My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 74


__ADS_3

..."Menjadi terkenal bukanlah hal yang menyenangkan, di sukai banyak orang, namun juga di benci banyak orang."...


...@Daren Danuwinarta...


Daren menatap tajam Radit, bisa-bisanya Radit mengadu pada adik iparnya. "Lo ingat semuanya? lo pura-pura mabuk ya!" tuding Daren.


"Gue emang mabuk semalam, tapi ingat gue pengingat yang baik bahkan saat gue mabuk." jelas Radit bersedekap.


"Jadi yang di katakan kak Radit semuanya benar?" geram Nathan. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku jarinya memutih.


"Than tolong lo urus para crew di bawah!" perintah Radit mengalihkan pembicaraan, ia hanya ingin membuat Daren kesal, bukan membuatnya babak belur.


"Baik." Nathan menganguk hormat dan meninggalkan ruangan bosnya.


Sepeninggalan Nathan, Radit ikut duduk di berhadapan dengan Daren, menepuk pundak Daren. "Gimana hubungan lo sama Fany?" tanyanya.


"Bukan urusan lo!" ketus Daren.


"Tentu saja itu urusan gue, dan ini menyangkut masa depan gue." Radit senyum penuh arti.


"Maksud lo?" Daren menatap tajam Radit.


"Sebaiknya lo bicara baik-baik sama Fany. sebaiknya hubungan kalian itu gimana." saran Radit.


"Nggak usah sok baik lo"


"He nggak usah baper lo, gue ngomong gini supaya dapat kepastian. Kalau hubungan lo sama Fany memang sudah tidak bisa di perbaiki, sebaiknya lo ceraikan dia. Beri gue kesempatan untuk membahagiakannya." jujur Radit.


Wah jika ada lomba pria pemberani maka Radit lah yang akan mendapatkan gelas itu. Pria lain akan menemui ayah wanita yang ia cintai untuk meminta putrinya. Tapi lihatlah Radit, ia dengan beraninya meminta wanita yang di cintanya pada suaminya langsung. Kurang hebat apa lagi Radit?


"Nggak usah mimpi ketinggian lo, Fany milik gue, dia istri gue selamanya, dan jangan harap lo bisa dapatin dia, berani lo sentuh Fany, lo mati di tangan gue." ancam Daren dan pergi dari ruangan Radit.


***


Malam harinya, di dalam kamar hotel, seorang pria terus memandangi ponselnya berharap istrinya menghubunginya dan menyuruhnya pulang, namun nihil, jangankan menelfon, kirim pesan saja tidak.


Kesal? tentu saja, apa kah Fany semarah itu padanya sampai-sampai tidak menghubunginya? apakah Fany sekarang bersenang-senang dengan pria lain? itulah yang ada di kepala Daren saat ini.


Daren menghela nafas kasar, meraih ponselnya di atas nakas. Menghubungi seseorang.


" Assalamualaikum, gimana?"


" Waalaikumsalam Kak, ini gue lagi ngawasin kak Fany, hari ini dia hanya keluar masuk butik dan tidak menemui siapapun baik itu seorang pria." jelas Deon


"Gue nggak nyuruh lo ngawasin istri gue, gue cuma nyuruh lo jaga dia." kesal Daren.


"Siap kak."


"Pastikan lo jaga istri gue dengan baik, jika dia lecet sedikit saja, lo habis di tangan gue." acam Daren.


"Siap laksanakan."


Tut

__ADS_1


Daren memutuskan sambungan telfon secara sepihak, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Ah sunggu ia kagen pada istrinya, kagen peluk dia saat tidur.


Daren mendegus kesal saat mendengar suara ketokan dari arah pintu.


"Siapa sih ganggu malam-malam gini." gerutu Daren.


Pria itu mendegus kesal saat mendapati seorang gadis di depan pintu kamar hotelnya. Daren menatap jenggah gadis yang tengah menunduk tanpa memperlihatkan wajahnya.


"Maaf, saya nggak terima tamu." ucap Daren dingin terksesan mengusir.


"Tolong saya, kepala saya sangat sakit, biarkan saya istirahat sebentar saja." lirih gadis itu tanpa mengangkat kepalanya.


"Gue nggak bisa, istri gue sedang tidur dan tidak bisa di ganggu. Sebaiknya lo langsung ke dokter saja, lagian lo seorang gadis jangan minta tolong ke sembarang orang apa lagi sampai masuk di dalam kamar." jelas Daren tepat menusuk jantung.


Betapa terkejutnya Daren saat gadis itu mendongak, Ia kenal betul gadis itu. Segera mungkin Daren menutup pintu, namun belum menutup sempurna gadis itu terjatuh kepelukan Daren.


