
Daren menyeringai, memutar tubuhnya dan berhadapan dengan istrinya.
"Kamu harus nyenenggina aku malam ini." ucapnya menyeringai.
"Nyenenggin? tapi aku belum siap untuk yang satu itu." ucap Fany polos.
Daren mengelus lembut pipi istrinya. "Ya nggak harus itu, apa saja yang penting sama kamu." ucapnya.
"Gitu ya?" tanya Fany. Gadis itu mengetuk-gentuk dagunya dengan jari telunjuk, berfikir apa yang harus ia lakukan agar suaminya bisa senang.
Sembari menunggu istri lemotnya berfikir, pria itu malah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mengendus-endus ceruk leher istrinya, sesekali mencium, dan mengigitnya kecil-kecil hingga meninggalkan tanda kepemilikan disana.
"Shhh ah."
Tanpa sadar Fany mengelurkan suara, dan itu terdengar sangat merdu di telinga Daren.
"Ia kak Daren ngapain gigit leher aku, kan sakit." sungutnya.
Tanpa rasa bersalah Daren mengelus tanda kepemilikan di leher jenjang istrinya. "Aku nggak gigit sayang, aku cuma buat tanda di sana." jawabnya tanpa dosa.
Fany mengernyitkan keningnnya hingga kedua alisnya bertautan. "Hah? tanda kepemilikan? emang aku barang apa." jawabnya polos.
Ck, ini istrinya yang pura-pura polos, apa memang gadis di depannya kelewat polos?
"Itu tanda bahwa kamu hanya milikku!" jawabnya.
"Oh gitu ya." Fany mengangguk polos.
"Dih ini anak kenapa mendadak jadi polos gini sih, kan jadi gemas." batin Daren.
"Kak!" Fany mengoyang-goyangkan lengan kekar suaminya, yang sudah duduk dan bersandar di kepala dipan.
"Apa sayang." sahunya lembut.
Blus
Duh Fany mah gitu, hal sepele aja bisa buat pipinya memerah.
"Jangan nunduk dong, kan aku nggak bisa liat wajah cantik kamu." goda Daren mengangkat dagu Fany dengan telunjuknya.
"Ih udah dong gembelnya kak, aku salting tau." jujur Fany.
"Gombal sayang." protes Daren kembali menguyel-uyel pipi cubi istrinya.
"Sama aja." sungut Fany, bersandar manja di dada bidang suaminya.
"Tidur yuk kak." ajak Fany.
"Enak aja main tinggal tidur, tepatin dulu apa yang aku suruh."
Fany tertawa kecil, ternyata suaminya masih ingat itu. Gadis itu terus mengusap dan sekali-kali membuat pola abstrak di dada bidang suaminya yang hanya di lapisi kaos oblong hitam
Tanpa ia sadari sikapnya itu membuat suaminya tersiksa menahan gejolak di bawah sana.
"Aku nggak tau mau ngelakuin apa, gimana kalau kak Daren aja yang ngasih ide." ucapnya.
"Yakin?"
"Iya."
__ADS_1
Daren menyeringai, salahkan istrinya karena memintanya memberi ide.
Greb
Dalam satu tarikan gadis itu sudah berada di atas pangkuannya, memutar tubuh gadis itu menghadapnya.
"Kak mau ngapain." pekik Fany.
"Udah diam dan nurut, kali ini nggak terima penolakan!" ucapnya penuh tekanan.
"Yaudah aku harus ngapain?" tanya Fany bergerak kesana kemari memperbaiki duduknya agar terasa nyaman.
"Shit." umpat Daren.
"Kenapa?" tanya Fany.
"Pake nanya lagi, lo nggak tau apa gue sekarang tersiksa akibat pergerakan lo. Tahan! jangan sampai lo kelepasan dan membuat dia takut." batin Daren bermonolok.
Siapa sih yang nggak tersiksa dengan posisi Daren. Apa lagi Fany terus bergerak di atas sana, mambuat cacingnya ingin berubah menjadi anaconda.
Daren melepaskan kaos oblong hitamnya, memperlihatkan perut kotak-kotak membuat Fany menelan ludahnya dengan kasar.
"Ma...u nga...ngapain?" gugup Fany.
"Ayo lakuin sekarang!" perintahnnya.
"Hah." cego Fany.
"Ck, lakuin apa yang aku lakuin ke kamu tadi, buat tanda sesukamu di tubuhku!" eteng sekali anda pak Daren, nggak liat apa raut wakah pias Fany.
"Hanya itu?"
