My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 50


__ADS_3

"Aku itu kecewa sama kak Daren, ternyata kak Daren selama ini memasang CCTV tanpa sepengetahuanku." kesal Fany melempar sling bag nya ke atas sofa.


Pria itu menghela nafas, ternyata istrinya marah karena mengetahui dirinya memasang CCTV di setip sudut ruangan.


"Kak Daren curiga sama aku? kak Daran takut aku ngambil sesuatu ia?"


"Maaf, tapi bukan itu maksudku, kita dulu tidak saling kenal, makanya aku menyuruh Deon memasang CCTV. Baiklah besok aku akan menyuruh Deon untuk melepas semuanya." bujuk Daren.


"Sudahlah, aku capek ingin istirahat." ucap Fany dan berlalu pergi meninggalkan Daren yang masih pusing dengan tingkah istrinya.


"Tunggu !" cegah Daren.


Fany memutar bola mata jenggah. "Apa lagi !" tanyanya penuh tekanan.


"Aku ingin membicarakan tentang surat perjanjian itu" ucap Daren.


"Bukannya menyerahkan video itu ke pihak yang berwajib, sudah cukup membuktikan bahwa Nara bersalah? lalu apa lagi?" tanya Fany.


"Jika kita menyerahkannya ke pihak berwajib, itu sama saja kita menyebarkan surat perjanjian itu, semua orang akan tahu jika polisi menyelidikinya." jelas Daren.


Ya pria itu bukannya memberikan Nara kesempatan kedua, ia hanya mengancam Nara, tidak mungkin jika Daren melaporkan Nara kepolisi atas tuduhan pencurian, yang ada polisi akan bertanya apa yang di curi Nara di rumahnya.


"Yaudah, telfon kak Elina saja kalau begitu." saran Fany.


"Nggak." jawab Daren singkat padat dan jelas.


"Kenapa? oh aku tahu kak Daren kan sedang menjalankan misi mendapatkan hati kak Elina dan tidak ingin bergantung pada kak Elina lagi." tebak Fany walau ada rasa sakit saat mengatakan itu.


"Fany !" kesal Daren.


"Oh iy, ada satu solusi lagi agar bom waktu itu tidak meledak sewaktu-waktu." Fany kembali bersuara.


"Apa?"


"Kita cerai saja, dengan begitu berita tentang surat perceraian itu akan tenggelam dengan kabar perpisahan kita." jelas Fany.


Rahang Daren mengeras mendegar perkataan Fany, ada rasa kesal dan juga marah saat gadis itu mengatakan tentang perceraian.


"Nggak ! sampai kapan pun aku nggak akan ceraikan kamu !" suara Daren naik satu oktaf.


"Tapi hanya itu jalan keluar satu-satunya."


"Lebih baik karirku hancur jika harus menceraikanmu."


"Yaudah, terserah kakak saja." ucap Fany acuh dan masuk ke dalam kamarnya.


***


"Kak Daren udah bangun? sarapan dulu" ujar Fany sembari menyiapkan makanan di atas meja.

__ADS_1


"Hmmm" gumam Daren dan mendudukkan tubuhnya di meja makan.


Setelah menyiapkan sarapannya, Fany melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


"Mau kemana hm? kenapa nggak sarapan?" tanya Daren menarik pergelangan tangan istrinya.


"Nggak nafsu kak." jawab Fany acuh.


Bukannya menyerah, Daren malah menarik paksa Fany agar duduk di sampingnya. "Di nafsu-nafsuin, entar sakit kamu sendiri yang repot." ucapnya.


Gadis itu menghela nafas, niatnya untuk menghindari suaminya malah gagal total.


Daren dengan telaten mengambilkan nasi dan juga lauk untuk Fany, ia takut istrinya sakit.


Pria itu sesekali melirik istrinya yang sedari tadi belum menyetuh makannya dan hanya memperhatikan ponselnya. "Makan Fany !"


"Iya." jawab Fany singkat namun belum juga memakan makannya.


"Iya, iya aja terus, makannya kapan? liatin apa sih !" pria itu mulai kesal.


"Liatin berita, tapi anehnya belum ada berita tentang surat perjanjian itu, aku jadi khawatir Nara memikirkan hal licik lainnya." lirih Fany.


