My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 86


__ADS_3

...Aku tidak membutuhkan permintaan maaf mu, yang aku butuhkan kesadaran atas kesalahan yang kamu lakukan....


...-Fany-...


Tidur membelakangi Daren adalah pilihan yang tepat untuk Fany, kini dirinya sudah sangat kecewa pada suaminya, mungkin memberinya sedikit pelajaran tidak ada salahnya.


"Sayang kamu kenapa?" Daren terus membujuk Fany, meletakkan dagunya di ceruk gadis itu, sungguh dia tidak suka di diami seperti ini.


Fany terus diam, mencoba mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang telontar dari mulut Daren. Memejamkan matanya.


"Jangan diamin aku gini." Daren mengguncang lembut punggung Fany, menyingkap rambut Fany yang menutupi leher indahnya.


"Sayang."


"Diam kak, aku ngantuk." ujar Fany.


Daren menghela nafas, Dia tahu betul sikap istrinya, jika dia bilang ngantuk di situasi seperti ini, pasti ada apa-apa yang membuat Fany sedih, tapi apa?


"Aku tahu kamu sedih, cerita sama aku!" bujuk Daren.


Fany menghela nafas kasar, bangun dari tidurnya kemudian bersandar di kepala dipan, menatap jengah pada pria yang juga ikut duduk di sampingnya.


"Pulang kerja kak Daren ngapain aja, sama siapa?" tanya Fany.


"Pulang kerja aku lansung pulang, sama Deon. Kenapa?" jawab Daren.


"Beneran?" Fany memastikan.


"Iya."


Fany, meleparkan pandangan keluar jendela, matanya kembali memanas.


Daren menangkup kedua pipi Fany, agar mau menatapnya. "Kenapa kamu nangis, hm." dia terus menatap mata merah Fany, yang sebentar lagi mengeluarkan butiran-butiran bening.


Fany menarik nafas dalam-dalam, memejamkan matanya, memukul pelan dadanya yang terasa nyeri. "Hati aku sakit kak." tumpah sudah tangisnya.


"Ka...kamu sakit? kita ke dokter ya." panik Daren, dia tidak ingin istrinya kesakitan.


"Iya aku sakit, dan yang bikin hati aku sakit itu kakak!" bentak Fany menepis tangan Daren dari wajahnya.


Deg, jantung Daren berpacu dengan hebat, dia tidak tahu apa yang dia lakukan hingga membuat Fany sesedih ini. Melihat tatapan kecewa yang terpancar di mata Fany membuatnya bersedih, kesalahan fatal apa yang dia lakukan sehingga Fany begitu kecewa padanya?


"Ak..aku?" tunjuk Daren pada dirinya. "Maaf, jika sikapku buat kamu sedih." Daren mencoba merengkuh tubuh mungil Fany, namun dengan capat gadis itu menolaknya.


"Aku nggak butuh maaf kakak, aku butuh kesadaran kak Daren!" bentak Fany, Dia melepaskan driri dari Daren.


Berjalan keluar kamar dan masuk kedalaman kamar tamu, dia tak lupa mengunci pintu.


"Sayang buka pintunya, aku minta maaf." bujuk Daren terus mengendor pintu kamar, namun tak ada tanda-tanda akan di buka.


"Udah ya marahnya, aku minta maaf, jangan cuekin aku kayak gini, keluar dan maki aku kalau perlu pukul aku tapi jangan kayak gini."


Hening tak ada sahutan dari Fany.

__ADS_1


Daren bersandar pada pintu kamar, terus mengendornya. Dia mengacak-acak rambutnya frustasi.


Daren berusaha mengingat, apa saja yang dia lakukan hari ini. Mungkin saja dia melewatkan sesuatu yang membuat Fany kecewa padanya.


"Shit." umpat Daren setelah sadar apa yang membuat Fany marah padanya.


Hanya satu hal yang dia lakukan, dan tentu saja Fany tidak akan suka itu jika mengetahuinya.


Daren kembali mengetok pintu.


"Maaf, aku tahu aku salah, nggak seharusnya aku bohong sama kamu." bujuk Daren saat tahu di mana letak kesalahnnya.


Ceklek


Tepat saat itu pintu kamar terbuka, menampilkan Fany berdiri di depan pintu kamar. Tanpa menunggu abah-abah Daren lansung memeluk gadis itu.


"Maaf, maaf, aku nggak bermaksud bohong sama kamu, aku hanya tidak ingin kamu sedih jika mengetahuinya makanya aku nggak kasih tahu kamu." ucapnya masih dengan posisi yang sama.


"Aku udah maafin kakak." Fany mengurai pelukannya.


