My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 29


__ADS_3

Gadis itu membopong suaminya masuk kedalam kamar dan membaringkannya di atas ranjang.


Bruk !!!


Tubuh gadis itu terjatuh tepat di atas tubuh suaminya.


Dengan cepat gadis itu menyingkir dari tubuh suaminya, jantungnya mulai tidak aman jika terus berada di dekat pria itu.


"Jangan pergi !"


Pria itu kembali menarik tangan istrinya dan menjatuhkannya di atas pangkuannya, menyembunyikan wajahnya di punggung istrinya.


Semakin gadis itu meronta, semakin erat pula pelukan pria itu.


"Kenapa kau tidak mau membalas cintaku Elina? pernahkah kau melihatku sebagai seorang pria? atau kau hanya melihatku sebagai adikmu yang butuh kasih sayang darimu?" rancau pria itu masih dengan posisi yang sama.


"Deg" jantung Fany seakan berhenti berdetak mendegar penuturan suaminya, bukan karena mengetahui bahwa suaminya mencintai wanita lain, tapi kecewa karena suaminya menganggap dirinya Elina.


"Apa yang kau harapkan Fany, dia memelukmu karena mengira kau kak Elina" gadis itu membatin berusaha menyadarkan dirinya agar tidak terlalu berharap pada suaminya.


"Apa yang harus aku lakukan agar kau mau mencintaiku? katakanlah !" lirih Daren.


"Yang harus kamu lakukan adalah tidak menyerah untuk mendapatkan cinta wanita yang kau inginkan, seberapa besar pun rintangannya kau harus melaluinya. Yakinlah suatu saat nanti kau bisa mendapatkan cintamu." nasehat Fany pada suaminya.


"Bagaimana jika aku sudah berusaha sekeras mungkin, namun dia belum juga mencintaiku?" lirih Daren, suaranya semakin melemah.


"Jangan berputus asa, kau bahkan belum melewati rintangan yang sangat berat, dan sekarang juga kesempatanmu sangat besar untuk mendapatkannya karena sekarang dia seorang janda." ucap Fany.


"Kak" panggil Fany namun tidak ada sahutan dari pria itu. Ia membalikkan tubuhnya menghadap suaminya dan mendapati suaminya tertidur dengan nyaman memeluk dirinya.


"Huh ternyata dia tertidur." Gadis itu perlahan melepaskan lengan kekar yang masih melingkar di perutnya dan membaringkan pria itu di tempat tidur. Setelah itu ia juga kembali ke kamarnya mengerjakan apa yang telah ia lewatkan tadi dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Jam 3 pagi, Fany bangun dari tidurnya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat islam di bulan ramadhan ini, yaitu makan sahur. Gadis itu menyiapkan makan sahur untuk suami dan juga dirinya.


Tok...tok...tok...


Fany mengetuk daun pintu kamar suaminya, mencoba membangungkannya untuk makan sahur.


"Kak, udah waktunya makan sahur." Gadis itu sedikit berteriak namun belum juga ada sahutan dari dalam.


Gadis itu mencoba membuka pintu dan beruntungnya pintu tidak terkunci. Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar suaminya namun tidak mendapati suaminya di tempat tidur, Gadis itu mengedarkan pandangannya dan tertuju pada satu titik yang sangat menarik perhatiannya.


Gadis itu mengembangkan senyumnya dan memutuskan keluar dari kamar tidak ingin mengganggu suaminya.


"Sudah selesai ?" tanya gadis itu setelah suaminya duduk di meja makan.

__ADS_1


"Sudah !" jawan Daren singkat dan padat.


Mereka berdua makan sahur tanpa ada yang bersuara dan yang terdengar hanya dentingan sendok yang saling bersahutan dengan piring.


"Kenapa senyum-senyum gitu?" tegur Daren saat melihat istrinya sedari tadi senyum-senyum sendiri dan sekali-kali meliriknya.


Ya gadis itu sedari tadi senyum-senyum sendiri setelah keluar dari kamar suaminya, bagaimana tidak, ia sangat senang mendapati suaminya tengah menjalankan sunnah nabi di sepertiga malam, dan ia merasa sangat beruntung menikah dengan laki-laki taat agama seperti suaminya, walau kadang sifat suaminya tidak mencerminkan seorang dengan apa yang di lakukannya tadi karena mencintai wanita lain padahal dirinya tengah beristri.


Dan bukan hanya itu yang membuat gadis itu terus tersenyum, gadis itu mempunyai satu rencana yang akan membuat suaminya bertekuk lutut di hadapannya.


