
Terdengar helaan nafas Fany. "Kak aku butuh penjelasan, bukan diamnya kak Daren. Ataukah foto itu sudah bisa menjelaskan semuanya?"
"Sayang dengarkan aku!" ucap Daren lembut menatap mata Fany.
"Iya malam itu aku bersama seorang wanita, aku tidak bisa mengelak itu. Tapi percayalah, aku tidak ngapa-ngapain sama wanita itu." jujur Daren.
"Lihat baik-baik, kamu pasti mengenali wanita itu dan kamu juga tahu apa tujuannya." Daren kembali memperlihatkan foto yang sedang beredar di sosial media.
"Nara?" gumam Fany.
Fany baru menyadari itu, karena wajah Nara sedikit blur.
"Iya sayang dia Nara. Malam itu dia menemuiku mencoba mengelabuiku dengan alasan sakit. Dan foto yang kamu lihat, saat itu dia pura-pura terjatuh kearahku. Percayalah aku mendorongnya dan tidak memeluknya seperti apa yang ada di foto."
"Benar?" Fany mengangkat kepalanya membalas tatapan suaminya.
"Aku tahu kamu ragu dengan ini, bahkan orang-orang di luar sana juga menuduhku selingkuh hanya dengan melihat foto itu tanpa tahu persoalannya."
Fany mengembangkan senyumnya, mengusap rahang tegas milik suaminya. "Aku percaya sama kak Daren, sekalipun aku tidak meragukan kakak, aku hanya ingin penjelasan dan kejujuranmu."
Tanpa abah-abah Daren mendekap tubuh munggil istrinya menyembunyikan wajah istrinya di ceruk lehernya. "Maafkan aku." berkali-kali Daren mencium puncuk kepala Fany.
Fany mengurai pelukannya, mendongak menatap Daren. "Maaf untuk apa?"
"Maaf malam itu aku tidak percaya sama kamu, aku bentak kamu, dan aku..."
"Sssstttt, udah, aku udah maafin kakak, aku juga yang terlalu mudah berbaur sama lawan jenis. Lupain aja ya, kita mulai lagi dari awal." potong Fany segera di jawab anggukan oleh Daren.
"Makasih sayang."
"Udah ih peluk-peluknya, malu di liatin orang." keluh Fany melepas pelukan Daren dari pinggangnya.
"Ayo, temenin aku keliling museum" ajak Fany menarik punggun tangan Daren.
Daren melepas cekalan tangan Fany membuat gadis itu berhenti. "Kenapa?"
Daren meraih tangan munggil Fany, memasukkan jari-jarinya ke sela-sela jari Fany lalu mengengamnya. "Ayo." ajaknya dengan senyuman.
Ah hati Fany menghangat mendapat perlakuan manis dari suaminya, padahal tadi dia sudah berprasangka buruk saat Daren melepas cekalan tangannya.
"Kak Daren kok nggak pulang semalam?" tanya Fany sibuk dengan bukunya.
"Aku capek pas pulang kerja, jadi langsung tidur." bohong Daren.
"Nggak bohong kan?" Fany menatap Daren penuh selidik.
"Buat apa aku bohong coba?" Daren tertawa garing.
"Udah nggak usah bohong, kak Radit udah cerita sama aku. Tapi kok nggak nemuin aku?" tanya Fany.
Ya Radit sudah menceritakan bagaimana perjuangan Daren semalam hanya untuk mendapatkan Karcis. Tapi yang membuat Fany bertanya-tanya adalah, kenapa Daren nggak pulang kerumah jika karcis itu untuknya dan malah Radit yang memberikannya.
"Siapa bilang aku nggak pulang, aku pulang ya, kamunya aja keasikan cerita sama si Radit sampai-sampai janjian segala, kan aku kesal." jujur Daren menarik gemas hidung Fany.
"Ih kok ngga nemuin aku." kesal Fany mengusap hidungnya.
"Buat apa? kamu udah dapat karcis dari Radit."
__ADS_1
"Ih tapi kan beda kalau yang ngajak suami sendiri." sungut Fany menghentak-hentakkan kakinya kelantai.
Daren tertawa kecil melihat tingkah mengemaskan istrinya. "Ih gemes banget sih istri Daren kalau lagi kesal" Daren menguyel-uyul pipi tembeb Fany.
"Eh...ehh, itu topi sama masker kenapa di lepas ih, nanti ada yang liat gimana." protes Fany saat Daren melepas penyamarannya.
"Lebih bagus malah." jawab Daren acuh mengamit pinggang Fany, memperlihatkan pada semua orang bahwa gadis itu adalah miliknya.
Fany menundukkan kepalanya, saat keduanya menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak? Idol terkenal kini tengah bermesraan dengan istrinya di dalam museum saat rumor perselingkuhannya tengah merajalela di sosial media.
Banyak pasang mata memperhatikan interaksi mengemaskan keduanya, tak lupa sorotan kamera di mana-mana.
