
"Lu nga lagi ngeracunin gue kan ?" Daren menatap curiga pada makanan di hadapannya, Pria itu masih tidak percaya gadis di sampingnya bersikap baik malam ini.
"Ya kali gue ngeracunin elu, nga ada kerjaan amat, gue juga takut jadi jamu tahu." kesal Fany di tuduh yang tidak-tidak oleh suaminya sendiri, padahal ia hanya ingin bersikap baik.
"Apaan tuh Jamu ?" tanya Daren.
"Janda muda !" jawab Fany.
"Oh, baguslah kalau lu takut jadi jamu, berarti selama bersama lu, gue nga perlu takut di racuni."
"Ayo di cicipi makanannya entar keburu dingin loh." pinta Fany ingin sekali Daren memakan masakannya.
Dengan ragu Daren mulai mencicipi satu persatu makan yang telah di buat istrinya.
"Gimana, enak nga ?" tanya Fany ketika melihat raut wajah suaminya datar-datar saja.
"Lumayan." jawab Daren semakin gencar memakan masakan istrinya. Kalau boleh jujur masakan istrinya bukan lumayan lagi, tapi lezatnya mengoda selera, namun lagi-lagi ego nya terlau tinggi untuk memuji gadis muda di sampingnya.
"Katanya lumayan, tapi kok makannya lahap amat." gerutu Fany.
"Iya deh, gue akuin masakan lu enak, puas !" jawab Daren tanpa menghentikan aktifitas makannya.
"Gitu dong." Fany senyum sumbringan akhirnya suaminya memuji masakannya, itu lah yang sedari tadi di tunggunya. "Ayo nambah lagi." lanjutnya menambahkan beberapa lauk dan juga sayur ke dalam piring suaminya.
"Kalau gini sih gue setiap hari makan di rumah aja deh." ucap Daren masih menikmati makan malamnya, sementara Fany hanya memandangi suaminya makan dengan senyuman yang tak pernah surut dari bibirnya.
"Iya nga apa-apa kalau kak Daren mau makan malam di rumah terus, tapi suamiku harus tahu bahwa semua yang ada di dunia tidak gratis." ucap Fany masih dengan senyumnya.
"Maksud lu apa ?" Daren menghentikan aktifitas makannya, memandangi wajah gadis muda di sampingnya, mencoba mencari sesuatu di dalam sana.
"Masa kak Daren nggak ngerti, tentu saja kebaikan gue ada maksudnya, ya kali gue mau capek-capek masak jika tidak ada maksud di balik itu semua." Fany senyum kemenangan, akhirnya Daren masuk ke dalam perangkapnya.
"Sudah gue duga." Daren meletakkan sendok dan juga garpu di atas meja, selera makannya seketika hilang mengetahui maksud kebaikan istrinya, dan lagi-lagi Ia berhasil masuk kedalam perangkap gadis muda di sampingnya. "Apa yang lu mau?" kesalnya.
"Gampang kok kak, kak Daren tinggal hadir di acara makan malam yang akan di adakan bos gue, malam minggu nanti." jawab Fany tanpa dosa.
"Gue nga mau." tolak Daren.
"Kak Daren nga bisa gitu dong, masa ia sudah ngehabisin masakan gue dan seenaknya menolak keinginan gue." Fany mencebik.
Gadis itu sebenarnya tidak ingin melakukan semua ini pada suaminya, namun desakan bos dan teman-temannya yang menyuruhnya mendatangkan Daren ke acara makan malam mereka, membuatnya melakukan ini semua. Apa lagi bosnya mengancam akan memecatnya.
__ADS_1
"Gue nga mau datang titik !" ucap Daren tak terbantahkan. Bukan tanpa alasan dia menolak ajakan istrinya, dia hanya tidak nyaman berada di lingkungan orang-orang asing. Mungkin karena Ia seorang Idol membuatnya tidak bisa bergaul dengan sembarang orang. Bukan sembarang orang berarti dia memilih-milih teman, bukan, dia hanya tidak bisa percaya pada orang lain selain Elina dan juga Deon. Karena reputasi tergantung bagaimana cara ia bergaul.