"Hmm." Daren memejamkan matanya berusaha meredekan hawa panas yang menjalar di tubuhnya, sembari menunggu aksi istrinya.
Fany menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya secara perlahan, menutup matanya dan.
Dengan cepat gadis itu mencium seluruh leher dan dada bidang suaminya, lalu membuka matanya.
"Loh, kok nggak ada tanda kayak yang ada di leher aku sih." kesal Fany.
Daren tertawa kecil melihat kepolosan istri kecilnya. "Harus di gigit sayang." jawabnya berbisik.
"Ih, nanti leher sama dada kak Daren sakit gimana?" tanya Fany dengan polosnya.
"Nggak akan. Sini aku contohin."
Daren mendekatkan wajahnya kewajah istrinya, mengecup bibir tipis Fany, dan beralih pada lehernya, mengendus, mengecup, dan mengigitnya kecil-kecil kembali membuat tanda di sana. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali.
"Sshhh, kak." erang Fany terdengar begitu indah di telinga Daren.
Mendegar desahan dan erangan Fany, membuat Daren hilang kendali, tangannya mulai hilang kedali mengusap tubuh atas istrinya.
"Hah...hah kak." tegur Fany.
"Maaf." ucapnya menghentikan kegiatannya.
Fany berinisiatif turun dari pangkuan suaminya, tapi sebelum itu, ia menyentuh sesuatu yang terasa aneh.
"Ih ini apa kok keras?" protes Fany saat tak sengaja menyentuh barang berharga suaminya.
__ADS_1
"Shit." umpat Daren.
Bugh
Daren mendorong tubuh Fany begitu saja dan berlari kedalam kamar mandi, ia harus menyalurkan hasratnya, walau lagi-lagi hanya solo karir.
***
Seperti biasanya, Fany akan berangkat bekerja, tentu saja setelah menyiapkan sarapan dan pamit pada suaminya.
Hari ini, Fany turun tangan untuk melayani pelanggan, karena teman-temannya kewalahan melayani pegunjung yang cukup ramai.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya Fany pada seorang pelangan yang baru saja masuk ke dalam butik.
"Gue mau ke pesta tapi nggak tau mau pake baju apa, dengar-dengar di sini ada penata busana yang handal ya?" tanya sang pelanggan.
Fany tersenyun ramah. "Anda datang di tempat yang tepat nona, silahkan duduk saya akan memilihkan beberapa gaun yang cocok anda pakai." ucap Fany sopan dan mempersilahkan pelanggan yang sedikit lebih tua darinya duduk di sofa.
"Rin, tolong ambilin gaun dua atau tiga deh di pojok sana." tunjuk Fany pada deretan gaun pesta yang terlihat elegan.
"Sip." Rina mengacungkan jempolnya.
Sembari menunggu kedatangan Rina, Fany bercengkrama dengan pelanggan itu agar merasa nyaman.
"Ini kan?" tanya seseorang menyodorkan beberapa gaun pada Fany. Bukan, itu bukan suara Rina, tapi suara seorang pria yang tidak asing di telinganya. "Ada lagi yang bisa saya bantu?" tanyanya.
Fany berbalik, dan benar saja pria tampan yang menjelma sebagai suaminya berdiri di belakangnya dengan senyuman yang begitu manis. Ia menatap Daren seakaan bertanya lewat sorot matanya, ngapain kesini?
"Oh, saya ambilkan jus jeruk ya." ucap Daren menghiraukan tatapan Fany dan berlalu pergi.
Tubuh Fany terguncang, akibat ulah seseorang. "Itu...itu Daren kan?" pelanggan tadi memastikan. "Lebih tampan aslinya ya?" gadis itu menatap penuh kagum pada Daren.
"Oh iya, bukannya istri Daren bekerja juga di salah satu butik ya? apa jangan-jangan istrinya bekerja di butik ini?"
Fany menundukkan kepalanya, berharap semoga wanita di hadapannya tidak mengenalinya. Ia belum siap mendapat makian dan juga hinaan dari fans-fans Daren apa lagi tepat di hadapannya.
"Lo tau nggak, istri Daren tuh..........
-
-
-
-
-
-
-
-
TBC
Hayo apa kah Fany akan mendapatkan makian dan juga hinaan? jika benar bagaimana ya reaksi Daren?
Tunggu di part selanjutnya.
__ADS_1
Jangan lupa Vote, komen, dan like kalian, karena itu adalah semangat tersendiri untuk author
...SELAMAT MEMBACA !!!...