My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 52


__ADS_3

Daren mengendap-endap berjalan ke arah kamar istrinya, ia ingin mendengar apa yang sedang di bicarakan istrinya dengan seseorang sehingga gadis itu turus saja tertawa sedari tadi.


"Yaudah kak, nanti kita lanjut saat makan malam nanti." ucap Fany.


"........"


"Iya, di restoran xx kan?"


"........."


"Hm, baiklah, Assalamualaikum." Fany memutuskan sambungan telfonnya.


"Oh jadi mereka akan makan malam di restoran xx." gumam Daren menganguk-angukkan kepalanya.


Tanpa ia sadari istrinya sudah berdiri di sampingnya.


"Ngapain kak Daren di depan kamar aku?" tanya Fany datar dan kembali menutup pintu kamarnya.


"Itu...aku cuma kebetulan lewat saja." kilah Daren gugup mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


"Oh." gadis itu ber oho ria, dan melanjutkan langkahnya.


Seperti anak kecil, Daren terus mengekor di belakang Fany hingga gadis itu sampai di dapur.


Fany yang menyadari itu segera berbalik. "Ngapain kak Daren ngikutin aku terus?"


"Lapar." regengeknya, mengelus perutnya yang sedari tadi keroncongan.


"Kalau lapar itu makan, bukannya ngintilin orang kemana-mana." ketus Fany.


"Masakin ya." bujuknya.


"Lih apaan nih orang, giliran ada maunya aja kek anak kecil, lupa apa tadi dia ngebentak-bentak gue." batin Fany menatap jenggah pria di sampingnya, yang trus merengek meminta makan.


"Kak Darenkan bisa pesan, aku ngantuk mau tidur." ucap Fany dan berlalu pergi meninggalkan suaminya yang sedang kelaparan didapur.


Daren menghela nafas panjang, memandangi wanitanya masuk kedalam kamar. "Nasib-nasib, istri ngambek perut sasarannya." ucapnya mengelus perutnya.


***


Seorang pria tengah duduk di salah satu meja di dalam restoran yang terlihat sederhana, sedari tadi mata pria itu menatap keluar jendela memperhatikan setiap pengunjung yang masuk kedalam restoran tempatnya duduk sekarang.


"Kemana mereka, sudah hampir jam 8 tapi belum ada yang datang." gumam Daren, sedikit-sedikit memperhatikan arlojinnya.


Seorang wanita datang dengan senyuman mengembang dan ikut duduk satu meja dengan Daren. "Kenapa tiba-tiba pindah restoran?" tanya wanita itu setelah duduk manis di hadapan Daren.


"Pengen aja." jawabnya singkat.


Pria itu mengangkat tangannya berniat memanggil pelayan, namun tingkah nya itu di cegah oleh Elina. "Aku udah pesan." ucap Elina membuat Daren menurunkan tangannya.

__ADS_1


"Mau ngomong apa? tumben ngajak aku makan malam." tanya Elina.


"Tentang surat perjanjian pernikahan." jawab Daren. Pria itu berfikir memberitahukan Elina adalah salah satu jalan, dari pada ia harus cerai dengan Fany.


"Kenapa memangnya?"


"Surat perjanjian itu di culik."


"Hah kenapa....terimakasih." ucap Elina ramah saat pelayan mengantarkan menu makan malam mereka.


"Bagaimana bisa surat perjanjian itu di culik?" tanya Elina setengah berbisik tidak ingin seseorang mendengarnya.


"Aku juga tidak tahu bagaimana Nara bisa membobol sandi apartemen begitu mudahnya, Tapi satu yang aku yakini dia tidak sendiri." jelas Daren.


"Kamu benar, dia tidak akan berani jika tidak ada dukungan dari orang lain." Elian mengut-mangut.


"Lalu apa rencamu selanjutnya?"


"Nanti aku pikirkan itu, yang terpenting berhati-hatilah, jangan bertindak ngegabah." Elina memberi peringatan.


Wanita itu bangkit dari duduknya. "Aku yang akan mengurus semua masalah ini, ingat jangan bertindak ngegabah. aku pergi dulu." pamit Elina tanpa menyentuh makan malamnya dan hanya menyesap sedikit minuman yang di pesannya.


"Hmmm." gumam Daren.


Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Persiapakan semuanya, tidak pakai lama !" perintahnya pada seseorang di seberang telfon.


