
gadis itu mengeliat dalam pelukan suaminya kala mendegar ponsel pria itu terus berdering sedari tadi.
Ya mereka kembali tidur setelah melaksanakan sholat subuh, tentu saja atas permintaan suaminya yang berubah manja.
"Kak itu ada orang telfon." ucap Fany menguncang tubuh kekar suaminya.
"Hmm." gumam Daren kembali memeluk tubuh istrinya.
"Ais kak itu ada orang telfon !" kesal Fany berusaha lepas dari kungkugan suaminya.
"Iya aku tahu yang." ucap Daren tanpa membuka matanya.
"Ya angkat dong ! siapa tahu penting." perintah Fany.
Mau tidak mau Daren melepaskan pelukannya dan mengambil ponselnya di atas nakas.
"Ngapain sih nelfon pagi-pagi?" kesal Daren setelah menjawab panggilan dari Deon.
"......."
"Iya nanti gue cek." ucap Daren dan memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak.
"Siapa kak?" kepo Fany.
"Deon." jawab Daren fokus pada ponselnya, dan benar apa yang di katakan Deon. Pagi-pagi buta seperti ini ia di suguhkan berita hot.
"Kenapa kak?" tanya Fany saat melihat raut wajah tidak bersahabat suaminya, dapat di pastikan kali ini pria itu mendapat masalah lagi.
Bukannya menjawab pertanyaan Istrinya, Ia malah bangkit dari duduknya dan masus kedalam kamar mandi untuk mebersihkan tubuhnya.
"Ais kak Daren bikin kepo aja tau." sungut Fany.
Karena kepo gadis itu mengambil ponsel suaminya dan mengecek apa yang sebenarnya terjadi.
Deg
Apa yang di takutkan Fany selama ini terjadi juga, akhirnya bom waktu itu meledak juga bahkan sekarang menjadi i trending topik di pagi hari.
"Ngapain begong gitu? sana mandi ! bentar lagi yang lain datang." perintah Daren setelah keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap.
Fany tersentak kaget, dan melepaskan ponsel Daren begitu saja. Tanpa banyak komentar gadis itu menuruti perintah suaminya.
***
Di sebuah ruangan, beberapa orang berkumpul mendiskusikan berita yang sedang trending topik pagi-pagi.
Orang itu tak lain adalah, Daren, Fany, Keysa, Nathan, Deon, dan Elina.
Nathan sedari tadi mengepalkan tangannya, tatapanya tertuju pada kakak iparnya, jika saja sekarang bukan suasana genting, mungkin Ia sudah menghajar Daren. Bisa-bisanya Pria itu kecolangan tentang pernikahan kontrak yang di jalankan kakaknya.
Sementara yang di tatap terlihat santai, dan menyandarkan kepalanya di pundak kecil istrinya, bahkan tangannya sedari tadi menggenggam tangan gadis itu.
"Sebagian kontrak iklan, membatalkan kontraknya dan meminta ganti rugi atas kekacauan yang lu timbulkan." ucap Elina memecah keheningan.
"Terus?" tanya Daren.
__ADS_1
"Dan sekarang gue baru dapat kabar bahwa sutradara Radit akan mengeluarkan lo dari proyek demi kepentingan drama tersebut." lanjut Elina.
"Mereka memberi lo waktu satu minggu untuk memulihkan berita konyol ini, jika tidak mereka benar-benar akan menuntut lo. Dan lo tahu sendiri, bahkan jika lo menjual aparteman ini dan menjual beberapa aset lo, itu tidak bisa menutupi ganti rugi yang di timbulkan masalah ini." jelas Elina lagi.
Daren menghela nafas panjang, jujur ia juga pusing memikirkan masalahnya, tapi ia tidak mau membuat istrinya khawatir jika ia memperlihatkan kegelisahannya.
Keysa bangkit dari duduknya. "Baiklah gue akan mengumumkan hubungan gue dengan Nathan untuk mengalihkan berita surat perjanjian konyol itu." ucapnya penuh percaya diri.
Semua orang mengalihkan perhatiannya pada Keysa, tatapan tak percaya di tujukan pada gadis itu.
"Nggak perlu, lu sudah jadi trendi topik sejak semalam." tegur Deon dengan wajah Datarnya.
Keysa melotot tak percaya.
"Berita lo yang katanya tega ngusir keponakan Direktur CR Entertaimen hanya karena sorang pria." jelas Deon.
"Ambar." gumam Keysa. Ia yakin semua ini kelakuan teman bang*atnya itu
Detik berikutnya ponsel Keysa berdering, tanpa menunggu waktu, gadis itu mengeser icon berwarna hijau di benda pipihnya.
