
...Bahagia itu sangat sederhana, mensyukuri apa yang kita punya sudah cukup membuat bahagia...
...@Fany Palwinta...
...WARNING !!!...
...PART INI MEMGANDUNG KE UWUAN...
...Harap para jomblo untuk bersabar, jika anda baper author tanggung jauh😁....
Karena pak Wirawan tidak masuk hari ini, terpaksa Fany masuk kerja. Dan disinilah gadis itu berada di sebuah ruangan dengan berkas-berkas dan laptop di hadapannya, mengurus pesanan-pesanan pelanggan dan juga khas keluar dan khas masuk butik.
"Ahh, akhirnya selesai juga." gadis itu meregangkan otot-otonya yang terasa kaku duduk berjam-jam.
Tok...tok...tok.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Fany.
"Masuk !" perintahnya.
Ceklek
Kirana masuk dengan senyuman mengambang.
"Ah elah kirain siapa, pake ketok pintu segala." ucap Fany saat melihat Kirana masuk.
"Ck, siapa tau lo lagi sibuk gitu." jawab Kirana.
"Kenapa?" tanya Fany to the point.
"Itu ada mas paket nyariin lo."
"Loh? perasaan gue nggak pesan apa-apa deh hari ini." Fany mengrutkan keningnya.
"Mana gue tau, tapi dia nyariin loh tuh, mending lo kebawah dulu." perintah Kirana di jawab anggukan oleh Fany.
***
"Dengan nyonya Fany?" tanya mas paket.
"Iya." jawab Fany.
Kurir tersebut menyodorkan buket bunga mawar merah pada Fany.
"Maaf anda kayaknya salah alamat deh, persaaan saya nggak mesan buket bunga." tolak Fany.
"Tapi nyonya alamat dan nama sudah cocok."
"Pengirim?" tanya Fany.
"Tuan Daren Danuwinarta, nyonya." jawab mas paket.
Tanpa terasa senyuman terbit begitu saja di bibir munggil Fany, ah rasanya begitu bahagia di perlakukan seperti ini, walau hanya sekedar bunga tapi itu membuat perut Fany seperti di gelitik ribuan kupu-kupu.
"Ah begitu." Fany menerima buket bunga mawar merah itu dan menandatangani kertas tanda terima.
Gadis itu kembali masuk kedalam butik dengan senyuman yang tak pernah surut dari bibirnya, membuat Rina dan Kirana saling pandang.
"Hem, ada yang lagi bahagia nih." goda Kirana.
"Duh dapat bunga dari mana tuh." Rina ikut menggoda.
Yang di goda hanya terdiam karena malu.
"Ih pertanyaan lo mah nggak guna tau nggak, ya jelas-jelas dari suami tercinta dong." goda Kirana menaik turunkan alisnya.
"Ck, namanya juga basa-basi." kesal Rina.
Begitulah kedua teman Fany, saling melempar perkataan pedas, namun hanya nyangkut di telinga tanpa masuk di hati.
"Udah ngaku aja kalian iri yakan?" Fany menaik turunkan alisnya.
"Is lo mah gitu, udah tau kita jomblo, ya irilah." sungut Rina.
"Bwhaaaaaa." tawa Fany dan Kirana pecah melihat reaksi Rina.
"Ih pengen deh punya suami kayak kak Daren." ucap Kirana berangan-angan.
"Ck,ya nikah lah." timpal Rina.
"Ais lo mah nyebelin." kesal Kirana.
"Biarin." ledak Rina.
Tanpa mereka sadari ternyata si pemicu perdebatan sudah hilang entah kemana.
***
Fany memperhatikan buket bungan kiriman Daren dan tak sengaja menemukan secarik kertas di sana.
__ADS_1
...Semangat kerjanya istirku yang cantik...
...Dari Suamimu yang sangat tampan....
Pipi gadis itu terasa panas, sudah di pastikan pipinya sekarang memerah seperti kepiting rebus, untung saja di ruangan ini cuma sendirian.
"Akhhh, kok gue jadi baper gini sih." lirihnya.
Dert...dert...dert.
Dering ponsel Fany membuatnya tersadar dari khayalannya yang sedang traveling entah kemana. Dengan sigap gadis itu menjawab panggilan dari seseorang yang baru saja membuatnya baper setengah mati, ya anggap saja Fany lebay tapi itulah kenyataannya.
"Hem" gadis itu berdehem menetralkan degup jantungnya sebelum menjawab panggilan suaminya.
" Assalamualaikum Kak."
" Waalaikumsalam, udah di terima belum bunganya?"
"Udah." jawabnya sembari menganggukkan kepalanya. Ah dasar bodoh kenapa ia mengangguk padahal Daren tidak akan melihatnya.
"Suka?"
"Banget." ucapnya dengan nada manja.
Daren terkekeh geli mendegar suara manja istrinya, jika saja gadis itu ada di sampingnya mungkin sudah ia cium habis-habisan. Ah sekarang ia jadi rindu.
"Kak!"
"Iya sayang."
