat banyak minum.
"Ya kali aja lo nemuin gue setelah di buang sama Fany." Radit mulai ngelantur tidak jelas.
"Gue masih waras goblok." Daren menyikut perut Radit. Ya setelah cekcok tadi, mereka kembali ke posisi awal di mana Daren bersandar di pundak Radit.
"Ya kali lo suka sama gue?
"Ih na*is."
Keduanya tetus berdebat, hingga kini mereka saling berhadapan, Daren tersenyum miring dan mengambil kaca mata yang melekat di hidung Radit. Lalu mengantinya dengan kaca matanya.
"Liat lo lebih tampan pakai kaca mata gue." Daren menepuk-nepuk pipi Radit.
Radit juga tak mau kalah, ia mengambil kaca matanya dan memakaikannya pada Daren. "Lo juga cantik pakai kaca mata gue." balasnya dan mucubit pipi Daren.
"Hahahah." Kaduanya tertawa.
Mungkin jika ada yang melihat mereka, dia kan mengira mereka adalah pasangan gay. Tapi itulah Daren dan Radit, pria dewasa yang bertingkah konyol dan mengemaskan jika dalam pengaruh minuman haram.
-
-
-
-
-
-
-
-
TBC
Author mau nanya kalian ada di pihak mana, Fany apa Daren? siapa yang patut di salahkan disini? jika Daren, mau nggak ya Fany maafin Daren?
Yok Ramikan di kolom komentar.
__ADS_1
Ayo dong buat author semangat dengan Vote, like, dan komen kalian.
...SELAMAT MEMBACA !!!...