"Ternyata kalau lu mabuk konyol juga ya ?" bukannya menjawab pertanyaan suaminya, ia malah meledeknya.


"Emang gue ngelakuin apa saja ?" Daren memasang wajah seriusnya, ingin mengetahui apa yang telah di perbuatnnya semalam.


"Kak Daren banyak bercerita rahasia padaku, salah satunya tentang kak Elina." Fany menaik turunkan alisnya menunggu reaksi suaminya.


"Apa saja yang gue bilang?"


"Banyak, tapi kak Daren tenang saja gue akan merahasiakannya tapi dengan satu syarat." ucap Fany menyeringai.


"Baiklah, kau tidak perlu bayar bulan ini." Sebelum gadis itu menyampaikan keinginannya pria itu terlebih dahulu menyanggupinya, toh sudah beberapa hari yang lalu Fany meminta itu namun karena ingin mengerjainya, Ia menyuruhnya membayar.


"Lu mau kemana?" tanya Fany saat melihat suaminya bangkit dari duduknya.


"Mau tidur, kenapa !" ketus Daren.


"Ngapain lu masuk di kamar gue?"


"Gue bisa bantu kak Daren loh untuk dapetin kak Elina, mau nga?" tawar Fany yang ingin membantu suaminya mendapatkan cinta manajernya.


Entahlah, apa yang ada di dalam pikiran gadis itu, sehingga berpikiran menjodohkan suaminya, dan tidak memikirkan perasaannya sendiri.


"Nga usah gue bisa sendiri, gadis kecil kayak lu nga bakal ngerti apa itu cinta." Daren menolak tawaran istrinya.


"Itu yang gue maksud kak" Fany mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang dengan bibir melengkung membentuk bulan sabit.


"Maksud lu apaan sih." Daren semakin kesal, Ia sangat mengantuk namun gadis di hadapannya terus menganggunya.


"Sama kayak kak Daren, kak Elina berfikir seperti itu padamu, kak Elina menganggapmu anak kecil." jawab Fany.


Raut wajah pria itu seketika berubah mendengar penuturan istrinya, ia tidak terima di katai anak kecil oleh gadis muda di hadapnnya padahal usianya sudah 25 tahun.


"Itu tidak mungkin." Elak Daren.


"Gue berkata demikian bukan tanpa sebab kak, apa lu ingat saat lu pergi dari rumah? bagaimana perasaan lu saat itu?" tanya Fany.

__ADS_1


"Pasti perasaan kak Daren saat itu sangat kesal, dan berharap seseorang membujuk kak Daren untuk pulang kerumah." tebak Fany.


Pria itu hanya mangut-mangut membenarkan semua ucapan istrinya. Ia memang berharap Elina saat itu mengejarnya dan membujuknya untuk pulang, namun yang di harapkan tak kunjung datang.


"Apa kak Daren tahu apa yang di katakan kak Elina saat itu?" Fany semakin membuat pria itu penasaran.


"Memangnya apa yang di katakan Elina?"


"Kak Elina mengatakan padaku, bahwa aku tidak usah khawatir karena kak Daren akan pulang sebelum jam 8 pagi, dan apa yang di katakan kak Elina benar adanya, saat itu kak Daren pulang sebelum jam 8." jelas Fany.


"Jadi selama ini Elina hanya menganggapku anak kecil?" gumam Daren.


"Karena kak Daren baik padaku hari ini, gue juga akan berbaik hati padamu."


"Memangnya apa yang bisa lu lakuin?" Daren masih meremehkan gadis kecil di hadapannya.


"Wanita lebih suka pria dewasa yang mengerti perasaanya, dan wanita tidak suka jika pria terus-terus mengejarnya, malahan ia akan ilfil pada pria itu."


"Jadi maksud lu Elina ilfil sama gue gitu!" kesal Daren.


"Bukan itu maksud gue"



Nih yang pengen liat babang Daren yang sikapnya kekanak-kanakan padahal usianya udah bisa bikin anak, up canda babang🤭.



Nih si Fany yang ngeselinnya minta ampun.


-


-


-


-


TBC


Terima kasih para Reader karena bersedia mengikuti cerita author.


jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.


Hay kakak-kakak tercinta, author potato juga ikut lomba You Are A WRITER season 5 loh.

__ADS_1


Jika kakak-kakak tercinta suka dengan cerita author, jangan lupa dukung author dengan cara jangan biarkan vote nya kendor ya🙏😊.


Like dan komen kalian adalah semangatku😍🙏🥰🤭


__ADS_2