
Kegiatan Fany dan Daren berjalan-jalan di mall layaknya pasangan lain menjadi trending topik, dan tak sedikit di antara mereka merasa iri sebagai seorang Fany yang sangat beruntung mendapatkan seorang Daren.
Di sisi lain, ada seseorang yang sedang patah hati melihat kemesraan keduanya, apa lagi saat Daren memposting foto mereka saat di Timezoon.
"Apa sesakit ini mencintai dalam diam?" gumamnya menatap nanar layar ponselnya, siapa lagi kalau bukan sang sutradara Radit.
Bukan hanya Radit yang patah hati melihat kemesraan mereka, Nara yang juga melihat kemesraan itu meremas ponsenya.
"Apapun akan aku lakukan untuk memisahkan kalian." gumamnya senyum sinis.
Gadis itu mengotak-atik ponselnya, mencari nama seseorang dan menghubunginya.
"Halo kak, apa kakak sudah liat berita mereka.
"Sudah." jawab Andra singkat.
"Kali ini aku yang akan bertindak." ucap gadis itu menyeringai.
"Bagus itu yang aku suka darimu, aku tunggu tanggal mainnya. Ingat pesanku ini, 'Hilangkan perasaanmu, balas dendam akan berhasil jika kamu tak berperasaan." ucap Andra lalu memutuskan sambungan telfonnya.
Bahkan Andra sangat geram melihat trending topik malam ini, ia melempar ponselnya ke atas sofa.
"Berani-beraninya kau bahagia di atas penderitaanku Daren Danuwinarta !!" gumanya mengetarkan giginya, rahangnya mengeras, Ia begitu tidak terima melihat kebahagian Daren.
Pria itu melangkahkan kakinya menuju brankar rumah sakit di mana seorang gadis tengah terbaring lemah dengan alat-alat medis yang melekat pada tubuhnya.
Pria itu mendudukkan tubuhnya di samping brankar, mengengam tangan munggil itu dengan erat, tatapan yang biasanya tajam kini terlihat sendu.
"Aku berjanji akan membalaskan dendammu dek, jadi cepatlah bangun, agar kamu bisa melihat kehancuranya, jika kamu tidak bisa memilikinya, maka tidak ada seorangpun yang bisa memilikinya, kecuali dengan kehancuran." lirihnya mencium punggung tangan adiknya.
***
"Aku juga ingin sepertinya." ucap Keysa merasa iri melihat calon kakak iparnya.
Setelah bersiap-siap dan sarapan pagi, gadis itu berangkat bekerja, karena hari ini dia ada jadwal syuting jam 9 pagi.
Sebelum ke lokasi syuting, gadis itu menyempatkan diri ke hotel untuk menemui sang pujaan hati. Ya Keysa sudah pindah kerumahnya atas perintah dari Nathan dan mau tidak mau gadis itu harus nurut jika tidak ingin Nathan menjauhinya.
Selama beberapa hari ini juga, Nathan mengajarinya mengaji, dan menghadiri beberapa kajian islam, namun ia belum mampu meninggalkan kebiasannya. Namun ia berusah sedikit demi sedikit merubah perilakunya, belajar sholat dan mengaji dengan bimbingan Nathan.
"Nathan." panggilnya berlari-lari kecil menghampiri Nathan yang baru saja keluar dari Lift.
Pria itu megembangkan senyumnya saat melihat Keysa berlari menghampirinya.
"Kenapa nggak lansung ke lokasi syuting aja?" tanyanya sembari melanjutkan langkahnya.
"Pengen berangkat bareng kamu." jawab Keysa.
Gadis itu memeluk lengan Nathan walau Nathan sudah melarangnya, untung ia memakai kemeja lengan panjang jadi kulitnya tidak langsung bersentuhan dengan kulit Keysa.
Karena lokasi syuting yang tidak terlalu jauh dari hotel, hanya butuh beberapa menit mereka berdua sudah sampai, Nathan membukakan pintu mobil untuk Keysa.
"Terimakasih." ucap Keysa dengan senyuman menghiasi wajahnya.
Keysa sangat kesal pada Nathan sedari tadi pria itu menghindari bersentuhan dengannya bahkan mengandeng tangganyapun tidak. Gadis itu menyeringai.
__ADS_1
Bugh !
"Auw !"
Nathan yang mendegar suara pekikan orang kesakitan segera menoleh dan mendapati Keysa terduduk di lantai.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya khawatir.
"Kakiku terkilir, sakit nggak bisa jalan." ucap Keysa menja.
Nathan membantu Keysa berdiri dan mendudukkanya di sebuah kursi yang tak jauh dari tempat meraka.
"Sakit banget ya." ucap Nathan mengusut perlahan kaki kiri Keysa.
"Iya, aku nggak bisa jalan." jawab Keysa.