Cukup, Fany sudah lemas di buatnya, apa lagi saat mendegar suara lembut pria itu.
"Udah ah, aku matiin ya."
"Eh, main pengen matiin aja, bilang apa dulu."
"Makasih."
"Gitu aja?"
Fany menghela nafas, ia tahu apa yang di maksud suaminya.
"Terimakasih suamiku."
"Sama-sama istriku."
Tut.
***
Fany dan teman-temannya akhirnya bisa bernafas lega, setelah kerepotan hingga jam tujuh malam hanya untuk melayani pelanggan. Karena memang butik tempat mereka bekerja semakin terkenal setelah Fany menikah dengan Daren.
"Nggak pa-pa nih kita tinggal." tanya Kirana.
"Udah santai aja." jawab Fany.
"Yakin nih?" Tanya Rina.
"Udah buruan sana, keburu ketinggalan bus baru tahu rasa lo." Fany tertawa kecil.
"Yaudah kita balik ya." pamitnya.
Sepeninggalan teman-temannya, Fany duduk lesehan di depan butik, menunggu kedatangan suaminya.
"Hem, cantik, sendirian aja nih." tegur seorang pria.
Pria itu mencolek dagu Fany, dan menaik turunkan alisnya.
"Ais, apaan sih nggak usah pegang-pegang ih." Fany menghempaskan tangan pria itu.
"Loh kok ngambek!" pria itu kembali mencolek dagu Fany.
"Stop!" sentak Fany.
Pria itu menyengir tanpa dosa dan malah mengandeng tangan mungil gadis itu.
"Dih di godain gitu aja ngambek." cibir Daren. Ya pria yang sedari tadi mengoda Fany tak lain adalah suaminya sendiri.
"Ngagetin tau nggak, untung jantung aku nggak copot tadi." gerutu Fany.
"Maaf." Daren mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Mobil kak Daren mana?" Fany mengedarkan pandanya mencari keberadaan mobil Daren namun tak menemukannya.
"Di depan dekat halte." jawabnya.
"Kok gitu?"
"Ya mau aja."
__ADS_1
"Tapi kenapa?"
"Pengen jalan sama istri tercinta sambil gandengan tangan." Daren mengakat tangan beserta tangan Fany yang ia gengam.
***
Gadis itu berkutat di dapur, mengumpulkan bahan-bahan apa saja yang ia butuhkan untuk makan malam.
"Udah nggak usah masak, kamu pasti capek." cegah Daren.
"Udah nggak pa-pa lagian ini udah kewajiban aku." jawab Fany tanpa menatap suaminya yang tengah duduk di meja makan.
"Kak Daren mau makan apa?" tanyanya.
Grep
Daren memeluk istrinya dari belakang, meletakkan dagunya di pundak sang istri.
"Apa aja, semua terasa enak jika kamu yang buat." jawab Daren.
"Yaudah sana." usir Fany.
Cup
Daren mengecup leher istrinya yang terlihat mengoda dengan rambut yang di cepol asal-asalan.
***
Setelah makan malam, keduanya memutuskan untuk istirahat di dalam kamar.
Daren menghampiri istrinya yang tengah nonton drakor di atas tempat tidur. Memeluk pinggang ramping itu dari samping.
"Sayang." panggilnya manja.
"Hmm." gumam Fany masih fokus pada layar laptop.
"Udah dong nontonnya, dari tadi aku di cuekin mulu." keluh Daren.
Fany memutar mata jengah, mem pouse drakornya dan menatap suaminya yang tangah bermanja padanya.
"Terus mau apa?" tanya Fany.
"Hak Aku."
"Deg" ini yang di takutkan Fany, ia takut Daren meminta haknya sebagai seorang suami, ia belum siap dengan semuanya. Belum lagi jika mengingat bahwa dirinya tidak suci lagi. Bukan apa-apa gadis itu takut mengecewakan suaminya, walau Daren tak mempermasalhkan itu.
Gadis itu diam seribu bahasa, membuat Daren menghelas nafas pasrah.
"Nggak usah di pikiran, aku juga nggak maksa, aku tahu kamu belum siap." Ada gurat kekecewaan dalam nada bicara Daren.
"Maaf." lirih Fany.
"Udah nggak pa-pa."
"Kak." panggil Fany.
"Hmm."
Ternyata benar dugaannya, suaminya sedang ngambek.
"Kamu ngambek?" tanya Fany sembari membuat pola abstrak di punggung polos suaminya.
"Aku harus apa supaya kak Daren nggak ngambek?" lanjutnya.
Daren senyum penuh kemenangan, Ia sebenarnya tidak ngambek, ia tahu istrinya belum siap. Pria itu hanya ingin mengerjai istrinya.
"Nyenengin hati aku malam ini." Daren menyeringai.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
TBC
Ya gagal Lagi deh, Ternak Kecebongnya, yang sabar ya bang Daren.
__ADS_1
Jangan lupa Vote, komen dan likenya teman-teman.
...SELAMAT MEMBACA !!!...