***


Gadis itu takut suaminya akan mengamuk jika mengetahui ia pulang tengah malam.


"Dari mana saja kamu?"


"Deg" jantung Fany seakan berhenti saat mendegar suara bariton itu, dari suaranya saja pria itu tengah menahan kesal.


Perlahan tapi pasti langkah kaki gadis itu semakin dekat ke sumber suara, di sana sudah ada seorang pria duduk di tengah kegelapan, entah apa yang di lakukan pria itu.


"Dari mana?" ulang Daren.


"Makan malam sama kak Radit." lirih gadis itu ikut duduk di samping suaminya.


"Makan malam di mana? aku tungguin di restoran XX kamu nggak datang-datang." tanya Daren dengan suara datarnya.


"Aku mengubah tempat tujuan karena merasa tidak cocok." jawab Fany. "Tunggu, kok kak Daren tahu aku akan makan malam di restoran itu? dan kenapa kak Daren nungguin aku?" keluarlah sudah pertanyan-pertanyaan dari mulut gadis itu, kini rasa takutnya menguap begitu saja.


"Aku sengaja nguping pembicaraan kamu dengan Radit semalam, dan tentang aku nungguin kamu, aku ingin lihat apa yang kamu lakukan dengan pria itu." jawab Daren jujur. Wah patut di beri hadia tuh si Daren jujur amat jadi orang, sampai mengatakan menguping lagi, daebak👏.


"Hahaha, memangnya apa yang aku lalukan sama kak Radit, orang cuma bicarain soal bisnis doang."


"Apa Kamu tahu apa yang kulakukan malam ini? untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengubah rencana yang sudah ku susun rapi, makan malam dengan Elina di tempat biasa kami menghabiskan waktu. Aku mengacaukan itu semua dan malah datang ke restoran yang kamu sebutkan itu, menunggumu hingga larut malam namun kamu tak kunjung datang." jelas Daren.

__ADS_1


"Fany...."


"Cukup kak, bercandamu tidak lucu, jangan buat aku salah paham dengan candaanmu itu." sela Fany, gadis itu tidak ingin berharap lebih pada pria di sampingnya.


"Apa aku terlihat bercanda?" tanya Daren.


Fany mengeleng.


"Lihat." Daren menunjuk ruang tamu, di mana di sana sangatlah gelap.


Ting, lampu menyala.


Mata Fany membulat sempurna saat melihat dekorasi ruang tamu yang sangat indah, balon-balon yang bertebaran di lantai hinggai lantai itu tak terlihat, lampu kecil menghisi ruangan itu, dan lagi sebuah layar besar bertuliskan.


I LOVE YOU FANY.


Gadis itu menutup mulutnya tak percaya, memutar lehernya menghadap suaminya, namun pria itu hanya menganguk dengan senyuman manisnya.


Dengan langkah gontai gadis itu menuju ruang tamu menginjakkan kakinya ke lantai membuat balon-balon itu beterbangan. Fany mengambil salah satu balon bertuliskan FANY.


Sekali lagi gadis itu menatap suaminya meminta persetujuan pria itu untuk memecahkan balon di tangannya. Lagi dan lagi pria itu hanya menganguk dengan senyuman.


Dor


Fany berhasil memecahkan balon itu entah dengan apa. Namun lagi-lagi gadis itu di buat takjub saat melihat kotak beludru yang tidak terlalu besar keluar dari balon yang baru saja di pecahkannya.


Daren mengambil kotak beludru itu, membukanya dan bersujud di hadapan Fany istrinya.


"Kamu adalah orang yang tepat mendampingiku. Kamu telah melihat semua kekuranganku tapi tetap bersamaku. Hingga tak ada satupun wanita di luar sana yang mampu sepertimu. Kamu adalah wanita yang selalu menungguku di rumah. Menghabiskan waktu bersama sepanjang hari tanpa ada orang yang membicarakan. Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri sudah tepatkan pilihanku. Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama, itu kamu. Fany Palwinta, jadilah istriku yang sebenarnya, membersamaiku hingga maut memisahkan kita."


-


-


-


-


-


-


-


TBC


Apakah Fany akan menerima cinta Daren? Ataukah Ia kan menolak karena sudah terlalu banyak luka yang di berikan pria itu?


Kalau Part ini rame author up cepat

__ADS_1


Jangan lupa, Vote, komen dan likenya.🙏🥰


__ADS_2