My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 96


__ADS_3

...Di saat keberadaanku tak pernah di hargai, maka pergi adalah pilihan yang terbaik....


...-Fany Palwinta-...


Fany memperhatikan seseorang menurunkan satu persatu dus-dus besar dan beberapa perabotan rumah lainnya. Seperti, sofa, kulkas, tempat tidur dan banyak lagi.


Dia mengernyit heran saat beberapa orang membawa salah satu dus besar itu masuk ke halaman rumahnya.


"Maaf pak, sepertinya anda salah alamat." Cegah Fany pada beberapa orang yang hendak memasuki rumahnya.


"Sudah benar kok mbak, ini dari pak Daren," jawab salah satu pria kemudian menyuruh anak buahnya melanjutkan pekerjaanya.


"Daren?" beo Fany.


"Iya mbak, pak Daren."


"Tunggu pak, sebaiknya ini semua di kembalikan saja, saya tidak memerlukannya, lagian rumah saya tidak akan muat." Fany menolak pemberian Daren, dia tidak ingin menerima pemberian apapun dari Daren.


"Maaf mbak, barang yang sudah di pesan tidak bisa di kembalikan lagi."


"Kalau begitu antar saja semua ini ke rumah pak Daren!" Fany masih dengan keputusannya.


"Kalau itu, anda saja mbak yang menghubungi pak Daren, kami pamit dulu." Pria yang mengantar beberapa barang itu pamit pulang bersama beberapa anggotanya.


Fany menghembuskan napas kasar, satu-satunya cara hanya menghubungi Daren saja. Dengan langkah malas dia masuk kedalam rumahnya mengambil ponsel kemudian menghubungi pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.


"Apa maksud lo ngirim barang-barang itu kerumah gue?" tanyanya kesal.


"Waalaikumsalam, gue tau di rumah lo peralatannya nggak lengkap."


"Terus apa urusannya sama lo, nggak usah urusin hidup gue lagi, gue bisa ngehidupin diri sendiri!"


"Nggak usah kegeeran jadi cewek, gue kirim semua itu bukan buat lo, itu buat anak gue, gue nggak mau di sengsara."


Perkataan Daren berhasil membuat Fany sakit Hati, segitu rendahnyaka dirinya di hadapan Daren.


"Gue tau, gue nggak se kaya lo, hidup gue nggak semewah hidup lo, tapi asal lo tau, gue bisa membesarkan anak gue tanpa campur tangan lo. Mulai hari ini nggak usah masuk-masuk dalam hidup gue lagi, tentang anak lo, lo bisa temuin dia jika dia sudah besar." Fany menghapus air matanya dengan kasar. Merasa tersinggung dengan perkataan Daren barusan.


"Fany!"

__ADS_1


"Biarkan gue bicara untuk terakhir kalinya, lo nggak usah nyahut, cukup dengarkan apa yang akan gue katakan!" tekan Fany.


"Makasih udah pernah hadir di hidup gue kak, makasih udah menghadirkan sosok penganti lo dalam rahim gue. Terimakasih udah buat gue bahagia beberapa bulan terakhir ini, dan terimakasih atas luka yang pernah lo berikan. Kebahagian dan luka yang lo berikan akan selalu gue ingat."


"Sampai sekarang gue nggak tau kenapa lo berubah dingin dan jahat sama gue. Tapi mungkin salah satunya bosan dan sudah ada yang baru." Fany terkekeh.


"lo ingat nggak perjanjian kita sebelum menikah? pasti tau lah dan mungkin sekarang itu yang membuat lo berubah. Nggak kerasa ya surat perjanjian kita akan berakhir beberapa hari lagi. lo pernah bilang sama gue. Gue bisa tandatangani perjanjian itu kapan pun gue mau. Dan mungkin saatnya gue tandantangani perjanjian itu, yang artinya setelah lo tandatangan kita resmi berpisah." Air mata Fany terus mengalir tanpa henti.


"Lo nggak usah kerumah untuk ambil surat perjanjian itu, gue akan kirim surat itu kerumah lo."


"Sekali lagi maaf ya, gue nggak bisa nepatin janji untuk selalu ada di samping lo. Soal gue benci sama lo, itu bohong. Gue nggak mungkin bisa benci sama lo karena gue sayang dan cinta sama lo."