Daren mengengam tangan Fany. "Jangan terlalu mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi, itu hanya membuat hidupmu terasa berat dan sulit. Belajarlah untuk selalu menghadirkan hati yang tenang dalam setiap keadaan, agar hidupmu lapang dalam setiap kejadian. Khawatir itu setengah penyakit. Jika hatimu terlalu sibuk dengan kekhawatiran, di situlah kamu sedang menyiapkan kesulitan dan kesakitan untuk hidupmu. Bismillah.... Gantungkan dan sandarkan saja hidupmu kepada ALLAH SWT. Mulai katakan pada dirimu sendiri 'Hari ini untuk semua yang sedang terjadi dan akan terjadi dengan kalimat : Tenang saja ada ALLAH SWT yang selalu bersamaku." ucap Daren.


Hanya itu yang bisa Daren lakukan untuk saat ini, jujur saja ia juga khawatir, tapi ia tidak ingin memperlihatkannya, apa lagi sampai membuat Fany merasa bersalah dan meninggalkannya.


"Tapi kak, karir kak Daren sedang di pertaruhkan, karir yang selama ini kakak pertahankan selama bertahun-tahun hancur karena sebuah pernikahan palsu ini. Jadi lebih baik jika kita berpisah dengan begitu karir kakak tidak akan hancur, dan kita bisa kembali ke kehidupan masing-masing seperti sediakala." lirih Fany.


"Habiskan sarapanmu !" ucap Daren dingin dan meninggalkan Fany begitu saja.


Daren masuk kedalam kamarnya bersiap-siap untuk bekerja, tinggal dirumah bisa-bisa membuatnya bertengkar dengan Fany, pria itu pergi tanpa berpamitan pada istrinya.


***


Gadis itu sedari tadi tidak konseng bekerja, bahkan desain-desain yang ia buat ambruadul. Memikirkan rumah tanggnya membuatnya stres. Gadis itu bingun dengan sikap suaminya, kadang baik, kadang dingin kek kulkas, dan sekarang pria itu tidak ingin menceraikannya, padahal pria itu juga tidak pernah menyatakan cinta padanya.


"Hahahah Fany nggak usah berharap lebih deh, hanya karena dia mencium lu dan perhatian pada lu belum tentu dia suka sama lu, bukankah laki-laki memang seperti itu, bahkan sampai sekarang dia tidak percaya pada lu sampai-sampai ia memasang CCTV di setiap sudut ruangan, jika untuk keamanan kenapa sebanyak itu?"


Gadis itu terus tertawa menertawakan kebodohannya yang terlalu berharap di cintai oleh seorang Daren yang jelas-jelas tidak mungkin mencintainya.


Dert...dert...dert


Gadis itu menghentikan tawanya saat ponselnya berdering, tanpa menunggu waktu lama gadis itu menjawabnya.


"Assalamualaikum Kak."


"Wa'alaikumussalam, kamu dimana? sibuk nggak?" tanya Radit, ya pria itu adalah Radit.


"Ini gue lagi di butik, ada apa? gue nggak sibuk kok." jawab Fany.

__ADS_1


"Kakak bisa minta tolong nggak ?"


"In sya Allah kalau gue mampu kak."


"Ini salah satu desainer yang ada di perusahaan bunda nggak bisa masuk, trus pesanan numpuk banget, kamu bisa bantu nggak?"


"Kalau untuk buat desain maaf gue nggak bisa untuk sekarang."


"Dengerin dulu bawel." Radit gemes sendiri pada Fany.


"Ais kak Radit tuh yang bawel."


"Aku tuh cuma mau minta tolong, arahin para karyawan agar gaunnya sesuai dengan desain yang telah di gambar." jelas Daren.


"Oh gitu, yaudah kapan?" tanya Fany.


"Biar lebih jelasnya kita ketumu aja deh, aku jemput ya." tawar Radit.


"Kak Radit di lokasi syuting kan?"


"Iya."


"Yaudah biar gue aja yang kesana, lagian gue nggak sibuk-sibuk amat."


"Aku suruh jemput sama Nathan ya."


"Nggak usah kak, Assalamualaikum." ucap Fany dan memutuskan sambungan telfonnya.


Gadis itu berfikir dengan menyibukkan diri dengan perkerjaan, ia akan melupakan masalahnya.


-


-


-


-


-


-


-


TBC


Gimana ya reaksi Daren saat tahu Fany menemui Radit di situasi seperti ini? ada yang tau nggak?🤔🤭.


Tes...tes...tes...hy akak-akak cantik author udah nongol nih ada yg rindu nggak? maaf ya baru nongol selama dua hari di tinggal bikin kalian rindu sama babang Daren aja.

__ADS_1


Nih auhor sengaja up buat nemenin malam takbiran kalian yang mageran keluar takbira kek aku gitu🤭.


Jagan lupa Vote, komen, dan like kalian ya🙏.


__ADS_2