My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 48


__ADS_3

Fany terus memandangi pria di sampingnya, pria yang mengajaknya ke pantai di malam hari, namun kini pria itu mengacuhkannya dan malah fokus minum-minuman beralkohol.


"Kak sudah minumnya." gadis itu berusaha merebut minuman yang berada di tangan suaminya, namun nihil, pria itu tetap saja menghiraukannya.


"Sebenarnya kak Daren punya masalah apa sih? kok kelihatannya stress banget." tanya Fany.


"Sebelum aku debut, aku sangat ingin menjadi orang yang populer, aku mengira dengan populer dan terkenal aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, bisa melakukan apa yang aku mau. Dan sekarang aku sudah populer, tapi aku tidak begitu bebas seperti yang aku harapnya." Daren menghela nafas, masih memandangi ombak di lautan walau itu hanya samar-samar karena gelapnya malam.


"Benar apa yang di katakan Elina, seberapa jauh pun aku melangkah dan berlari, suatu saat nanti aku pasti akan kembali. Aku bagaikan burung dalam sangkar, tidak bisa kemana-mana." lanjutnya.


Gadis itu mangut-mangut, sekarang ia mengerti kenapa suaminya terlihat sangat tertekan. "Sudah kuduga kak Daren pasti bertengkar dengan kak Radit, itu sebabnya kak Daren melarikan diri dari proyek itu kan ? dan cepat atau lambat kak Daren akan kembali." Fany memandangi suaminya, senyum yang di perlihatkan pria itu tak mampu menyembunyikan kesedihannya.


Daren mengalihkan pandangannya, yang tadinya fokus pada ombak kini ia menatap wajah istrinya, pria itu mendegus kesal dan memanyungkan bibirnya. "Bisa tidak kamu itu nggak usah kelewatan cerdas, sampai-sampai bisa menebak apa yang aku pikirkan." kesalnya.


Gadis itu cengegesan. "Kak Daren itu nggak pandai basa-basi, jadi beginilah mudah di tebak." ucapnya dengan senyuman mengembang.


"Kakak tau nggak apa yang pernah sahabat Rasulullah katakan?"


Pria itu mengelengkan kepalanya.


"Ali Bin Abi Thalib pernah berkata, Langit tak pernah menyebut dirinya tinggi, bahkan bumi tak merasa dirinya di injak-injak atau di rendahkan, jadilah yang paling kuat, saat kamu berfikit di titik terlemah. Tidak semuanya harus suka tentang hal yang ada padamu, biarkan saja, nikmati prosesnya, dan teruslah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya. Lepaskanlah sesuatu yang membuatmu stres dan bersedih." jelas Fany.


Pria itu lagi-lagi tersenyum, ia tidak menyangka gadis di sampingnya adalah gadis yang menyenangkan di ajak berdiskusi, gadis itu mampu membuat hatinya lebih tenang sekarang.


pria itu kembali meneguk minuman beralkohol di tangannya.


"Kak sudah cukup minumnya, itu tidak baik untuk kesehatanmu." Fany merebut kaleng minuman yang ada di tangan suaminya.


"Kembalilah besok, mereka membutuhkanmu." bujuk Fany.


"Aku sudah memutuslan untuk keluar dari proyek itu, tidak mungkin aku kembali, belum tentu juga pak Radit menerima ku lagi." lirih Daren.


Benar yang di takutkan Deon, sekarang bosnya menyesal karena tidak profesionl dalam bekerja. Harusnya ia memahami konsep syuting, seharusnya ia tidak emosi atau marah karena Radit menyuruhnya mengulangi beberapa kali, mungkin karena memang aktingnya kurang bagus jadi wajar jika Radit seperti itu.


"Aku yakin kak Radit tidak marah padamu, ia bukanlah sosok yang pendendam, dia bukanlah sosok yang seperti itu. Aku akui dia memang keras dalam urusan pekerjaan karena begitulah prinsipnya, tapi percayalah dia orang yang menyenangkan jika di luar dari masalah pekerjaan." ucap Fany.


"Kenapa kau begitu mengerti tantang dirinya ?" kini suara Daren terdengar dingin, Pria itu tidak suka jika Fany membicarakan Radit.


"Tentu saja aku sangat memahaminya, aku hidup di lingkungan yang sama dengannya, tumbuh bersama dalam satu atap." ucap Fany belum menyadari perubahan suara Daren.


"Aku tidak akan kembali." ucap Daren dan meninggalkan Fany seorang diri di tepi pantai, Pria itu berjalan menuju mobilnya dan masuk begitu saja.


