
Seperti biasa, Fany akan bangun subuh untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, setelah itu ia membuat sarapan untuk suami tercintanya, walau ia tahu suaminya tidak mencintainya.
Hari ini ia memutuskan tidak masuk bekerja, ia ingin merawat suaminya hingga benar-benar sembuh.
"Pagi kak." sapa Fany dengan senyuman cerahnya.
"Hmmm." Daren hanya membalas deheman, dan tersenyum kaku, Ia mendudukkan tubuhnya di meja makan berhadapan dengan istrinya.
"Bagaimana tangan kak Daren, apa sudah baikan?" tanya Fany.
"Sudah." jawabnya singkat.
"Kenapa kak Daren berubah cuek lagi sama aku? apa dia hanya kasian padaku semalam?" batin Fany.
"Ah tidak papa Fany, tidak ada salahnya jika kau mengejar cinta suamimu, yang salah itu jika mencintai suami orang." lagi-lagi gadis itu membatin namun sekarang di sertai dengan senyumnya.
"Tapi apakah aku pantas untuk itu? apakah kak Daren mau menerima gadis seperti ku yang tidak suci lagi?"
"Kamu kenapa, dari tadi diam saja?" tanya Daren, Ia menunggu gadis di hadapannya lah yang memulai pembicaraan, Ia sebenarnya juga ingin memperbaiki hubungannya, namun ia masih ragu tentang cintanya pada istrinya.
"Hmm, sebaiknya kak Daren nga usah syuting dulu hari ini, biar aku yang mengabari kak Radit." Fany memberi usul, tidak ingin suaminya kembali cedera, mengigat memar di lengannya cukup serius.
"Kamu tidak perlu menelepon Radit, aku akan masuk bekerja, lagian ini hanya luka kecil." kesal Daren, entah kesal karena apa, mungkin karena istrinya menyebut pria lain, atau lain hal.
"Tapi kak..."
"Jangan lebay aku baik-baik saja." pria itu memotong pembicaraan istrinya, ia tahu istrinya keras kepala, namun jangan lupakan bahwa ia lebih keras kepala.
"Hem, baiklah, terserah kakak saja."
Gadis itu mengambil sarapan dan menyajikannya di piring suaminya.
"Malanalah dulu kak." ucapnya.
Pria itu hanya menganguk dan mengambil sendok, namun baru saja akan mengerakkan tangan kananya, rasa nyeri menyerang.
gadis itu bangkit dari duduknya dan pindah posisi duduk di sebelah kanan suaminya.
"Sudah Fany bilang, jangan banyak gerak dulu, sini biar aku saja yang menyuapi kakak." ucapnya.
Mau tidak mau pria itu nurut saja, dari pada ia kelaparan.
Dan benar saja, istrinya itu dengan telaten menyuapinya.
"Kamu makanlah juga!" pinta pria itu.
"Nanti setelah kak Daren makan." jawab Fany singkat dan masih setia menyuapi suaminya.
__ADS_1
"Kenapa tidak sekalian makan saja?" tanya Daren.
"Tapi itu kan repot kak." keluh Fany, Ia tidak habis pikir, bagaimana coba ia bisa makan sedangkan ia sedang menyuapi suaminya, masa ia sekali menyuapi suaminya, ia harus menyimpan piring satunya dan makan di piring satunya lagi, kan ribet?
"Lah ribet bagaimana? Kamu kan tinggal makan makanan yang sedang kamu pegang." ucap Daren datar.
"Hah ! makan di piring yang sama dan sendok yang sama gitu?" gadis itu memastikan.
"Hmmm."
"Emang ngak papa gitu?" Fany menaikkan salah satu alisnya.
"Lah emang kenapa, bukannya kita suami istri?" ucap Daren spontan.
Seketika pria itu menepuk mulutnya sendiri. "Nih mulut nagapain ngomong gitu sih, ini juga jantung ngapain lari maraton?" batin Daren mengerutu, merasa malu dengan perkataannya sendiri.
Fany jangan di tanya lagi, wajahnya terasa panas padahal masih pagi-pagi, gila, hanya dengan perkataan kata-kata suami istri saja sudah membuatnya baper dan salah tingkah, gimana jika suaminya membalas cintanya, mungkin ia adalah wanita yang paling bahagia.
Ah mereka seperti anak remaja saja, malu-malu tapi mau.
Dan seperti permintaan Daren, mereka makan sepiring, sesendok berdua, Ah romantis sekali.
