
"Kak ayolah!" bujuk gadis itu sebelum suaminya berulah, melihat cara bicara suaminya saja sudah dapat di duga, pria itu tidak bisa mengendalikan dirinya dan bisa saja merusak reputasinya sebagai seorang Idol.
"Bentar lagi yang, mumpung kita lagi ngumpul, ya nga bro !" Daren menepis tangan istrinya lalu melayangkan tangannya di udara memberikan tos pada bos istrinya yang juga sudah mabuk berat.
Bukan Daren dan bos Fany saja yang mabuk, bahkan Kirana dan juga Rina, sudah tidak bisa bangkit dari duduknya sakin mabuknya.
Namun lain hal dengan Nara, gadis itu tidak mabuk sama sekali, dan hanya terus memandangi Daren, dengan tatapan yang sulit di artikan, entah apa yang ada di dalam pikirannya hanya ia yang tahu.
Fany merangkul tubuh kekar suaminya dan menariknya mendekat, gadis itu menempelkan bibirnya di telinga suaminya mungkin yang melihat adegan itu mengira Fany sedang mencium suaminya.
Dan benar saja, Nara mengepalkan tangannya, kesal? tentu saja kesal dan juga cemburu melihat Idolanya di cium oleh seorang wanita, walau gadis itu tahu sendiri yang mencium Idolanya, istrinya sendiri.
"Lu yang bilang sendiri kita hanya makan saja, setelah itu pergi, kenapa lu malah ingin tinggal lebih lama." bisik Fany berusaha menyadarkan suaminya masih dengan posisi yang sama.
"Lihat dirimu....."
"Kak gue nge fans banget loh sama kak Daren." Kirana tanpa malu memisahkan keduanya dan memotong perkataan temannya.
Fany membuang nafas panjang kesal, namun tidak bisa berbuat apa-apa, ingin rasanya gadis itu memaki pria di sampingnya, namun segera di urungkan mengingat situasinya yang tidak memungkinkan.
"Ayo kita berfoto kak, gue ingin mengabadikan momen ini." Kirana mengarahkan kamera ponselnya dan beriap selfi dengan Idolanya walau dalam keadaan mabuk dan tak mampu lagi mengengam ponselnya.
"Iya kita harus mengabadikan momen ini." Daren menyetujui begitu saja permintaan teman istrinya, khas orang mabuk.
"Cukup kak !!!" tariak Fany tak tahan lagi menghadapi situasi seperti ini. Gadis itu mendorong tubuh suaminya agar menjauh dari temannya. Ia tidak bisa membayangkan jika fofo selfi suaminya yang hampir saja mencium temannya tersebar di media sosial.
"Bagaimana kalau kita ke tempat karaoke." usul Daren tak mengubris kekesal istrinya.
"Setuju !" semua bersorak kecuali sang gadis muda yang sejak tadi di buat kesal oleh suaminya.
"Tidak, acaranya sampai disini saja !" Fany tidak setuju dengan usulan suaminya, yang gadis itu inginkan adalah segera pulang kerumah.
"Ayolah yang, bukankah kau sendiri yang memintaku datang, jadi kita habiskan malam ini bersama mereka." Daren merangkul pundak istrinya dan berjalan sempoyongan keluar dari restoran di ikuti yang lainnya, tujuan mereka saat ini adalah tempat karaoke.
Sebelum keluar dari ruangan VIP, Fany memakaikan masker, topi, dan juga kaca mata untuk suaminya dan juga dirinya.
Sungguh kehidupan seorang Idol tak semudah yang kita bayangkan dan lihat, perjuangannya begitu berat dan penuh liku. Mengorbankan sebagian waktunya hanya untuk agansinya, belum lagi paparazi selalu mengusik kehidupannya, membuat siapa saja akan waspada dengan berbagai hal.
Fany keluar dari ruang karaoke tanpa sepengetahuan suaminya yang sedari tadi asik bernyanyi bersama dengan bos dan teman-temannya.
__ADS_1
Daren sudah sangat lelah bernyanyi dan juga joget sedari tadi, berjalan sempoyogan karena kakinya tidak mampu lagi menjaga keseimbangan tubuhnya.
Nara yang melihat itu tidak membuang kesempatan menghampiri Daren, dan memeluk lengannya seakan terkesan ia sedang membantu pria mabuk itu.
pria itu berhenti melangkah saat merasakan seseorang memeluknya, Ia menatap gadis di sampingnya lalu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan namun yang di carinya tak terlihat di ruangan itu.
"Kak Daren, ayo duduk dulu kau pasti sangat lelah." Nara mengelus dada bidang pria itu tanpa malu dengan suara mengoda.
Pria angkuh itu sekarang tidak punya hati mendorong tubuh semampai gadis yang berani menyentuhnya, sehingga gadis itu tersungkur kelantai.
