My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 97


__ADS_3

Jadwal pemotretan sore ini membuat Daren mau tidak mau, menghentikan aktivitasnya mencari keberadaan Fany, dan menyerahkan semuanya pada Deon.


Walau dalam keadaan kacau dan pikiran berantakan dia tetap melaksanakan pekerjaannya sebagai model walau senyum yang dia perlihatakan tak setulus biasanya membuat fotografer kewalahan.


"Istirihat dulu." seru fotograper.


Daren melangkah malas menuju meja rias, memasrahkan diri saat MUA memulai aksinya di sekitar wajahnya.


Lama Daren berdebat dengan fotografer hingga sesi pemotretan selesai saat malam menjelang.


Daren melangkah malas masuk kedalam apartemennya, bayangan-bayangan Fany memenuhi rumahnya.


"Kak Daren udah pulang?"


"Makan dulu gih."


"Kak Peluk."


Dan banyak lagi bayangan-bayangan Fany yang dia lihat di rumah ini. Langkahnya terhenti di depan kamar saat melihat amplop coklat tergeletak di lantai.


Daren memeriksa isi amplop itu, meremasnya kuat-kuat setelah mengetahui isinya. Surat perjanjian yang seharusnya di bakar sejak dulu kini sudah di bubuhi tanda tangan Fany di atasnya.


"Gue nggak mau pisah, sampai kapanpun lo akan jadi milik gue!" teriak Daren memenuhi seisi ruangan, merobek kecil-kecil kertas di tangannya lalu menghamburkannya.


"Maafin gue Fany, gue nggak bermaksud nyakitin lo." lirih Daren menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya. Kacau, takut, dan perasaan sesal bercampur aduk dalam pikiran dan hatinya.


Tak...tak...tak


Suara high hels semakin dekat di telinga Daren. "Daren lo kenapa." tanya Elina terdengar panik.


"Jangan ganggu gue." Daren menepis tangan Elina kasar.


"Ren liat keadaan lo, sangat kacau, lo pucat? lo belum makan?"


"Diam Elina!!!" bentak Daren berhasil membuat Elina diam membisu, pasalnya baru kali ini Daren membentaknya.


Daren mendongak , menatap Elina dengan tatapan datar. "Ngapain lo kerumah gue?"


"Itu...gue." Elina ragu menyampaikan berita buruk itu pada Daren, apa lagi saat melihat keadaan kacau seperti ini.


Dia memutar bola matanya mencari objek lain asal tidak menatap netra Daren. Hingga atensinya berhenti pada kertas yang berserakan di atas lantai.

__ADS_1


Rasa penasaran dalam pikirannya membuat tangannya terulur untuk menyatukan potongan-potongan tersebut. Mata Elina melotot saat mendapati beberapa potongan yang bertuliskan surat perjanjian. Dia semakin gencar menyatukan kertas tersebut, dan terjawab lah petanyaannya.


Kali ini Elina menatap Daren dengan tatapan yang sulit di artikan. "Kenapa Fany cerai in lo, bukannya kalian baik-baik saja? apa jangan-jangan tentang video itu." ujar Elina penuh selidik.


"Video?" beo Daren.


Elian mengangguk mantap. "Video lo ciuman di club sudah tersebar, dan menjadi topik trendi saat ini. Gua nggak yakin bisa menyelesaikan masalah ini. Apa lagi gadis itu sudah mengonfirmasi bahwa semuanya benar dalam video itu benar." jelas Elina.


"Karir lo sekarang di ujung tanduk, salah gerak maka semuanya akan hancur." peringatan Elina.


"Aaarrrggghh." Daren mengerang frustasi, belum selesai masalahnya, datang lagi masalah baru. Fany belum juga di temukan dan sekarang dia harus di hadapkan dengan masalah lainnya.


Apa tadi kata Elina, Video ciuman? apa itu yang membuat Fany menuduhnya selingkuh, dan lebih milih pergi. Ah Daren banar-banar bodoh karena tidak menyadari itu. Jika saja malam itu dia tidak pergi ke klub mungkin semuanya tidak akan terjadi.


Atensi Daren dan Elina teralihkan pada benda pipih di saku jaket Daren. Dengan malas Dia memeriksa pesan yang masuk.