Daren menghempaskan tubuh gadis itu hingga terjatuh kelantai "Jangan harap gue akan tergoda dengan tubuh lo yang menjijikka itu, dasar gadis murahan! Pergi lo dari hadapan gue dan jangan perna tampakkan batang hidung lo itu jika lo masih ingin hidup dengan tenang." tunjuk Daren.


Amarah Daren kian memuncak saat mengenali gadis itu, gadis yang dengan berani menggodanya, gadis yang membuat karirnya sempat meredup, gadis yang menyebabkan istrinya mendapatkan makian dari para netizen. Dan jangan lupakan gadis itu juga yang pernah menampar pipi mulus istrinya.


Brak !!


Daren membanting pintu dengan keras. Jika saja ia tidak ingat bahwa dirinya seorang Idol, mungkin Daren sudah menampar atau bahkan membunuh gadis itu.


Daren kembali menghubungi Deon. Saat telfon tersambung, tanpa mengucapkan salam Daren mengoceh tidak jelas.


"Lo periksa CCTV sekitar kamar hotel gue, tadi Nara datang, mungkin dia punya niat busuk lagi."


"Apa istri gue sampai di rumah dengan aman?" tanya Daren.


"Iya kak, kak Fany baru saja masuk ke dalam apartemen."


Daren melirik arloji di pergelangan tangannya, jam sembilan lewat lima menit. "Baru datang?"


Deon yang mengerti arti pertanyaan Daren segera angkat bicara. "Kak Fany mampir ke toko buku sebentar, dan gue dengar dia bertanya tentang karcis pertunjukan pameran yang di adakan Mr. Dilan di salah satu Art Galerinya. Tapi karcisnya sudah habis, dan kak Fany terlihat kecewa."


"Baiklah."


Tut.


Lagi dan lagi, Daren memutuskan telfon sepihak.


Bukannya istirahat, pria itu malah membuka laptopnya, mencari sesuatu. "Sial, karcisnya benar-benar habis." gerutu Daren saat melihat karcis sudah habis.


Pria itu beralih ke sosial medianya mencari mungkin saja ada yang menjual karcis karena keperluan mendesak. Dan benar saja, mata Daren berbinar seketika saat melihat salah satu postingan yang menjual karcis yang di carinya.


Tanpa menunggu lama Daren menghubungi sang penjual karcis, menyepakati harga dan tempat di mana mereka akan bertemu.


Daren melihat jam, setengah sepuluh, dia masih mempunyai waktu setengah jam lagi untuk sampai di sana, karena kesepakatan mereka bertemu di taman jam sepuluh malam.


Daren menyambar kunci mobil dan jaketnya lalu berlari keluar kamar. Ia harus mendapatkan karcis itu, agar istrinya bisa menonton pertunjukan besok.


Dua puluh menit, akhirnya Daren sampai di taman. Ia kembali menghubungi penjual itu, dan mengatakan akan datang lima belas menit lagi karena macet. Baiklah demi istri tercinta ia akan menunggu.

__ADS_1


Pandangan Daren terhenti pada satu objek, seseorang yang sangat ia kenal juga berada di taman itu sepertinya juga menunggu seseorang.


Seketika ia kembali mengingat kata-kata menyebalkan


"Kalau hubungan lo sama Fany memang sudah tidak bisa di perbaiki, sebaiknya lo ceraikan dia. Beri gue kesempatan untuk membahagiakannya."


"Brengsek." Daren memukul setir kemudi.


Daren mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang bisa membantunya menjalankan rencanya liciknya. Dan beruntungnya dia saat mendapati segerombolan pria berjalan melewati mobil.


"Pak bisa saya minta tolong." tanya Daren


Bukannya menjawab pria itu saling pandang.


Baiklah, mungkin para pria di hadapannya merasa aneh karena melihatnya memakai masker dan topi. Daren melepas penyamarannya dan tersenyum ramah pada segerombolan pria itu.


"Oh kamu Daren ya?" salah satu dari mereka mengenalinya.


Daren hanya menganguk sebagai jawaban.


"Istri saya fans banget sama lo, sampai-sampai galerinya penuh dengan foto lo, belum lagi dia ngakuin lo jadi suaminya" jelas salah satu pria.


"Betul istri gue juga gitu." timpal yang lainnya.


"Jika lo suami istri gue? jadi gue apa nya?" geram pria itu.


"Keluar lo, kebetulan gue ketemu lo disini." Salah satu pria menarik kerah kemeja Daren.


-


-


-


-


-


-


-


-


TBC


Gini amat ya jadi Idol, di sukai banyak kaum hawa namun di benci para kaum adam, apalagi para suaminya


Gimana nih nasib bang Daren? para suami Fansnya pada ngamuk.


Jangan lupa Vote, komen,like, dan hadiah-hadiah kalian.


...SELAMAT MEMBACA !!!...

__ADS_1


__ADS_2