"Jangan cari gue setelah ini ya, dan maaf karena gue pergi bawa anak lo."


Tut


Setelah menyelesaikan kalimatnya, Fany memutuskan telfonnya tanpa menunggu sahutan dari seberang sana.


***


Jantung Daren berpacu lebih cepat, mengengam erat ponselnya setelah sambungan telfonnya terputus. Air mata tak bisa dia tahan agar tidak membasahi pipinya.


"Kenapa jadi seperti ini!" Daren menjambak rambutnya, menyesali semua perbuatannya selama ini. Dia sadar menyakiti Fany terlalu dalam, tapi hanya itu yang bisa dia lakukan untuk saat ini.


"Gue nggak pernah ada niatan buat ninggalin lo, gue cinta sama lo, gue sayang sama lo, gue nggak pernah selingkuh."


"Bodoh-bodoh, lo bodoh Daren, lo nggak jauh beda dengan mereka," maki Daren pada dirinya sendiri, memukul-mukul kepalanya hingga puas.


"Gue nggak bisa gini terus."


Daren bangkit dari duduknya, berdiam diri bukanlah hal yang tepat untuk saat ini. Dengan penampilan acak-acakan dia keluar rumah. "Gue harus jelasin semuanya, sebelum Fany benar-benar ninggalin gue," tekad Daren.


Daren melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata, tujuannya saat ini adalah rumah Fany. Dia menerobos masuk begitu saja karena rumah itu tidak terkunci. Nihil, dia tidak menemukan Fany di sana, yang dia dapati hanya barang-barang yang dia kirim tadi.


Daren mengusap wajahnya kasar, meninggalkan rumah tua itu. Dia mengunjungi tempat-tempat yang biasa Fany datangi tetapi belum juga menemukan Fany.


Kali ini tujuannya adalah butik, Daren sangat berharap Fany ada di sana. Hasilnya sama saja.


Daren memukul-mukul setir kemudi, di mana lagi dia harus mencari Fany di siang bolong seperti ini. Rasa lapar tak sebanding dengan rasa takut Daren kehilangan Fany dan juga anaknya.

__ADS_1


"Gue harus nyari lo kemana lagi Fan," lirih Daren.


Satu tempat terlintas di otak Daren untuk saat ini, dan jangan sampai Fany mengunjungi tempat itu, jika tidak dia benar-benar kehilangan Fany.


Buru-buru dia menghubungi Deon, meminta bantuan pria itu. "Yon lo ke bandara sekarang, cek semua penerbangan dan seluruh sudut bandara!"


"......."


"Fany pergi, gue nggak tau kemana," lirih Daren kemudian memutuskan sambungan telfonnya.


Daren segera menyusul Deon kebandara, dia berharap bisa menemukan keberadaan Fany.


Daren berlari menghampiri Deon yang tengah bediri di depan pintu masuk bandara. "Gimana Yon?"


Deon mengeleng. "Nggak ada, gue udah cek semua CCTV, bahkan jadwal penerbangan tetapi nama kak Fany nggak ada."


Daren menunduk lesu.


Merasa di perhatikan oleh sekitar, Deon menarik Daren masuk kedalam mobil. Dia tidak mau ada seseorang yang mengambil gambar Daren dengan penampilan acak-acak seperti itu.


"Fany ninggalin gue, Yon," lirih Daren.


Doen menepuk pundak Daren. "Bukan waktunya lo bersedih seperti ini, yang harus lo pestikan kak Fany beneran pergi dari sini atau nggak. Jika kak Fany benar-benar pergi bukannya itu bagus? asal kita tau kemana dia pergi. Bukannya itu rencana kita dulu sebelum semuanya berantakan?"


"Gue takut Fany benar-benar ninggalin gue."


Deon kembali menguncang tubuh Daren yang tidak bertenaga itu. "Daren sadar! jika dia tidak pergi dari sini itu artinya dia dalam bahaya detik ini juga," geram Deon. "Kita harus mastiin itu, atau semua pengorbanan lo sia-sia."



Ada yang kasian sama Daren?



Calon momi


...TBC...


...****************...

__ADS_1


Ini sebenarnya ada apaan? kok pada main rahasia-rahasiaan? nggak tau apa para readers pada penasaran.


Author : Damai✌😁


__ADS_2