Gimana pertunjukan gue seru kan? itu belum seberapa untuk menghancurkan lo. Masih ingat kan ancaman-ancaman yang gue berikan beberapa bulan ini?


Gue ada pertunjukan menarik buat lo, datang ke jalan xx di sana ada gudang tua, gue ada di sana. Lo datang sediri atau lo nggak bakal liat istri dan anak lo untuk yang terakhir kalinya.


Daren mencoba menghubungi nomor itu, namun sudah tidak aktif seperti yang terjadi beberapa bulan ini setelah orang misterius itu mengirim pesan anacaman padanya.


"Shit." umpat Daren.


Tanpa menjawab pertanyaan Elina, Daren bangkit dari duduknya hendak pergi, namun langkahnya terhenti karena cekalan wanita di belakangnya.


"Lo mau kemana lagi, karir lo di ujung tanduk, jangan ngegabah mengambil keputusan." peringatan Elina.


Daren menghempaskan tangan Elina. "Gue nggak peduli, mau karir gue di ujung tanduk atau hancur sekalipun gue nggak peduli! Nyawa Istri dan anak gue lebih utama!" bentaknya, kemudian pergi begitu saja tanpa mendengarkan teriakan Elina.


Sebelum berangkat Daren mengirim pesan pada Deon.


Fany di culik dengan orang yang sama, gue tunggu lo di gedung xx bawa pengawal secepat mungkin.


***


Daren memandangi gedung tua menjulang tinggi di hadapannya benar-benar tua sudah di pastikan banyak makhluk tak kasak mata menghuni gedung itu.


Tring


Pesan masuk dari nomor baru lagi

__ADS_1


Ternyata lo berani juga datang seorang diri, wah wah wah ternyata lo benar-benar cinta sama istri lo.


Gue tunggu lo di lantai 5, karena gedung ini gelap dan tidak pakai lift, gue beri lo waktu 20 menit dari sekarang. Kurang baik apa lagi gue sama lo hahahahaha.


"Shit." umpat Daren. Dia melirik arloji di pergelangan tangannya, sekarang pukul 19: 40 berarti tepat pukul 20:00 dia sudah harus di sana.


Menghiraukan rasa takut dan juga lelah, Daren berlari menaiki satu-per satu tangga di gedung tua itu di bantu pencahayaan dari ponselnya.


Kurang 5 menit dia sampai di lantai lima, di sana Daren melihat salah satu ruangan dengan pencahayaan yang lumayan terang. Dengan tergesa-gesa di melangkahkan kakinya mendekat, dan


Brak


Daren mendobrak pintu, tepat saat pintu terbuka dia melihat tepat di sudut ruangan seorang wanita hamil tengah di ikat di atas kursi. Wajah memerah seperti bekas tamparan dengan sudut bibir yang robek.


Berhasil membuat hati Daren mencelos.


Gadis itu mengeleng kala Daren melangkah semakin dekat padanya. "Jangan gue mohon jangan mendekat." pinta Fany, namun di hiraukan oleh Daren.


Tepat saat Daren meraih tubuh Fany, suara tepuk tangan dari arah belakang terdengar.


Prok...prok...prok


Daren menoleh menatap tak percaya pria di hadapannya, pria yang tak pernah terlintas di pikirannya kini tengah berdiri pogah di hadapnnya.


"Andra?" ucap Daren tak percaya.


"Ya Andra, CEO Andra jaya Grup." Andra menyeringai. "Senang bertemu denganmu pak Daren Danuwinarta yang terhormat." Andra duduk di sebuah kursi dengan kaki yang bertumpu pada kaki satunya.


Tangan Daren terkepal merasa geram dengan sikap Andra. Dia di permainkan selama ini dan sekarang dia sudah menyiksa istrinya.


Daren bangkit dari duduknya hendak menghampiri Andra sebelum suara pria itu kembali mengintrupsi.


"Diam di tempat lo, dan bersujud pada gue, atau nyawa anak dan istri lo dalam bahaya." Andra menarik pelatuknya dan mengarahkan pistol ke arah Fany.


...TBC...


...****************...


Duh gimana nasib Fany sama Daren? mana Deon belum datang lagi, kang autor jadi takut.


Pis Damai✌😁

__ADS_1


Sekedar info MHS (My Husband Superstar) akan tamat beberapa part lagi lo.


Jangan lupa spam komen okey


__ADS_2