"Yaudah kalau nga mau, itu sih nga masalah buat gue. Gue tinggal bilang sama teman-teman gue, bahwa gue tertengkar dengan lu, dan sebentar lagi akan bercerai." Ancam Fany, hanya itulah kartu truf terakhirnya agar Daren mau menuruti keinginannya. Dengan mengancam suaminya dengan karirnya akan hancur, tentu saja pria itu akan nurut.
"Ya udah sana, gue nga peduli." jawab Daren.
"Ya udah."
"Ya udah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam minggu telah tiba, malam di mana acara makan malam Fany dengan rekan kerjanya akan berlangsung. Dan disinilah gadis itu berada di depan pintu ruangan VIP yang telah di pesan bosnya.
"Gimana penampilan gue udah keren belum ?" tanya seseorang.
"Iya lu itu udah keren, tampan dan dermawan, jadi tunggu apa lagi ayo masuk kita sudah terlambat." jawab Fany terpaksa memuji pria narsis di sampingnya.
"Tunggu !" cegah Daren saat istrinya akan membuka pintu. Ya pria itu adalah Daren, entah bagaimana cara Fany membujuk suaminya sehingga pria keras kepala di sampingnya mau ikut makan malam bersama, walau begitu, pria itu tetap menyusahkannya sedari tadi terus menanyakan penampilannya.
"Apa lagi kak ?" Fany mulai kesal.
"Lu harus janji, kita hanya makan malam, setelah itu kita pulang."
Daren akhirnya nurut juga dan tidak lagi banyak komentar. Pria itu mengandeng tangan istrinya masuk kedalam ruangan VIP di mana teman-teman dan bos istrinya berada. Ia memperlihatkan senyumnya, senyum yang selalu di gilai para wanita.
Daren menarik kursi dan membiarkan Fany duduk setelah itu Ia juga ikut duduk di samping istrinya. Wah akting Daren benar-benar real, siapapun akan iri pada Fany jika melihat perlakuan Daren pada istrinya, namun sayang seribu sayang, semua itu hanya sandiwara.
"Maaf bos saya terlambat." ucap Fany pada bos nya.
"Tidak apa-apa kami mengerti bahwa tuan Daren sibuk, tuan hadir saja kami sudah senang." ucap bos Fany mewakili para karyawannya.
"Benar, kami fans banget loh sama kak Daren." ucap Kirana antusias karena sangat mengidolakan suami temannya itu, dan beruntungnya dia bisa berteman dengan istri idolanya.
Makan malam berlangsung dengan lancar, walau Daren sedikit risih dengan bos Fany yang terus mengajaknya bicara.
"Ayo minumlah dulu sebagai pelengkap perayaan kita." bos Fany menyodornyan segelas miras pada Daren.
"Maaf pak, saya tidak minum." tolak Daren, jujur saja selama ia hidup tidak pernah sekalipun ia menyentuh minuman mengandung alkohol.
"Ayolah sedikit saja, lagian tidak ada orang lain di dalam ruangan ini. " bos Fany sedikit memaksa.
__ADS_1
Daren melirik istrinya, lewat sorot matanya, pria itu meminta bantuan agar bosnya itu tidak memaksa. Dia takut akan mabuk dan hilang akal jika minum di keramaian seperti ini, tidak mabuk saja ia bisa hilang kendali apa lagi jika mabuk.
Fany mengedikkan bahu, tanda tidak tahu harus melakukan apa.
Daren menghela nafas panjang dan menerima minuman pemberian bos istrinya. Dia berfikir mungkin jika minum sedikit tidak akan membuatnya mabuk.
Fany mengajak suaminya pulang setelah di lihatnya sedikit mabuk, terbukti dengan pria itu meladeni setiap perkataan bosnya. "Kak kita pulang." bujuknya menarik lengan suaminya.
Daren menepis tangan mungil istrinya. "Sebentar lagi sayang." ucapnya kembali menyesap minuman beralkohol di hadapannya.
"Kak..
-
-
-
-
-
TBC
-
-
-
-
-
TBC
Terima kasih para Reader karena bersedia mengikuti cerita author.
jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.
Hay kakak-kakak tercinta, author potato juga ikut lomba You Are A WRITER season 5 loh.
__ADS_1
Jika kakak-kakak tercinta suka dengan cerita author, jangan lupa dukung author dengan cara jangan biarkan vote nya kendor ya🙏😊.
Like dan komen kalian adalah semangatku😍🙏🥰🤭