"Angkat kepalamu sayang, jangan sampai mahkotamu jatuh." bisik Daren
"Sayang!" panggil Daren.
Setelah menguatkan hati dan menengkan jantungnya yang kini lari maraton, Fany mengangkat kepalanya berusaha terlihat biasa-biasanya saja. berjalan beriringan dengan Daren tanpa mempedulikan hilir mudik orang-orang di sekitarnya.
"Gitu dong kang cantik." gombal Daren.
"Lah emang aku cantik." pede Fany.
"Pede banget kamu, di ajarin siapa, hmm?"
"Ih masa lupa sih, aku kan ketularan narsisnya kak Daren." Fany tertawa mengejek.
Huh baiklah kali ini Daren kalah telak, benar yang di katakan Fany, ia sangat narsis.
"Kak"
"Hmmm."
"Apa sayang?" sahut Daren lembut.
"Hehehe, nggak papa, pengen manggil aja." Fany cengegesan.
***
Suara high heels dan sepatu pantofel memenuhi lorang apartemen seseorang dengan langkah tergesa-gesa.
Ting tong
Tanpa menunggu waktu seorang pria memencet bel apartemen seseorang tidak sabaran hingga sang empunya membuka pintu.
"Ada apa kalian menemui saya?" tanya seorang gadis yang baru saja membuka pintu.
Tanpa menjawab kedua orang berlainan jenis itu nyolonong masuk kedalam apartemen. Wanita itu duduk dengan angkuhnya di sofa dengan kaki menyilang sementara sang pria berdiri di belakangnya dengan wajah datar.
"Ada urusan apa kalian datang ke apartemen saya?" tanyanya.
"Ck, nggak usah pura-pura polos lo." wanita itu bedecak melihat tingkah gadis menyebalkan di hadapannya. Gadis yang membuatnya bekerja ekstar karena sering membuat masalah.
"Saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan."
Cukup, kesabaran wanita itu sudah mencapai puncak. "Yon!" panggil Elina.
Ya wanita dan pria yang baru saja masuk kedalam apartemen tanpa sopan santun adalah Elina dan Deon.
__ADS_1
Dengan sigap Deon melempar beberapa foto ke atas meja.
"Ck, permainan lo kurang mulus, heran gue gadis kecil seperti lo berani main-main sama Daren, nggak sayang nyawa lo!" sinis Elina.
"Ap...apa maksud kalian, dan foto apa ini?" tanya Nara lagi.
"Jangan pancing kesabaran gue."
"Kenapa lo nggak suka?" Nara mulai menantang Elina.
"Gua nggak suka basa-basi, langsung saja. Gue beri lo waktu sampai jam tujuh pagi, seperti biasa buat klarifikasi. Entah gue nggak tau ada hubungan apa lo sama perusahaan Andra jaya, hingga perusahan itu bisa bebas mengungah berita unfaeda dari lo" sinis Elina.
Andra Jaya salah satu perusahaan bergerak di dunia hiburan lebih tepatnya tempat para reporter mengunggah berita-berita yang mereka dapatkan.
"Kalau gue nggak mau lo mau apa hah!" tantang Nara.
Elina bangkit menatap tajam Nara, menyudutkan gadis itu hingga tersungkur duduk di sofa. "Gue tahu lo baru saja di terima di salah satu drama ya walau hanya perang penganti sih. Lo nggak mau kan kehilangan pekerjaan lo itu?" Elian memainkan jari-jarinya di wajah Nara.
"Kalau lo ngga buat klarifikasi sampai jam tujuh pagi, siap-siap semua fakta akan terkuak. Gua akan ingatkan kalau lo lupa, lo semalam datang ke kamar hotel Daren untuk mengodanya, tapi sayang lo di tolak mentah-mentah. Gimana ya rekasi orang-orang jika gue ungah Video itu? lo tahu sendiri dunia hiburan sangat sensitif dengan berita, lo bisa saja di tendang olah sutradara." Elina menyeringai.
"Oh iya gue lupa, Sutradara lo pak Radit kan? gue kenal dekat sama dia, sepertinya peran lo nggak penting-penting amat dalam drama itu."
Setelah mengucapkan itu, Elina meninggalkan apartemen Nara, tanpa permisi. Seperti jalangkung, datang tak di undang pulang tak di antar, namun kedatangannya sangat membekas di hati tuan rumah.
Ada yang kangen mungkin ama dede Fany
Suamibel juga ada nih
-
-
-
-
-
-
-
-
-
TBC
Nara belum pernah ngerasain marahnya Daren kali ya, sampai berani ngusik dia?
Dahlah itu urusan Nara, mau di pengal kepalanya pun author tak masalah.
Hem-hem auhtor sedih lo, part-part sebelumnya sunyi kek kuburan, auhtor jadi nggak semangat up nya.
__ADS_1
Jangan lupa Vote, komen, dan likenya.
...SELAMAT MEMBACA !!!...