"Salah lagi." gumam Fany mengikuti langkah kaki suaminya dan ikut masuk kedalam mobil.


"Kak Daren kenapa lagi sih? sukanya merajuk mulu, kak Daren cemburu?" goda Fany setelah sampai di dalam mobil.


"Siapa yang cemburu, aku itu hanya kesal." jawab Daren singkat.


"Kesal kenapa?"


"Aku kesal karena mengira Pak Radit memanfaatkan posisinya untuk membalas dendam padaku." jawab Daren.


"Hah? buat apa dia balas dendam sama kak Daren?"


"Sudahlah." Daren mengalihkan pembicaraan, ya ia kesal bukan main pada Radit karena mengira Radit cemburu padanya malam itu.

__ADS_1


"Dari masalah itu aku jadi berfikir, apa aku tidak punya bakat sama sekali dalam berakting?" lirih Daren.


"Siapa bilang kak Daren nggak berbakat, nih ya, suara kak Daren itu bagus banget, akting kak Daren semuanya bagus, di tambah kak Daren itu sangat tampan. Asal kak Daren tahu ya, aku tidak pernah melewatkan satu beritapun tentang kakak, aku itu sangat mengidolakan kak Daren." puji Fany.


"Apa itu artinya kamu suka sama aku?" Daren menyeringai, ada rasa bahagia menjalar di hatinya, tapi entah perasaan apa itu.


"Bu...bukan itu maks..."


Cup


Gadis itu tidak bisa melanjutkan perkataanya saat mulutnya di bungkam oleh bibir suaminya, gadis itu reflek menutup matanya.


Lama kelamaan, Fany ikut terbuai dengan permainan bibir suaminya, ia mengalungkan tangannya di leher suaminya.


Merasa mendapat persetujuan, Daren semakin memperdalam ciumannya, tangannya tidak tinggal diam menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya.


***


Sedari tadi gadis itu tidak fokus bekerja, bayangan saat ia berciuman dengan suaminya terus menari-nari di pikirannya.


Gadit itu mengigit bibir bawahnya, sedari tadi ia tak henti-hentinya senyum-senyum sendiri.


"Ngapain lo senyum-senyum sendiri? sehat lo?" Kirana memeriksa suhu tubuh Fany.


Gadis itu menghempaskan tangan Kirana. "Apan sih, lo pikir gue gila !" kesalnya.


"Ya kali aja lo sudah gila." jawab Kirana tanpa dosa.


"Lo kali yang gila." sungut Fany.


***


Pria itu sesekali melirik ponselnya, mengambil ponselnya dan meletakkanya kembali, itu ia lakukan berulang kali.


"Telfon nggak ya." gumamnya sembari mengengam benda pipih di tangannya.


"Nggak." Daren kembali meletakkan ponselnya.


"kenapa gue segerogi ini sih, itu kan hanya ciuman."


Pria itu memutuskan mengambil ponselnya, membuka aplikasi hijau dan mencari nama seseorang.


Kita makan malam di luar.


"Tidak." Daren kembali menghapus kalimat yang telah di tulisnya.


Aku merindukanmu


"Hahah tidak-tidak." Daren kembali menghapus pesannya, ia bingung memulai pembicaraan dengan istrinya saking geroginya.


Gadis menyebalkan.


"Lagi apa?"


Tring...

__ADS_1


Ponsel Fany bergetar, ia tersnyum melihat siapa pengirim pesan.


Lagi merindukanmu


"Nggak, terlalu alay." Fany kembali menghapus pesannya.


"Balas apa ya ?" gadis itu berfikir harus membalas apa pertanyaan suaminya.


^^^Mr Arrogant^^^


^^^"Lagi sibuk."^^^


Daren tersenyum melihat pesan dari istrinya.


Gadis menyebalkan


"Kita makan malam di luar ya."


Setelah mengirimkan pesan itu pada istrinya, Ia sangat gelisah, dikit-dikit memeriksa ponselnya, ia takut tawarannya di tolak.


Tring...


Daren secepat kilat menyambar ponselnya dan memerika isi pesan yang masuk.


^^^No tidak dikenal^^^


^^^"Gue tunggu lo di hotel xx lantai 11 no kamar 391, jika lo nggak datang tepat waktu, karir lo taruhannya."^^^


Daren meremas ponselnya, lagi-lagi ancaman menghampirinya.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


TBC


Babang Daren am Neng Fany kek remaja aja, pake malu-malu kucing😊😍


Jangan lupa meninggalkan jejak


SELAMAT MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2