"Duh gimana ya, benar lagi jam 8." gumam Nathan, ia harusnya sudah berada di tempat syuting sebelum jam delapan, tapi tidak mungkin juga jika ia meninggalkan Keysa yang sedang kesakitan.
"Gendong." ucap Keysa manja dan mengembangkan senyumnya.
"Nggak, rok kamu terlalu pendek untuk aku gendong." tolak Nathan.
Pria itu memutar otaknya bagaimana ia membawa Keysa, tapi nihil, jalan satu-satunya hanya mengendongnya saja.
Pria itu melepaskan kemeja hitam yang di pakainya, dan menyampirkan di pundaknya.
Sunggu itu adalah pemandangan yang sangat menyenangkan bagi Keysa, melihat Nathan yang hanya memkai kaos oblong berwarna putih yang hampir sama dengan kulitnya membuatnya semakin tampan.
Pria itu membantu Keysa untuk berdiri, mengikatkan kemejanya pada pinggang Keysa agar bisa menutupi rok gadis itu yang terlalu pendek.
Belum juga melangkah terlalu jauh, Nathan menghentikan langkahnya saat merasakan ke janggalan, ia melihat kamera tersembunyi menyoroti mereka.
Pria itu menurunkan tubuh munggil Keysa dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kamu sedang mempermainkanku?" tanya Nathan datar. "Kamu hanya bohongkan tentang kakimu yang sakit itu, dan buat apa kamu menyuruh para kameramen itu menyotori kegiatan kita." kesal nya.
Gadis itu menunduk merasa bersalah karena sudah berbohong pada Nathan. "Maaf." lirihnya. "Aku hanya ingin seperti kak Fany dan kak Daren." lanjutnya.
Nathan membuang nafas kasar, marah ? kesal ? tentu saja, tapi tidak mungkin ia membentak gadis di hadapannya.
"Kak Fany dan Kak Daren beda dengan kita, mereka itu suami istri, sah di mata agama dan hukum, jadi mau berbuat apapun tidak akan berdosa dan malah mengugurkan dosa-dosa mereka. Tapi tidak dengan kita Keysa, kita itu bukan mahrom, jika kita bermesraan bukannya mengugurkan dosa tapi malah menambah." tutur Nathan.
"Maaf." hanya itu yang keluar dari mulut Keysa.
"Bukan hanya itu, kamu membuang waktu meraka dan juga aku hanya karena hal-hal tidak penting seperti ini, kasian mereka, mereka itu harusnya sekarang istirahat karena sebentar lagi syuting akan di mulai." jelas Nathan menjuk kameramen yang sedang bersembunyi.
Dengan perasaan Kesal, Nathan meninggalkan Keysa seorang diri.
***
Seholat magrib telah usai, semua kru dan para aktor kembali ke tempat masing-masing karena harus mengambil satu adengan lagi.
Kini giliran Daren yang akan syuting adengan action.
Daren mulai berlari melompati beberapa mobil dan dan menaiki tangga yang lumayan tinggi setelah mendegar aba-aba dari Radit.
__ADS_1
"Cut !" teriak Radit saat Daren sampai di ujung tangga yang lumayan tinggi.
Dareng menghela nafas, keringat mulai bercucuran membasahi tubuh atletisnya.
Deon menghampiri Daren dan memberikan sapu tangan dan juga air minum.
"Kita ulang lagi, adengannya kurang pas." ucap Radit dan di angguki oleh Daren.
Pria itu mulai berlari lagi seperti apa yang akan di lakukannya barusan.
"Cut !" teriak Radit saat Daren akan mencapai puncak. "Sekali lagi." lanjutnya.
Daren kembali mengulang adegan itu beberapa kali, hingga ia benar-benar lelah, bagaimana tidak jika di hitung mungkin sudah puluhan kali ia mengulang adengan itu tapi sepertinya Radit belum juga puas.
Deon dan Nathan saling pandang, menurut mereka kelakuan sutradara itu sudah tidak masuk akal, ia sama saja ingin menyiksa Daren.
Namun apa boleh buat, mereka berdua hanya bisa menyaksikan tanpa berbuat apapun.
"Cut !" Teriak Radit untuk kesekian kalinya.
Nathan dan Deon menghela nafas, merasa kasihan melihat Daren yang sudah sangat lelah berlari dan melompat.
"Sekali lagi." ucap Radit.
Daren melepaskan jas yang di pakaiannya dan melemparkannya ke lantai. Pria itu menatap tajam sutradara yang sedang duduk santai di bawah sana.
"Apa lu mau nyiksa gue hah !!" teriaknya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
TBC
Hayo apa yang akan di lakukan Daren? apa dia akan bertengkar dengan sutradaranya?
Nantikan di Part selanjutnya🥰😁.
Jangan lupa hadiah, vote dan komentarnya, karena komentar kalian adalah semangatku💪.
__ADS_1
Jangan rindu, rindu itu berat biar babang Daren saja😁