Kalian harus tahu, sebagian wanita tidak butuh kata maaf dari pasangannya, yang ia butuhkan kesadaran pasangannya tentang kesalahan yang dia perbuat kemudian mengaku salah di depan wanitanya. Itu sudah cukup untuk mendapatkan maaf.


"Aku hanya ingin buat kakak menyadari kesalahan kakak."


"Maaf, buat kamu nangis. Aku merasa gagal jaga kamu dan buat kamu bahagia." sesal Daren.


"Jangan ngomong gitu, kak Daren nggak gagal kok, aku percaya sama kak, hanya saja aku kecewa kak Daren bohongin aku." Fany senyum tipis.


"Kamu maafin aku kan? kamu nggak marah lagi sama aku? jangan tinggalin aku ya, ingatkan kalau aku salah!" sungguh Daren takut kehilang Fany.


Fany tertawa kecil melihat ekspresi Daren yang sangat mengemaskan. "Aku nggak bakal ninggalin kak Daren sebelum kak Daren yang nyuruh aku pergi dari hidup kakak."


"Itu nggak bakal terjadi." Daren kembali memeluk Fany.


"Lepasin aku nggak bisa nafas kak." Fany berusaha mengurai pelukan yang serasa mencekiknya.


Daren cengegasan kemudian melepaskan pelukannya, lalu melingkarkan tangannya pada pinggang Fany.


Fany mendongak, menatap wajah tampan suaminya. "Siapa wanita itu?"


"Kita ke kamar aja yuk, emang kamu nggak capek berdiri terus?" Tanpa menunggu persetujuan, Daren membopong Fany masuk kedalam kamar.


Fany mengalungkan tangannya di leher Daren, menatap Pria itu dari bawah, yang ternyata sangat tampan. "Jangan ngalihin pembicaraan." kesal Fany.


"Siapa wanita itu?" ulang Fany.


"Dia salah satu rekan kerja aku, nggak lebih." jujur Daren.


"Terus ngapain makan malam berdua? sampai rela nolak ajakan aku." Fany mendongak menatap Daren.


"Aku nggak berdua, yang." Daren menjawil gemas hidung Fany. "Aku makan malam bertiga sama Deon."


"Beneran? tapi yang Aku lihat kalian berdua aja."

__ADS_1


Daren mengernyit heran. "Kamu ada di sana?"


Fany menggangguk.


"Kok nggak nyamperin aku?" heran Daren.


Fany menunduk, memainkan kancing piyama Daren. "Takut ganggu kamu sama wanita itu, apa lagi kalian terlihat sangat bahagia. Dan juga aku tidak liat Deon di sana."


"Mungkin kamu datang, pas Deon ke toilet."


"Gitu ya." Fany mengeratkan pelukannya di pinggang Daren.


"Iya Sayang, dan satu lagi, nggak ada yang bisa buat aku bahagia selain dekat sama kamu." Daren mengecup cukup lama kening Fany.


"Gembel." Fany tersipu, memukul pelan dada bidang Daren.


"Gombal sayang." Daren tertawa kecil.


***


Duduk, di kursi dengan wajah di tekuk, membuat Deon betanya-tanya ada apa dengan bosnya itu, tidak bisanya pagi-pagi seperti ini wajah Daren mendung.


"Ngapa lu bos?" Deon menepuk pundak Daren kemudian ikut duduk di samping Daren.


Daren menoleh, setelah itu fokus lagi kedepan. "Gue ngerasa aneh sama sikap Fany akhir-akhir ini, mood dia sering berubah-ubah, kadang nangis tiba-tiba, dan mual-mual." Daren menceritakan keluh kesahnya pada Deon.


"Gue takut dia ngidap penyakit serius atau punya kelainan gitu." lanjutnya.


"Heh jang ngadi-ngadi lo, lo pikir istri lo gila?"


"Bisa aja kan? Atau gue bawa kerumah sakit aja kali ya." tanya Daren.


Daren benar-benar khawatir dengan kondisi istrinya, dia takut terjadi hal buruk pada Fany.


"Gue pikir, istri lo nggak gila atau mengidap penyakit parah deh." Deon mengetuk-ngetuk degunya mencoba berfikir.


"Jangan-jangan kak Fany.......


...TBC...


...****************...


Kira-kira Fany sakit apa ya, bantuin Deon dan Daren mikir dong, kasian mereka😁


...Jangan lupa komen...


...Jangan lupa Vote...


...Jangan lupa like...


...Jangan lupa favoritkan ...


...SELAMAT MEMBACA !!!...

__ADS_1


__ADS_2