"Kan Daren tunggu di sini dulu ya." ucapnya melangkahkan kakinya ke kamar setelah membersihkan sisa sarapan mereka.
"Mau kemana?" tanya Daren.
"Mau ngabarin kak Radit, bahwa kak Daren nga bisa syuting hari ini." jawabnya kembali melangkah, namun suara suaminya menghentikannya.
"Baiklah."
Setelah menelfon Radit, Fany membujuk suaminya agar mau berobat kerumah sakit. Dan disinilah gadis itu berada di dalam kamar suaminya, atas permintaan pria itu sendiri, karena lengannya tidak bisa di gerakkan tentu saja Fany akan membantunya.
Gadis itu dengan telan memakaikan kemeja untuk suaminya, mengancingkan satu persatu kemeja itu, tak lupa ia juga memasangkan jas di tubuh kekar suaminya dan tentu saja pria itu harus membungkuk melihat tinggi istrinya hanya sebatas leher.
Gadis itu mengusap dada yang di lapisi kemeja itu menandakan ia telah selesai dengan kegiatannya. "Selesai." ucapnya dengan senyuman yang begitu tulus, walau ia sempat malu karena ini pertama kalinya ia melayani suaminya, apa lagi saat melihat perut six packnya.
"Ingat kak Daren nga boleh kemana-mana dulu selain ke dokter." ucapnya memperingatkan.
"Hmm."
"Aku akan menelfon kak Deon untuk mengatar kakak."
"Biar aku saja." ucao Daren dan segera menghubungi asistennya.
Gadis itu mengantar suaminya sampai di basemen apartemen. "Kak setelah kerumah sakit langsung antar kak Daren pulang !" perintahnya pada Deon, yang hanya di jawab anggukan.
Ya gadis itu tidak ikut atas permintaan suaminya yang menyuruhnya tinggal di rumah saja, bahkan bekerja Daren sudah meminta izin dengan alasan istrinya akan merawatnya selama beberapa hari.
__ADS_1
Padahal pria itu masih was-was karena belum menemukan siapa pelaku sebenarnya.
Deon tanpa sadar mengembangkan senyumnya merasa konyol dengan pesan Fany tadi, serasa ia adalah sopir yang akan mengantar anak nyonyanya ke sekolah.
Sementara di tempat lain, seseorang merasa kesal mendegar Fany tidak masuk bekerja, dan itu membuatnya bekerja ekstra.
Gadis itu merengut meninggalkan teman-temannya di butik dan menemui seseorang di salah satu kafe dekat tempat kerjanya.
"Katanya rencanya kak Andra itu bisa membuat hubungan mereka rengang, tapi lihatlah, Fany bahkan cuti bekerja hanya untuk merawat kak Daren, bukannya memisahkan, kak Andra malah semakin mendekatkan mereka." gadis itu merenggut tidak terima hubungan Fany dan Daren semakin dekat, bagaimana ia bisa masuk jika tidak ada celah.
"Bukannya itu malah bagus?" ucap Andra menyesap minumannya dengan seringai liciknya.
"Maksud kak Andra?" tanya gadis itu.
"Dengan begitu kau bisa masuk ke dalam apartemen Daren dan mencari informasi yang lebih akurat." ucap Andra senyum licik.
"Pergilah, bujuk bos tololmu itu untuk menjeguk Daren di rumahnya." lanjutnya.
"Hem, ide bagus." gadis itu ikut menyeringai.
Setelah gadis itu menemui Andra, ia benar-benar melancarkan aksinya membujuk bos dan teman-tamannya untuk menjeguk Daren.
"Bos bagaimana kalau kita jenguk kak Daren saja, sebagai rasa peduli kita pada Fany." ucap nya.
"Setuju bos." ucap rekan kerja yang lainnya.
"Iya sakalian kita lihat-lihat bagaimana tempat tinggal seorang Daren." timpal satunya lagi.
"Baiklah." ucap bosnya menyetujui.
-
-
-
-
-
TBC
Terima kasih para Reader karena bersedia mengikuti cerita author.
jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.
Hay kakak-kakak tercinta, author potato juga ikut lomba You Are A WRITER season 5 loh.
__ADS_1
Jika kakak-kakak tercinta suka dengan cerita author, jangan lupa dukung author dengan cara jangan biarkan vote nya kendor ya🙏😊.
Like dan komen kalian adalah semangatku😍🙏🥰🤭