"Di mana istriku." Daren berjalan sempoyongan menuju pintu, berniat mencari istrinya yang sedari tadi tak terlihat di ruangan itu.
Nara tak menyerah begitu saja mengoda Daren, Ia kembali merangkul lengan kekar pria itu. "Dia tidak pantas untukmu, pergilah denganku saja." rayunya.
Sekali lagi Daren meghempaskan tubuh gadis pengoda itu ke lantai dan menatapnya begitu tajam. "Apa kau mengira kau lebih pantas darinya? dasar wanita jal*ng" bentaknya lalu melangkah keluar mencoba mencari istrinya walau dalam keadaan mabuk.
Semantara di tempat lain, Fany sedang asik bercerita dengan seorang pria yang tidak sengaja ia temui saat dari toilet.
"Kak Radit ngapain di sini ?" tanya Fany.
"Oh tadi gue habis ketemu teman lama, kalau kamu ngapain di sini ?" Radit balik nanya.
"Sayang ternyata kau disini." Panggil seorang pria berjalan sempoyongan menghampiri istrinya. Pria itu langsung memeluk istrinya. "Kenapa kau pergi tanpa memberitahuku yang, bagaimana jika aku merindukanmu." Lanjutnya.
"Apa pria angkuh ini sering bertingkah seperti ini jika sedang mabuk? ah yaampun kenapa dia terlihat seperti orang gila jika sedang mabuk." Fany membatin memperhatikan suaminya yang sedang menatap Radit tanpa berkedip.
"Kau pak Radit kan? kebetulan kau ada di sini." Daren menyeringai melepaskan pelukannya pada tubuh istrinya dan melangkah mendekati Radit.
"Kak apa yang lu lakuin, lepaskan kak Radit !" pinta Fany saat melihat suaminya memeluk Radit dari belakang dan menyeretnya masuk ke dalam ruang karaoke.
"Lepaskan gue goblok." Radit meronta-ronta ingin di lepaskan.
"Ayolah pak Radit, ini saatnya kita mengakrabkan diri." Daren semakin mengeratkan pelukannya, membuat pria yang berada di pelukannya sesak nafas.
Bukannya prihatin melihat Radit tersiksa gadis itu malah tertawa, merasa konyol melihat kelakuan pria tampan di hadapannya. Gadis itu mengikuti suaminya masuk kedalam ruang karaoke.
Dan benar saja Radit di kerjai habis-habisan oleh aktornya sendiri, pria itu malah ikutan mabuk dan gila-gilaan bersama orang-orang yang ada di dalam ruangan itu, hanya Fany dan Nara yang masih waras dalam ruangan itu.
Fany yang tadinya senang melihat tingkah kedua pria tampan itu, kini di buat kesal, bagaimana tidak kedua Pria tampan itu menariknya dan menyuruhnya bejoget bersama.
__ADS_1
"Cukup !!" Fany mengacak-acak rambutnya sendiri merasa frustasi dengan tingkah kedua kakaknya.
"Sayang kau kenapa ?" tanya Daren tanpa dosa dan malah menertawakan penampilan istrinya. "Ha...ha...ha lihat penampilanmu, kau seperti nenek lampir." tawa pria itu mampu membuat istrinya hilang kendali.
Satu persatu teman-taman Gadis itu pamit pulang dan menyisakan Radit dan juga Daren di dalamnya.
"Mak lampir ya !" ucapnya penuh penekanan. "Ayo pulang !" gadis itu menjewer telinga suaminya dan menariknya keluar dari ruang karaoke menuju mobilnya.
"Sakit yang" Daren mengelus telinganya setelah berada di dalam mobil.
Gadis itu menghiraukan gerutuan suaminya dan mengambil ponselnya lalu menghubungi adiknya Nathan. "Assalamualaikum Than, datanglah ke jalan xx jemput kak Radit sekarang !" perintah gadis itu tanpa memberi jeda adiknya untuk menjawab salamnya sakin kesalnya menghadapi dua Pria di samping kiri dan kanannya.
"Waalaikumsalam, kenapa dengan kak Radit kak ? Dan kenapa dia bersama kak Fany ?" tanya Nathan, karena yang dia tahu, bosnya itu sedang pergi bersama teman lamanya.
"Ceritanya panjang, jadi cepatlah datang !" peritah Fany.
"Baiklah kak, Assalamualaikum." Nathan memutuskan sambungan telfonnya.
-
-
-
-
-
TBC
Terima kasih para Reader karena bersedia mengikuti cerita author.
jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.
Hay kakak-kakak tercinta, author potato juga ikut lomba You Are A WRITER season 5 loh.
Jika kakak-kakak tercinta suka dengan cerita author, jangan lupa dukung author dengan cara jangan biarkan vote nya kendor ya🙏😊.
Like dan komen kalian adalah semangatku😍🙏🥰🤭
__ADS_1