"Halo pi."
"......."
"Nggak gitu pih."
"......."
"Iya Keysa kesana sekarang." ucapnya dan memutuskan sambungan telfonnya.
Fany menatap adiknya yang masih diam mematung di tempatnya. "Ngapain masih di sini? sana susul Keysa, sekarang dia butuh lo!" ucapnya.
Tanpa abah-abah, Nathan menyusul Keysa.
Kembali ke masalah Daren.
"Jadi gue harus apa?" tanya Daren.
"Lo punya dua pilihan untuk menetralisir keadaan. Pertama lo tuntut Nara atas pencemaran nama baik, atau yang kedua, Lo ngadain konferensi pers dan mengakui kebohongan lo sekalian meminta maaf." jeals Elina memberi Daren dua pilihan untuk keluar dari masalah ini.
Daren diam sejenak, memikirkan resiko-resiko antara solusi keduanya.
"Gue milih solusi yang kedua." jawan Daren yakin.
Fany menatap tak percaya pada suaminya. "Kenapa nggak milih pilihan yang pertama kak? pilihan yang kedua sama saja kak Daren menjatuhkan harga diri kakak." protes Fany yang lebih memlih pilihan pertama.
"Nggak gue lebih milih pilihan kedua. Gue lebih milih ngakuin semuanya dan meminta maaf, dengan begitu tidak ada lagi yang perlu kita tutup-tutupi. Gue nggak ingin membuat kebohangan lagi, yang bisa menimbulkan kebohogan-kebohongan lainnya." tegas Daren tetap pada pilihannya.
"Baiklah, kalau itu keputusan lo, nanti gue kabarin jika semuanya sudah siap, gue pamit dulu." ucap Elina bangkit dari duduknya di susul oleh Deon.
Fany Dan Daren mengantar Deon dan Elina sampai di depan pintu, setelah itu keduanya kembali masuk.
"Mau kemana lagi?" tanya pria itu saat melihat Fany keluar rumah.
"Mau buang sampah, nih." jawab Fany mengangkat kantong sampah di tangannya.
__ADS_1
***
Fany bernafas lega saat berhasil keluar dari apartemen suaminya tanpa di curigai, untung sampah di tangannya menyelamatkannya.
"Kak Elina." panggil Fany, beruntung wanita itu belum masuk ke dalam lift, mungkin karena lama menunggu.
Keduanya menoleh.
"Fany? kenapa?" tanya Elina.
"Aku mau bicara kak." Fany melirik Deon.
Elina yang mengerti arti lirikan Fany angkat bicara. "Lo duluan aja yon, tunggu gue di bawah !" perintah Elina segera di angguki oleh Deon.
"Ada apa Fan?"
"Kenapa kak Elina menyetujui keputusan kak Daren? bukankah pilihan pertama lebih tepat?" ucap Fany.
Elina tersenyum, ia memegang lengan Fany. "Daren tau mana yang terbaik." ucapnya.
"Tapi kak...."
"Daren sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini, mungkin dulu dia akan memilih pilihan pertama, tapi sekarang beda karena ada lo." jelas Elina.
"Maksud kak Elina?"
"Daren bisa saja memilih, pilihan pertama. Menuntut lawannya dengan pencemaran nama baik akan mempermudahnya apa lagi fans-fans nya akan mendukung setiap tindakan Daren, tapi tidak dengan lo. Jika Dia memilih pilihan pertama otomatis mereka akan saling menyerang dan yang akan di rugikan adalah lo. Lo akan menjadi santapan lezat bagi para netizen di luar sana dan Daren tidak ingin itu terjadi padamu makanya dia memilih pilihan kedua." Jelas Elina.
"Dia rela menurunkan harga dirinya dengan meminta maaf di depan publik hanya untuk melindungi lo dari hal-hal yang bisa saja membuat lo sedih dan terluka. Jadi gue harap lo nggak bakal nyia-nyiain pengorbanan Daren, gue harap lo bisa mencintai Daren sebesar Daren mencintai lo." lanjut Elina dengan senyuman mengembang.
"Pasti kak, makasih atas pengertiannya." wajah Fany berseri, ternyata selama ini cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
-
-
-
-
-
-
-
-
TBC
Hem mana nih yang kagen sama babang Daren dan Fany? nih Author kirim mereka, awas aja nggak rame, author bakal ngambekš¤.
Jangan lupa buat author semangat, dengan Vote, komen Dan like kalian. Eh hadiah-hadiahnya juga ya, satu lagi jangan lupa di favoritkan agar mendapat notif setiap upš.
SELAMAT MEMBACA !!!
__ADS_1